
Mereka bilang, ada orang menginginkannya mati.
Setidaknya, itulah yang dikatakan hantu-hantu di ruangan ini sejak lima belas menit lalu. Kepalanya berdenyut. Kilasan-kilasan mengerikan berputar dalam ingatannya seperti kaset rusak. Sebenarnya hanya satu hantu yang menyumpahinya mati, sementara yang lain setuju dengan mudah setelah dipelototi dengan galak.
Hantu itu mengaku bernama Clo. Sombongnya bukan main. Saat ini dia duduk tegak di satu-satunya kursi di ruangan itu. Dagu terangkat, kaki ditumpang, punggung lurus. Gayanya sudah seperti bangsawan. Hantu itu sangat hidup, tak berhenti membahas dugaan-dugaan kematiannya nanti seolah-olah semua itu harapannya sendiri. Baru kali ini Rai tertekan karena keistimewaan matanya.
Rai tidak mengenal hantu ini. Dia telah duduk di sana saat bangun. Jubah dan pakaiannya aneh, tetapi mewah, jelas bukan orang biasa. Rai pusing mendengarnya mengoceh dan memaki, sama cerewetnya dengan teman lamanya.
Clo mendengus kasar. "Kamu dengar aku tidak?" Rai mengabaikannya. "Biar kuberi tahu sekali lagi, kamu akan mati kalau tidak percaya padaku! Berhenti berlagak tuli!"
Nah. Rai memang sengaja mengulur waktu. Entah sudah berapa lama dia berbaring, nyaris seluruh tubuhnya sakit. Tidak ada luka, tetapi pegalnya minta ampun, dan kepalanya benjol.
Dia terbentur ketika baru saja membuka matanya. Ketika menyadari tempat ini asing, refleks dia melonjak bangun dengan posisi siap tempur dan memindai sekeliling. Tenyata Rai jatuh dari tempat tidur.
Ruangan ini diterangi cahaya lilin, agak redup, tetapi matanya menangkap semua hal dengan jelas. Dia mengira berada di tempat pembantaian dengan musuh menendang wajahnya, alih-alih dalam tenda bundar yang cukup besar. Ketika ingatannya terkumpul, dia menjatuhkan bokongnya di ranjang bambu yang berderit menanggung berat tubuhnya dan menghela napas lega.
Matanya yang besar dan berair memindai ruangan, menemukan sebuah pedang di atas meja. Di sampingnya, sebuah patung kayu dan baju besi berdiri tegak. Selain satu kursi dan meja, serta ranjang kayu, tidak ada benda lain. Sisa ruangan dibiarkan kosong. Di luar, percakapan, teriakan, dan nyanyian, terdengar sangat berisik. Nampaknya, mereka yang membawanya kemari.
__ADS_1
Pandangannya bergeser ke pintu masuk tenda yang tertutup, bertanya-tanya apakah seseorang akan masuk atau dia harus keluar mencari tahu?
"Masih tidak menjawab?" Si hantu tak sabar. Rai hampir melupakannya. "Kamu bisa menawarkan kesepakatan, aku tidak keberatan dengan apa pun yang kamu minta."
Rai prihatin dengan gayanya yang sok. Mungkin semasa hidupnya dia bermimpi menjadi anak sultan. "Dengar ya," katanya lelah. "Apa pun permintaanmu, aku tetap tidak tertarik. Mati, ya, mati. Cari orang lain saja." Tubuh dan wajahnya lengket oleh keringat, dia perlu mandi. Dan lapar.
Clo memberinya pandangan menghina. "Kamu bahkan tidak tahu apa yang kuinginkan!"
"Apa yang harus kutahu?" Hantu ini keras kepala, cerewet, dan menyebalkan. Rai ingin mengusirnya secepat mungkin. "Dari wajahmu, aku bisa menebaknya dengan mudah: kamu menyesal mati muda dan ingin menyelesaikan sesuatu yang tidak sempat kamu lakukan semasa hidup. Mohon maaf, aku tidak tertarik membantumu."
Clo terkejut. "Bagimana kamu tahu?" Rai memutar mata. Hantu-hantu di rumah meminta hal yang sama sampai dia bosan. "Ada yang harus kulakukan, kamu benar," katanya serius. "Tapi, kamu keliru satu hal. Aku tidak perlu bantuanmu untuk urusan itu, aku perlu kamu untuk hal lain."
"Ya!" Mata abu-abu Clo yang dingin menatapnya. "Seseorang merampas tubuhku! Aku ingin kamu merebutnya kembali untukku!"
"..."
"Kembalikan hidupku! Aku harus membalas dendam!"
__ADS_1
"..."
"Apa kamu mendengarkan?"
Seharusnya, dia tidak memberinya kesempatan bicara. Seharusnya, dia mengusirnya sejak tadi. Sekarang, Rai kehilangan kata-kata. Hantu ini sudah gila. GILA! Mana ada yang kembali hidup setelah mati? Kenapa pula hantu ini meminta bantuan padanya?
Tiba-tiba sesuatu menonjok perutnya.
Rai menunduk melihat bayangannya sendiri bergoyang, lalu pada tubuh asing yang kini miliknya.
Ah.
Benar juga. Tubuh ini seharusnya milik orang lain. Dia tidak punya apa-apa sekarang, bahkan setengah jiwanya telah ditelan kegelapan.
Berani sekali dia memaki Clo seolah-olah paling hebat di dunia? Fenomena bangkit dari kematian memang hal tabu untuk dibicarakan, tetapi tidak terlalu mustahil juga.
Bagaimana bisa tahu? Tentunya saja, karena seharusnya dia pun sudah mati.
__ADS_1
Namun, Shade membawanya kembali.
***