
Setelah Hana berpikir sekitar satu jam, dia masih belum beranjak dari tempatnya duduk. Hana mendengar dentingan kunci, namun dia hanya memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Hana sudah tidak punya tenaga lagi untuk berurusan dengan Jinyoung. Hana akan membiarkan Jinyoung melakukan apapun yang dia suka.
Pintu kamar mandi terbuka dan Jinyoung berjalan ke arah Hana yang terduduk lemas. Hana tidak berusaha untuk memandangnya saat dia menarik dan membawa Hana keluar. Dia membaringkan Hana di tempat tidur dan membersihkan tetesan darah di wajah Hana dengan handuk basah yang hangat. Mereka berdua tidak berbicara sepatah kata pun.
Setelah Jinyoung merawat luka Hana, Hana memunggunginya, berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata. Tak ada lagi air mata yang keluar. Hana hanya lelah.
"Aku hanya ingin tidur dan menjauh dari mimpi buruk realitas saya ini."
......................
Saat Hana bangun, matahari sudah bersinar. Di luar sepi. Hana memeriksa Soobin, sepertinya Jinyoung sudah mengantarnya ke sekolah. Mobilnya sudah tidak ada di garasi lagi.
"Dia tidak membangunkanku."
Tapi Hana bertekad harus berangkat kerja, karena dia perlu bertemu dengan Sangho mengenai proposal promosinya.
Hana bergegas mandi dan membenahi wajahnya, "Aku kelihatan seperti sampah! Bagaimana aku bisa
menyembunyikannya kali ini?"
Hana hanya membalut dahinya setelah diolesi salep, tidak terlalu parah. Tapi bibirnya yang pecah adalah sesuatu yang tidak bisa dia tutupi.
"Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak punya pasien hari ini."
Sebelum Hana mengemudi, dia mengirim pesan pada Jinyoung. Dia tidak ingin membuat suaminya marah lagi hanya dengan menyerbu keluar rumah tanpa memberi tahu dia.
Aku sedang dalam perjalanan ke klinik. Aku perlu mendapatkan persetujuan proposal untuk promosi. Aku akan pulang lebih awal, aku janji.
__ADS_1
Hana menekan tombol send, hendak meletakkan handphonennya ke dalam tas. Namun suara pesan masuk menghentikannya, itu Jinyoung yang membalas pesan Hana dengan cepat, bahkan belum sampai satu menit.
Oke sayang, berkendaralah dengan aman. Aku mencintaimu.
"Wah, bagaimana bisa dia berkata seperti itu seolah tidak terjadi apa-apa. Dia selalu seperti ini. Dan yang lebih menyebalkan lagi adalah aku juga selalu seperti ini. Hanya istri yang pengertian, toleran dan bodoh terhadapnya." Hana melempar handphone nya dengan frustasi, dia merasa suaminya benar-benar seseorang dengan gangguan kepribadian. Dan Hana adalah seorang istri yang bodoh dan buta karena cintanya.
...----------------...
Setelah menyelesaikan proposal promosi dan mendapat tandatangan dari Sangho, Hana buru-buru kembali ke ruangannya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Sangho lebih jauh lagi. Hana sadar, Sangho dan Seera telah berulang kali menawarkan bantuan kepada Hana, namun seberapapun terlukanya Hana, dia sama sekali tidak ada niatan untuk melaporkan Jinyoung kepada pihak berwajib. Hana memikirkan berapa banyak pengorbanan Jinyoung yang telah dilakukan terhadapnya, Jinyoung lah yang membuat Hana bisa menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter gigi spesialis. Rasanya terlalu kejam, jika Hana menjebloskan orang yang telah berjasa dalam hidupnya.
Hana teringat lagi dengan segala tindak kekerasan yang dilakukan suaminya, kepalanya berdenyut memikirkan bagaimana cinta dan lukanya yang dirasakan dirinya untuk Jinyoung.
"Hana, apa-apaan ini! dr. Sangho bilang kamu datang dengan bibir pecah dan ya Tuhan, Hana!! Apakah itu luka di dahimu?” Hana sedikit terkejut karena Seera masuk dengan tiba-tiba ke ruangannya, menerobos pintu dan langsung berjalan memeriksa wajah Hana.
“Aku baik-baik saja Seera …,, tenanglah.” Hana mengajak Seera untuk duduk di sofanya agar bisa mengobrol dengan nyaman.
“Kemarin adik Sangho yang kuceritakan padamu sebelumnya, dia datang memberikanku sebuket bunga untuk berterima kasih karena telah merawatnya, dan kebetulan kemarin Jinyoung tiba-tiba datang untuk mengajakku makan malam. Dia melihat buket bunga itu dan menjadi sangat marah.” Hana menghela nafas, itulah mengapa Hana tidak bisa memberitahu Sangho apa yang terjadi. Dia hanya tidak ingin Sangho menjadi merasa bersalah karena adiknya.
“Adik dr. Sangho yang katamu sombong itu?”
Hana mengangguk. Seera tampak memikirkan sesuatu sebelum kembali melanjutkan.
“Aku bertemu dengannya hari ini sebelum kau datang, dia mencarimu, tapi sepertinya dia sedang buru-buru. Dan kupikir dia sangat seksi.” Seera sedikit cekikikan saat mengucap kata yang terakhir.
“Dasar kau ini,” Hana memukul pelan lengan Seera. “Kuakui dia memang sangat menarik, tapi dia benar-benar hanya seorang anak muda yang sombong dan terlalu percaya diri.”
“Kenapa aku tidak melihat kesombongannya ya? Aku terlalu terhipnotis oleh wajah tampannya.”
__ADS_1
Hana tertawa melihat tingkah sahabatnya, dia merasa sangat terhibur.
Terkadang meskipun jadwalnya libur, tapi jika Hana sedang dalam kondisi hati yang buruk, dia akan datang ke klinik hanya untk bertemu sahabatnya. Hana seorang yatim piatu yang tidak memiliki tempat untuk bersandar saat sedih. Kehadiran Seera membuat hidupnya lebih berwarna, karena Seera selalu sangat perhatian dan menyayangi Hana.
...----------------...
Setelah pulang dari klinik, Hana menyempatkan untuk mampir ke supermarket terdekat, membeli bahan-bahan dapur yang sudah habis. Saat selesai berbelanja dan hendak memasukkan keranjang belanjaannya ke dalam bagasi mobilnya, Hana dikejutkan oleh seseorang yang menarik lengannya tiba-tiba ke sudut parkiran yang agak gelap. Parkiran mobil ada di lantai bawah.
“Lepas!!! Siapa kamu?” Hana sedikit gemetar karena takut melihat seorang pria bermasker yang sedang menyudutkannya.
“Hai dr. Hana …, apa aku membuatmu takut.”
Pria itu membuka masker dan dengan ceria menyapa Hana, yang tak lain adalah Sangmin. Hana merasa lega dan kesal, lega karena ternyata itu bukan pencuri atau semacamnya, dan kesal mengingat dia dipukuli kemarin karena bunga pemberian Sangmin.
“Apa itu lucu bagimu? Tolong lepas, aku harus segera pulang.” Hana menepis tangan Sangmin dan hendak pergi. Namun lengannya ditarik kembali sampai membentur dada Sangmin.
Hana berfikir jarak mereka terlalu dekat, dia melihat sekitar dan sangat gugup. Hana takut ada mata-mata suaminya. Dia yakin akan mati malam ini jika sampai Jinyoung melihatnya sedang di peluk orang lain.
“Ada apa dengan wajahmu dokter? Aku pergi mencarimu tadi pagi, dan kau belum ada. Sekarang aku merasa khawatir melihat wajah cantikmu yang terluka.” Tangan Sangmin terulur untuk menyentuh wajah Hana, namun segera ditepis oleh Hana.
Hana mendorong Sangmin menjauh. “Aku baik-baik saja, dan aku tidak punya kewajiban untuk memberitahu hal-hal pribadiku padamu. Dan jika kamu benar-benar khawatir, tolong jauhi aku, aku mohon, aku sudah menikah. Aku tidak tertarik untuk bermain-main denganmu, dan menjadi salah satu wanita yang bisa kau ajak tidur di malam hari, lalu mencampakkannya di keesokan harinya.”
Hana segera pergi setelah meluapkan kekesalannya pada Sangmin, dia juga sangat takut jika sampai ada kenalan Jinyoung yang melihatnya.
Sangmin menatap punggung Hana yang semakin menjauh.
“Kau pasti salah paham Hana. Siapa bilang kau salah satu, kau akan menjadi satu-satunya setelah aku mendapatkanmu. Aku yakin kau tak bahagia dengan pernikahanmu." Sangmin bergumam pada dirinya sendiri, sambil terus tersenyum melihat mobil Hana yang semakin jauh.
__ADS_1