
"Perkenalkan Nama Saya Cahya Damayanti, Nyonya" Ucapnya memperkenalkan diri kepada Nyonya Anindita Putri
Nyonya Anindita hanya menatap putri dari ujung rambut sampai ujung kakinya " Kamu sahabatnya Zahra Ponakan suami saya" tanya Anindita
"Iya Nyonya"
"Berarti kamu masih kuliah semester dua sama seperti Zahra"
"Iya Nyonya"
"Kenapa kamu ingin bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga"
"Saya butuh Uang untuk memenuhi biaya kehidupan saya sehari-hari, walaupun menjadi seorang ART asalkan hasil yang saya dapat itu Halal Nyonya"
Anindita dapat melihat kejujuran dimata gadis yang menjadi sahabat dari ponakan suaminya, gadis yang tangguh dan pekerja keras. Ponakannya Zahra telah menceritakan semuanya bahwa Cahya adalah gadis yatim piatu yang berusia 20 Tahun, mahasiswa jurusan ekonomi. dia dapat duduk di bangku kuliah melalui Jalur Beasiswa karena kecerdasannya.
"Baiklah kamu bisa bekerja disini dan tetap melanjutkan kuliah mu"
"Makasih Nyonya" Cahya seketika langsung mencium punggung tangan Anindita sangking senangnya ia di terima bekerja di rumah keluarga Dafa Abraham
"Cahya di Rumah ini hanya ada saya dan suami saya namanya Dafa Abraham dan juga ada ART lainnnya, Kamu bisa bantu-bantu Bi Mina sebelum berangkat ke kampus dan setelah pulang kampus, setelah ini ambil bajumu di kosan dan bawa ke sini kamu akan tinggal sekamar dengan Marni" ucap Anindita menjelaskan
"Baik Nyonya, kalau begitu Cahya permisi langsung ke kosan dulu ambil baju dan buku-buku kuliah"
"Assalamualaikum"
"waalaikum salam" Balas Anindita ia tersenyum memandangi Punggung Cahya yang semakin menghilang
...****************...
Setelah selesai membereskan barang-barangnya Cahya langsung bergegas balik ke kediaman Pak Dafa Abraham ia berniat akan segera membantu Bi Mina untuk memasak makan malam Untuk tuan dan Nyonya Abraham
"Assalamualaikum" Cahya memberi salam ketika dia berada di depan pintu
"waalaikum salam" Jawab Bu Mina dari dalam rumah dan membuka pintu
"Mari masuk nak Cahya" Ucap Bi Mina dan mengangkat tas Cahya
"Eh jangan bi Biar Cahya aja yang bawa itu berat" Ucapnya ketika melihat Bi Mina ingin membawa tasnya
"Sudah Tidak apa-apa mari bibi bantu, kamu bawa aja gardus itu sepertinya berat bibi tidak kuat membawanya" Ucap Bu Mina dengan sedikit memaksa agar Cahya membiarkan dirinya membawa tas gadis tersebut
"hehehehe ia Bi ini buku-buku kuliah saya, Yaudah kalo gitu" Ucap Cahya pasrah karena ia memang tak mampu membawa tas dan kardus sekaligus tadi ia di bantu sama satpam penjaga gerbang membawa kardus yang berisi buku-bukunya sampai di depan pintu
"Ayo ikut bibi" Ajak Bi Mina
Aira tersenyum menanggapi ucapan Bi Mina dan berjalan mengikuti wanita paruh baya tersebut. kini mereka telah sampai disebuah kamar khusus Art yang terlihat sudah mempunyai penghuni ada beberapa barang milik seseorang disana
"Cahya ini kamar kamu sama Marni" Ucap Bu Mina memberi tahu
"Ia Bi, Cahya beresin dulu baju dan buku-buku kuliah"
"Ia nak kamu Istirahat dulu pasti cape pulang kuliah kamu tidak istirahatkan langsung kesini trus balik ke kosan ambil barang kamu habis itu balik lagi"
__ADS_1
"Ia Bi makasih ya, udah ngertiin Cahya" ucapnya sambil merangkul lengan bi Mina. Bi Mina balas mengusap Kepala Cahya baru beberapa menit bertemu dengan gadis ini ia merasa nyaman dengan sikap Cahya yang lembut, sopan dan penyayang
Setelah Bi Mina keluar dari kamar Cahya segera membereskan baju dan buku-bukunya pada sebuah lemari kosong mungkin sudah disiapkan untuk dirinya, selesai membereskan barang-barangnya ia pun segera mengambil peralatan mandinya tidak lupa ia bawa baju ganti sekalian
"Bi, Cahya bantu apa ni" Ucapnya mengagetkan Bi Mina yang sedang memasak
"Cahya, kamu kagetin bibi aja, kenapa tidak istirahat saja nak"
"Bi, Cahya disini bekerja sama seperti bibi sebagai ART ngapain Cahya istirahat di kamar seperti tuan putri"
"Ya udah kalo kamu ngak cape ngak papa, bantu bibi, kamu bisa masak kan"
"Bisa dong bi, Cahya gitu" Ucapnya sambil terkekeh menampilkan deretan gigi putihnya
Cahya penasaran dengan sosok yang bernama Marni dari ia datang sampai saat ini belum melihat gadis yang bernama Marni
"Bi Mba Marni kemana ya, Cahya mau kenalan?" Tanya Cahya di sela-sela mereka sedang menyiapkan makan malam untuk Tuan dan Nyonya Abraham
"Marni lagi pulang kampung ibunya sakit"
"Oh gitu ya, semoga Ibunya Mba Marni segera sembuh"
"Amin" ucap Bi Mina tersenyum ia sangat menyukai sikap Cahya yang penyayang
"Cahya setelah ini kamu panggil Nyonya ya makan malam sudah siap"
"Iya Bi"
"Hei, kamu siapa" Tanya Pria tersebut yang tak lain adalah Tuan Dafa Abraham
"Saya Cahya Tuan, saya ingin memberi tahu Nyonya makan malam telah siap
"Kamu ART baru ya?" Tanya Dafa sambil berjalan naik
"Ia Tuan"
"kata Istri saya kamu temannya Zahra Ponakan saya ya?"
"Ia tuan, maaf saya permisi ke dapur"
...****************...
Dafa hanya menatap punggung Cahya yang berlalu pergi dari hadapannya. Ia pun segera berbalik dan masuk ke dalam kamarnya dan mencari keberadaan sang Istri
"Sayang kamu dimana" Dafa tak menukan istrinya di balkon ia mengecek di kamar mandi terdengar bunyi Air dan ternyata Anindita ada di dalam
Dafa membaringkan tubuhnya di atas sofa yang ada di dalam kamar mereka ia terkejut ketika merasakan tangan lembut menyentuh pipinya Dafa membuka mata dan mendapatkan sang istri yang baru selesai mandi dan masih mengenakan handuk sebatas d*d* saja bahkan sebagian asetnya menyembul keluar
"sayang" Dafa mengelus pipi istrinya Anindita
"mas bangun mandi dulu"
"baiklah mas mandi dulu setelah itu kita makan malam bersama" Dafa bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual setelah pulang kerja ia sangat gerah badannya terasa lengket
__ADS_1
"mandilah aku akan menunggu mas" Anindita segera menggunakan pakaian dan mengoleskan hand body pada seluruh tubuhnya mengunakan make up tipis dan lipbam untuk melembabkan b*b*r nya Anindita selalu merawat tubuhnya agar ia selalu terlihat cantik dan sempurna Dimata suami tercintanya Dafa Abraham apalagi dia tidak bisa memberikan seorang Anak untuk suaminya, karena Anindita tidak mau suaminya berpaling dari dirinya hanya karena dia tidak bisa memberikan seorang anak kepada suaminya
"Mas mari Aku keringkan rambut mu" Anindita mengambil handuk kecil dan berjalan mendekat ke arah suaminya dan menuntun Dafa menuju ke kursi yang ada di depan meja rias miliknya
Dafa memandang wajah istrinya dari pantulan kaca ia kagum dengan kecantikan Anindita yang tak pernah luntur karena istrinya sangat pintar merawat diri
"sayang kamu cantik sekali"
Anindita yang mendengar pujian suaminya Tersenyum dan mengecup pipi Dafa
"sudah selesai mas bajunya sudah aku siapkan di atas tempat tidur" Anindita berjalan menaruh kembali handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut suaminya di kamar mandi
pasangan suami istri itu berjalan beriringan bergandengan tangan menuruni tangga. Cahya yang berada di dapur yang berhadapan dengan tangga dapat melihat langsung suami istri yang sedang menuruni tangga secara bersamaan mereka terlihat sangat mesra
"Tuan dan Nyonya sangat serasi" Gumam Cahya dalam hatinya memandangi suami istri yang sedang menuruni tangga
"Selamat malam Tuan, Nyonya" sapa Cahya kepada kedua majikannya
"malam juga Cahya, wah sepertinya menu makan malam ini terlihat berbeda dan istimewa" Ucap Anindita melihat menu makan malam mereka sedikit berbeda dari biasanya
Dafa hanya diam saja tidak menanggapi ia duduk di kursinya menunggu sang istri menyendokan nasi dan lauk ke dalam piringnya. "mas mau lauk yang mana?" Tanya Anindita setelah menyendokan nasi kedalam piring Dafa "Yang itu dan itu " tunjuk Dafa pada piring berisi sayur capcay dan juga udang saus asam manis
"Enak" Ucap Dafa
"Iya mas enak aku suka sama sayur capcaynya" Anindita menanggapi ucapan Dafa
Cahya telah kembali ke kamarnya setelah Kedua majikannya datang untuk makan. kini ia berada di dalam kamarnya mengerjakan tugas makalah dari dosennya. setelah ia selesai mengerjakan tugas makalah Cahya ingin ke dapur untuk membereskan bekas makan Tuan dan Nyonya Abraham
"Cahya kamu belum tidur?"Tanya Bi Mina yang melihat Cahya telah berada di dapur
"Cahya mau beresin dulu bekas makan tuan dan nyonya Bi" Ucapnya
"kamu istirahat saja nanti bibi yang beresin meja makannya, esok kamu masih kuliah nanti bangunnya kesiangan"
"tidak apa-apa bi, aku bantu ya agar cepat selesai bibi juga bisa secepatnya istirahat"
Bu Mina akhirnya mengalah juga dan membiarka Cahya membantunya ia sangat senang Cahya sangat pengertian dan penyayang tidak seperti Marni tidak mau membantu Bi Mina lagi di dapur jika dia telah selesai membersihkan rumah
"Makasih ya Cahya kamu Udah Bantu Bibi Masak dan membersihkan dapur"
"Iya Bi, sama-sama" ucap Cahya sambil bergelayut manja di tangan Bu Mina
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi mereka "Gadis yang baik" Gumam Dafa ketika dia hampir sampai di dapur namun langkahnya terhenti melihat kedua ART nya
Bersambung...........
...****************...
Mohon dukungannya ya...kini Author sedang mengikuti event/Lomba 🙏🙏😊
**Jangan Lupa tinggalkan jejak like, komen dan Votenya. Jangan Lupa tambahkan Novel ini ke dalam daftar novel Favorit para readers ya agar selalu dapat Notifikasi part berikutnya 🤗🥰
Semoga para readers semuanya sehat selalu dan dimudahkan rezeki dan segala urusannya oleh Tuhan 🤲🤲**
__ADS_1