Rahim Pengganti Sang Asisten Rumah Tangga

Rahim Pengganti Sang Asisten Rumah Tangga
Eps 10 RPS (ART)


__ADS_3

Pukul dua siang lebih tiga puluh menit acara pernikahan telah selesai kerabat terdekat telah kembali ke kediaman masing-masing yang tertinggal hanyalah mama dan Kaka Dafa serta ipar dan ponakannya


keluarga inti Abraham tengah berkumpul di ruang keluarga. Bu Asmirandah sedang menceramahi Dafa agar selalu berlaku adil pada kedua istrinya


"Dafa, ingat ya sekarang kamu itu punya tanggung jawab yang besar kepada kedua istrimu poligami itu tidaklah muda kamu harus bisa berlaku adil kepada Anindita dan juga Cahya dalam berbagai hal terutama nafkah batin, mama berharap pernikahan kamu yang kedua ini bisa secepatnya diberikan anak oleh yang maha kuasa" selain menceramahi Dafa Bu Asmirandah juga meminta kepada Anindita agar membiarkan Dafa tidur di kamar Cahya


"Anindita kamu sebagai istri pertama Dafa yang tidak bisa memberikan anak kepada Dafa dan cucu kepada saya kamu harus bisa mengerti jika Dafa sering keluar masuk ke kamar Cahya karena mama sangat menginginkan cucu dan Dafa bisa secepatnya punya keturunan" Ucap Bu Asmirandah ketus terhadap menantu pertamanya. Anindita menundukan kepalanya mendengar ucapan mertuanya yang sangat menusuk hatinya. Dafa yang melihat itu segera mengelus lengan Anindita. Cahya yang berada disitu merasa tak enak hati dengan Asmirandah


"Bu sudahlah jangan di ungkit lagi kasihan Anindita" Ucapa Berlina agar mamanya tidak terus menerus menyudutkan Anindita


"mama! aku akan berusaha selalu adil untuk kedua istriku. Anindita juga pasti mengerti dan memahami diriku dia tak mengkin melarang ku ketika aku ingin ke kamar Cahya" Seketika Cahya dan Anindita menatap Dafa. Dafa yang di tatap oleh kedua istrinya hanya menunjukkan wajah datarnya seakan dia tak mengatakan sesuatu yang salah


"Dafa! awas aja kalo kamu ke kamar Cahya di perjanjian tidak ada yang namanya kontak fisik terutama hubungan suami istri" batin Anindita menatap Dafa


"mas Dafa Pasti hanya bercanda tidak mungkin lah dia akan datang di kamar ku dan meminta haknya sebagai seorang suami, tapi sebenarnya sih aku menginginkannya emang sih kedengarannya aku egois tapi itu kewajiban ku sebagai seorang istri jika mas Dafa memintanya pasti akan aku berikan dengan senang hati dan penuh Cinta" batin Cahya menatap Dafa dalam hatinya dia sangat senang jika Dafa benar-benar datang ke kamarnya


"ya udah mama mau pulang dulu! Cahya sayang mama pulang dulu ya" Bu Asmirandah memeluk Cahya dengan penuh kasih sayang


"iya ma hati-hati di jalan" Cahya membalas memeluk ibu mertuanya dan mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkan suaminya ketika pelukan itu sudah terlepas


"Cahya, Dafa, Anindita kami pulang dulu ya" Ucap Berlina


"aunty Aya, Zahra pulang dulu ya" kedua sahabat itu berpelukan dan cipika cipiki ala anak gadis yang ketika bertemu ataupun berpisah.


Cahya, Dafa dan juga Anindita mengantarkan Bu Asmirandah, Berlina beserta suami dan anaknya ke depan


"Dafa ingat ya ntar malam mainnya alun-alun aja jangan kasar" ucap Axel papanya Zahra sambil terkekeh dan masuk ke dalam mobil mengantarkan anak dan istrinya pulang sementara Bu Asmirandah sudah lebih dulu pergi diantarkan sopir pribadi


"mba maafkan aku" Cahya mengatup kedua tangannya di depan dada meminta maaf kepada Anindita. Cahya merasa tak enak hati mendengar mama Asmirandah berbicara ketus dan dingin terhadap Anindita

__ADS_1


"sudah lah Cahya kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu mama orang nya emang gitu" ucap Dafa dan menarik lengan Anindita menuju kamar mereka. Cahya yang melihat semua itu hanya bisa menarik nafas kasar. "ah aku seperti istri yang tak diinginkan" gumam Cahya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya


...****************...


Setelah mandi dan berganti pakaian Cahya segera naik ke atas ranjangnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kini mulai terasa lelah sedari subuh ia sudah di dandani oleh MUA terkenal ya MUA terkenal itu yang diutus oleh mertuanya Bu Asmirandah.


pembawaan Cahya yang baik, sopan dan penyayang membuat Mama Asmirandah sangat menyukai Cahya apalagi setelah mengetahui orang yang menolong dirinya dari jambret adalah Cahya sang Asisten Rumah Tangga putranya, Bu Asmirandah memimpikan Cahya menjadi menantunya ketika pertama kali bertemu dan ternyata impiannya menjadi kenyataan.


"mas kamu ngapain sih pake acara nyium keningnya Cahya dan tadi juga di depan mama mas bilangnya akan tidur bersama Cahya ingat ya mas di dalam perjanjian tidak ada yang namanya hubungan badan suami istri, hanya aku satu-satunya wanita yang kamu sentuh" Berbagai pertanyaan yang dilontarkan Anindita kepada Dafa ketika mereka berdua sudah di dalam kamar mereka. Anindita merasa suaminya sudah melanggar surat perjanjian pernikahan yang di buat Suaminya sendiri. Dafa tersenyum menatap istrinya yang sedari tadi berbicara tanpa henti dengan berbagai pertanyaan


"mas kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu, apa jangan-jangan emang kamu pengen ya tidur di kamar Cahya" Anindita mengecilkan pupilnya menyelidiki suaminya. Dafa semakin terkekeh menampilkan deretan gigi putihnya yang berbaris rapi


"sayang kamu tuh mikirnya terlalu jauh, apa kamu lupa tadi itu ada mama jika mas tidak lakukan semua itu mama akan curiga dan rencana kita gagal" Dafa membingkai wajah istrinya dan mencium kening Anindita


Anindita teringat jika hari ini adalah jadwal inseminasi" mas bukannya hari ini jadwal inseminasi Cahya ya" Anindita mengingatkan suaminya


"ah iya mas lupa untung saja ada istri mas yang cantik ini ingatin mas" Dafa mengelus kepala Anindita lembut berdiri mengambil ponselnya yang ada di atas meja rias Anindita


"jangan mas biar Aku nyuruh bibi aja yang ngasih tau sama Cahya" Anindita tak mau Dafa terus-terusan berkomunikasi dengan cahya baik itu secara langsung ataupun lewat panggilan telpon. Dafa pun mengiyakan saja apa yang dikatakan istri pertamanya dafa tau biar bagaimanapun Anindita pasti akan merasa cemburu dan tersaingi dengan Cahya yang putih, cantik, masih muda, dan mempunyai tubuh yang proporsional pria mana saja pasti akan tersentuh hatinya melihat kecantikan Cahya yang alami


"Bi, tolongin bilang Cahya ya kita nunggu di ruang tamu ini jadwalnya ke rumah sakit" Ucap Anindita ketika melihat Bi Mina yang sedang mengepel lantai


"iya Nyonya" angguk Bi Mina dan berjalan menuju kamar Cahya yang bersebelahan dengan ruang kerja Dafa


Cahya yang baru saja memejamkan matanya mendengar ketukan di pintu


tok-tok


tok-tok

__ADS_1


tok-tok


dan diikuti suara bi Mina yang memanggil dirinya


"nak Cahya! nak Cahya! apa kamu tidur nak" teriak Bi Mina agak keras agar cahya bisa mendengar suaranya. Cahya yang baru saja memejamkan matanya terbangun tat kala mendengar suara bi Mina. Cahya berjalan ke pintu untuk membukanya


"ada apa Bi mari masuk" Cahya menarik pelan bi mina dan menuntun tangan wanita yang sudah tak mudah lagi untuk duduk bersamanya di atas ranjang


"nak kamu di tunggu tuan dan nyonya katanya kalian mau ke rumah sakit, kalo boleh bibi tau mau itu anu apa namanya in insemsasi ya" Cahya tersenyum menggenggam tangan Bi Mina


"inseminasi Bi" ucap Cahya membenarkan


"ah itu dia nak maklum la bibi ini tidak bisa ucap kata-kata yang gituan kedengarannya seperti kata ke Inggris-Inggrisan itu" Bi Mina terkekeh


"inseminasi itu bisa buat nak Cahya hamil ya, kok bisa bibi bingung" Bi Mina menatap ke atas langit-langit kamar seolah dia sedang memikirkan bagaimana caranya Cahya bisa hamil dengan cara Inseminasi setaunya yah kalo mau hamil harus berhubungan badan dulu antara pria dan wanita. Cahya tersenyum melihat tingkah Bu Mina yang sepertinya sedang berfikir keras tentang istilah inseminasi


"bisa dong bi, jadi nanti dokter itu naruh benihnya mas Dafa di rahim Cahya dengan bantuan alat khusus agar terjadi pembuahan dan Cahya bisa hamil walaupun tanpa melakukan hubungan badan suami istri" Jelas Cahya dengan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti oleh Bu Mina dan terlihat Bi Mina manggut-manggut seolah dirinya telah mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Cahya


"ya udah bibi lanjutin kerjaan dulu kamu buruan ganti bajunya udah di tunggu tuh sama tuan dan nyonya" setelah berkata bi Mina keluar dari kamar Cahya dan melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai


setelah Bi Mina keluar dari kamarnya Cahya segera mengganti pakaiannya dan turun ke lantai bawa menemui suami dan madunya


Bersambung..........


...****************...


Mohon dukungannya ya...kini Author sedang mengikuti event/Lomba 🙏🙏😊


Jangan Lupa tinggalkan jejak like, komen dan Votenya. Jangan Lupa tambahkan Novel ini ke dalam daftar novel Favorit para readers ya agar selalu dapat Notifikasi part berikutnya 🤗🥰

__ADS_1


Semoga para readers semuanya sehat selalu dan dimudahkan rezeki dan segala urusannya oleh Tuhan 🤲🤲


makasih semuanya 😘🙏


__ADS_2