Rahim Pengganti Sang Asisten Rumah Tangga

Rahim Pengganti Sang Asisten Rumah Tangga
Eps 11 RPS (ART)


__ADS_3

"selamat datang tuan dan Nyonya-nyonya Abraham, silahkan duduk" dokter Annisa menyapa Dafa dan kedua istrinya serta mempersilahkan mereka untuk duduk


"makasih dokter" ucap Dafa dan mendaratkan bokongnya pada kursi yang sudah disediakan dan diikuti oleh Anindita dan juga Cahya


"Bu Cahya kapan hari terakhir anda haid" tanya dokter Annisa


"seminggu yang lalu sebelum kita datang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan kesuburan Kandungan saya"


"siklus menstruasinya berapa hari Bu" tanya dokter Annisa lagi


"dua puluh delapan hari dokter"


Dokter Annisa manggut-manggut mendengar penuturan Cahya setelah itu terlihat dokter Annisa mengotak Atik ponselnya


"dua hari lagi baru bisa kita melakukan Inseminasi" ucap dokter Annisa


"tapi kenapa harus menunggu dua hari lagi dokter, apa hari ini inseminasi tidak bisa dilakukan" tanya Anindita tak sabar lagi dirinya ingin hari ini juga Inseminasi dilaksanakan secepat mungkin agar bisa segera hamil melahirkan dan pergi sejauh mungkin dari kehidupannya dan juga Dafa


"karena siklus menstruasi Bu Cahya dua puluh delapan hari maka Masa subur Bu Cahya dimulai di sekitar waktu ovulasi, yaitu kira-kira lima hari sebelum ovulasi terjadi. Biasanya, masa subur Bu Cahya terjadi sekitar 12–16 hari sebelum masa haid berikutnya. Dengan kata lain, Bu Cahya mengalami masa subur di antara hari ke-10 sampai hari ke-17, dan dua hari berikutnya adalah hari yang tepat untuk melakukan Inseminasi. melakukan Inseminasi pada masa subur kemungkinan berhasil nya sangat tinggi, tuan dan Nyonya-nyonya " Terang dokter Annisa kepada Dafa, Anindita dan juga Cahya. Anindita terlihat sedikit kecewa namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena dokter lebih mengetahui


"baiklah dokter dua hari lagi kami akan datang untuk melakukan Inseminasi" ucap Dafa


"iya tuan Dafa, maaf saya ingatkan sekali lagi agar anda dan nyonya Anindita tidak melakukan hubungan suami istri dulu"


"tapi kenapa dokter" lagi-lagi Anindita bersuara menanyakan larangan Dokter agar dirinya dan suaminya tak boleh melakukan hubungan suami istri. Dokter Annisa tersenyum menanggapi pertanyaan Anindita


"maaf Bu bukannya saya melarang hanya saja dua hari lagi inseminasi akan di lakukan jika melakukan hubungan suami istri saat ini takutnya sp*er*ma pak Dafa kurang berkualitas lagi, dan itu akan mempengaruhi hasil inseminasi" Dokter Annisa tersenyum menjelaskan agar Bu Anindita tidak lagi bingung


"Baiklah dokter makasih banyak atas informasinya" Anindita tersenyum menanggapi penjelasan dokter sebenarnya dia merasa berat jika tidak melakukan hubungan suami istri dengan suaminya Dafa

__ADS_1


selesai mendengar penjelasan dari dokter Annisa Dafa pamit undur diri


"makasih dok atas penjelasannya" Dafa berdiri dari duduknya dan menjabat tangan dokter Annisa dan diikuti oleh Anindita dan Cahya


...****************...


Dua hari berlalu begitu saja


"mas, maaf ya aku ngak ikut ke rumah sakit aku mau ngumpul bersama teman-temanku" ucap Anindita memberi tahu mengecup pipi dan bibir Dafa singkat


"emm... hati-hati di jalan ya" Dafa menatap kepergian istri pertamanya. setelah Anindita pergi Dafa pun keluar dari kamarnya hendak menuruni tangga namun langkahnya terhenti tat kala mendengar pintu kamar Cahya terbuka. Dafa terpana melihat penampilan Cahya yang berbeda hari ini tanpa sadar ia melangkah mendekat ke arah Cahya dan membingkai wajah cantik Cahya tatapan Dafa tertuju pada bi*bi*r pink yang terlihat segar. Cahya yang di tatap dengan intens dan jarak yang sangat dekat merasa sangat tegang jantungnya berdebar sangat kuat aliran darahnya seketika berdesir ketika Bi*bi*r hangat Dafa menyentuh keningnya. Cahya refleks menutup matanya Dafa yang melihat Cahya yang menutup mata terlintas ide untuk menjahili istri keduanya. Dafa memukul pelan bi*bi*r Cahya yang sudah monyong ke depan


"Aduh sakit" teriak Cahya dan membuka matanya "mas kenapa bibir aku di pukul seperti itu sakit tau" Cahya terlihat sangat kesal dia berharap Dafa menciumnya eh malahan bibirnya di pukul pelan. Dafa terlihat cuek tapi tidak dengan hatinya "dia manis sekali bertingkah seperti ini, aku ingin sekali merasakan bi*bi*r manisnya yang kedua kali" batin Dafa


"kenapa kamu tutup mata dan itu tuh kenapa monyong ke depan ingin di cium ya sama saya" tunjuk Dafa pada bibir Cahya


"ah i itu e anu, ngak lah mas lagian mana mungkin mas mau nyium saya mas kan ngak cinta sama saya. ciuman saya akan saya berikan tuk pria lain yang mencintai saya" entah kenapa mendengar Cahya berkata seperti itu Dafa seketika mengepalkan tangannya seakan dia tak rela jika ada pria lain yang menyentuh miliknya. Dafa melangkah maju ke arah Cahya dengan amarah di dadanya Cahya yang melihat ada kilatan amarah di mata Dafa seketika melangkah mundur ke belakang dia merasa takut Cahya yang berjalan mundur ke belakang ternyata masuk ke dalam kamarnya dan Cahya baru menyadari tat kala Dafa sudah mengunci pintu kamar


"mas aku mohon mas jangan lakukan ini" mohon Cahya dengan suara lirih kini Air matanya sudah mengalir deras membasahi seluruh wajahnya namun Dafa seakan tak menghiraukan permohonan istrinya karena dia sudah di kuasai amarah dan juga nafsuh


"mas jika kau terus melakukannya kau akan menyakiti diriku dan juga mba Anindita aku mohon jangan mas kita harus ke rumah sakit untuk melakukan Inseminasi" ucap Cahya lirih tak berdaya dengan suara parau merasakan milik Dafa akan masuk menghantam miliknya namun sebelum itu semua terjadi Dafa seketika tersadar dan menatap wajah Cahya yang sudah di penuhi dengan air mata ada rasa bersalah dan menyesal melakukan ini terhadap istri keduanya jika dia menginginkan dia akan memintanya secara baik-baik dan melakukannya secara lembut agar Cahya tak kesakitan dan pastinya Cahya akan menyetujuinya dengan ikhlas


Dafa segera beranjak dari tubuh Cahya dan memakai pakaiannya kembali dan melangkah keluar dari kamar Cahya


"maaf kan saya Cahya! saya akan menunggu mu di mobil" ucap Dafa tanpa menoleh menatap Cahya setelah berucap Dafa langsung keluar dari kamar Cahya dan menuju kamarnya


Bi Mina yang baru saja naik ke lantai atas seketika menghentikan langkah kakinya tat kala melihat tuan Dafa baru saja keluar dari kamar Cahya dengan penampilan yang berantakan "apa telah terjadi sesuatu kepada mereka berdua, semoga tuan tidak menyakiti nak Cahya" Bi Mina segera menuju kamar Cahya


Cahya tak percaya dengan semua yang baru saja terjadi "mas jika kamu menginginkannya kamu bisa saja meminta dengan baik-baik pasti akan ku berikan padamu karena itu adalah hak mu dan kewajiban ku sebagai seorang istri untuk melayani suami ku" ucap Cahya lirih Air matanya seakan tak mau berhenti tat kala mengingat perlakuan kasar Dafa

__ADS_1


"nak Cahya boleh bibi masuk" ucap bibi dari balik pintu


"masuklah Bi" Bi Mina terkejut melihat penampilan Cahya yang berantakan pakaian Cahya yang berhamburan kemana-mana dan mata Cahya yang sembab akibat menangis


"ada apa nak, apa yang terjadi dengan kalian berdua" Bi Mina berjalan menghampiri Cahya dan merangkul gadis itu kedalam pelukannya Cahya tak berkata sepatah katapun dia memilih diam di dalam dekapan Bi Mina


"ganti pakaian mu bukannya hari ini kalian harus ke rumah sakit untuk melakukan insemsasi" Cahya yang mendengar Bi Mina salah menyebutkan kata Inseminasi membuat gadis itu terkekeh


"inseminasi bibi bukan insemsasi" ucap Cahya dengan senyum yang terukir di wajah cantiknya


"hehehehe maksud bibi seperti itu" Bi Mina ikut terkekeh. ia bahagia melihat senyuman Cahya tapi ia akan merasa sedih jika melihat gadis itu sedih


"kamu yang sabar ya nak" Bi Mina mengelus kepala Cahya dan berjalan keluar dari kamar gadis itu. Bi Mina sebenarnya sengaja salah menyebutkan kata Inseminasi agar Cahya bisa terhibur. Cahya segera berjalan ke kamar mandi membersihkan dirinya dan mengambil baju lain untuk ia kenakan


Dafa masuk ke dalam kamarnya duduk di atas ranjang menarik rambutnya frustasi "ada apa dengan diriku kenapa mendengar dia akan memberikan ciumannya kepada pria lain aku sangat marah seakan-akan tidak rela"


"bodoh bodoh" Dafa merutuki dirinya sendiri " hampir saja aku menyakitinya" ucap Dafa kesal


"apa aku sudah mulai mencintainya, ah itu tidak mungkin aku hanya mencintai Anindita" Dafa menyangkali perasaannya terhadap Cahya


Bersambung..........


...****************...


Mohon dukungannya ya...kini Author sedang mengikuti event/Lomba 🙏🙏😊


Jangan Lupa tinggalkan jejak like, komen dan Votenya. Jangan Lupa tatnhbahkan Novel ini ke dalam daftar novel Favorit para readers ya agar selalu dapat Notifikasi part berikutnya 🤗🥰


Semoga para readers semuanya sehat selalu dan dimudahkan rezeki dan segala urusannya oleh Tuhan 🤲🤲

__ADS_1


makasih semuanya 😘🙏


__ADS_2