
Setelah selesai rapat, Hana bersantai di ruangannya sejenak sambil menunggu telfon dari suaminya. Tadi pagi Jinyoung berjanji pada Hana untuk mengajaknya makan malam diluar, dan tentu saja Hana merasa sangat senang. Jinyoung seringkali sangat sibuk dan jarang ada waktu luang untuk sekedar berlibur dengan Hana maupun Soobin.
Hana mengingat lagi perbincangan di rapat tadi dimana SangHo memintanya untuk menjadi perwakilan dalam acara Konferensi Pers Dokter Gigi Internasional di Inggris. Namun dengan cepat Hana menolaknya tentu saja.
“Aku yakin Jinyoung tidak akan memperbolehkanku pergi, meskipun aku ingin. Itu akan jadi masalah besar jika aku memaksa meminta izinnya.” Hana menghela nafas.
Suara telepon berdering membuyarkan lamunannya. Dilihatnya nama yang mencul di layarnya, itu Jinyoung. Hana dengan bersemangat mengangangkat telefonnya.
“Iya Hun? Aku sudah siap, kau bisa menjemputku.” Hana tidak menunggu Jinyoung untuk menyapanya, dia begitu bersemangat.
“Sayang maafkan aku, aku harus lembur hari ini. Bisakah kita makan malam diluar lain kali?”
“Oh baiklah, tentu.” Suara Hana terdengar kecewa.
“Maafkan aku, pulanglah dengan hati-hati. Aku mencintaimu.” Jinyoung menutup telepon tanpa menunggu jawaban Hana.
“Kenapa aku sedih? Suamiku sedang bekerja keras demi keluarga kami. Tidak seharusnya aku menjadi egois seperti ini.” Hana mengusap air matanya yang hampir jatuh. Sebenarnya Hana merasa sangat kecewa, namun juga tidak dapat berbuat apa-apa. Karena dia mengerti suaminya adalah produser music yang terkenal dan sangat sibuk.
__ADS_1
...----------------...
"Kau tidak berubah, selalu menakjubkan." Jinyoung mencengkram rambut Aerin saat pelepasan terakhirnya, sambil meracau kesenangan.
"Tentu saja, istrimu pasti tidak tahu cara menyenangkanmu dengan benar kan?" Aerin bersandar dalam pelukan Jinyoung yang masih mengatur nafas.
"Dia sangat polos, tapi aku merasa dia genit pada lelaki di luar sana."
Jinyoung menarik diri dari pelukan Aerin dan mengambil sebatang rokok untuk dinyalakan. Malam ini dia tidak pulang karena akan mengerjakan beberapa lagu, tapi tentu saja di sela-sela itu, Jinyoung berbagi kesenangan bersama rekan kerjanya Aerin. Meskipun Jinyoung sering meniduri penyanyi-penyanyi baru yang berharap untuk mendapatlan lagu bagus darinya, Jinyoung hanya selalu memakai mereka dalam sekali. Namun Aerin berbeda, Jinyoung telah melakukan hubungan terlarangnya bersama rekannya itu semenjak Hana tengah hamil 9 bulan. Aerin pun juga tidak mempermasalahkan tentang Jinyoung yang seringkali meniduri gadis-gadis muda.
"Bukankah wajar? Aku suaminya. Dan aku benar-benar benci bagaimana dia selalu tersenyum pada laki-laki di luar sana. Seolah dia memang ingin mereka menidurinya."
"Istrimu itu memang ramah, aku yakin dia hanya bersikap sopan. Bukankah sangat lucu kau mengatakan seperti itu, di saat kau telah meniduri wanita lain selain istrimu selama bertahun-tahun." Aerin merampas rokok Jinyoung, yang tampak sedikit kesal.
"Tetap saja, aku hanya ingin dia untukku. Akulah yang telah membiayai kuliahnya sampai dia bisa menjadi dokter spesialis seperti sekarang ini. Meskipun aku banyak meniduri wanita, tapi aku tetap mencintainya. Itu tidak berubah."
Aerin diam tidak menanggapi lagi ocehan Jinyoung. Terkadang dia merasa Jinyoung seperti seorang yang punya beberapa kepribadian, namun dia menghiraukannya. Toh Aerin bersama Jinyoung karena memang sama-sama mencari kesenangan semata. Dia tidak terlalu tertarik pada kehidupan pribadi pria yang telah berbagi tempat tidur dengannya selama sepuluh tahun lamanya.
__ADS_1
...----------------...
Di sisi lain. Rumah Jinyoung.
"Ibu ..., kapan ayah akan pulang? Dia berjanji akan menemaniku mengerjakan tugas seni ku malam ini." Soobin sambil mengantuk, mengahmpiri Hana yang tengah duduk di meja makan sendirian.
"Sayang maaf ya ..., ayah tadi menelfon katanya dia harus lembur di kantornya. Ayah sangat sibuk sekarang ini, mungkin lain kali dia bisa menemani Soobin mengerjakan tugas rumah. Oke?" Hana dengan sayang memeluk Soobin sambil mengusap kepalanya.
"Kenapa ayah selalu memilih pekerjaannya dari dapa aku ibu?" Soobin menatap sedih pada ibunya. Hana mengerti pikiran Soobin, Jinyoung memang jarang ada waktu untuk Hana maupun Soobin.
"Sayang ..., dengarkan ibu! Ayah sedang bekerja keras untuk kita, untuk Soobin agar bisa sekolah dan makan dengan baik. Ayah kan seorang produser musik hebat, jadi tentu saja banyak yang bekerja sama dengan ayah Soobin. Jadi Soobin harus bangga sama ayah, jangan sedih lagi ya." Hana menghapus air mata di sudut mata putranya yang mungkin hampir meluncur.
"Iya ibu, maaf Soobin hanya ingin ayah punya banyak waktu untukku. Soobin tidak akan mengeluh lagi, karena ayah sangat mencintai kita." Soobin akhirnya membalas pelukan Hana.
"Tentu saja, ayah sangat mencintai kita." Air mata tak terbendung saat Hana mengucapkan kata itu.
"Aku tahu, tidak seharusnya aku merasa seperti ini. Tapi entah mengapa semakin waktu berlalu, aku merasa Jinyoung berubah. Tapi aku tidak ingin berfikir negatif, karena sampai saat ini dia yang telah berjuang memenuhi kebutuhanku dan Soobin."
__ADS_1