Rahim Pengganti Sang Asisten Rumah Tangga

Rahim Pengganti Sang Asisten Rumah Tangga
Eps 7 RPS (ART)


__ADS_3

Setelah Cahya dan Dafa kembali dari Kediaman Bu Siska di pinggiran kota Cahya segera membersihkan dirinya dan setelah dia sudah rapi Cahya turun ke lantai bawa menuju ke arah dapur untuk membantu Bi Mina untuk memasak ia berpapasan dengan Dafa di tangga


"Cahya kamu mau kemana" Tanya Dafa ketika dirinya berpapasan dengan Cahya


"mau bantu Bi Mina masak tuan" Cahya segera turun ke lantai bawah namun sebelum kakinya melangkah menginjak anak tangga tangan Cahya di pegang oleh Dafa dan Dafa merapatkan tubuhnya ke arah Cahya


"eh jangan dekat-dekat tuan mau ngapain" Cahya takut bagaimana jika Nyonya Anindita melihat mereka seperti ini. Dafa tak menjawab dan semakin mendekat ke arah Cahya dan membisikan sesuatu di telinga Cahya


"jangan panggil aku tuan lagi, panggil aku mas jika kamu masih memanggil tuan lagi akan aku cium" ucap Dafa menatap intens mata Cahya entah kenapa dia seakan terhipnotis melihat mata indah milik Cahya


Cahya yang mendapat tatapan yang begitu dalam dari Dafa seketika menundukkan wajahnya " Baik tuan eh maksud aku mas Dafa" Dafa tersenyum mendengar Cahya memanggil namanya


"masak yang enak ya aku suka masakan kamu" ucap Dafa lagi segera berbalik dan melangkah menuju kamarnya


uh Cahya menarik nafasnya dia legah ketika Dafa sudah naik ke kamarnya "jantung ku" Cahya memegang dadanya merasakan detak jantung yang sangat kuat ketika di berada dekat dengan Dafa


Bi Mina yang tak sengaja melihat tuan Dafa dan Cahya dengan posisi yang dekat seketika tersenyum "semoga pernikahan ini bukan hanya sebatas perjanjian diatas kertas" gumam Bu Mina berjalan kembali ke arah dapur sebenarnya tadi bi Mina ingin ke kamar Cahya mengecek keadaan gadis itu yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri


"Bi maaf ya Cahya terlambat turun" Cahya merangkul lengan wanita paruh baya tersebut ia sangat menyayangi Bi Mina. Bi Mina hanya tersenyum menatap ke arah Cahya dan mengangguk mengiyakan


"Bi, Nyonya belum datang ya?" Tanya Cahya


"Belum non"


"ha ! apa tadi bi"


"Nyonya belum datang nak" Cahya segera memeluk Bu Mina dan berkata "Jangan panggil aku Non lagi Bi, panggil Cahya seperti biasanya Cahya tau bi Mina menganggap Cahya seperti putri sendiri makanya panggil Cahya dengan sebutan Nak saja, Cahya sangat senang di panggil seperti itu Cahya sayang Bi Mina" Cahya semakin mengeratkan pelukannya Bi Mina terharu dengan kelembutan hati Cahya "Bibi juga sayang kamu Nak" Bi Mina balik memeluk Cahya


Dafa yang ingin mengambil air minum tak sengaja mendengar perkataan Cahya ia pun mengurungkan niatnya untuk mengambil Air dan hanya berdiri mendengar percakapan Bi Mina dan juga Cahya. sikap Cahya yang lemah lembut dan penyayang dapat membuat Dafa tersenyum


"Cahya Masak udang asam manis untuk aku" Ucapnya ketika melihat Cahya dan Bi Mina selesai berpelukan


"iya tuan" Jawab Cahya spontan karena terkejut dengan kehadiran Dafa


"kamu panggil apa tadi?"


"eh iya mas" Cahya menyadari kesalahannya dan cepat memanggil Dafa dengan sebutan mas dari pada ia akan dicium Dafa di depan Bi Mina


"Bagus" Dafa membuka kulkas dan mengambil air menuangkan di dalam gelas dan berjalan ke arah ruang tengah untuk menunggu istrinya pulang


"ehem udah panggil mas aja nih" goda Bi Mina


"di suruh sama tuan Dafa katanya kalo ngak panggil mas bakalan di cium" ucap Cahya menjelaskan


"ada-ada aja tuan muda"


"sepertinya tuan muda mulai menyukai kamu nak" ucap Bi Mina lagi yang merasa aneh dengan sikap tuannya

__ADS_1


"ah ngak mungkin bi, tuan kan hanya mencintai nyonya


makan malam pun sudah siap Kini Tuan dan Nyonya Abraham sedang menikmati makan malam mereka terutama masakan Cahya dia sangat Candu dengan makanan yang di masak Cahya. Anindita mengamati suaminya yang sepertinya sangat menikmati makan malam mereka


"mas sepertinya kamu lahap sekali makannya" ucap Anindita masih memperhatikan suaminya makan


"mas lapar sayang" Dafa beralibi agar Anindita tidak mengetahui jika ia sangat menyukai masakan Cahya


Anindita hanya tersenyum melihat suaminya yang makan sangat lahap


...****************...


"mas seminggu lagi Kamu dan Cahya menikah apa tidak sebaiknya kita bawa Cahya ke rumah sakit untuk memastikan kesehatan dan juga kesuburannya" Ucap Anindita yang sedang menyentuh dada bidang Dafa dengan lembut


"iya besok kita bawa Cahya ke rumah sakit" Anindita tersenyum puas Dafa selalu mengikuti keinginannya


"sayang" ucap Dafa dengan suara seraknya libidonya seketika naik ketika tangan Anindita sudah masuk ke balik celana boxer yang di kenakan Dafa


penyatuan keduanya pun dimulai dan di akhiri dengan erangan panjang keduanya bertanda mereka sudah mencapai puncak kenikmatan yang tak ada duanya


"mas kamu sangat hebat, aku mencintaimu" Anindita membenamkan wajahnya di dada bidang Dafa dan memeluk suaminya


"mas mencintai mu juga" balas Dafa dan mengecup puncak kepala Anindita dan memeluk istrinya


...****************...


"iya mas Dafa" begitu pesan balasan dari Cahya. Dafa tersenyum membacanya Asisten nya heran melihat bosnya yang tersenyum memandangi ponselnya


"ih bos kenapa sih kesambet kali ya" ucap Giman pelan namun masih bisa di dengar oleh Dafa


"kamu bilang apa tadi saya kesambet" Tanya Dafa


"tidak Bos" Giman menundukkan kepalanya dia takut kena marah dari bosnya


"uh ternyata dia dengar juga padahal aku sudah memelankan suaraku" batin Giman


"Giman kamu nanti pulang sendiri ya saya akan menjemput Cahya di kampus nya"


"Baik Bos" ucap Giman dan undur diri kembali ke ruangannya


" Bos bos sepertinya sudah ada benih-benih Cinta ni sama si Cahya" ucap Giman pelan tersenyum menggelengkan kepalanya ini sudah sekian kali bosnya selalu menjemput Cahya


"semoga bos bisa berbahagia dengan pernikahannya yang kedua dan perjanjian diantara mereka bisa di batalkan" Ucapnya lagi dan membuka pintu ruangannya sendiri


...****************...


pip

__ADS_1


pip


pip


Bunyi klakson mobil Dafa ketika dia sudah berada di depan kampus Cahya dan melihat gadis itu sedang bercengkrama dengan kedua sahabatnya


"aku duluan ya" Cahya melambaikan tangannya dan berjalan mendekati mobil Dafa


"eh ngapain duduk di belakang" tanya Dafa ketika Cahya ingin membuka pintu mobil bagian kursi belakang


"mas, Nyonya mana kok ngak ada" tanya Cahya ketika melihat kursi samping kemudi kosong


"kemarilah duduk di depan" ucap Dafa. Cahya pun mengikuti dan duduk di depan bersama Cahya


"mas! nyonya kemana katanya tadi akan datang bersama mas" tanya Cahya lagi karena pertanyaannya Belum di jawab


"dia akan menyusul kita setelah urusannya selesai" Dafa tetap menatap ke depan


sementara di sebuah rumah yang tak kalah mewah dari kediaman Dafa Abraham seorang pria dan wanita sedang bersama di ruang tengah


"Sayang aku sangat mencintaimu" ucap sang pria yang tak lain adalah Arya Subagyo teman sekaligus rekan bisnis Dafa


"mas jangan seperti ini kita itu sahabat dan selamanya menjadi sahabat" ucap Anindita menggenggam tangan Arya


"tapi dita aku mencintaimu kenapa kamu memilih Dafa yang sebentar lagi akan menikah dan bersenang-senang dengan istri mudanya" Arya sangat marah Anindita selalu menolaknya


semenjak kuliah Dafa selalu unggul darinya bahkan urusan percintaan ketika Arya mencintai Anindita ternyata wanita tersebut mencintai Dafa. Arya sengaja masuk ke dalam perusahaan Dafa sebagai rekan bisnis hanya untuk menghancurkan Dafa


"itu tidak akan terjadi, mas Dafa hanya mencintai ku seorang" kilah Anindita tak terima dengan semua yang di ucapkan Arya


"baiklah jika kamu tak mempercayai ku tapi kamu ingat satu hal aku akan selalu mencintaimu dan menerima dirimu kapan pun jika kamu sudah tak sanggup lagi bersama dengan Dafa. hidup bertiga dalam satu atap tidaklah muda pasti ada yang tersakiti" Anindita tersenyum menanggapi ucapan Arya


"aku balik dulu ya" Anindita pamit pulang


Anindita, Arya dan juga Dafa mereka adalah sahabat ketika masih berada di perguruan tinggi namun Dafa dan Anindita saling mencintai dan memutuskan untuk menikah setelah menyelesaikan pendidikan S-1 mereka. Anindita tau jika Arya mencintainya namun dia lebih memilih Dafa yang lebih unggul dari Arya dan juga Anindita tak pernah mencintai Arya Cintanya hanya untuk Dafa seorang, Arya hanya seorang sahabat bagi Anindita


Bersambung......


...****************...


Mohon dukungannya ya...kini Author sedang mengikuti event/Lomba 🙏🙏😊


Jangan Lupa tinggalkan jejak like, komen dan Votenya. Jangan Lupa tambahkan Novel ini ke dalam daftar novel Favorit para readers ya agar selalu dapat Notifikasi part berikutnya 🤗🥰


Semoga para readers semuanya sehat selalu dan dimudahkan rezeki dan segala urusannya oleh Tuhan 🤲🤲


makasih semuanya 😘🙏

__ADS_1


__ADS_2