Rahim Pengganti Sang Asisten Rumah Tangga

Rahim Pengganti Sang Asisten Rumah Tangga
Eps 5 RPS (ART)


__ADS_3

"Cahya bangun" Dafa menepuk Pelan pipi Cahya


"mas biar aku aja yang bangunin dia" Anindita tidak mau suaminya bersentuhan dengan wanita lain baik itu hanya sekedar menepuk Pelan pipi Cahya entah mengapa perasaannya semakin karuan saja. Dafa segera keluar dari mobil dan memilih menunggu di luar mobil


"Cahya bangun kita sudah sampai, aduh anak ini seperti kebo aja" Anindita menggoyang-goyangkan tubuh Cahya agak kuat. Cahya merasakan tubuhnya seperti di goyang ia pun membuka mata perlahan dan terkejut ketika melihat Anindita ada di depannya


"Nyonya" Cahya


"Cepat bangun kita udah sampai, rapiin dulu baju kamu dan make up mu" Anindita keluar dari mobil setelah Cahya sudah bangun


"gadis itu sudah bangun" Tanya Dafa ketika melihat istrinya turun dari mobil


"iya mas sudah, ayo kita masuk pasti ibu sudah nungguin kita" Dafa dan Anindita berjalan bergandengan tangan memasuki sebuah restoran mewah. setelah selesai merapikan rambut dan juga bajunya Cahya keluar dari mobil namun dia tidak menemukan tuan dan nyonya Abraham


"kemana mereka" Cahya mengedarkan pandangannya namun tak menemukan tuan dan nyonya Abraham


"aku masuk saja mungkin mereka sudah di dalam" Cahya pun berjalan masuk namun ia tidak tau ke mana ia memutuskan ke kamar mandi dulu karena ia tak tahan lagi ingin buang air kecil


Nyonya Asmirandah yang datang lebih dulu sangat marah karena ia menunggu terlalu lama anak dan menantunya


"kemana sih mereka jam segini belum juga datang" Ucap Nyonya Asmirandah kesal dan mengambil ponselnya yang berada di dalam tas


"Dafa kamu dan istri mu dimana mama udah nunggu dari tadi ni" ucap Bu Asmirandah kesal ketika panggilan telpon tersambung


"udah di restoran ni ma"


" langsung saja ke ruangan VIP yang biasanya, mama mau ke toilet sebentar" Nyonya Asmirandah memutuskan panggilan telponnya secara sepihak


...****************...


"ah legahnya" ucap Cahya ketika dia selesai menyelesaikan hajatnya. Cahya sedang merapikan make up nya terdengar pintu di dorong oleh seseorang dari luar ia tak menghiraukan dan terus mengolesi bedak dan juga menambahkan lipstiknya


Bu Asmirandah yang baru saja masuk ia segera merapikan make up berdiri bersebelahan dengan Cahya namun mereka berdua tak menyadari ketik Cahya telah selesai dan menoleh ke sebelah melihat siapa wanita yang ada di sebelahnya ia baru menyadari jika wanita disebelahnya adalah Bu Asmirandah


"Tante As" panggil Cahya. Bu Asmirandah yang tak asing dengan suara yang tengah memanggil nya ia pun menoleh

__ADS_1


" eh Cahya kita ketemu lagi, kamu cantik sekali sayang" Bu Asmirandah melihat penampilan yang berbeda dari Cahya tidak seperti tadi sore ketika mereka bertemu


"makasih Tante, Tante apa kabar Tante juga cantik"


"Alhamdulilah Tante baik, kamu sendiri apa kabar"


"Alhamdulilah aku juga baik Tante, sebentar ya Tante ada telpon aku angkat dulu" Cahya berjalan sedikit menjauh dari Bu Asmirandah ketika melihat nama pemanggil tertulis di layar handphone tuan Dafa


"Halo mas" ucap Cahya sengaja karena ada Bu Asmirandah. Dafa yang mendengar Cahya memanggil dirinya mas mengerutkan keningnya tapi setelah itu senyum terangkat di bibirnya entah mengapa dia begitu senang mendengar Cahya memanggilnya dengan sebutan mas


"Cahya kamu di mana"


"aku di toilet mas, kebelet jadi aku langsung aja ke sini"


"Ya udah, eh kenapa kamu manggil aku mas"


"udah dulu ya mas" Cahya mematikan panggilannya secara sepihak ia tak enak dengan Bu Asmirandah yang memperhatikannya dari tadi. Dafa hanya menatap ponselnya ketika panggilan telpon diputuskan sepihak oleh Cahya. Fauzan menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan Cahya dia bahkan belum memberi tahukan tempatnya. Setelah sampai di ruangan private Dafa memutuskan untuk mencari Cahya karena tidak ketemu diapun menghubungi gadis itu yang ternyata berada di toilet


"Tante, Cahya duluan ya" Ucapnya setelah panggilan telpon dimatikan


"Cahya tadi siapa yang telpon" Bu Asmirandah penasaran


"ah itu tadi calon suami Cahya Tante" ucap Cahya tak enak hati karena Bu Asmirandah memintanya untuk menjadi menantunya tadi sore ketika mereka pertama bertemu


"ya udah Tante duluan ya" ucap Bu Asmirandah dan berjalan ke ruangan dimana putra dan menantunya berada dan akan memperkenalkan kepadanya calon istri kedua Dafa putranya. Cahya hanya menatap dengan perasaan tak enak kepada Bu Asmirandah yang telah pergi. Cahya pun menyusuri restoran tersebut mencari tuan dan nyonya Abraham


"dimana mereka, aku tadi bahkan lupa menanyakan tempatnya" Cahya mengambil ponselnya yang ada di dalam tas untuk melakukan panggilan


"pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini segera melakukan pengisian ulang" Terdengar suara operator ketika dia melakukan panggilan


"ah, ternyata paket telponnya udah habis, eh tapi masih ada paket SMS, aku SMS aja tuan Dafa" Cahya pun mengirimkan SMS kepada Dafa "Tuan kamu dimana aku tidak melihat keberadaan tuan dan nyonya" kira-kira seperti itu pesan yang dikirimkan Cahya kepada dafa. Dafa yang merasakan getaran ponselnya segera mengambil ponsel dari saku celananya terlihat ada pesan masuk dari Cahya. Dafa membacanya pesan dan mengerutkan alisnya "kenapa panggil tuan lagi sih" Gerutu Dafa pelan


"sayang aku keluar sebentar ya, kamu tunggu mama disini" Dafa segera keluar mencari keberadaan Cahya


"Dafa kamu ngapain disini" Tanya Bu Asmirandah ketika melihat putranya seperti sedang mencari seseorang

__ADS_1


"mama, masuk dulu temani Anindita aku sedang mencari calon istri ku" Ucap Dafa dan berlalu mencari keberadaan Cahya. Bu Asmirandah yang melihat tingkah Dafa putranya hanya tersenyum "Cinta itu mungkin sudah terbagi" ucap Bu Asmirandah pelan dan berjalan ke ruangan private yang sudah ia pesan


Dafa yang tak melihat Aira segera melakukan panggilan telepon agar mengetahui dimana gadis itu berada "Halo Cahya kamu dimana" Ucap Dafa ketika panggilan telpon tersambung


"Aku disini, di sebelah kiri tuan" Cahya melambaikan tangannya ke arah Dafa


" tuan lagi" Ucap dafa dan mematikan panggilan iapun berjalan ke arah Cahya


"kenapa tadi panggil mas dan sekarang panggil tuan" tanya Dafa ketika dia sudah berada di depan Cahya. Cahya hanya tersenyum menampilkan gigi putihnya


"Jangan panggil tuan lagi mulai sekarang panggil aku mas" Dafa membingkai wajah Cahya. Cahya merasakan aliran darahnya berdesir ketika Dafa membingkai wajahnya seperti itu "Aduh Jantung ku detaknya keras sekali jangan sampai tuan Dafa mendengarnya" batin Cahya


Dafa dapat mendengar degupan jantung Cahya dengan jelas seketika mengerutkan keningnya "kenapa dengan jantung kamu Cahya terdengar jelas sekali" Cahya menundukan tatapannya kini wajahnya memerah saking malunya "tuan bisa lepaskan tangan tuan dari wajah ku" Ucap Cahya


"eh iya, maaf Cahya" Dafa menurunkan tangannya dari wajah Cahya


" sudah aku bilang jangan panggil aku tuan lagi tapi panggil mas" Ucap Dafa berlalu pergi Cahya pun berlari mengikuti Dafa dari belakang


"eh itu bukannya tuan Dafa ya, trus itu selingkuhannya"


"sepertinya begitu masih muda dan cantik lagi"


"tuan Dafa pasti cari istri baru lagi tuh secara istrinya Nyonya Anindita tidak bisa memberikan anak kepada nya"


terdengar desas-desus beberapa wanita yang melihat Cahya berjalan beriringan dengan Dafa. Cahya hanya bisa menarik nafasnya "belum hamil aja udah gini gimana jika lihat aku hamil" ucap Cahya pelan namun masih bisa di dengar Dafa dan pria itu melirik sekilas ke arah Cahya yang ada di sampingnya. Dafa hanya menunjukkan wajah datarnya ketika mendengar wanita-wanita itu bergosip tentang dirinya


Bersambung.......


...****************...


Mohon dukungannya ya...kini Author sedang mengikuti event/Lomba 🙏🙏😊


Jangan Lupa tinggalkan jejak like, komen dan Votenya. Jangan Lupa tambahkan Novel ini ke dalam daftar novel Favorit para readers ya agar selalu dapat Notifikasi part berikutnya 🤗🥰


Semoga para readers semuanya sehat selalu dan dimudahkan rezeki dan segala urusannya oleh Tuhan 🤲🤲

__ADS_1


makasih semuanya 😘🙏


__ADS_2