Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga

Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga
Perjanjian Dengan Nenek Cermin


__ADS_3

Setelah membubuhkan darahku pada kulit rusa, sebagai perjanjian antara aku dan si Nenek Cermin, kulit rusa itu secara ajaib menuliskan perjanjian yang telah kami buat namaku dan nama si Nenek Cermin ada di dalamnya.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya Tuan Putri?" Nenek Cermin bertanya padaku, tatapan matanya penuh selidik. Namun, aku tetap bersikap tenang di depan lawanku.


"Siapa nama putrimu?" tanyaku dengan tatapan yang dingin.


"Na mi," jawab si Nenek Cermin, dengan tawa meremehkan.


Aku berjalan ke luar rumah si Nenek Cermin, tepat di depan halamannya, aku membuka saputangan bersulam emas, pemberian dari wanita yang kami bantu temukan kain yang tak sengaja ia hanyutkan.


Sambil duduk bersimpuh menghadap ke arah bulan, aku panjatkan permohononku kepada Buddha, kurapalkan pujian-pujian sebisaku dengan harapan setulus mungkin. Lalu, aku semaikan benih labu ajaib sambil terus memanggil nama Na Mi.


"Na Mi .. oh Na .. Mi, datanglah ibumu merindukan kepulanganmu Na Mi." Aku terus mengucapkan nama putri si Nenek Cermin.


Tunas tumbuh dari biji yang disemaikan, tunas itu tumbuh dengan cepat, sinar bulan sebagai sumber kekuatanku semakin membuatnya tumbuh begitu subur dan besar, batangnya berisi buah pun mulai keluar diantara batang pohon labu ajaib itu. Ada satu labu yang sangat besar.


Kali ini aku memejamkan mata, membiarkan cahaya bulan memanduku labu mana yang akan kupilih. Tanganku mengarah kepada satu labu yang berat dan berisi.


Aku membukanya perlahan, seorang bayi keluar dari labu itu, bayi itu bayi perempuan.


Aku mengambil bayi tersebut, bayi perempuan itu lantas aku berikan ke Nenek Cermin.


"Dia adalah putrimu, Na Mi! Pakaikan baju miliknya, dia akan membesar seusia saat Na Mi pergi meninggalkan dirimu." Napasku terengah-engah mungkin karena sebagian kekuatanku terhisap saat aku memanjatkan harapanku.


"Na Mi, benarkah ini dirimu Na Mi?" Wanita tua itu memakaikan baju putrinya, bukan hanya itu ia menciumi putrinya yang semakin bertumbuh besar, sampai seusia saat Na Mi diambil malaikat kematian.


Na Mi tumbuh menjadi gadis kecil, anak itu memanggil si Nenek dengan ucapan, "Ibu, syukurlah aku menemukanmu."


"Na Mi, Ibu sangat merindukanmu, jangan pergi lagi Na Mi, tetaplah bersama Ibu!" Nenek Cermin menangis penuh haru, selama puluhan tahun ia berusaha untuk menghidupkan putrinya, tetapi selalu gagal. Dia bingung bagaimana aku bisa kembali menghidupkan Na Mi.


Nenek Cermin mendekatiku dia memelukku erat.


"Aku berterima kasih untukmu, Tuan Putri sesuai dalam perjanjian kita, aku akan menyerahkan cermin sakti, pusaka keluargaku satu-satunya untukmu." Ia berjalan ke kamarnya cermin itu ternyata kecil dan gagangnya adalah ukiran naga.


"Ambillah cermin sakti ini! Semoga kau bisa menjalankan apa yang menjadi tujuanmu, Tuan Putri!" Dia menyerahkan kedua benda, yang pertama adalah cermin ajaib, dan yang kedua kulit rusa yang menuliskan perjanjian kami.

__ADS_1


Kulit rusa itu menyala, dan berangsur-angsur menghilang perlahan saat pendar cahayanya pudar.


"Cermin sakti ini aku terima, terimakasih atas kebaikan Nenek, bagaimana cara menggunakan cermin ini?" tanyaku.


"Kau menginginkan apa? Seumpama, kau ingin mengetahui apakah betul ia manusia atau siluman kau hanya tinggal mengarahkan cermin ini padanya, bila siluman ia akan memperlihatkan wajah aslinya, bila bulan siluman bayangannya lah yang akan muncul di cermin. Bukan hanya itu, konon dengan pantulan sinar rembulan saat purnama tiba, ia bisa memunculkan kekuatan yang sangat besar."


"Terimakasih Nek, saya senang Nenek bisa membantu kami. Sebelum kami pamit, bolehkah kami meminta penawar atas racun yang tadi Nenek berikan pada minuman kami?" ucapku.


"Tunggulah sekejap." Si Nenek cermin pergi ke dapur membuat ramuan khusus untuk para prajurit dan Ayura juga panglima Han, yang tubuhnya membeku.


"Minuman ini pada anak buah juga prajuritmu." Perintah sang Nenek Cermin.


Benar saja, tubuh mereka yang kaku layaknya batu, kini berubah menjadi seperti sedia kala.


"Terimakasih, Putri Yuen sudah menolong kami!" Mereka bersujud, dan memohon maaf kepadaku.


"Sudahlah bangun, kalian tak perlu meminta maaf. Sudah menjadi tugasku untuk menolong setiap manusia di bumi ini."


Kami pun melanjutkan perjalanan setelah berpamitan, rombongan mulai berjalan di bawah sinar rembulan. Aku menyimpan cermin itu dalam ransel yang dibawa oleh Ayura.


Namun, saat kami baru beberapa langkah putri Nenek Cermin memanggil.


"Terimakasih Na Mi, kami akan berjaga-jaga." Aku melambaikan tanganku.


"Berjalanlah terus ke Utara, maka Tuan Putri akan menemukan gua batu tempat raksasa besar tinggal," ucap si Nenek Tua.


Aku mengacungkan jempol, dan melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.


Kami berjalan terus sesuai arahan si Nenek Cermin.


"Syukurlah satu tugas sudah terpenuhi tinggal tugas kedua yaitu menemukan tempat tinggal si raksasa batu.


***


Kami berjalan terus hingga dini hari, dan memutuskan untuk bermalam di sebuah padang luas.

__ADS_1


"Bagaimana, bila kita membangun tenda di sini?" Salah satu prajurit mengusulkan pada Panglima Han.


Akhirnya, kami memutuskan untuk beristirahat mengumpulkan tenaga untuk esok hari.


Kami tertidur lelap sekali, angin berhembus lumayan kencang. Kami tertidur dengan pulas. Sayangnya, saat kami tertidur datanglah siluman mimpi yang diperintahkan oleh sang Naga.


Aku berjalan bersama para prajurit dan Panglima Han, dibtengah perjalanan kami bertemu dengan seekor ular besar yang menghadang kami.


Ular itu bersisik dan kepalanya sangat aneh. Dia mendesis, dan memperkenalkan bahwa dirinya adalah siluman mimpi.


"Selamat datang Tuan Putri Yuen, selamat datang dalam duniaku. Dunia mimpi, ha .. ha .. ha.." Tawa siluman mimpi sungguh sangat menjijikan.


Kepalanya, memiliki 4 sisi, seperti mata angin. Setiap sisinya menggambarkan wajah marah, sedih, senang dan wajah kecewa.


Setiap ia senang wajahnya akan menampilkan wajah senang, bila ia marah maka wajah marah akan di hadapkan ke arah depan. Seluruh sisiknya adalah kepala orang-orang yang jiwanya ia tahan dalam dunianya. Ekornya memiliki lonceng yang gemerincing.


Sayangnya, Ya Tze yang seekor hewan sekaligus roh suci tiba bisa memasuki dunia mimpi. Karena itulah kami terjebak bersama siluman ini.


"Apa yang kau inginkan dari kami? Lepaskan kami maka kau akan kubiarkan hidup ratusan tahun lagi. Bila kau tidak melepaskan kami, maka kita harus bertarung!" Panglima Han menantang siluman itu dengan menarik pedangnya dari sarung yang menutupinya.


"Kau salah Han! Mungkin di dunia nyata, kau akan menang dalam setiap pertempuran dengan para siluman. Namun ingatlah, ini adalah duniaku, aku bisa dengan bebas memainkan apapun yang aku inginkan."


Merasa marah dan tertantang, oleh siluman Mimpi, panglima Han menyabetkan pedang pada ekornya. Anehnya, begitu ekornya terputus maka akan menyatu kembali seperti biasa, tanpa ada luka dan cukup dalam hitungan detik.


Pertarungan ini tidak seimbang, energi panglima Han dan para prajurit semakin tipis. Namun, siluman tersebut tak jua menunjukkan kekalahan. Justru ia semakin kuat.


Aku berpikir keras apa yang harus kulakukan, tak mungkin aku membiarkan situasinya seperti ini terus, bisa-bisa kami akan tertahan di dalam dunia mimpi ini.


Kepalaku berpikir keras, bagaimana cara menghabisi siluman ini, sedangkan untuk bangun terjaga dari tidur itu sangat sulit.


Beberapa kali sabetan ekor siluman itu sudah menarik para prajurit. Kami sudah kehabisan tenaga, bahkan para prajurit tertawan oleh Siluman mimpi.


Mereka berteriak meminta pertolonganku dan Panglima Han.


Sampai akhirnya Panglima Han dengan sisa kekuatan terakhir mengatakan,"Putri pergilah lari yang kencang!"

__ADS_1


Saat aku tengah berlari, Panglima Han terkena sabetan ekor siluman mimpi.


"Panglima Han!" teriakku lantang.


__ADS_2