
Tak terasa Sudah empat bulan lamanya Cahya bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga pada Tuan Dafa dan istrinya. ketika dia sedang memasak makan malam ia di panggil oleh Nyonya Anindita
"Nak Aya kamu dipanggil sama Nyonya" Bi Mina memberi tahukan
"Baik Bi, nyonya dimana" Tanya Aira
"Nyonya di ruang keluarga" Aira mencuci dan mengeringkan tangannya setelah itu iapun berjalan menemui Nyonya Anindita
"selamat sore Nyonya" Ucap Cahya ketika ia sudah berada di ruang keluarga
"Ah Cahya sore juga, ayo duduk di sini" Anindita menepuk tempat duduk di sebelahnya agar Cahya duduk disampingnya
"Ada yang bisa aku bantu nyonya?" Tanya Cahya setelah dia mendaratkan bokongnya di samping Nyonya Anindita
"Aku memerlukan bantuan Kamu Cahya untuk menjadi ibu pengganti dengan Cara Inseminasi"
"Inseminasi" Ulang Cahya
"Hanya dengan Cara itu mas Dafa bisa memiliki keturunan, kami telah menikah selama lima tahun dan aku tidak bisa memberikan keturunan kepadanya karena sebuah kecelakaan yang aku alami mengakibatkan pinggul dan perutku harus dioperasi itulah penyebab aku tidak bisa hamil" Cahya baru mengetahui bahwa tuan dan nyonya Abraham tidak memiliki keturunan, selama ini Cahya berfikir mungkin anak tuan dan nyonya Abraham sedang kuliah di luar negeri
"Cahya gimana kamu bisa bantu saya kan"
"tapi Nyonya"
"Saya mohon Cahya bantu saya sekali ini saja" Anindita menggenggam tangan Cahya dia berharap agar Cahya dapat mengabulkan permintaannya. "saya akan memberikan kamu imbalan lima ratus juta" Anindita yakin Cahya pasti mau jika diberi imbalan sebesar itu. Cahya tercengang mendengar imbalan dengan jumlah yang sangat besar Cahya menatap mata Nyonya Anindita ia dapat melihat kesungguhan dan harapan yang besar di mata tersebut
"Lima ratus juta wow itu jumlah yang sangat besar aku bisa menyumbangkan sebagiannya untuk panti asuhan dimana aku dibesarkan, sebagiannya bisa buat modal usaha dan bisa melanjutkan S2, tapi apa setelah ini semuanya akan baik-baik saja atau hidup ku hancur apalagi tiba-tiba aku mengandung tanpa suami bisa-bisa beasiswaku dicabut, aku tidak ingin mengecewakan Bu Siska yang selama ini selalu membimbingku. aku harus mengambil keputusan yang tidak merugikan diriku sendiri" Batin Cahya
"Nyonya aku bersedia menjadi ibu pengganti tapi dengan satu syarat" ucap Cahya penuh keyakinan
"Syarat apa yang harus saya penuhi Cahya?" Anindita penasaran syarat apa yang akan diajukan Cahya
"Aku tidak ingin beasiswa ku dicabut begitu saja karena mengetahui aku sedang mengandung"
"maksud kamu, kamu harus menikah dengan mas Dafa?" Tanya Nyonya Anindita
"maafkan aku Nyonya hanya cara itu saja agar ketika aku mengandung tidak ada yang mencelah diriku dan beasiswaku tidak dicabut dari pihak kampus"Nyonya Anindita berfikir sejenak dan merasa bahwa apa yang dikatakan Cahya ada benarnya juga
"Baiklah aku akan menanyakan kepada mas Dafa dulu"
"Baik Nyonya saya kembali ke dapur dulu kasihan Bi Mina sendirian masak"
"Baiklah"
"permisi Nyonya" Cahya kembali ke dapur untuk membantu Bi Mina. Anindita menatap punggung Cahya yang semakin menjauh dari pandangan matanya ia masih terngiang akan syarat yang diajukan Cahya apakah dirinya setuju atau menolak dan mencari wanita lain yang mau menjadi ibu pengganti. Tanpa Anindita sadari Dafa telah duduk disampingnya
"sayang kamu kenapa, apa yang kamu pikirkan" Dafa menyentuh punggung istrinya dengan lembut dari tadi dia memberi salam tapi tidak dibalas oleh sang istri ternyata Anindita sedang melamun
"mas kamu sudah pulang ya, tumben pulangnya cepat" Anindita tersentak ketika merasakan punggungnya disentuh seseorang tapi dengan cepat dia mengenali itu adalah suaminya,bau parfum Dafa yang sangat ia sukai dan kenali kemudian Anindita mencium punggung tangan suaminya
"memangnya kamu ngak senang ya kalo mas pulang lebih awal"
__ADS_1
"ngak, aku malahan lebih senang kalo setiap hari mas pulang kantor lebih awal" Anindita bergelayut manja di lengan suaminya. Dafa sangat senang ketika melihat istrinya bermanja-manja hanya kepadanya Dafapun mengecup kening Anindita dengan penuh kemesraan
"mas kamu mandi dulu, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu" Ucapnya setelah Dafa mengecup dahinya
"Baiklah, Ayo kita ke kamar" Dafa dan Anindita berjalan beriringan ke kamar mereka yang ada di lantai atas
...****************...
"Cahya! ada apa, apa yang kamu pikirkan"Tanya Bi Mina melihat Cahya seperti sedang memikirkan sesuatu
"Ngak kok Bi, Cahya hanya memikirkan
tugas dari kampus saja" ucap Cahya berbohong
"ya udah kamu yang semangat ya, kalo ada masalah cerita saja sama bibi ya" Bi Mina yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan Cahya karena Anak ini tak seperti biasanya yang tiba-tiba terlihat murung setelah bertemu dengan Nyonya Anindita
"Iya Bi, kalo aku udah siap pasti aku cerita ko sama bibi" Cahya bergelayut manja dilengan wanita yang ia anggap seperti mamanya. Bu Mina tersenyum dan mengelus kepala Cahya penuh kasih sayang ia sudah menganggap gadis ini seperti putrinya sendiri
Sementara didalam kamar Nyonya dan Tuan Abraham sedang memaduh kasih mengarungi lautan Asmara menyebrangi hutan rimba yang dipenuhi dengan rumput ilalang yang selalu dirawat dan ditata dengan rapi oleh sang empunya.
Dafa sangat menyukai menjelajahi hutan belantara istrinya dengan sedikit gundukan yang ditumbuhi ilalang liar semakin ke dalam ia akan menemukan goa yang gelap sempit namun penuh dengan nikmat surga dunia yang selalu membuatnya candu lagi dan lagi apalagi diiringi dengan suara keramat sang istri membuat Dafa semakin bersemangat untuk menjelajahi lebih dalam hutan rimba sang istri dengan gerakan yang lebih cepat agar dapat mencapai puncak kenikmatan yang tak ada duanya
Dafa menjatuhkan dirinya disamping sang istri menatap dengan lekat manik mata Anandita dengan penuh kemesraan. Dafa mengelap dahi Anindita yang di penuhi dengan keringat akibat kerja keras mereka untuk menjelajahi hutan rimba.
"makasih sayang" Dafa mengecup pucuk kepala sang istri. Anandita merapatkan tubuhnya memeluk dengan erat suami tercintanya
"sayang apa kamu menggodaku lagi" ucap Dafa ketika Anindita memeluk dirinya
"Tidak mas, apa aku tidak boleh memeluk suamiku sendiri"
"Mas aku mandi dulu" Dafa hanya tersenyum melihat tingkah istrinya
"Andai saja kecelakaan itu tak pernah terjadi mengkin kita sudah mempunyai anak lelaki yang ganteng seperti aku dan perempuan yang cantik seperti dirimu Anindita" gumam Fauzan pelan menatap ke arah kamar mandi yang pintunya telah tertutup
"Apa aku harus menuruti permintaan Anindita menikahi Cahya agar gadis itu bisa menjadi ibu sambung dengan cara Inseminasi, apalagi mama selalu memaksaku agar menikah lagi" batin Dafa memikirkan permintaan istrinya dan mamanya yang selalu memaksakan dirinya agar menikah lagi atau menceraikan Anindita namun Dafa lebih memilih mempertahankan istrinya dan mungkin dia akan menyetujui permintaan Istrinya
Tok
tok
tok
Dafa yang mendengar ketukan pintu segera menggunakan baju kaos ketat dan celana pendek diatas lutut. Dafa membuka pintu dan terlihat Cahya yang berada di depan pintu
"Ada apa?" Tanyanya ketus dan dingin namun sepertinya Cahya tidak mendengar karena ia terpanah melihat Tuan Dafa dengan kaos ketat dan celana pendeknya dan rambut yang berantakan ia menelan ludahnya kasar menatap dada bidang Dafa yang terlihat jelas dari balik kaos ketat yang digunakan Dafa
"Ehem" Dafa kesal melihat tingkah Cahya yang hanya melamun di depannya. Cahya seketika tersadar dari lamunannya
"Tuan makan malamnya sudah siap" Cahya langsung berbalik menuruni tangga "Anak itu" Ucap Dafa geram melihat tingkah Cahya
"Bisa-bisanya aku terpesona dengan tuan Dafa, aduh bisa berabe nih" Cahya menepuk-nepuk dahinya
__ADS_1
...****************...
kring
kring
kring
Ponsel Cahya berdering menandakan ada panggilan masuk tertera Nama Tuan Dafa ia pun menggeser ketombol warna hijau
"Halo Cahya" terdengar suara dari sebrang
"Ya Halo tuan ada apa ya"
"kamu masih di kampus atau sudah di rumah"
"di kampus tuan"
"kamu jangan pulang ke rumah tapi langsung ke kantor saya
"Tapi tu...."Cahya belum selesai berbicara panggilan telpon sudah di matikan oleh Dafa
"Cahya siapa yang telpon" Tanya Zahra yang baru dari toilet
"Za...anterin aku ya ke kantornya tuan Dafa" Cahya tidak menjawab pertanyaan Zahra malah meminta sahabatnya itu untuk mengantarnya ke kantor Dafa
"Bukannya aku ngak mau anterin kamu ya Cahya aku udah janjian sama mama mau shopping, maaf ya aku duluan" Cahya menatap punggung sahabatnya yang semakin menjauh darinya
"Cahya silahkan kamu baca kalo ada poin yang tidak kamu setuju atau ada yang kurang bisa sampaikan kepada saya" Cahya menerima beberapa lembar kertas yang berisi perjanjian yang harus disepakati
Cahya membaca dengan seksama poin-poin yang tertera disitu ia kemudian membubuhkan tanda tangannya di atas meterai sepuluh ribu " Cahya kamu sudah tanda tangan otomatis perjanjian ini sudah sah dan tidak dapat di rubah lagi, kamu harus ingat poin-poinnya setelah anak itu lahir kita harus bercerai, tidak boleh tidur bersama dan melakukan hubungan suami istri, tidak ada sentuhan ringan dan tidak ada yang namanya menggunakan perasaan dan saya dan Istri saya akan memberikan uang senilai lima ratus juta"
"Iya tuan saya paham"
"bagus kalo kamu paham
setelah selesai menandatangani surat perjanjian pernikahan Cahya segera keluar dari ruangan CO dia yang terburu-buru tidak memperhatikan sekitarnya seketika menabrak seseorang
"maaf maaf tuan saya tidak sengaja" pria yang ditabrak oleh Cahya terpesona melihat kecantikan alami Cahya yang tanpa polesan makeup
"tidak apa, perkenalkan saya Arya Winata"
"Cahya Tuan"
"Jangan panggil saya Tuan panggil saja Arya"
Bersambung................
...****************...
Mohon dukungannya ya...kini Author sedang mengikuti event/Lomba 🙏🙏😊
__ADS_1
Jangan Lupa tinggalkan jejak like, komen dan Votenya. Jangan Lupa tambahkan Novel ini ke dalam daftar novel Favorit para readers ya agar selalu dapat Notifikasi part berikutnya 🤗🥰
Semoga para readers semuanya sehat selalu dan dimudahkan rezeki dan segala urusannya oleh Tuhan 🤲🤲