
Seera meminta bantuan Taejin untuk datang ke rumahnya untuk menjemputnya. Seera sangat terkejut saat Hana tiba-tiba datang dengan penamoilan yang sudah berantakan, sambil menggandeng Soobin yang terlihat ketakutan. Seera tidak dapat berpikir jernih, hanya Taejin yang mungkin bisa membantunya, pikirnya. Jadi Taejin menjemput mereka dan membawa mereka ke mansionnya.
"Tenang sayang, aku akan membawa Soobin bermain dulu. Kamu tenangkan saja Hana, kasihan dia terlihat sangat berantakan." Kata Taejin sambil mengusap punggung kekasihnya yang tampak cemas.
"Baik, aku pasrahkan Soobin padamu."
Seera lalu kembali menemui Hana di ruang tamu. Dari jauh Seera dapat melihat Hana yang terus menangis dengan tatapannya yang kosong. Hatinya hancur menyaksikan sahabat yang disayanginya harus mengalami penderitaan tanpa henti.
"Hana ...," Seera duduk disebelah Hana dan memeluknya erat. "Hei, tenangkan dirimu. Aku tahu ini tidak mudah, tapi kau harus kuat. Soobin masib membutuhkanmu,"Seera terus mengelus rambut Hana yang kusut. "Aku akan menjaga Soobin, percayakan dia padaku. Kamu pergilan untuk menenangkan diri, pergilah dulu dari Jinyoung. Tenangkan dirimu sebaik-baiknya."
Hana hanya terus menangis, pikirannya dipenuhi kabut. Entah apa yang harus dia rasakan lagi. Entah kenyataan apa lagi yang belum dia ketahui. Hana merasa tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup. Sejak dulu hidupnya selalu dipenuhi kesedihan.
"Hana ...," Seera memegang kedua bahu Hana yang lemas dan membantunya menghapus air matanya yang membasahi wajahnya. "Aku akan mengantarmu ke suatu tempat yang aman dan nyaman. Sementara kau disanalah terlebih dahulu, supaya Jinyoung tidak dapat menemukanmu. Tenangkan hati dan jiwamu dulu, lalu dengan kepala dingin kau bisa mengambil keputusan yang terbaik untukmu dan juga Soobin. Ya?"
Hana hanya mengangguk sebagai jawaban, air matanya terus mengalir tampa terkendali. Seera dengan hati-hati menuntun Hana untuk ke mobil. Mengantarnya di suatu tempat yang Seera yakin akan membuat Hana rileks sejenak.
Perjalanan berlalu sekitar 3 jam, mereka sudah sampai di Jeju.
Masion De Jeju Villa. Itu adalah Villa pribadi hadiah dari Taejin untuk Seera. Disana tenang dan nyaman, dan tentunya Jinyoung tidak akan mengetahuinya.
Setelah membereskan barang-barang yang Seera siapkan untuk Hana. Seera kembali memeluk Hana yang sudah sedikit lebih tenang.
"Hana, kau bebas mau tinggal seberapa lama disini. Kau harus mempedulikan kesehatan fisik dan jiwamu. Aku dan Taejin akan menjaga Soobin baik-baik."
"Terima kasih Seera. Maaf aku selalu merepotkanmu." Hana membalas pelukan Seera.
"Kau sahabatku dan aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu. Jaga dirimu baik-baik, aku harus pergi sebelum tengah malam."
...----...
Mendung berselimut kabut
Tiada cahaya, tiada warna
__ADS_1
Rasa sakit yang awal sebuah luka
Kini menjelma di setiap desah nyawa
Hana telah tiga hari berada di villa Jeju, dan selama dua hari itu Hana belum mengaktifkan telefeonnya. Kini dia telah merasa cukup tenang, dan berniat untuk menghubungi Seera. Hana sangat meeindukan putranya, Hana terlalu kalut hari itu sampai membuat Soobin ketakutan.
Saat handphonnya diaktifkan. Banyak notifikasi masuk secara bersamaan. 97 panggilan tak terjawab dari Jinyoung, 15 pesan belum dibaca dari Seera. Namun yang membuat perhatian Hana teralihkan adalah 201 panggilan tak terjawab dari nomer baru.
"Apa ini Jinyoung? Mungkin dia mencoba menghubungiku dengan nomer baru agar aku mengangkat telefonnya."
Hana mengurungkan niatnya untuk memanggil nomer baru itu. Saat Hana ingin mengklik nomer Seera, panggilan masuk dari nomor baru itu menghentikannya. Hana terus menatap panggilan masuk itu, menimbang-nimbang apakah dia harus menerimanya atau tidak.
Dengan ragu-ragu Hana mengklik tombol terima.
"Astagaaaa akhirnya kau menjawab telfonku," Hana terkejut mendengar suara nyaring dari balik telefon. Bukan karena teriakannya, tapi karena orang dibalik suara itu.
"Hanaa kau mendengarku kan? Kau baik-baik saja kan?" Suara itu tampak sangat khawatir.
"Iya ini aku. Aku sangat mengkhawatirkanmu selama beberapa hari ini. Sialan, dr.Seera bahkan tidak mau memberitahuku kau dimana. Kau baik-baik saja tapi kan? Kau makan dan tidur dengan baik? Apakah kau terluka?"
Sangmin terus mengajukan tanpa henti, seolah-olah Hana adalah orang yang telah hilang selama berbulan-bulan. Hana merasakan perasaan aneh di hatinya, dia bertanya-tanya mengapa Sangmin begitu mengkhawatirkannya?
"Apa dia sungguh menyukaiku?" batin Hana.
"Y-ya tentu saja aku baik-baik saja. Tapi tuan Jeon ..." kalimat Hana menggantung.
"Ya Hana?"
"Kurasa kau juga tidak harus mengkhawatirkanku, karena kita bahkan bukan teman, kita tidak akrab." Hana berterus terang.
Ada sedikit kesunyian selama seperkian detik.
"Aku sudah melacak tempatmu, aku akan menemuimu sekarang. Aku harus memastikan kau baik-baik saja."
__ADS_1
Hana dapat mendengar suara pintu mobil ditutup dengan kencang.
"H-hei apa yang kau fikirkan. Penyiar cuaca telah memberitahu sore tadi, bahwa akan ada badai salju di Jeju." Kata Hana tergesa-gesa.
"Aku tidak peduli. Pikiranku sangat kacau selama beberapa hari ini karena memikirkanmu. Aku benar-benar harus menemuimu sekarang juga."
"T-tapi, hei. Tuan Jeon?"
Panggilan terputus.
"Sial! Ada apa dengannya? Kenapa dia mengkhawatirkanku seperti itu?" Hana berlari ke dekat jendela dan membuka tirai.
Diluar berkabut, salju mulai menutupi jalanan. Tiba-tiba Hana diliputi rasa cemas.
"Semoga dia baik-baik saja. Apakah dia hanya gila? Tapi dia tidak bodoh kan? Dia tidak mungkin akan melawan badai salju hanya karena ingin menemuiku." Hana mencoba menenangkan diri sendiri.
Sudah empat jam berlalu, tidak ada panggilan lagi dari Sangmin. Saat Hana menghubungi Sangmin, juga tidak asa jawaban. Hana diliputi perasaan cemas yang berlebihan.
Hana mengambil baju hangat, mengenakan Jas tebal, topi dan juga syal. Hana berniat untuk mencari Sangmin di sekitar jalan menuju Villa. Saat Hana telah bersiap-siap untuk pergi dan membuka pintu. Dia dikejutkan oleh adanya seorang lelaki yang tertunduk di depan teras dengan kulit pucat dan badan menggigil. Mendengar pintu terbuka, lelaki itu menengadahkan kepala dan tersenyum pada Hana.
"Aku tidak punya kekuatan lagi untuk mengetuk pintu," suaranya hampir tak terdengar.
"Tuan Jeon!!! Astaga tak kusangka kau benar-benar bodoh dan gila." Hana dengan panik segera memopang tubuh dingin Sangmin.
Hana sangat kesulitan tubuh kekar Sangmin dan tinghi badannya. Namun dengan tekad, Hana terus berusaha membawa Sangmin untuk sampai di kamarnya.
Tubuh Sangmin terus menggigil, bahkan Sangmin tidak membuka matanya sama sekali. Seolah-olah dia kehilangan kesadarannya.
"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Kau harus berendam air hangat. Tuanggu sebentar!"
Hana bergegas mengisi bak mandinya yang besar dengan air hangat. Kembali ke kamar, Hana dengan segera membawa Sangmin ke kamar mandi.
"Maaf, aku harus membuka bajumu agar kau biaa berendam." Dengan cepat dan sesekali mengalihkan pandangannya, Hana melepas seluruh pakaian Sangmin.
__ADS_1