RAHASIA KOTOR SUAMI ABUSIVE

RAHASIA KOTOR SUAMI ABUSIVE
BAB 9 | PESTA ULANG TAHUN


__ADS_3

Hana disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga di pagi hari. Sekarang adalah hari libur, dia ingin banyak menghabiskan waktu dengan putranya.


"Sayang ..., apa yang sedang kau masak?" Jinyoung memeluk Hana dari belakang. Wangi strawberry segar menyebar ke hidung Hana, Hana yakin Jinyoung memakai shamponya.


"Pagi hun, aku memasak bulgogi untuk sarapanmu," jawab Hana sambil terus sibuk dengan masakannya tanpa menoleh pada Jinyoung.


*(Bulgogi adalah olahan daging khas korea)


"Waaah aku jadi sangat lapar," Jinyoung melepas pelukannya dan duduk di meja makan sambil memandangi pinggang ramping Hana. "Aku tadi tidak sengaja menganggkat teleponmu," Hana tidak menanggapi, tapi Jinyoung dapat melihat Hana sedikit terkejut, saat Hana menghentikan tangannga sejenak.


"Itu Seera, dia bilang kamu harus datang ke pesta ulang tahunnya dan menantikan hadiah darimu," Jinyoung melihat ke arah Hana yang sedang mempersiapkan piring sarapannya di atas meja. Lalu mengambil untuk dirinya sendiri dan duduk di hadapan Jinyoung.


Hana dapat merasakan tatapan Jinyoung yang terus mengarah padanya karena belum menanggapi apa yang dibicarakan Jinyoung padanya.


Hana menghela nafas dengan gugup, sebelum membalas tatapan Jinyoung. "Hun ..., maaf tidak memberitahumu sebelumnya. Aku di undang Seera untuk datang ke pestanya, aku sudah menolaknya, tapi sepertinya dia belum menyerah. Tapi aku benar-benar tidak akan datang, aku akan memberikan hadiahnya saat dia selesai cuti." Hana menjawab dengan hati-hati.


Meskipun Jinyoung telah berjanji untuk berubah, tapi Hana sangat sadar bahwa Jinyoung tidak menyukai Seera yang selalu berbicara apapun sesuka hatinya.


"Kamu boleh pergi." Ucap Jinyoung dengan datar.


"T-tidak, aku benar-benar sudah menolak undangannya, aku tidak akan pergi," Hana menundukkan kepalanya dan terus memotong daging di piringnya dengan perasaan takut.


"Aku serius kamu boleh pergi, tapi jangan sampai pulang lewat dari jam 9 malam. Dan juga aku ingin kamu membawa Soobin, karena aku akan lembur di kantor, jadi tidak bisa menjaganya."


Hana memperhatikan suaminya yang sesang makan dengan tenang dan santai. Hana tidak tahu harus menjawab apa, dia takut suaminya itu hanya sedang mengujinya.


"H-hun ..., apa kamu marah?"


Jinyoung menyelesaikan makanannya dan segera minum, kemudian berjalan mendekati Hana yang sudah siaga dengan apa yang akan terjadi. Namun yang terjadi adalah di luar dugaannya, Jinyoung mencium pipi Hana dan mengusap lembut rambutnya.


"Aku tidak marah sayang, pergilah, tapi jangan lupa apa yang aku pesankan padamu. Dan satu lagi, jangan tersenyum ataupun berbicara pada sembarang orang." Jinyoung menangkup wajah Hana untuk melihatnya.


"Kau mengerti sayang?"

__ADS_1


"Iya hun, aku mengerti dan terima kasih telah mengijinkanku pergi."


"Sama-sama sayang. Kalau begitu aku pergi dulu, sampaikan salam cintaku pada putra kita. Dia pasti kelelahan karena mengerjakan tugas rumah, sampai-sampai telat bangun." Jinyoung segera mengambil kunci mobilnya dan bersiap untuk pergi.


"Oke hun, tolong hati-hati."


Hana menatap mobil Jinyoung yang semakin menjauh. Dia sedang memikirkan apa yang dikatakan Jinyoung. Dia hampir siap untuk meninggalkan pernikahan mereka karena dia muak dengan semua pemukulan dan kesalahpahaman. Tapi dia juga tahu jauh di lubuk hatinya bahwa dia ingin menyelamatkan apa pun yang tersisa, hanya karena putra mereka. Meninggalkan Jinyoung lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Jika hanya dia dan suaminya, itu akan lebih mudah.


Selama tahun-tahun awal mereka, mungkin terasa sulit baginya untuk melepaskannya karena dia sangat mencintai Jinyoung. Ketika hubungan mereka berlanjut selama bertahun-tahun, dia berkata pada dirinya sendiri bahwa apapun kekurangan suaminya, dia harus menerimanya. Baik atau buruk, pikirnya. Tapi itu akan selalu sampai pada titik di mana dia tidak bisa menerima semuanya lagi. Jadi dia hanya akan bertanya pada dirinya sendiri, "apakah aku masih mencintainya? Atau apakah aku hanya menyampaikan pemikiran untuk menepati janji kita?."


Satu hal yang selalu dia pegang teguh adalah dia yakin suaminya mencintainya. Jinyoung selalu menghargainya. Dia tidak pernah memergokinya selingkuh atau bahkan memandang wanita lain. Itu sebabnya Jinyoung selalu cemburu jika ada orang yang akrab dengannya. Karena Jinyoung sendiri selalu setia padanya, pikir Hana. Jadi dia berpikir, apapun masalah yang mereka hadapi, mereka selalu bisa menyelesaikannya. Selama kesetiaan masih ada dan rasa cinta Jinyoung padanya tidak pernah berubah, menurutnya segalanya bisa terselesaikan.


Kini Jinyoung berjanji akan berubah, dan memperbaiki hubunvmgan mereka. Akankah dia akhirnya mengembalikan hubungan lama yang mereka miliki? Dia merasa penuh harapan. Menurutnya lebih baik mencoba dan mencobanya daripada harus melalui masalah perceraian yang lebih rumit.


Hana menyandarkan kepalanya di sofa setelah mencuci piring dan membuat sarapan dan susu hntuk Soobin. Hana menutup matanya, kepalanya terasa pening.


"Bukankah seharusnya aku senang? Jinyoung memperbolehkanku datang ke pesta Seera, sudah merupakan bukti bahwa dia benar-benar ingin berubah. Tapi kenapa aku malah merasa cemas?


"Jangan minum terlalu banyak di sini, tolong jangan berhubungan atau menggoda orang asing sesuka hatimu!!! Jagalah sikapmu, kamu tahu paparazzi bisa ada dimana-mana." Taejin terus memperingati Sangmin berulang kali.


"Ya, ya, aku mengerti kak, tidak usah khawatir. Aku akan menjaga sikapku, oke? Jadi tolong santai saja kak. Aku hanya akan bernyanyi dan menikmati pesta." Meneguk kembali minuman ditangannya. "Sekarang pergilah ke pacarmu!!! Jangan malah mengikutiku seperti ini, aku merasa sesak."


"Oke, aku akan pergi. Awas saja jika kau macam-macam."


Sangmin tidak melihat lagi ke arah Taejin yang berjalan pergi sambil terus mengomel.


"Sial, ini sangat membosankan. Kenapa dr.Hana tidak datang? Aku belum melihatnya sama sekali, apa suaminya mengurungnya?"


Bahkan sampai Sangmin selesai membawakan lagu ke-2 nya, dia masih belum melihat Hana. Dia sangat ingin bertanya pada Seera, tapi tidak ingin mengambil resiko jika Taejin sampai tahu bahwa dirinya sedang menyukai istri orang.


Sangmin mengasingkan diri dari keramaian, meskipun orang yang hadir tidak terlalu banyak, tetap saja Sangmin merasa tidak nyaman berada di antara mereka. Sangmin benar-benar berhenti bermain dan tidur dengan sembarang wanita, setelah bertemu dengan Hana. Sambil terus menikmati minumannya, Sangmin memutuskan bersantai di taman pinggir kolam, halaman belakang. Rumah itu tidang asing baginya karena itu adalah rumah Taejin.


Namun tak lama ketenangannya terganggu, oleh anak laki-laki yang sedang membawa piring yang dipenuhi makanan dan duduk di lantai pinggir kolam.

__ADS_1


"Kenapa bisa ada anak kecil di pesta orang dewasa?" Sangmin nerguman pada dirinya sendiri dengan heran, sambil terus menatap anak laki-laki itu yang makan dengan lahap.


"Hai paman, maaf aku tidak melihatmu. Apa kamu mau makan bersamaku? Aku punya banyak makanan," Anak itu bertanya dengan mulut yang penuh makanan.


Sangmin tertawa dengan kelucuan anak laki-laki itu. Dengan langkah besar, dia menghampiri anak itu dan duduk di dekatnya.


"Tidak, terima kasih, aku sudah makan. Kau kesini dengan siapa?" tanya Sangmin sambil mengelus kepala anak itu dengan penuh kasih.


"Aku bersama ibu paman."


"Siapa namamu?"


Anak laki-laki itu sudah membuka mulutnya untuk menjawab, namun tertahan saat mendengar teriakan.


"Soobiiiin ...."


Sangmin melihat ke belakang dan menemukan Hana dengan baju pakaiannya yang serba putih, sedang berlari kecil menuju padanya, atau mungkin lebih tepatnya pada anak laki-laki itu.


"Soobin, sudah ibu bilang jangan pergi jauh tanpa ibu. Ibu sangat khawatir." Tegas Hana yang masih tidak melihat sama sekali ke arah Sangmin.


"Maaf ibu, aku hanya ingin makan dengan tenang di sini," Soobin tetap tersenyum menjawab ibunya yang kesal.


"Apakah ini putramu dr.Hana?" tanya Sangmin saat melihat Hana yang masih dengan ekspresi kesal.


"Oh tuan Jeon, maaf aku sampai tidak menyadari kalau itu kamu. Dan ya, ini putraku Soobin." Hana sedikit membungkuk.


"Hei anak tampan, bisakah aku berbicara berdua dengan ibumu sebentar?" Sangmin menatap Soobin yang kembali sibuk dengan makanannya.


"Iya paman, aku akan menunggu ibu di sini."


"Apa yang kamu lakukan? Lepas!" bisik Hana, tidak ingin putranya melihatnya.


Sangmin memeluk pinggang Hana dan dengan posesif menuntunnya menuju ke salah satu kamar tamu.

__ADS_1


__ADS_2