
Tok
tok
tok
ketukan di pintu Cahya dan diikuti dengan suara Bi Mina
"Nak Cahya, Cahya" Cahya yang baru saja keluar dari kamar mandi samping dapur khusus ART merasa heran dengan Bi Mina yang mengetuk-ngetuk pintu kamar dengan satu tangan dan tangannya yang satu lagi sedang menenteng dua paper bag
"ada apa Bi" Tanya Cahya dari arah belakang Bi Mina
"eh bibi pikir kamu di dalam kamar Nak" Bi Mina cengengesan menunjukkan giginya yang sudah tidak utuh lagi karena ada beberapa sudah jatuh. dia teriak-teriak dari tadi ternyata si empunya kamar sedang di kamar mandi
"itu apa Bi" Tunjuk Cahya pada dua paper bag yang ada di tangannya
"ah iya bibi hampir lupa" Bi Mina menepuk dahinya
"ini dari tuan, katanya nak Cahya segera siap-siap sebentar lagi mau ketemu Nyonya besar" Bi Mina menyerahkan dua paper bag kepada Cahya
"Nyonya besar"
"Ia Nyonya besar itu mamanya tuan Dafa"
" eh, nak Cahya kenapa tuan Dafa mau memperkenalkan kamu ke Nyonya besar" Bi Mina penasaran
"mungkin karena aku dan Tuan Dafa akan menikah" Ucap Cahya enteng dan Bi Mina terkejut mendengar penuturan Cahya
"Nak, kamu jangan ngerusak hubungan tuan dan Nyonya itu tidak baik" Bi Mina tidak mau Cahya di cap sebagai pelakor
"Ayo masuk bi mungkin sudah waktunya Cahya katakan yang sebenarnya sama bibi" Cahya menarik lengan Bi Mina pelan dan menuntunnya ke dalam kamar ART yang di tempati Cahya
Cahya menceritakan semuanya mulai dari permintaan Nyonya Anindita dan Juga surat perjanjian yang ditandatangani Cahya di atas meterai
"kamu yang sabar ya nak, semoga Allah selalu melindungi dan memberikan kebahagiaan kepada mu" Bi Mina mengelus lengan Cahya dia yakin Cahya pasti punya alasan sendiri untuk menerima tawaran untuk menjadi ibu pengganti dengan cara Inseminasi Bi Mina hanya bisa menguatkan dan mendoakan yang terbaik untuk Cahya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri
"Ia Bi makasih ya bisa Cahya peluk Bibi" Tanya Cahya dengan mata yang sudah berkaca-kaca merindukan sosok mamanya yang sudah tak ada lagi akibat sebuah kecelakaan dari orang-orang yang tak bertanggung jawab. Bi Mina seketika langsung memeluk Cahya dengan erat dan menepuk pundak Cahya memberikan kekuatan kepada gadis tersebut yang sudah ia sayangi seperti putrinya sendiri
"sudah jangan menangis lagi, jika nak Cahya rindu sama mamanya nak Cahya datang saja di bibi" Cahya mengangguk mengiyakan
__ADS_1
Tanpa mereka sadari tuan Dafa dari tadi memperhatikan interaksi kedua ARTnya dari cela pintu yang sedikit terbuka entah mengapa dia merasa sedih ketika melihat Cahya menangis
"Cahya" Panggil Tuan Dafa. Cahya dan Bi Mina seketika menoleh
"Tuan"
"Tuan Dafa"
ucap keduanya secara bersamaan
"Cahya saya tunggu kamu lima menit lagi di ruang tamu, Cepat pakai baju yang ada di paper bag itu"
"Bi tolong beresin kamar di lantai atas yang di samping ruang kerja saya untuk ditempati Cahya mulai besok"
"Baik tuan" Ucap Cahya dan Bi Mina secara bersamaan
setelah selesai berkata Dafa langsung berjalan ke ruang tamu menunggu Cahya mereka akan menjemput Anindita di salon langganan istrinya itu. Bi Mina segera bergegas ke lantai atas untuk membersihkan kamar yang akan di tempati Cahya sementara Cahya segera menutup pintu untuk mengganti pakaiannya. Lima menit kemudian Cahya sudah siap dengan Dres hitam sederhana yang mempunyai ikat pinggang di depan namun sangat cantik di Pakai Oleh Cahya sangat kontras dengan kulit putihnya. Cahya sedikit memoles wajahnya dengan make up ala kadarnya saja yang ia miliki dan memoles juga lipstik pink di bibirnya menambah kesan feminim dan elegan. dan Juga plat shoes yang digunakan Cahya. dafa memilih plat shoes untuk dikenakan Cahya karena tubuh Cahya yang sudah tinggi dan juga Dafa khawatir jika Cahya tidak terbiasa menggunakan high heels
"Tuan" Panggil Cahya. Seketika Dafa terpana dengan dengan penampilan sederhana Cahya namun sangat cantik dan elegan "Cantik" ucap Dafa spontan menatap Cahya intens. Cahya yang mendapat pujian dan tatapan seketika menundukkan kepalanya wajahnya sudah bersemu merah di puji oleh pria dewasa yang ia sukai. Seketika Dafa tersadar dan berkata
"Ayo, kita harus menjemput Anindita di Salon Beauty"
salon beauty adalah salon yang terkenal di Surabaya menjadi langganan kalangan atas orang-orang kaya seperti Nyonya Anindita istri tuan Dafa ( ini menurut kehaluan Author aja ya)
"apa yang baru saja kamu katakan"
"Ah tidak tuan aku tidak bilang apa-apa" Cahya mengikuti tuan Dafa dari belakang "ah ternyata dia mendengar padahal suara ku sangat pelan" Batin Cahya
"dia cantik sekali malam ini tidak seperti biasanya rambut di Cepol ke atas seperti ekor kuda saja" Gumam Dafa tapi Masih di dengar Cahya
"Tuan siapa yang cantik dan rambut siapa yang seperti ekor kuda" Tanya Cahya yang mendengar gumaman Dafa yang tak terlalu jelas
"Tidak, saya tidak bilang apa-apa" Sangkal Dafa
"Eh....kamu pikir saya ini supir kamu ha" Teriak Dafa kepada Cahya ketika gadis itu hendak membuka pintu mobil belakang. Cahya hanya berdiam diri di tempat tidak tau mau berbuat apa ia pun segera berjalan ke depan jalan untuk menyetop taksi
"Cahya kamu mau kemana?"Tanya Dafa ketika melihat Cahya berjalan ke depan
"saya mau cari taksi tuan" Ucapnya ketus
__ADS_1
"sapa yang suruh kamu cari taksi Cahya"
"lah bukannya tadi tuan sendiri yang melarang saya untuk naik mobil tuan, saya juga tau diri saya hanya seorang ART" Cahya terbawa emosi karena mendapat bentakan dari Dafa
"Cahya bukan maksud saya seperti itu, Cepat masuk mobil duduk di depan" Dafa menarik lengan Cahya dan membawa gadis itu untuk duduk di samping kursi kemudi dan Cahya hanya mengikuti Dafa ketika pria dewasa itu menuntunnya untuk duduk di kursi samping kursi kemudi. kemudian Dafa memutari mobil dan duduk di kursi kemudi mereka akan ke salon Beauty untuk menjemput Nyonya Anindita
"Tuan, masih lama ya" Cahya sangat ngantuk ia pun tertidur. Dafa menggelengkan kepala melihat Cahya yang tidur dengan mudahnya tangan Dafa refleks mengelus kepala Cahya yang sudah tertidur
sepuluh menit kemudian Mobil sedan merah dengan merek Honda Civic asal Jepang terparkir di depan salon beauty. Dafa yang melihat Cahya tertidur dengan pulasnya membiarkan gadis itu tidur Dafa enggan membangunkannya ia lebih memilih keluar dari mobil dan masuk ke dalam salon beauty
"selamat malam Tuan Dafa, Nyonya Anindita telah menunggu anda di ruang VIP" Seorang pelayanan menyambut kedatangan Dafa dan memberitahukan keberadaan istrinya
"Baiklah" Dafa melangkah menuju ke tempat dimana istrinya berada
"sayang kamu sudah datang, dimana Cahya" ucap Nyonya Anindita
"lagi tidur di mobil"
"ya sudah kita jalan yu takutnya mama sudah duluan di sana dan menunggu kita lama" Nyonya Anindita merangkul lengan suaminya penuh mesra dan berjalan menuju mobil sedan merah milik suaminya. Dafa tersenyum dan berjalan bersama sang istri menuju ke mobil yang terparkir di halaman salon beauty
"sayang kamu bisa duduk di kursi belakang"
"emangnya kenapa aku harus duduk di belakang, apa Cahya duduk bersama mu di depan"
"iya, dan dia tertidur pulas sekali aku tak tega membangunkannya"
"mas biar aku saja yang membangunkannya, kenapa juga gadis itu harus duduk di depan sih" Anindita kesal terhadap Dafa yang membiarkan Cahya yang duduk di depan di tempat yang selalu ia duduki ketika sang suami mengemudi
"sayang mas itu bukan supir nya dia jadi mas suruh dia duduk di depan, udah dong marahnya nanti cantiknya luntur" Dafa mengecup pipi Anindita seketika wanita dewasa tersebut tersenyum bahagia mendapatkan ciuman dari suami yang sangat ia cintai
"ya udah aku duduk di belakang tapi mas ngak usah megang-megang tangannya! "
"gitu dong sayang" Dafa mengecup singkat bibir Anindita. wanita itu tersipu malu bagaimana bisa suaminya mencium dirinya di depan umum seperti ini
Bersambung..........
Mohon dukungannya ya...kini Author sedang mengikuti event/Lomba 🙏🙏😊
Jangan Lupa tinggalkan jejak like, komen dan Votenya. Jangan Lupa tambahkan Novel ini ke dalam daftar novel Favorit para readers ya agar selalu dapat Notifikasi part berikutnya 🤗🥰
__ADS_1
Semoga para readers semuanya sehat selalu dan dimudahkan rezeki dan segala urusannya oleh Tuhan 🤲🤲
makasih semuanya 😘🙏