RAHASIA KOTOR SUAMI ABUSIVE

RAHASIA KOTOR SUAMI ABUSIVE
BAB 5 | BUNGA MEMBAWA PETAKA


__ADS_3

Sangmin ingin mengunjungi dr. Hana hari ini. Dia benar-benar terganggu dengan ingatannya tentang wajah cantik Hana, Sangmin bahkan menjadi tidak tertarik lagi untuk menemui gadis-gadisnya yang biasanya telah menjadi rutinitasnya sebagai seseorang yang menyukai one night stand. Jadi dia membeli karangan bunga setelah syuting untuk albumnya dan berpikir akan berterima kasih pada dr.Hana atas pelayanannya kemarin. Namun Sangmin juga berharap jika beruntung, mungkin dia akan mengajak dr.Hana makan siang juga.


Suara ketukan terdengar di pintu ruangan dr. Hana


 "Masuk!"


 "Halo dr. Kim!" Saat Sangmin berjalan dan menatap wajah cantik yang sangat dia kagumi, Sangmin terkejut melihat mata Hana yang agak bengkak. Dia tampak pucat juga meskipun dia mencoba tersenyum pada Sangmin.


“Apakah kamu baik-baik saja, dr. Kim?” Sangmin bertanya khawatir.


"Ah iya. Aku bergadang tadi malam, dan sepertinya aku terlalu lelah karena tidak tidur. Tapi aku baik-baik saja." Hana masih tersenyum.


Sangmin tahu ada yang tidak beres dan dia berbohong. Sekarang, dia merasa sedikit murung karena apa yang dilihat di hadapannya. Bukan karena wajah cantik Hana yang sedikit bengkak, tapi karena kesedihan di matanya. Wanita tegas dan angkuh yang dia temui kemarin kini tiba-tiba menghilang.


"Uhm oke. Baiklah... Aku hanya datang untuk mengucapkan terima kasih atas pelayananmu kemarin. Aku tidak bisa mengucapkan terima kasih dengan benar kemarin, jadi ini, bunga untukmu." Sangmin tersenyum padanya, tapi dia benar-benar ingin menanyakan banyak pertanyaan pada Hana sekarang.


"Oh terima kasih! Sebenarnya tidak perlu. Tapi terima kasih Tuan Jeon." Hana meraih buket itu dan meletakkannya di atas meja di kantornya. Dia mengajak Sangmin duduk di sofa.


"Apakah aku menyakitimu kemarin dr.Kim?" Sangmin tidak bisa tidak bertanya. Ini benar-benar mengganggunya.


 "Selain kamu yang sombong dan menyebalkan?? Hmm... tidak ada." Kata dr.Hana mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana syutingnya?"


 "Tidak apa-apa. Aku sudah melakukan jutaan hal sebelumnya, terlalu mudah." Sangmin menyeringai padanya.


Hana memutar matanya, "Kamu benar-benar hebat, tahu? Bagaimana kamu bisa seperti itu dengan seseorang yang baru kamu temui?"


 "Menjadi seperti apa?" Sangmin bertanya.


"Yah, sebagai permulaan, kamu terlalu percaya diri dan terlalu mengganggu sehingga kamu tidak tahu kapan seseorang sudah merasa tidak nyaman!"

__ADS_1


 "dr. Kim, aku mungkin terlihat melakukan banyak hal, tapi ada satu hal yang tidak akan atau tidak akan pernah kulakukan dalam hidupku, itu adalah menyakiti seseorang yang kucintai dan sayangi, baik secara fisik maupun emosional."


Hana tertegun mendengarnya, entah apa maksud dari perkataan pemuda di hadapannya, tapi hatinya terasa tergores.


...----------------...


Hana tengah memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tasnya, hari ini pasien tidak terlalu ramai, jadi dia berencana untuk segera pulang dan menghabiskan waktu bersama putranya.


"Hai sayang." Sebuah pelukan erat dari belakang mengejutkan Hana, namun Hana berbalik dengan santai karena tahu bahwa itu adalah suaminya.


"Kau mengejutkanku Hun." Hana membalas pelukan Jinyoung.


"Aku memang ingin mengejutkanmu, maaf sayang, kemarin aku membatalkan makan malam kita. Jadi hari ini aku ingin menebusnya." Jinyoung dengan lembut mencium punggung tangan Hana.


Hana memandang lembut suaminya, dia sangat merindukan suaminya yang dulu. Yang selalu lembut dan penuh perhatian. Namun perhatiannya teralihkan saat melihat perubahan raut wajah Jinyoung, dan mengikuti arah tatapan suaminya. Jinyoung tengah menatap marah pada sebuket bunga yang ada di meja nakas Hana. Hana menghela nafas, dia tahu ini akan menjadi masalah, seharusnya dia tidak menerima bunga pemberian Sangmin.


 Jinyoung meremas pinggang Hana dan berbisik, "Siapa yang memberimu sebuket bunga cantik itu?"


 "Aku tidak tahu neraka macam apa yang akan aku hadapi malam ini karena si brengsek Jeon Sangmin, yang sombong itu!"


Jinyoung membatalkan rencananya untuk makan malam diluar, jadi Hana segera memasak untuk Jinyoung dan Soobin. Makan malam berlangsung tegang, Jinyoung hanya berbicara dengan Soobin dan mengabaikan Hana sama sekali.


"Kuharap dia mengabaikanku seumur hidupku."


Tapi begitu Jinyoung dan Hana memasuki kamar tidur mereka, setelah Hana menidurkan Soobin, Jinyoung berbicara pada Hana. "Aku ingin tahu, siapa pria yang telah memberimu bunga itu? hanya melihatnya saja, aku tahu itu adalah buket bunga yang mahal. Apakah memang hobby mu menggoda pria-pria kaya? Apa karena aku sering lembur karena sibuk dengan pekerjaanku, sehingga kau membutuhkan pria lain untuk kau ajak tidur?"


"Aku t-tidak sedang menggoda siapapun hun. Hanya saja..." Jinyoung tiba-tiba memukul Hana dengan punggung tangannya bahkan sebelum Hana bisa menyelesaikan kalimatnya. Cincinnya mengenai mulut Hana yang menyebabkan bibirnya berdarah.


Hana mulai menangis begitu dia melihat darah di jarinya saat dia menyentuh bibirnya, "Ji-jinyoung t-tolong, jangan salah paham lagi, itu hanya pasienku yang sedang mengucapkan terima kasih ..."

__ADS_1


Jinyoung menangkup rahang Hana dan berkata ke wajahnya, "Hana sayang, aku tahu kamu benar-benar cantik dan sangat menarik sayangku, sehingga kamu bisa merayu orang paling kaya sekalipun; tapi apakah kamu melacur sebanyak itu? Mengapa ada pasien yang rela memberikanmu bunga dengan harga mahal, jika bukan karena dia telah menyentuhmu, bukankah begitu? Pasienmu itu berterima kasih karena kau telah memberikan tubuhmu padanya bukan? APAKAH KAU PERLU MEMBUKA KAKIMU UNTUK ORANG LAIN??!!" Jinyoung berteriak dan menampar Hana lagi.


Hana terjatuh ke tempat tidur; dia mencoba melarikan diri dari suaminya, merangkak dari satu sisi tempat tidur ke sisi yang lain. Tapi JInyoung menyusulnya di dekat meja rias dan mencengkeram rambutnya sebelum membanting kepalanya ke cermin.


Hana merasakan kaca yang pecah itu menyayat dahinya dan dia merasa pusing sekali. Hana tidak tahu harus berbuat apa. Dia sangat takut. Tiba-tiba dia merasakan cairan dingin mengalir dari kepala ke pipinya. Hana gemetar dan yang bisa dia lakukan hanyalah memohon, "J-jinyoung t-tolong, tolong hentikan! Aku tidak melakukan apa-apa, aku bersumpah!! T-tolong!"


"IBU? AYAH?" Hana terbelalak saat mendengar putranya mengetuk dan berteriak di pintu. Jinyoung melihat ke pintu tapi tidak melepaskan rambut Hana yang dicengkramnya.


"Ibu, aku takut! Aku dengar ada yang pecah!!" Hana bisa mendengar Soobin menangis.


Hana mencoba mengontrol suaranya agar tidak terdengar seperti sedang menangis, "Soobin, sayang. Tidak apa-apa! Kembalilah ke kamarmu dan tidur. Tutup saja pintumu, sayang."


Hana kembali melihat ke arah Jinyoung dan berkata, "Jinyoung tolong, anak kita takut. Tolong biarkan aku menemuinya?"


"Apakah kamu gila? Kamu akan menunjukkan wajah itu padanya?? Kau ingin Soobin melihatku sebagai monster?" Jinyoung melepaskan Hana dan berjalan menuju pintu.


"Tidak, tolong. Tolong jangan sakiti anakku." Hana mencoba menghentikan suaminya dengan meraih lengannya.


"Dia anakku juga. Kenapa aku harus menyakitinya, apakah aku sebodoh itu dimatamu?!" Jinyoung mendorong Hana sampai ia terjatuh ke lantai.


Hana mendengar Jinyoung menghibur Soobin dan membawanya kembali ke kamarnya ketika dia keluar. Kini Hana hanya bisa merosot ke lantai dan menangis sepenuh hati.


"Apa yang harus saya lakukan? Haruskah aku menelepon Seera dan meminta bantuan? Atau justru itu akan memperburuk keadaan?"


Hana terkejut saat mendengar suara langkah kaki yang diyakini adalah suaminya, kembali ke kamar tidur mereka. Hana berlari ke kamar mandi dan mengunci pintunya.


Jinyoung berbisik ke pintu, "Hana, ayo buka pintunya! Tidak ada jalan keluar lain, sayang!"


Hana sudah lemas, kepalanya kini terasa kebas dengan luka berdarah di dahinya. Hana menangis dan duduk di sudut kamar mandi, berharap Jinyoung tidak mencoba menerobos masuk dan memukulny lagi.

__ADS_1


"Saya sangat lelah. Aku hanya ingin keluar dari sini. Aku berharap aku menghilang begitu saja."


__ADS_2