RAHASIA KOTOR SUAMI ABUSIVE

RAHASIA KOTOR SUAMI ABUSIVE
BAB 10 | PENGKHIANATAN


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan? Jangan gila tuan Jeon!!" Hana berteriak ketika melihat Sangmin mengunci pintu kamar yang mereka masuki.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," Sangmin melepas cengkramannya pada Hana dan menatap Hana dengan serius. Hana tidak tahu apa yang harus dilakukan saat Sangmin melangkah semakin dekat padanya.


"Aku tidak peduli apa yang ingin kau katakan, jangan dekat-dekat denganku." Hana mendorong Sangmin yang terus melangkah mendekatinya.


Sangmin menatap lekat mata Hana, Hana tidak dapat mengerti apa arti tatapan itu. Seperti ada luka, kesedihan dan kekaguman?


"Aku ingin memberitahu tentang suamimu," suara tegas dan datar Sangmin terkesan dingin di telingan Hana. Dia tidak terbiasa dengan Sangmin yang seserius ini.


Hana hanya bisa menatap, menunggu apa kalimat selanjutnya yang akan dikatakan pria tampan di hadapannya.


"Aku baru tahu dari dr.Seera bahwa suamimu adalah tuan Jinyoung, produser musik terkenal di Seoul ini."


"Bena. Lalu apa masalahnya?" Hana merasa penasaran apa yang akan dikatakan Sangmin.


"Suamimu adalah bajingan yang suka bermain wanita, dia selalu meniduri artis-artis yang bekerja sama dengannya. Dia bahkan bukan hanya meniduri mereka, dia bahkan melakukan pelecehan pada gadis di bawah u-"


Kalimatnya berhenti bersamaan dengan suara tamparan yang bergema di ruangan sepi itu. Hana menampar Sangmin dengan air mata yang telah mengalir.


"Diaaam!!! Aku tak tahu apa yang Seera katakan padamu tentang suamiku. Dia mungkin bukan suami yang baik, benar dia kasar, dia kadang memukulku. Tapi dia ayah yang baik, dia bukan bajingan seperti apa yang kau katakan. Dia sangat mencintaiku!!" Hana mengarahkan jari telunjul tepat di wajah Sangmin dengan amarah yang menggebu-gebu. "Apakah kamu sedang membicarakan dirimu sendiri? Bukankah kamu bajingan yang selalu meniduri rekan-rekan artismu?"


Sangmin terdiam sambil melihat bagaimana Hana beeteriak padanya dengan nafas yang berat. Hana membentur Sangmin sampai bergesar dari pintu, dan langsung memutar kunci dan segera keluar dari kamar itu.


Hana menghampiri Soobin yang sedang tersenyum sambil menghabiskan makanan di piringnya.

__ADS_1


"Sayang ayo pulang, ini sudah malam. Besok Soobin harus sekolah." Hana dengan terburu-buru memegang tangan Soobin dan membawanya menuju pintu keluar.


Hana bahkan tidak berniat pamit kepada temannya Seera. Rasa sesak bercampur amarah memenuhi dadanya. Air mata kemarahan terus mengalir bahkan sampai mobilnya melaju.


"Ibu ..., kenapa ibu menangis? Apa paman tampan itu menyakiti ibu?" Tanya Soobin dengan sedih sambil memeluk lengan Hana.


"Tidak sayang. Maaf, ibu hanya mengantuk sampai keluar air mata."


Mobil melaju dengan kencang, Hana ingin segera sampai di rumahnya, di kamarnya. Agar dia bisa dengan bebas melepas amarahnya.


Setelah membaca dongeng untuk Soobin, dan memastikan Soobin tertidur, Hana mandi untuk mendinginkan kepalanya. Dia perlu tenang untuk dapat berfikir dengan baik kembali. Berbaring di kamarnya dengan lampu yang resup, kini amarahnya sudah mereda. Dia mengingat kembali setiap kata yang di ucapkan Sangmin.


"Tidak, aku tidak boleh memoercayainya. Jinyoung memang kasar, tapi dia tidak jahat. Dia mencintaiku dan Soobin. Dia tidak mungkin mengkhianati kami."


Dengan perasaan gelisah, Hana menekan nomer suaminya. Tak ada jawaban, namun dia tidak inginmenyerah dan kembali menekan tombol panggil sekali lagi.


...----------------...


"Yoongi, sayang ... aahhh!! Lebih keras sayang!! Persetan aku suka kamu yang kasar!!" Aerin berteriak penuh kenikmatan dengan kakinya melingkari pinggang Jinyoung yang menggempurnya dengan keras.


"Tutup mulutmu sayang, fokus saja padaku!" Jinyoung membentaknya sambil menggigit dan menjilat leher dan bahu Aerin.


"Aaahh, sial!! Bagus sekali ..." dia keluar dari Aerin dan berbaring di dekatnya sambil mengatur napas. "Hana akhir-akhir ini tidak bisa melakukan hubungan se*ks yang kasar. Dia mengeluh itu menyakitkan dan selalu menangis, dia tidak bisa memberiku kenikmatan yang aku butuhkan. Untung aku memilikimu, sayang."


"Tentu saja, sayang. Kapan saja." Menangkap bibir Jinyoung untuk menciumnya ketika telepon Jinyoung tiba-tiba berdering.

__ADS_1


"Iya sayang? Maaf aku tidak sadar ada telefon tadi," ucap Jinyoung mencoba terdengar santai, saat nafasmya masih terengah-engah.


"Tidak apa-apa hun, aku hanya ingin menanyakan apa kau sudah makan malam?" Tanya Hana dengan hati-hati.


"Aku sudah makan malam sayang tadi dengan rekan-rekanku. Terima kasih telah bertanya."


"Baiklah kalau begitu, selamat malam hun."


"Selamat malam sayang, aku mencintaimu."


Jinyoung kembali meraup bibir Aerin saat Hana telah menutup panggilan.


"Tumben sekali istrimu menelfon?" kata Aerin sambil bersandar di dada Jinyoung.


"Dia mengkhawatirkanku, akhir-akhir ini hubungan kami sedikit tegang. Aku senang dia memperhatikanku."


"Bagaimana kalau sampai istrimu tahu kalau kau meniduri wanita lain?"


Tangan Jinyoung langsung berhenti mengusap rambut Aerin saat mendengar pertanyaannya.


"Dia tidak akan pernah tahu, aku tidak akan membiarkannya. Bahkan jika dia tahu, dia tidak bisa meninggalkanku. Hanya aku yang boleh memilikinya." Suara Jinyoung terdengar dingin.


"Kau terobsesi padanya."


Jinyoung tidak menjawab, dia kembali mencium Aerin dengan penuh gairah. Mencoba mengalihkan pikirannya dari pemikiran buruk tentang pernikahannya. Dia tidak akan pernah membiarkan Hana pergi.

__ADS_1


"Sial, aku sudah lelah," Aerin mencoba mendorong Jinyoung.


"Kau tidak punya kuasa untuk memutuskan kapan aku harus berhenti!!!" ucap Jinyoung saat dia dwngan kasar membalik tubuh polos Aerin dan menyetu*buhinya dari belakang tanpa peringatan apapun.


__ADS_2