
Hana sedang mencuci tangannya setelah menyelesaikan pemeriksaan pasien terakhirnya. Hana mendengar suara pintu dibelakangnya terbuka, namum tak menghiraukan karena mengira itu adalah asistennya.
Hana terkejut saat sebuah tangan besar dan hangat memeluknya dari belakang.
"Maaf aku membuatmu marah tadi malam." Hana terkejut mendengar suara Sangmin di dekat telinganya.
Hana mencoba melepas pelukan Sangmin, namun dia memeluk Hana dengan begitu erat.
"Tuan Jeon, tolong jangan bertindak terlalu jauh. Aku bisa terkena masalah jika ada yang melihatnya!!!" Hana berkata dengan marah, namun tak membuat Sangmin bergeming.
"Aku sudah menutup pintu dan tirai jendela. Tidak ada yang akan melihat." Sangmin menyandarkan kepalanya di leher Hana, membuat jantung Hana berdegup kencang.
"Sa-sangmin ..., aku mohon lepaskan aku. Kau memelukku terlalu erat, aku sesak." Ujar Hana lembut, Hana berfikir mungkin dia harus mengahadapi Sangmin dengan lembut untuk mengatasinya.
Dan perkiraan Hana benar. Sangmin langsung melepas pelukannya saat mendengar Hana mengeluh sesak.
"M-maaf Hana. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Kau tidak apa-apa?" Sangmin tampak khawatir, yang membuat Hana bingjng untuk menanggapinya.
Hana ingin mengatakan sesuatu namun terhenti saat pintu kembali terbuka yang membuat Sangmin dan juga terlonjak kaget dan saling menjauhkan diri.
"Hanaaaa, kenapa kau pergi tanpa pa-" Seera terkejut melihat ada Sangmin. "Oh Hai tuan Jeon." Ucapnya ramah dan penuh semangat.
"Hai kakak ipar." Sangmin sengaja menggoda Seera.
"Hei tuan Jeon, kau membuatku malu."
Tingkah Seera membuat Hana dan Sangmin terkikik geli.
"Apakah aku mengganggu sesuatu yang penting?"
"Sial, apa yang Jinyoung lakukan disini?" Batin Hana.
"Umm iya, ini tempat kerja. Bukan ruangan untuk melatih kemampuan tinjumu?" seru Seera.
"Halo juga, dr.Seera, sambutanmu sangat ramah, aku terkesan." Jinyoung menatap tajam ke arah Seera. "Dan tuan Sangmin? Wah aku tidak tahu kalau idol yang sedang naik daun menjadi pasien ISTRIKU," Jinyoung menekankan kata Istriku, untuk melihat reaksi Sangmin.
"Hai tuan Jinyoung, aku juga tidak menyangka produser musik yang terkenal adalah suami dr.Hana." Sangmin tersenyum mengejek pada Jinyoung
__ADS_1
"Aku harus menghentikan ini atau aku tidak akan melihat cahaya matahari lagi." Batin Hana.
"Sayang ..., aku tidak tahu kamu akan datang. Apakah kita akan keluar makan siang? Di mana Soobin?" Hana berjalan ke arah Jinyoung untuk mencium pipinya untuk sedikit menenangkannya.
Tapi itu belum cukup baginya, dia menarik pinggang Hana dan mencium bibirnya dalam-dalam. Hana mencoba menarik diri dari Jinyoung, tapi tidak terlalu kasar, karena Hana tahu dia memiliki penonton.
"Baik. Kita pergi, ayo ke ruanganku saja tuan Jeon," Seera meraih tangan Sangmin dan berjalan keluar dari ruangan Hana. “Hana, teriak saja jika kamu butuh bantuan.” Seera berkata sebelum menatap sinis Jinyoung saat mereka keluar.
Begitu pintu tertutup, Jinyoung menoleh ke arah Hana. "Suatu hari aku akan mencekik sahabatmu itu. Jadi keparat itu adalah incaranmu?"
"Sayang, dia hanya pasien di sini karena Sangho adalah kakaknya. Sumpah, itu saja. Tolong jangan memulai apa pun di sini." Hana menjawab dengan gugup.
Jinyoung memandangi buket bunga yang sama dengan minggu lalu. Hana mengikuti arah pandang Jinyoung, yang menatap buket bunga yang Hana yakini Sangmin telah meletakkannya tanpa Hana sadari.
"Oh, itu milik Seera. Dia meninggalkannya. Seera berkencan dengan manajer tuan Jeon, dia mengirimkannya untuknya. Aku akan memberikannya nanti saja." Hana berbohong.
Jinyoung hanya mendengus kasar, dan menatap Hana penuh kecewa. Lalu dia menarik Hana ke kamar mandi. Dia membantingnya ke pintu.
"Hana sayang, kamu tahu hanya kamu milikku saja kan?" Jinyoung berbisik di depan bibir Hana.
"Jinyoung kita ada di tempat kerjaku. Jangan di sini, tolong!"
Hana meronta, berusaha melepaskan diri dari Jinyoung. "Hun ..., kumohon ..."
Jinyoung mencium Hana dengan kasar, yang sungguh perih karena Jinyoung membuar bibir Hana terluka. Tapi dia tidak punya pilihan selain membalas ciuman suaminya, jika tidak, dia hanya akan semakin marah.
"Biarkan aku memeriksamu sayang, untuk melihat apakah itu sudah disetu*buhi oleh orang lain."
"Jinyoung, apa-apaan ini! Hentikan..."
Jinyoung sudah melepaskan ikat pinggang Hana dan menurunkan celana dan celana dala*mnya. Jinyoung mulai menampar bokong telan*jang Hana, sambil menjilat lehernya. Menghisap kulit Hana yang halus dan harum. Meninggalkan bekas besar yang langsung terlihat.
"H-hun, tolong jangan tinggalkan ******. Ahhh, pasien akan melihatnya ...," Hana berkata sambil merasa begitu tersiksa dengan semua ciuman dan tamparan tangan Jinyoung.
"Jadi? Lebih baik mereka melihatnya supaya mereka tahu kau bercinta dengan suamimu." Jinyoung mencibir, "Membungkuk!!!" Dia mendorong kasar tubuh Hana, dengan tangan Hana bersandar di pintu kamar mandi dan pinggangnya yang ditekuk mengarah ke arahnya.
Dia merendahkan tubuh Hana dan untuk melihat area Hana dengan jelas. Dia menjilat setiap inci kulit Hana dengan agresif.
__ADS_1
"Sayang... Aagghh!! Hun, tolong hentikan!" Hana memohon.
Tidak peduli berapa kali mereka bertengkar, riasan se*ks mereka terus menjadi seolah solusi bagi Jinyoung.
Jinyoung menurunkan celananya. Dia melapisi anggotanya dengan air liurnya. Kemudian mendorongnya ke dalam Hana tanpa aba-aba, dengan keras dan cepat.
Hana berusaha menahan erangan kerasnya, dia hanya memegang erat kenop pintu untuk menahan diri. Air matanya mulai mengalir di wajahnya. Dia merasakan sakit dan perih. Tapi terlebih lagi, dia sedih karena hal ini terjadi lagi. Dia dianiaya oleh suaminya lagi dan dia membiarkannya. Apakah ini masih cinta? Saat ini, yang dia tahu hanyalah Jinyoung adalah suaminya. Apakah dia mencintainya? Dia tidak begitu yakin lagi setelah semua yang dia lakukan. Harapan yang dia bangun dihatinya, dengan mudahnya diruntuhkan oleh Jinyoung sendiri.
"Jinyoung, pelan-pelan t-tolong..."
"Kau yang meminta ini Hana, kau yang membuatku melakukan ini." Bukannya melambat, Jinyoung malah mendorong lebih cepat dan lebih kasar.
"Nngghhh... Brengsek hentikan kumohon!" Hana terengah-engah.
Jinyoung bernapas dengan keras di tengkuk Hana.
"Aku mencintaimu Hana. Kamu hanya milikku, ingat itu!" bisik Jinyoung.
...----------------...
Setelah bersih-bersih, mereka membetulkan baju dan celananya. Hana duduk di depan komputernya dan mulai bekerja lagi.
“Apakah kamu tidak lapar? Ayo keluar?” Jinyoung memeluknya dari belakang kursinya.
"Aku harus menyelesaikan ini dulu."
"Kenapa kamu tadi menangis? Apa sakit? Apa aku terlalu memaksakan diri?"
Hana menghela nafas dalam-dalam sebelum dia berani menjawab suaminya. Dia membalikkan badannya.
"Semuanya menyakitkan Jinyoung. Semuanya, Hingga aku tidak tahu lagi apa yang harus aku rasakan padam." Hana menangis lagi.
"Lalu apa yang kamu katakan? Bahwa kamu tidak mencintaiku lagi Hana??" Mata Jinyoung melebar.
Sebelum Hana bisa membuka mulutnya lagi, Jinyoung menariknya ke dalam pelukannya. Dia mulai menangis di leher Hana.
Hana menghela nafas kecil karena tindakan tiba-tiba dari Jinyoung ini. Tapi dia tidak begitu terkejut sama sekali. Suaminya sepertinya selalu seperti ini. Setelah melampiaskan amarahnya, dia kemudian menjadi lembut seolah merasa bersalah telah menyakitinya.
__ADS_1
Jinyoung lalu menatap lurus, "Tolong jangan tinggalkan aku Hana, ya sayang??? Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku bisa gila."