Rahim Pengganti Sang Asisten Rumah Tangga

Rahim Pengganti Sang Asisten Rumah Tangga
Eps 8 RPS (ART)


__ADS_3

Cahya dan Dafa masuk ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter Annisa di ruangannya Dafa sudah membuat janji temu lebih dulu


"silahkan masuk tuan Dafa, dokter telah menunggu kedatangan anda" ucap seorang perawat yang berjaga di luar


"silahkan duduk tuan Dafa dan Calon Istrinya" ucap dokter Annisa dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya


setelah dokter Annisa menanyakan beberapa hal terkait dengan kesehatan kemudian dokter menyuruh Cahya untuk berbaring di atas brankar rumah sakit


"ayo Bu Cahya silahkan berbaring di atas brankar" ucap dokter Annisa untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait dengan kesuburan kandungan Cahya. Cahya mulai menaiki brankar dan berbaring diatasnya dengan posisi terlentang dokter menyingkap baju Cahya ke atas agar bisa melakukan USG


"maaf ya Bu bajunya saya naikkan sedikit agar kita bisa melakukan USG untuk melihat kondisi organ kandungan ibu" ucap dokter menjelaskan


"iya dok" Cahya menaikkan bajunya agar dokter Annisa bisa melakukan USG


setelah selesai melakukan USG dokter menurunkan baju Cahya dan menyuruhnya untuk membuka bawahannya dan menutup bagian bawa Cahya dengan kain dan meminta Cahya agar membuka pahanya sedikit lebar


"Bu Cahya tolong dibuka pahanya sedikit lebar"


Cahya mengikuti arahan dokter untuk membuka pahanya. Dokter akan melakukan Hysteroscopy yaitu memasukan alat khusus melalui leher rahim (serviks) untuk memantau kondisi rahim dan memeriksa apakah ada kelainan pada organ tersebut " (sumber Google)


"maaf ya Bu anda akan merasa kurang nyaman pada area V " Dokter memasukan alat khusus untuk melakukan Hysteroscopy


"iya Bu dokter" ucap Cahya lirih mulai merasa tak nyaman dengan apa yang dokter lakukan


lima menit kemudian proses Hysteroscopy telah selesai tidak ada masalah pada kandungan Cahya


"Alhamdulilah tuan Dafa dan Bu Cahya tidak ada kelainan pada organ rahim Bu Cahya dan juga rahim Bu Cahya sangat subur"


"alhamdulilah" ucap Dafa dan Cahya bersamaan


"ini saya kasih resep vitamin dan kesuburan untuk menambah kesehatan dan kesuburan Bu Cahya, tolong ditebus di apotek" Cahya dan Dafa mengangguk mengiyakan


"ah iya tuan Dafa, empat hari sebelum melakukan Inseminasi sebaiknya tuan tidak boleh melakukan hubungan suami istri dengan Nyonya Anindita dulu agar sp*er*ma yang dihasilkan adalah sp*er*ma* yang unggul"


"iya dok saya akan usahakan" ucap Dafa, dokter Annisa hanya tersenyum menanggapi ucapan Dafa


"permisi dokter" ucap Dafa dan Cahya bersamaan keluar dari ruangan dokter Dafa dan Cahya segera ke apotek rumah sakit untuk menebus resep obat untuk Cahya

__ADS_1


...****************...


"Cahya kita makan dulu ya saya lapar" ucap Dafa ketika mobil sudah membelah jalanan


"iya mas" ucap Cahya dan menganggukan kepala


suasana menjadi hening tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Dafa yang fokus menyetir dan Cahya yang merasa lelah menutup mata sejenak ia merasakan kelelahan dan rasa tak nyaman di area V masih berasa. Cahya yang menutup mata Sebentar ternyata tertidur ketika Dafa membangunkannya


"Cahya ayo turun kita sudah sampai" tak ada jawaban Dafa pun menoleh melihat Cahya yang begitu nyenyak sedang tertidur terdengar dengkuran halus


"anak ini bisa-bisanya dia tidur begitu pulas, kasihan pasti dia sangat kelelahan sekali" Dafa mengelus kepala Cahya lembut merapikan helai rambut yang menutupi wajah cantik Cahya tanpa sadar tangannya membelai lembut pipi Mulus Cahya. Tatapan Dafa terpaku pada bibir pink alami Cahya yang terlihat seksi dan menggoda untuk di sentuh.


Dafa menyentuh bibir manis Cahya dengan ibu jarinya terasa lembut dan kenyal seketika aliran darahnya berdesir Dafa mulai mengecup bibir Cahya dan me*lu*ma*t dengan lembut tidak ada penolakan bahkan Dafa merasa respon balik dari Cahya. Dafa semakin bersemangat di sela-sela ci*um*an mereka Cahya meyebut nama Dafa dan juga Cahya mengatakan dia sangat mencintai Dafa. Dafa terkejut melepaskan ciumannya dia takut jika saja Cahya terbangun tapi ternyata Cahya masih memejamkan matanya dan terlihat senyum mengembang di bibir Cahya


Cahya bermimpi Dafa menghampiri nya di sebuah taman membelai lembut kepala Cahya mengelus rambutnya dan menyelip di belakang telinganya. Dafa membelai lembut pipi dan bibir Cahya kemudian mengecup dan me*lu*ma*t dengan lembut bibir manisnya. "mas Dafa aku sangat mencintaimu Mas" ucap Cahya di sela-sela ciuman mereka setelah itu Dafa menyudahi ciuman tersebut.


"dia masih tertidur dan mungkin dia bermimpi, apa mungkin dia memimpikan diriku" batin Dafa masih menatap Cahya. Dafa membetulkan posisi duduknya ketika melihat Cahya bergerak dan matanya mulai terbuka


"kita sudah sampai cepat turun aku sangat lapar" ucapnya tanpa menoleh ke arah Cahya. Dafa membuka pintu mobil dan turun ia berjalan memasuki restoran meninggalkan Cahya yang masih termenung di dalam mobilnya


"hah ternyata yang barusan tadi hanya mimpi tapi rasanya kok seperti nyata ya?" Cahya meraba bibirnya terasa basah seperti orang yang baru selesai berciuman " kok basah sih, apa jangan-jangan mas Dafa beneran cium aku" Cahya merapikan rambut dan bajunya ia turun dari mobil masuk ke dalam restoran


"mas Dafa dimana sih selalu aja ninggalin aku seperti ini, lebih baik aku ke toilet sebentar" Cahya berjalan menuju toilet membasuh wajahnya


"Cahya kamu dimana aku menunggu mu" tanya Dafa ketika panggilan tersambung


"aku di toilet mas! membasuh wajahku mas sendiri lagi dimana?"


"cepat datang di Ruang yang kemarin kita ketemu sama mama" panggilan pun langsung dimatikan oleh Dafa


"ah iya, aku kok bisa lupa ya inikan restoran yang kemarin waktu aku bertemu dengan mama Asmirandah" Cahya keluar dari toilet dan berjalan ke ruangan private dimana Dafa telah menunggunya


"lama banget sih" ucap Dafa ketus ketika Cahya sudah mendaratkan bokongnya di kursi


"abisnya mas sih ngak nungguin aku dulu, langsung masuk ke dalam"


"udah makan jangan banyak bicara keburu dingin makanannya"

__ADS_1


Cahya makan dengan lahap namun sesekali dia memperhatikan Dafa "apa mungkin mas Dafa yang sudah mencium aku" batin Cahya menatap bibir Dafa. Dafa yang merasa diperhatikan menoleh ke Cahya


"kenapa kamu lihatin aku seperti itu Cahya"


"apa aku tanya langsung aja ke mas Dafa ya? tapi gimana kalo itu bukan mas Dafa dan hanya mimpi saja ah aku tanya aja deh dari pada penasaran" batin Cahya


"mas apa tadi waktu aku tidur mas mencium ku" tanya Cahya to the poin


Dafa terkejut dengan pertanyaan Cahya namun dia bersikap biasa saja "apa dia menyadarinya" batin Dafa


"tidak" jawab Dafa datar


"uh ternyata itu hanya mimpi bagus lah setidaknya ciuman pertama ku masih ada" ucap Cahya dan memasukan makanan ke mulutnya


Dafa tersenyum mendengar penuturan Cahya yang sangat jujur "Hmmm jadi aku adalah pria pertama yang menciumnya" Dafa menatap bibir Cahya yang berwarna pink alami "manis" Ucapnya pelan namun Cahya dapat mendengarnya


"apa yang manis mas" tanya Cahya


"eh i itu maksud aku dekor ruangan ini kelihatannya manis" ucap Dafa terbata dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"oh gitu ya" Cahya kembali melanjutkan makannya


...****************...


"mas gimana hasil pemeriksaan Cahya" tanya Anindita ketika mereka sedang berada di dalam kamar mereka dan Anindita sedang mengelus lembut burung perkutut Dafa di balik celana boxer yang Dafa kenakan


"mas ah" Desah Anindita ketika Dafa mulai menjelajahi hutan rimba Milik nya penyatuan kedua insan pun terjadi dengan penuh gairah dan diakhiri suara erangan keduanya bertanda mereka telah mencapai puncak kenikmatan bersama-sama


Bersambung............


...****************...


Mohon dukungannya ya...kini Author sedang mengikuti event/Lomba 🙏🙏😊


Jangan Lupa tinggalkan jejak like, komen dan Votenya. Jangan Lupa tambahkan Novel ini ke dalam daftar novel Favorit para readers ya agar selalu dapat Notifikasi part berikutnya 🤗🥰


Semoga para readers semuanya sehat selalu dan dimudahkan rezeki dan segala urusannya oleh Tuhan 🤲🤲

__ADS_1


makasih semuanya 😘🙏


__ADS_2