Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga

Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga
4. Desa Fu Xibi


__ADS_3

Melihat percikan merah, di wajahku tentu saja aku merasa marah. Popoku yang sudah tua, Wanita itu lukai dengan kuku hitamnya.


"Sial! Apa yang sudah kau lakukan pada Popoku?" Aku berteriak histeris.


"Ha .. ha .. ha ... Ternyata keturunan Kaisar Yuen, hanya seorang gadis kecil yang cengeng!" Wanita itu merasa hebat karena sudah mengejekku.


"Siapa yang kau anggap cengeng!" Aku menyabetnya dengan sebuah busur panah yang tergeletak di tanah miliki seorang pejuang yang terbunuh akibat ulah si wanita berbulu aneh tersebut.


"Katakan dengan lantang siapa yang kau panggil wanita cengeng? Katakan sekali lagi!" Penuh amarah aku memukul wajah dan tubuh wanita siluman itu dengan cepat.


Ayura mengatakan, "oh my God is that you, Yuen!"


Aku terus memukul wanita itu membabi buta, rupanya busur darinkayu Cendana membuat siluman merasakan nyeri yang teramat parah. Siluman itu mengaduh kesakitan, tapi aku tak perduli. Aku terus memukulnya seperti orang kesurupan.


Sampai tubuhnya terbakar menjadi api.


"Yuen! Cukup sudah! Kamu tak perlu melakukan itu lagi. Aku tau kamu marah, Yuen! Cukup, ok!" Ayura menjauhkan busur cendana itu dari tanganku.


"Ayura, apa yang harus aku lakukan dengan Popoku?"


"Aku akan bantu kamu mengangkat jenazah Popo mu, tapi kita harus hati-hati, jangan sampai kita ketahuan oleh para siluman itu!"


"Lalu, apa yang harus kita lakukan bila ada siluman yang mendekati kita?"


"Bagaimana, kalau kita lumuri dengan darah dari mayat-mayat ini, seolah-olah kita sudah mati. Aku pikir itu bisa berguna." Wajah Ayura yang cengengesan membuatku ragu akan idenya yang setengah gila itu.


Saat aku berusaha menarik jenazah Popo ke pinggir tiba-tiba ada kepakan sayap burung besar, ke arahku. Sesuai saran Ayura aku pura-pura mati, tergeletak diantara tumpukan mayat. Aku menahan nafasku, saat ia mencari diriku diantara mereka.


Makhluk itu berjalan ke arah yang berlawanan, hal itulah yang membuatku dag-dig-dug tak karuan.


Tak berselang lama ia pergi, panglima Han dan Ya Tze turun dan melihat mayat-mayat yang bertumpuk akibat kejadian tadi.


"Putri Yeun ... Putri!" Suara panglima Han memanggil.


Aku bangun dari tumpukan mayat dan berjalan ke arah Panglima Han.


"Pa .. pang .. lima Han, syukurlah!" Aku berjalan mendekati Panglima Han, tapi dia justru berlari dariku. Wajahnya ketakutan dan mencoba bersembunyi dariku.

__ADS_1


"Buddha yang Agung, Sang Welas Asih lindungilah hamba dari roh-roh jahat." Kedua telapak tangannya di apit.


Entah darimana datangnya tiba-tiba saja di belakang Panglima Han sudah ada Ayura yang menepuk punggungnya.


"Hei! Kau kira kami hantu, ya!" ucap Ayura dalam bahasa Indonesia, yang tentu saja bahasa tersebut tak dimengerti oleh Panglima Han. Justru hal itu semakin membuatnya ketakutan setengah mati.


"Aku ini Yuen Rho, aku masih hidup, lihatlah! Ini hanya darah dari mayat-mayat warga desa yang dibantai oleh siluman, sedangkan aku mengoleskan ke beberapa anggota tubuhku seolah-olah aku juga sudah mati, begitu kejadian sebenarnya Panglima." Penjelasanku rupanya membuat ia memberanikan diri untuk memegang tanganku walau sedikit bergidik.


"Hiy ..." Suara gertakan Ayura mengejutkan sang panglima, membuat ia juga berteriak yang sama.


"Ha .. ha .. ha .. katanya panglima, masa kaya gitu aja takut!" ucap Ayura dalam bahasa Indonesia.


"Apa yang nona itu katakan Tuan Putri?" tanya si Panglima.


"Dia mengatakan, bahwa kau penakut sebagai seorang Panglima prajurit istana." Aku terkekeh-kekeh menjelaskan kepada sang panglima yang mulai bingung.


Hari sudah mulai senja, lembayung hampir menyelimuti langit, dan merubahnya menjadi kemerahan. Aku diantar oleh Ayura mandi di sungai, membersihkan noda darah yang sengaja aku oleskan pada bajuku.


Aku dan Ayura menggunakan baju dari bekas pakaian warga, yang masih bersih di dalam rumah-rumah warga.


Setelah bersih, kami menikmati makan malam dari ikan bakar dan nasi yang dimasak oleh panglima Han, dan prajuritnya yang baru saja sampai, untuk melaporkan keadaan di luar hutan terlarang.


"Yuen, kapan kita bisa pergi dari sini? Aku takut Yuen, aku gak mau kita terperangkap di lobang waktu yang aku sendiri gak tahu ini tahun berapa." Ayura bercerita sambil memandangi bulan di langit.


"Ayura, aku janji kita akan segera pulang kembali ke dunia kita, aku mohon kamu bersabar ya!"


"Yuen, Ayura rindu rumah, rindu tugas-tugas kampus. Gak apa deh harus berhadapan sama Pak Alex yang mukanya killer, atau diomelin melulu karena gak nyimak pelajaran Miss Kimberly, daripada di sini harus pura-pura mati, demi menyelamatkan diri dari siluman, yang cara matiknya aja Ayura gak tahu! Sedih banget kan Ayura di sini, kayak gak berguna gitu, buat Yuen!"


"Ayura ... Ayura, lagi sedih aja tetep lucu. Sudah sekarang sudah malam kita tidur dulu.


"Eh, sebelum tidur, kita wefie dulu yuk!" Beberapa gaya sebelum tidur boleh lah!" Ayura sudah mengambil pose yang lucu dan imut.


Setelah beberapa gaya, dan berbincang-bincang aku pun tak sadar sudah berada di alam mimpi.


****


"Tuan Putri .. Tuan Putri Yuen! Panglima Han menghadap! Tuan Putri .." Suara itu sangat menggangguku, seperti suara Kakaku Lim yang suka mengangguku.

__ADS_1


Karena kesal pintunke buka.


"Brak!"


"Ada apa ini? Masih pagi sudah berisik!" ucapku kesal.


Rupanya, sang panglima membangunkan ku untuk memulai perjalanan di subuh hari, supaya mengelabui sang Phoenix


Pastinya Phoenix masih penasaran untuk mencari kepalaku, yang akan ia persembahkan kepada sang naga, bentuk baktinya sebagai anak.


Perjalanan ini sudah di mulai, aku menunggangi Ya Tze bersama Ayura, sedangkan yang lain menunggangi kuda.


Ada seekor rusa jantan di hutan itu, panglima Han berjalan paling depan terkadang ia juga memeriksa keadaan di belakang.


Sampailah kami di suatu tempat, kami meminta ijin untuk istirahat sebentar di desa itu.


Aku memakan bekal buatan dari panglima Han. Panglima Han sangat pandai dalam mengolah ikan. Padahal itu adalah masakan kemarin tapi tidak basi rasa bumbunya lebih enak dan meresap.


Menurut prajurit panglima Han, desa ini bernama Fu Xibi. Dia bercerita sedikit tentang desa Fu Xibi, atau desa terkutuk.


"Desa ini berada setelah Hutan terlarang dan perkampungan kecil. Desa ini desa terkutuk, konon penduduknya pernah membakar sepasang suami istri, mereka dituduh berbuat zinah, dikarenakan si suami terlalu miskin karena tidak bisa membayar mahar kepada istrinya. Sepasang suami istri itu dibakar ditengah-tengah desa." Sambil berjalan memasuki perkampungan di depan gerbang prajurit itu bercerita.


"Kejadian itu membuat sepasang suami istri mengutuk kebiadaban para warga. Mereka mengutuk siapapun yang ada di desa itu akan kelaparan atau mati dalam kesengsaraan. Semua warga desa satu persatu mati sesuai kutukan, dari sepasang pengantin tersebut."


Di sela-sela ceritanya, prajurit yang lain menghentikan, mungkin takut terkena kutukan.


"Tak apa lanjutkan kisahnya, aku pun ingin tahu," ucapku.


Mendengar titahku sebagai tuan putri tentunya dia takut. Jadi ia kembali melanjutkan ceritanya.


"Konon siapapun yang melewati desa itu diharuskan membayar mahar, atau menunjukkan cinta sucinya kepada pasangannya, agar terhindar dari kutukan sang pengantin." Ia menyelesaikan ceritanya persis di depan gerbang desa Fu Xibi.


"Panglima Han, bolehkah kami meminta sedikit daging rusa tadi, untuk dijadikan mahar, agar kita bisa melewati desa ini." Permintaan prajurit itupun segera diiyakan oleh si Panglima.


Di depan desa tersebut kami membuat persembahan dengan dua lilin yang menyala, dan sepotong daging rusa.


Pemandangan seketika berubah, di depan terdapat desa dengan keramaian seperti pada umumnya. Satu persatu prajurit berhasil memasuki desa, begitu juga dengan Ayura. Anehnya tidak denganku dan Panglima Han. Berkali-kali aku coba melangkahkan kaki, tetapi semua tampak seperti halusinasi kakiku seperti bayangan yang melayang di atas tanah. Sedangkan Ya Tze saja bisa melewati gerbang tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana ini Panglima? Adalah yang salah denganku?" Semua yang sudah memasuki desa memanggil-manggil namaku dan Panglima Han.


Kami terjebak di depan gerbang Desa Fu Xibi apakah kutukan ini merasuki aku?


__ADS_2