
"mama" Ucap Anindita ketika melihat ibu mertuanya dia pun berdiri menyalami wanita yang telah melahirkan suaminya
"Baguslah jika kamu sudah mengizinkan putra ku untuk menikah lagi, setidaknya dia masih punya kesempatan untuk mempunyai keturunan" Ucap Bu Asmirandah ketus terhadap menantunya dan mendaratkan bokongnya pada kursi yang berada di ruangan itu
"iya ma" Anindita bingung harus berkata apa lagi semenjak ia divonis tidak bisa mengandung mertuanya semakin ketus dari hari ke hari ketika berbicara dengannya.
Nyonya Asmirandah bahkan menyuruh putranya untuk menceraikan istrinya namun Dafa tak menghiraukan karena Dafa sangat mencintai Anindita istrinya
Cahya dan Dafa kini sudah sampai di depan ruangan private tersebut
"Cahya ingat ya kamu jangan panggil tuan lagi tapi panggil saya mas" Dafa segera masuk lebih dulu setelah mengingatkan Cahya agar berhenti memanggil dirinya dengan sebutan tuan
Cahya cemberut ketika tat kala Dafa meninggalkan dirinya sendiri ia pun menarik nafas sebelum tangannya memutar handel pintu.
"Dafa mana calon istri kamu"
"ada ma" Dafa menoleh ke belakang dan melihat Cahya tidak ada ketika dia ingin membuka pintu ternyata pintu sudah di buka oleh Cahya dan diikuti suara bersalam Cahya
"Assalamualaikum" Cahya tersenyum kepada semua yang ada di dalam ruangan itu ia dibuat terkejut begitu juga dengan Bu Asmirandah yang mengenali Cahya
"Tante As"
"Cahya"
ucap keduanya secara bersamaan. Bu Asmirandah berdiri dan merangkul Cahya membawa gadis itu duduk bersamanya. Dafa dan istrinya Anindita saling berpandangan
"Cahya ternyata kamu dan mama sudah saling mengenal ya?"
"Iya Mas baru kok tadi sore di taman" Cahya
"sayang yang tadi sore mama cerita sama kamu di taman ya si Cahya yang ini, Cantik kan"
Anindita terkejut ketika Cahya memanggil suaminya dengan sebutan mas " mas kenapa Cahya panggil kamu dengan sebutan mas" Bisik Anindita ketika Dafa sudah duduk di sampingnya "aku yang menyuruhnya karena disini ada mama apa kamu mau rencana kita berantakan" Bisik Dafa balik tepat di telinga Istrinya
"kalian berdua ngapain sih bisik-bisik" Bu Asmirandah jengah melihat tingkah Putra dan menantunya
"ma Cahya ini adalah gadis yang akan Dafa nikahi" ucap Dafa to the poin
"mama setuju dua Minggu lagi kalian menikah mama akan mempersiapkan semuanya"
"ma pernikahan ini hanya ada ijab kabul dan dihadiri keluarga terdekat saja"
"maksud kamu dirahasiakan begitu" Dafa hanya mengangguk mengiyakan
"tidak bisa seperti itu bagaimana perasaan Cahya nanti"
"Tante aku ngak papa kok kalo pernikahan ini hanya ada ijab kabul karena setelah...."
__ADS_1
"ma Cahya aja ngak keberatan" sambung Dafa cepat hampir saja Cahya mengatakan jika mereka akan bercerai setelah anak itu lahir
"Cahya sayang tadi kamu mau bilang apa, karena setelah, setelah apa sayang?" Tanya Bu Asmirandah merasa curiga kepada putranya
Cahya yang ditanyai merasa bingung hanya menatap ke arah Dafa dan Anindita. " Ma Cahya itu tidak mau setelah menikah ia di cap pelakor jika ada resepsi dan sebagainya" Dafa beralibi agar mamanya tidak curiga terus
"Cahya apa yang dikatakan Dafa betul" Tanya Bu Asmirandah
"Betul Tante, Cahya tidak mau dicap sebagai pelakor karena itu akan berpengaruh pada beasiswa ku"
"ya udah kalo itu mau kamu sayang" ucap Bu Asmirandah
"Alhamdulilah akhirnya kamu jadi menantu mama juga, dari awal kita ketemu mama tuh udah senang banget dan yakin jika kamu pasti akan menikah dengan anak mama"
"iya Tante" Aira tak enak hati dari tadi Anindita hanya diam saja menatap ke arahnya
"jangan panggil Tante panggil mama biar sama seperti Dafa dan Anindita"
"i iya ma ma" Cahya berkaca-kaca tat kala Bu Asmirandah menyuruhnya memanggil mama. Bu Asmirandah yang melihat itu segera merangkul Cahya kedalam pelukannya
"kenapa menangis sayang"
"tidak apa-apa ma" Cahya menghapus Air matanya
"Dafa kapan kita akan berkunjung ke rumah kedua orang tua Cahya untuk meminang Cahya untuk mu"
"ya Astaga maafkan mama sayang, mama tidak bermaksud membuat kamu sedih" Bu Asmirandah mengelus lengan Cahya dengan lembut memberikan kekuatan
"gadis yang kuat" batin Dafa sambil menatap ke arah Cahya
"ngak papa mama aku udah biasa"
"sayang kamu ngak punya seseorang untuk diundang ke pernikahan kamu"Tanya Bu Asmirandah
"ada ma, Bu Siska dia adalah guru Cahya yang sudah Cahya anggap seperti Ibu Cahya sendiri"
"Baiklah, kita harus memberi tahukan kepadanya tentang pernikahan kalian" Bu Asmirandah menatap putranya seakan memberikan isyarat agar Dafa segera menghubungi Bu Siska. Dafa yang mengerti maksud mamanya segera mengangguk mengiyakan
"ya udah kita makan dulu mumpung masih hangat ni" Ucap Bu Asmirandah setelah pelayanan selesai menyajikan makanan
...****************...
Esok harinya setelah Cahya selesai kuliah Dafa sudah menunggu di depan kampus untuk bersama Cahya menemui Gurunya yang bernama Bu Siska
"Cie cie yang di jemput calon suami" Zahra tersenyum menjahili Cahya
"apaan sih" kilah Cahya
__ADS_1
"Aduh yang sebentar lagi jadi istri orang" Goda Randi merangkul pundak Cahya dan mencubit pipi kiri sahabatnya yang sebentar lagi akan melepaskan masa bujangnya
"sakit tau" Cahya cemberut sambil mengusap pipinya yang sakit akibat kena cubit dari sahabat nya si Randi. Randi hanya tersenyum mengacak rambut Cahya gemas melihat tingkah sahabatnya yang ia sudah anggap seperti adeknya sendiri sambil terkekeh melihat rambut Cahya yang berantakan akibat ulahnya
"Randi" Teriak Cahya menjewer telinga Randi
"ampun ampun" Randi mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Zahra hanya tersenyum menggelengkan kepalanya melihat tingkah Randi dan Cahya
Zahra dan Randi sudah mengetahui jika Cahya dan Dafa sebentar lagi akan menikah, seluruh keluarga Dafa tidak mengetahui jika pernikahannya yang kedua ini hanya merupakan kesepakatan antara Dafa dan Anindita bersama Cahya hanya mereka bertiga yang tau
Dafa jengah melihat tingkah Calon Istrinya bersama kedua sahabatnya "lama sekali" gerutunya
pip
pip
pip
Dafa membunyikan klaksonnya. ketiganya terperanjat mendengar bunyi klakson yang sangat keras
"sana sana di tungguin Calon suaminya tuh" Zahra mendorong pelan sahabatnya agar pergi ke mobil om Dafa. dengan langkah gontai Cahya pun melangkah menuju mobil Dafa
"dada Aunty Aya" ucap Zahra dan Randi bersamaan melambaikan tangan menggoda Cahya. Cahya hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah kedua sahabatnya.
Zahra menatap ke arah Randi "emangnya Cahya aunty kamu ya?" Tanya Zahra setelah mobil om Dafa telah berlalu pergi membela jalanan
"iya, kamu kan calon istri ku" ucap Randi sambil merangkul pundak Cahya
"ngak nyambung apa hubungannya" tanya Zahra bingung menatap Randi
"Jika kita berdua menikah nanti, pastinya aku akan memanggil Cahya aunty iya kan?" ucap Randi sambil menaik turunkan alisnya sambil tersenyum ke arah Zahra
"mimpi, siapa juga yang mau nikah sama kamu" ucap Zahra sambil menjentik jidat Randi dengan pulpen yang ia pegang dan berlalu pergi menaiki taksi pesanannya yang sudah datang
"aduh, sakit" Randi mengelus jidatnya menatap kepergian Zahra yang sudah masuk ke taksi
"aku mencintaimu sahabat ku Zahra Ramadani" Ucapnya pelan tersenyum menatap Taksi yang ditumpangi Zahra sudah menghilang dari pandangannya
Bersambung...............
...****************...
Mohon dukungannya ya...kini Author sedang mengikuti event/Lomba 🙏🙏😊
Jangan Lupa tinggalkan jejak like, komen dan Votenya. Jangan Lupa tambahkan Novel ini ke dalam daftar novel Favorit para readers ya agar selalu dapat Notifikasi part berikutnya 🤗🥰
Semoga para readers semuanya sehat selalu dan dimudahkan rezeki dan segala urusannya oleh Tuhan 🤲🤲
__ADS_1
makasih semuanya 😘🙏