RAHASIA KOTOR SUAMI ABUSIVE

RAHASIA KOTOR SUAMI ABUSIVE
BAB 8 | RASA SAKIT YANG TERTAHAN


__ADS_3

Hana bekerja dengan penuh semangat hari ini, suasana hatinya sangat bagus. Ucapan Jinyoung semalam membuat Hana berharap, rumah tangganya akan selamat dan hanya dipenuhi cinta kedepannya. Hana juga mendapat promosi untuk menjadi perwakilan dari Korea Selatan dalam acara kegiatan sosial yang dilakukan FDI World Dental Federation, organisasi dokter gigi se-dunia.


Suara pintu terbuka keras mengejutkan Hana, membuatnya sadar dari pikirannya.


"Hanaaa Aastagaa," Seera dengan senyum yang lebar membuka pintu dan menutupnya sembarang tanpa merasa bersalah.


Duduk sambil menyilangkan kaki dan menghadap Hana, sedang Hana hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Aku sudah lelah menyuruhmu untuk bersikap normal saat membuka pintu." Ucap Hana, sambil berjalan menghampiri Seera.


Seera hanya unjuk gigi saat Hana menarik nafas lelah, "Hei dengar! aku punya berita yang sangat bagus. Suasana hatiku sekarang dalam keadaan yang sangaaaat bagus."


"Oh, apa itu? Jangan bilang kau akan menikah dengan lelakimu yang baru kau kenal semingu ini." Selidik Hana penuh curiga.


"Kau terlalu dramatis," Seera memukul pelan lengan Hana. "Aku belum berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini."


"Lalu?"


"Taejin merencanakan pesta ulang tahun untukku, dan kau tahu? Dia juga meminta Sangmin untuk datang. Aku benar-benar mengaguminya, aku selalu takut untuk untuk sok akran padanya karena dia adik dr. Sangho. Tapi sekarang dia akan datang untuk ulang tahunku ...," Seera tersenyum senang. "Astagaa ini akan menjadi pesta ulang tahun yang paling mengesankan untukku."


Seera terus tersenyum, tanpa menyadari bahwa raut wajah Hana berubah masam setelah mendengar nama Sangmin.


"Dan tentu saja kau harus datang! Aku tidak menerima alasan apapun ya! Bilang pada suamimu yang pencemburu itu, kalau kau tak mau bilang, biar aku yang bilang."


"T-tidak, aku pasti akan datang. Aku akan menyampaikannya sendiri pada Jinyoung." Ucap Hana terburu-buru. Jinyoung akan marah jika sampai Seera yang memintakan izin agar Hana bisa pergi.

__ADS_1


"Siip kalau begitu, aku pulang dulu ya. Aku mengambil cuti tiga hari, aku kesini karena ingin mengundangmu secara eksklusif." Seera mengambil tasnya dan langsung berjalan pergi keluar, tanpa menunggu tanggapan Hana.


"Apakah Jinyoung akan marah lagi jika aku meminta izin untuk pergi? Tapi ..., tadi malam dia berjanji akan berubah dan memperbaiki hubungan kami."


...----------------...


Hana sedang menatap langit-langit kamarnya, mengistirahatkan raganya setelah seharian sibuk karena melayani pasien dan menjalani kewajiban sebagai ibu rumah tangga.


Tak terasa air matanya mengalir, ada segumpal keresahan dan kehampaan dalam relung hatinya yang tak pernah dia uangkapkan. Rasanya dia ingin lari dari kenyataan, bebas dan lepas. Memejamkan matanya, ada bayangan terang san gelap dari masa lalunya. Dimana Hana remaja yang hidup dengan keras mengahdapi cacian dan makian sebagai yatim piatu yang miskin. Berjalan dari satu gang ke gang lainnya, untuk mencari seseorang yang membutuhkan tenaganya.


Hana bahkan beberapa kali hanya minum air untuk mengisi perutnya, uang yang didapatkan harus ia simpan untuk membayar sekolah. Orang-orang yang melihat Hana akan selalu merasa kasian dan iba, namun Hana sendiri adalah seorang gadis yang ceria dan penuh tekad. Sampai akhirnya suatu hari, dimana kisah barunya dimulai. Pertemuannya dengan Jinyoung telah membuat lembaran baru pada hidup Hana.


Hana membuka matanya kembali dengan perasaan gelisah dan juga air mata yang terus mengalir.


"Bukankah hidupku dulu memang menyedihkan? Dan Jinyoung telah membuatku keluar dari itu semua. Dia mengabulkan impianku, memberiku tempat tinggal dan juga membuatku dapat bertemu dengan malaikat kecilku Soobin. Kenapa aku harus merasa sedih? Jinyoung tidak mengkhianatiku, dia hanya cemburu karena terlalu mencintaiku. Tapi mengapa sekarang malah aku merasa seperti ini? Kenapa aku harus menjadi manusia yang tidak tahu berterima kasih?"


"Hai sayang ..." Jinyoung tersenyum dengan langkah yang lebar, menghampiri Hana di tempat tidur.


"Aku sangat merindukanmu sayang, maaf aku pulang larut." Mencium lembut kening Hana.


Hana tidak menjawab, membuat Jinyoung heran dan menatap lekat mata Hana yang tampak basah.


"Kamu habis menangis? Ada apa sayang?" Jinyoung dengan khawatir duduk di samping Hana, sambil mengelus punggung Hana.


Hana diliputi emosional yang tertahan. Jiwanya terluka, dia ingin marah, tapi selalu tertahan saat mengingat bagaimana Jinyoung dulu berusaha keras untuk membiayai kuliahnya sampai Hana bisa menjadi Dokter Spesialis. Tapi dalam hati kecilnya, dia terluka, sakit dan kecewa dengan tindak kekerasan yang dilakukan Jinyoung, setiap kali dia marah.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa hun, aku hanya merasa terlalu lelah saja. Seharian banyak pasien." Hana berkata dengan air matanya yang tak dapat dia bendung.


Jinyoung memeluk Hana, dia ingin menenangkan istrinya di dalam dekapannya.


"Kalau kamu terlalu lelah, kamu bisa mengajukan cuti dulu sayang selama beberapa hari. Jangan paksakan dirimu." Menepuk pelan punggung istrinya beberapa kali.


"Aku baik-baik saja kok, aku hanya sedikit emosional."


Hana melepaskan pelukan Jinyoung, dan mengusap air matanya.


Hana menatap Jinyoung, wajahnya tidak berubah. Matanya yang menunjukkan kekhawatiran terhadap Hana, membuat hati Hana sedikit terenyuh. Hana selalu merasa bersalah, setiap kali dia berfikir ingin meninggalkan Jinyoung.


Perlahan Hana mendekat, dan duduk dipangkuan suaminya.


"Maaf ..., aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu," mengecup bibir Jinyoung.


"Hei apa yang kau katakan? Kau sudah sangat sempurna untukku, kamu dan soobin adalah duniaku. Seharusnya aku yang meminta maaf, maaf karena aku kesulitan menahan amarahku sehingga menyakitimu. Tapi aku melakukannya karena aku terlalu mencintaimu sayang." Jinyoung membelai pipi istrinya yang tampak memerah karena menangis.


Mereka saling menatap. Merasakan cemistry yang telah lama menghilang. Hana tidak ingin rumah tangganya hancur, dia ingin memperbaiki semuanya.


Jinyoung mengambil inisiatif untuk menjadi yang pertama kali mencium Hana. Mengecup bibir istrinya dengan lembut beberapa kali, kemudian perlahan melum*atnya sambil menggigit kecil bibir Hana. Membuat erangan tertahan dari istrinya.


Jinyoung mendekap erat Hana, dengan hati-hati membaringkan tubuh istrinya.


"Maaf sayang karena telah banyak membuatmu menangis, aku benar-benar berjanji untuk memperbaiki hubungan kita." Hana tidak mampu menjawab. Dia hanya menangis sambil terus mengerang. Merasakan kehangatan atas perlakuan lembut suaminya yang telah lama tidak dia rasakan.

__ADS_1


Hati dan pikirannya menjadi lebih kalut, pikirannya mengatakan bahwa Hana pantas untuk pergi dan menemukan kebahagiaannya. Namun hatinya selalu menahannya, rasa sakit yang Hana rasakan tidak cukup sebagai alasan untuk berhenti mencintai suaminya. Satu-satunya orang yang dulu ada dalam suka duka Hana, orang yang telah membuat Hana tidak lagi merasa sendirian, seseorang yang dengan gigihnya berjanji untuk membuat Hana menjadi apapun yang dia impikan.


"Bagaimana mungkin aku berani berfikir untuk meninggalkan Jinyoung? Bukankah ini hanya ujian rumah tanggaku, aku harus bertahan. Jinyoung telah berjanji untuk berubah, dan aku harus mempercayainya."


__ADS_2