RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)

RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)
SEMBILAN


__ADS_3

Si hantu Clo melihat kilasan lain dan segera melesat ke desa Jahae bersama pasukan Aezar.


Setelah terpisah dari tubuhnya, dia terkejut ketika menyadari kemampuannya tetap tinggal. Sialnya, setiap kali dia melihat kilasan, maka orang itu, si Perampas, melihatnya juga.


Dulu sekali, sebelum memutuskan berkelana mengikuti kelompok penyihir tertentu, dia menghabiskan hari-harinya dengan mengikuti si Perampas dan menyumpah di telinganya setiap waktu. Suatu hari, dia melihat orang itu merajut dua pasang kaos kaki kecil dan menatapnya dengan sedih.


Ya ampun. Clo memandang tangannya sendiri dengan ngeri. Dia tidak pernah menyukai hal-hal seperti itu, tetapi sekarang dia merajut!


Secara tak terduga, dia melihat kilasan aneh setelah melihat kaos kaki itu.


Gadis kecil. Rambut merah. Mata ungu. Yang paling mengejutkan, gadis kecil itu berbicara pada hantu-hantu!


Si perampas tersentak dari duduknya, dan tiba-tiba tertawa begitu senang sampai terdengar mengerikan. Berani sekali dia tertawa jelek dengan tubuhku, pikirnya marah. Kemudian si Perampas mengatakan hal yang membuatnya syok, "Aku sudah mengira hanya kamu yang dapat membawaku kembali ...."


Setelah merenung sekian lama dan Clo mengerti maksudnya, dia segera melesat berkelana. Inilah pertama kalinya dia merasa bahagia dengan kemampuannya.


Clo ingat ketika pertama kali kekuatannya muncul, itu sangat menakutkan. Usianya begitu muda sementara ibunya tertidur sepanjang tahun. Gambar-gambar dalam benaknya muncul silih berganti. Jelas dan buram. Kadangkala pertunjukan keindahan yang menguras emosi, tetapi seringnya kebencian dan tipu muslihat. Semenjak tak sengaja mengungkap kematian seseorang, Clo tidak pernah lagi keluar dari kastelnya. Hidupnya menjadi hitam dan putih.


Suatu hari kakaknya datang membawa sebuah cerita:


Seorang gadis bernama Cassie kehidupannya diliputi kemuliaan dan keagungan. Ayah ibunya memujanya dan kakak perempuannya mendukungnya. Satu-satunya hal yang membatasi kesempurnaan dalam hidupnya adalah bakatnya.


Di saat semua anak telah menemukan bakat bawaan mereka, Cassie tidak. Usianya terus bertambah, tetapi bakatnya tidak juga muncul. Orang-orang mulai menggunjing. Hari-hari ceria menghilang. Cassie hidup dengan muram. Menghadapi penderitaan itu, harapannya sedikit demi sedikit menipis. Ketika usianya mencapai tiga puluh, dia bermimpi ....


Mimpi itu menghidupkan kembali jiwanya yang layu. Mimpi itu bukan sekedar mimpi, melainkan penglihatan nyata masa depan. Tersesat dalam kebahagiaan yang telah ditunggu hampir sepanjang hidupnya, Cassie mendeklarasikan bakatnya pada dunia. Kerajaan Vanaheimr terguncang.


Yang dilihatnya bukan hal yang indah, justru sebuah bencana. Vanaheimr adalah targetnya. Dalam mimpi itu, Vanaheimr dilanda api besar. Seorang anak perempuan yang lahir dari Kaum Campuran diramalkan membakar Mahkota Raja.


Berita itu bagai petir di siang bolong. Meresahkan Raja dan segenap abdi Istana. Untuk pencegahan, Vanaheimr mengeluarkan dekrit pemusnahan. Semua bayi perempuan dari golongan Vier-gene, yang lahir tahun itu dan tahun-tahun berikutnya, harus dibunuh!


Pada saat itu Cassie tidak tahu kalau kakak yang selalu mendukungnya baru saja membangun sebuah keluarga. Bayi perempuan dalam dekapannya tak luput dari bencana ....


Zen tidak mengungkapkan perasaan Cassie yang secara tidak sengaja telah menghancurkan kebahagiaan kakaknya, tetapi Clo dapat menebaknya dengan mudah. Perasaan saat seseorang mati di depan matamu tanpa bisa mencegahnya, menyiksa jiwanya. Cassie menuntun pembunuhan itu pada keponakannya sendiri. Betapa mengerikan!


“Walaupun terdengar kejam, aku senang kamu menangis karena hal ini,” kakaknya berkata setelah cerita yang singkat. “Artinya kamu tidak akan menjadi Cassie yang ceroboh.”


Clo masih terlalu muda untuk mengetahui keseluruhan cerita, meski begitu dia terhibur. Setidaknya apa yang dilihatnya tidak menyebabkan bencana pada keluarganya. Dia tidak mau menjadi Cassie, atau pun peramal yang kejam. Clo selalu berusaha yang terbaik untuk menolong siapapun yang masuk dalam penglihatannya. Namun, dia hanya seorang gadis tanggung yang hanya punya dua tangan, keberuntungan tidak selalu berpihak padanya. Teman sebayanya tidak pernah lagi mau bermain dengannya.Orang-orang takut padanya.


Clo mendengus di atas pantat seekor pegasus yang ditumpanginya. Ingatannya tertinggal pada mayat-mayat dengan dada berlubang di desa Dahae. Berkali-kali mengamati mereka, dia tidak mengerti bagaimana batu itu dengan ajaib membuat mayat-mayat bergerak.


Clo tahu sejak lama kalau benda hijau itulah inti paling penting. Bisa dibilang, Clo menyaksikan perkembangan mayat hidup ini, dari kegagalan total sampai mereka berhasil berjalan walaupun terseok-seok. Namun, dia tidak mengerti mengapa mereka muncul di Paradis. Untuk ke sekian kalinya. Tidak mungkin para penyihir itu menghabiskan sumber daya yang mereka ciptakan dengan susah payah untuk sekadar gertakan semata. Pasti ada alasan lain.


Selama mengikuti kelompok penyihir tertentu, dia telah menyaksikan bagaimana mereka menyisipkan benda itu dan menciptakan mayat hidup. Anehnya, dia tidak tahu dari mana benda itu berasal, atau siapa yang menciptakannya. Kelompok penyihir itu selalu menerima sepaket batu hijau secara berkala setiap bulan, dikirim oleh animagus yang berbeda. Tanpa wujud fisik, dia tidak dapat mendeteksi jejak sihir mereka.


Batu seajaib itu pastilah diciptakan oleh orang yang sangat berbakat. Namun, dilihat dari betapa misteriusnya dia, bagaimana kelompok penyihir tertentu amat berhati-hati menjaga rahasia, Clo yakin pergerakan ini dilakukan secara diam-diam, bahkan tersembunyi dari Kerajaan. Siapapun yang memimpin, Clo curiga orang itu mempunyai latar belakang yang tidak sederhana. Dan amat kuat. Sialnya, walaupun melihat setiap proses penciptaan mayat hidup, Clo tidak dapat menghubungkannya dengan tubuhnya sendiri. Si Perampas tidak memerlukan batu itu untuk menguasai tubuhnya. Mengapa? Apakah dia melewatkan sesuatu?


Lalu kilasan itu datang.


Seekor naga terbang. Sosok tak dikenal. Rambut seperti api. Mata semerah darah.


Ketika pasukan bantuan tiba, tanpa menunggu lama, Aezar memimpin mereka pergi. Clo mencelat pada seekor pegasus hampir seketika. Dalam kilasan itu, sebuah gapura bertuliskan desa Jahae tercatat dalam benaknya.


Aezar membagi pasukan pegasus hitam menjadi dua kelompok. Kelompok yang dipimpin Reid melesat di langit malam menuju desa ketiga, sementara dirinya mendarat di desa Jahae. Xan dan sepuluh prajurit pasukan Xi menunggang pegasus hitam di sampingnya. Mereka berdiri di pintu masuk, tercengang dengan apa yang terhampar di hadapan mereka.


Desa Jahae diselimuti keheningan.


Gapura utuh. Menara-menara menjulang menantang langit. Rumah-rumah berdiri kokoh. Semua hal berada dalam posisi yang semestinya, bahkan pepohonan masih serimbun biasanya. Api kutukan tidak terendus. Anehnya, tidak dirasakan jejak kehidupan. Pun binatang melata dan serangga malam enggan menampakkan diri. Suasana desa suram dan mencekam.


Aezar berdiri bagai patung. Semua orang tenggelam dalam keheningan dalam beberapa saat. Mungkinkah mereka terlambat?


Dari arah jam sepuluh, tiba-tiba terdengar denting lonceng dan bentrokan senjata. Ledakan sihir memecah keheningan itu, aroma dupa terbawa angin ke tempat mereka.


Xan melecut kepala ke sumber suara. Tidak ada selain pasukan Xi yang mengenal bunyi khas itu, bunyi yang berasal dari lonceng perak yang menggantung pada sebuah pedang pusaka milik Lara. Tanpa menunggu lama, dia melesat pergi. Pasukan Xi menyusul dengan was-was.


Aezar memerintahkan sebagian pasukannya untuk menyisir desa, lalu membawa sisanya bergerak ke arah Xan pergi.


Semakin mereka mendekat ke sumber suara, semakin tebal mayat-mayat menumpuk di jalan setapak itu. Warna merah melumuri permukaan tanah dan rerumputan. Anyir darah mengalir di udara. Orang tua dan muda, wanita dan anak-anak ... bahkan prajurit!


Aezar merasakan amarah membakar dadanya. Xan mengepalkan tangan. Ini adalah pembantaian!


"Kapten." Bard mengalihkan perhatiannya dari mayat-mayat di tanah. "Masih ada harapan," katanya, memandang lurus jalan setapak itu, yang menghilang di balik bukit kecil.


Tanpa menjawab Xan membawa pegasus terbang dengan kecepatan tinggi. Lara selalu menjadi yang terkuat dalam pasukan. Dia adalah tipe penyerang. Kekuatannya mencapai maksimal ketika dia bergerak sendirian. Namun, Xan merasakan firasat buruk.


Mayat-mayat di tanah tidak lagi mayat penduduk desa, melainkan mayat-mayat berlubang yang tercabik dan terpotong. Kepala, tangan, kaki, dan tubuhnya tercerai-berai. Isi perut yang membusuk terburai di jalanan. Sekilas saja Xan tahu mereka terbunuh oleh sayatan pedang.


Lara tidak pernah melakukan sesuatu setengah hati. Ketika dia marah, pedangnya menjadi semakin ganas. Jika dilihat dari kondisi mayat yang begitu mengerikan, suasana hatinya pastilah sangat buruk. Xan mencemaskannya. Lara selalu melampaui batasnya secara berlebihan. Pembantaian ini membuatnya benar-benar marah. Xan tidak dapat memperkirakan berapa lama dia bertarung. Dengan begitu banyak tumpukan mayat hidup, sekiranya lama sekali.


Ketika mencapai balik bukit, mereka disambut oleh gunung mayat.


Penduduk desa tidak terlihat dimana pun. Selain mayat hidup, hanya satu orang yang berdiri.


Bau busuk mencemari udara, tetapi Xan dan pasukannya tidak kelihatan terganggu. Pandangan mereka terpaku pada siluet ramping seorang gadis yang berdiri tangguh di puncak gunung itu. Sendirian. Lonceng berdenting sekali lagi dan sebuah kepala busuk menggelinding jatuh.


Aezar menyusul di belakang dan terkesiap melihat pemandangan itu. Pasukannya menghirup udara dingin. Gadis ini ... sangat kuat!


Xan melesat ke puncak dan menebas paru-paru setiap mayat yang tersisa dengan angin miliknya, lalu memandang Lara yang diselimuti warna merah sekujur tubuhnya. Gadis itu masih berdiri tegak, kakinya seperti dipaku dengan kokoh. Matanya nyalang. "Sudah selesai," katanya lembut di telinganya.


Lara mengenali suaranya, menoleh dengan wajah kaku. "Xan?"


"Aku di sini."


Seperti akar tunggal yang dicabut sekaligus, dia jatuh seketika. Xan menyambutnya. Lara gemetar dalam pelukannya. "Maafkan aku," katanya susah payah. "Penduduk desa ...." Dia kehabisan tenaga dan jatuh tak sadarkan diri.


"Bodoh," kata Xan, terjebak antara terharu dan sebal. "Setidaknya, sisakan tenagamu sedikit. Kamu membuatku repot." Namun, wajahnya tampak lega.


Bard sudah menangis ketika dia turun membawa Lara. "Kapten, apakah Letnan baik-baik saja?"


"Pingsan."

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu harus menggendongnya dengan hati-hati. Jangan membuatnya terguncang!"


Xan, "Dia kehabisan tenaga, bukan cedera parah!"


"Justru itu! Guncangan akan membuatnya semakin sakit!"


Xan memberinya pandangan mencela, sementara pasukan yang menonton dari samping memutar mata.


Pasukan penyisir datang melapor. Mereka menemukan keberadaan penduduk desa di kedalaman hutan trembesi, nyaris mencapai Bukit Mati. Dari mereka akhirnya Aezar tahu kalau Lara telah mengevakuasi penduduk ke tempat itu. Namun, seorang pemburu tua dan kelompoknya membelot dan bersikeras pergi ke tempat lain membawa serta keluarga dan anak-anaknya. Pergerakan mereka tidak luput dari musuh. Lara menyerahkan sekelompok mayat hidup pada pasukannya dan bergegas pergi menyusul, tetapi mereka telah tewas dibantai. Karena tidak mungkin membiarkan musuh menemukan penduduk yang tersisa, dia mempertaruhkan hidupnya sendiri dengan memancing mereka menjauh dari desa.


Xan mendengarkan dengan wajah tenggelam. Berapa kali dia harus mendengar kejadian ini berulang? Setiap kali terdesak, Lara selalu mempertaruhkan dirinya sendiri. Hebatnya, dia selalu beruntung. Namun, Xan tertekan karena merasa tidak becus sebagai Kapten.


Aezar segera mengambil alih situasi, termasuk membangun pertahanan di sekitar desa. Masih ada satu desa tersisa yang situasinya tidak jelas, sementara musuh hanya berpusat pada mayat hidup. Dalang yang sebenarnya masih bersembunyi dalam bayangan, mereka harus bersiap dengan kemungkinan terburuk.


Seorang pembawa pesan datang ketika pagi menjelang. Desa Galae kehilangan banyak penduduk, desa mereka porak-poranda. Pasukan Barat yang dipimpin Will datang menyelamatkan penduduk yang tersisa, menghabisi mayat hidup nyaris hanya dalam sekejap mata.


Baltroz menyesal karena tidak tahu kelemahan mereka lebih awal. Pasukannya kesulitan menghentikan gelombang mayat hidup yang terus-menerus memulihkan diri, sementara dia kehilangan banyak prajurit. Desa Galae terancam punah. Beruntung Will datang membantu.


Berbeda dengan Lara. Ketika pasukannya bentrok untuk pertama kali, dia menggunakan kepiawaiannya berpedang dan memotong musuh. Sebenarnya dia tidak tahu kelemahan mereka, dia hanya beruntung karena si mayat hidup tidak lagi bangkit setelah dia membelah dadanya menjadi dua. Pasukannya segera menyalin tindakannya.


Si hantu Clo, yang mengamati dari samping, memutar mata berulangkali karena merasa bosan dengan diskusi yang berlangsung. Kedatangannya bukan untuk mendengarkan mereka mengoceh. Dia kemari untuk orang itu. Kemana dia pergi?


Kilasan itu dilihatnya dengan jelas. Penglihatannya tidak mungkin salah. Orang itu berada di sini bersama naga besar miliknya. Dia telah menyisir desa sampai subuh, tetapi jejaknya tidak ditemukan dimana pun. Dalam kilasannya, orang itu menonton mayat hidup dari ketinggian. Wajahnya buram.


Mengapa pasukan Lara tidak menyebutkan apa pun soal dia?


Setelah bersusah payah menekan rasa gengsi untuk menguping, Clo berharap seseorang menyebutkannya. Siapa saja, dari begitu banyak orang di posko. Seharusnya mereka melihat naga besar yang mencolok itu. Tidak ada hasil.


Clo didera firasat buruk. Bagaimana kalau ternyata mayat-mayat dikendalikan olehnya? Bagaimana jika pimpinan pergerakan misterius ini adalah dia? Clo menimbang kemungkinan, dan merasakan kengerian dengan setiap pemikiran yang muncul.


Clo tidak tahu siapa dia, atau apa yang dilakukannya di wilayah Alfar. Namun, Clo mengenali rambut dan mata merah itu. Dan merah rambutnya mengingatkannya pada seseorang. Bagaimana kalau ... dia datang untuknya?


Prajurit di luar mendadak gaduh.


Dengan bunyi gedebuk nyaring, pegasus itu langsung mati saat mendarat di tanah. Darah merembes dari dagingnya yang tercabik-cabik. Kondisi mengerikan itu tidak jauh berbeda dengan pemiliknya.


Keen merangkak bangun ketika melihat sang Pangeran menyibak pintu posko. "Y-yang Mulia!" Darah menyembur dari mulutnya. "Maafkan aku."


Aezar menjadi sepucat mayat. Jantungnya nyaris meledak dalam rongga dadanya. Keen ditugaskannya secara pribadi untuk membawa adiknya kembali. Namun, dia datang dengan kondisi berdarah-darah padanya. Dengan gemetar, Aezar membantunya duduk. Prajurit mengelilingi mereka di halaman. "Dimana Raina?" tanyanya langsung dalam ketegangan dan kecemasan.


Semua orang menunggunya menarik napas dengan gelisah.


"Iblis!" seru Keen sekuat tenaga. "Dia membawanya pergi!"


Hening.


Mereka begitu terkejut sampai kehilangan suaranya.


Clo menyumpah.


-


Keen khawatir melihatnya memeluk leher pegasus begitu erat, menempel seperti lem seolah-olah menggantungkan hidupnya di sana. Matanya terpejam. Bersin. Menyedot ingus. Kemudian bersin lagi, sampai mengejutkan hewan besar itu.


Tujuh kali, Keen menghitung dalam hati. Padahal mereka baru saja mengudara.


Dia tidak punya pilihan. Biasanya Rai terbang bersama Aezar karena dia agak menyedihkan soal ketinggian, tetapi sang Pangeran tidak mungkin kembali untuk mengantarnya pulang. Keen meminta Laskar perempuan untuk terbang bersamanya, sayangnya dia terlalu kaku sampai duduk menjaga jarak di punggung pegasus, terlalu takut menyentuh gadis berambut merah itu.


Keen menghela napas berat. Dia tidak menduga Aezar memberinya perintah membawa adiknya kembali ketika dia baru saja datang. Kalau tahu sejak awal, dia akan kembali bersama Laskar yang berpengalaman dengan Keluarga Kerajaan, bukan malah lima petugas patroli canggung yang memperlakukan Rai seolah-olah dia patung emas, takut bila disentuh maka akan ternoda.


Rai bersin lagi.


"Jangan terlalu jauh," kata Keen kepada lima Laskar yang kelihatan tidak tahan terbang begitu dekat dengan sang Putri. Dia tidak dapat menyalahkan kalau mereka termakan rumor, Rai memang galak dan gampang meledak. Walaupun akhir-akhir ini dia jauh lebih kalem. "Apa yang kalian lindungi kalau terbang begitu jauh? Mendekatlah!"


Mereka mendekat dengan canggung.


Rai tidak terlalu mendengarkan, hidungnya gatal dan matanya berat. Sejak kembali ke ibu kota, dia tidak tidur dengan baik. Hari ini terlalu banyak kejutan yang datang, memaksanya bekerja sangat keras dan energinya terkuras. Walau langit masih gelap, angin yang bertiup terasa berbeda dari semalam, sangat sejuk, membuatnya mengantuk. Dia hampir jatuh tertidur ketika mendengar seseorang berkata dengan waspada.


"Ada yang datang."


Keen merasakan tekanan berat di udara. Lima Laskar mengencangkan genggaman pada tali kekang mereka. "Jangan berhenti!" katanya. "Terbang lebih cepat!"


Laskar wanita yang duduk bersama Rai, menyentak kendali dengan gugup. Hatinya dipenuhi ketakutan dengan tugas maha berat yang tiba-tiba diembannya. Bagaimana kalau aku tidak melakukannya dengan baik?


Mereka terbang lebih cepat. Rai merasakan kegugupannya. "Kenapa kamu gemetar? Aku tidak akan menggigit."


Si Laskar wanita terkejut karena sang Putri berbicara padanya dengan ramah. "Yang Mulia, Maafkan hamba."


"Siapa namamu?"


Terkejut lagi. "Mina."


"Jadi, Mina, terbanglah seperti biasa. Kalau kamu gemetar, malah akan membuatku jatuh."


Mina menegakkan punggung. Yang Mulia benar, pikirnya. Jika dia gugup, fokusnya akan menyempit pada sang Putri. Dia tidak bisa melindunginya hanya dengan memandangi punggungnya saja. Untuk keselamatannya, dia harus mewaspadai sekitar. Berada di udara artinya berada di medan terbuka, serangan bisa datang dari arah mana saja.


Mina segera memusatkan pandangannya lurus ke depan, sikapnya menjadi lebih awas. Tekanan di udara dirasakannya datang dari belakang. Seseorang mengejar mereka!


"Jangan berhenti," Keen mengingatkan lagi. Dengan tekanan seperti ini, siapapun yang mengejar jelas musuh. Musuh ini entah bagaimana lolos dari sang Pangeran, maka artinya dia sangat kuat. Keen tidak dapat memastikan jumlahnya. Namun, tidak diragukan kalau musuh memang kuat karena berhasil mencapai mereka dalam waktu sesingkat ini. Keen cemas tidak dapat menanganinya dengan mudah, mereka hanya kelompok kecil lima orang.


Apa yang diinginkan musuh, bagi Keen sudah jelas. Kalau mereka bermaksud menyerang kota, musuh tidak akan merepotkan diri dengan mengejar mereka. Ini malah sebaliknya. Mereka mengerahkan mayat hidup untuk menyerang perbatasan, menyusup, dan membantai. Saat sang Pangeran mengerahkan pasukan untuk menghadang, orang ini malah mengejar mereka, alih-alih menikmati hidangan utama. Keen curiga, mungkinkah pembantaian yang terjadi adalah pengecoh belaka? Atau ..., Keen melirik sang Putri yang bersin entah ke berapa kali, untuk memancingnya keluar?


Kemudian Keen ingat pembantaian di desa Paree dan penculikan sang Putri sekitar dua bulan lalu. Musuh ini, apakah orang yang sama? Mengapa dia mengincar sang Putri? Apakah karena uang?


Tidak. Saat penculikan itu, mereka sudah tentu memintanya alih-alih kabur tanpa jejak.


Reputasi?


Tidak mungkin. Dengan begitu banyak yang dibantai, mana mungkin dia memikirkan hal itu. Dari serangan yang dilancarkan, orang ini jelas sangat kejam, ambisius, dan berkuasa. Apa yang diinginkan orang semacam itu? Siapa dia?

__ADS_1


Seakan menjawab pertanyaan Keen, sebuah bayangan besar melesat dari belakang, kecepatannya nyaris bukan tandingan mereka. Keen dan empat Laskar yang terbang melindungi Rai dari segala sisi tiba-tiba terhempas oleh sebuah ledakan tunggal. Warna merah memercik di udara.


Mina lolos dari ledakan dan terbang lebih jauh. Ekor matanya melihat serangan itu. Dia tidak merasakan sakit dan menyimpulkan dengan cepat kalau musuh membiarkannya tetap utuh karena sang Putri bersamanya. Orang ini menginginkannya.


"Pergilah!" Keen kembali dengan susah payah. Sekujur tubuhnya terluka, darah mengalir menutupi sebelah matanya. Si pegasus yang dinaikinya mendengking kesakitan, tetapi terus memaksa terbang. "Jangan berbalik ke belakang!"


Empat kawannya juga kembali. Darah menutupi tubuh mereka dari kepala sampai kaki, tetapi Mina tahu mereka tidak akan menyerah begitu saja. Seseorang menyalakan suar bantuan ke langit. Mina memahaminya, mereka bertekad menahannya di sini sampai mati.


Mina tidak bisa membuang waktu yang mereka beri untuknya dan segera memusatkan perhatiannya pada kecepatan. Tidak lagi melirik walau sekilas.


Pos Patroli di jalan masuk perbatasan Barat Laut sekitar satu kilometer lagi, dengan pegasus ini mereka bisa sampai lebih cepat. Walaupun tidak terlalu banyak penjaga di sana, mereka masih seorang prajurit. Mereka harus menjadi dinding kedua seandainya musuh melewati kelompok Keen.


Untuk menghadapi musuh ini, Mina tidak yakin berapa lama mereka dapat bertahan. Namun, walaupun hanya beberapa detik, sudah sangat berharga untuk menghentikannya sementara. Mina bisa menggunakan kesempatan yang sebentar itu untuk terbang lebih cepat ke bukit tinggi di pinggir ibu kota. Di sana, para Laskar secara rahasia membangun benteng mereka sendiri. Kamp di bukit ini adalah Benteng Besar ketiga setelah Utara dan Selatan.


Mina sudah memutuskan. Bagaimanapun dia harus siap dengan kemungkinan terburuk. Menunggu bantuan tanpa tahu kapan mereka akan datang bukan pilihan yang baik. Sang Putri harus keluar dari medan ini dengan selamat. Dia harus menyelamatkannya.


Rai masih memeluk leher pegasus dengan erat. Tekanan yang berat itu mempengaruhi Shade yang mendengkur. Rai bisa merasakan emosinya, bertanya-tanya sehebat itukah musuh ini sampai membuatnya jengkel.


"Sebaiknya kamu membunuh orang itu," katanya gusar dalam benaknya. Rai terkejut. Biasanya Shade harus dipaksa dulu sebelum mau bergerak. "Sebelum kamu dibunuh duluan."


Uh. "Kamu yang melakukannya kali ini, ya?" Rai membantin sambil menggosok hidungnya yang meler. "Aku sedang tidak bisa sekarang."


Shade merendahkan, "Apa gunanya memiliki tangan dan kaki? Aku tidak sudi berurusan dengan hal-hal kotor. Itu tugasmu!" Rai ingin sekali menghajarnya. "Urusanmu dengannya lebih besar dariku."


Urusanku urusanmu juga, batin Rai jengah.


Sihir dan ledakan menggema semakin jauh di belakang. Keen dan para Laskar tampaknya berhasil menahannya. Rai menjulurkan leher mengintip ke belakang, melihat sejumput rambut merah di atas naga besar berkepala dua.


Musuh datang sendirian.


Rai tidak melihat wajahnya dengan jelas, tetapi sudah cukup mengenali siapa dia. Rambut merah hanya dimiliki bangsa Iblis. Inikah ular besar yang selama ini bersembunyi dalam lubang? Apakah dia Magadh?


Shade meremehkan, "Sebutir pasir."


Kalau dia mengatakannya begitu, maka bukan Magadh. Keen dan empat Laskar cukup kepayahan melawannya, tampaknya dia cukup kuat.


Sangat kuat, batin Keen, meludahkan darah dari mulutnya.


Serangan mendadak yang nyaris meledakkan tubuhnya mempunyai daya yang kuat. Keen merasakan hawa membunuh di udara dan segera membentuk sihir pelindung sebelum ledakan terjadi. Hutan di bawah terkena imbasnya, sebuah lubang besar terbentuk di tanah. Walaupun dengan pelindung, luka yang mereka derita sebanding dengan luka dari ledakan seorang penyihir biasa. Padahal hanya satu kali. Serangan luar biasa seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang kuat.


Keen tidak menyangka musuh yang mengejar mereka ternyata sendirian. Namun, sudah cukup membuatnya berkeringat.


Rambut merah orang itu mengejutkan mereka. Siapa menyangka kalau musuh yang mengincar sang Putri adalah seorang iblis?


Bangsa Iblis tinggal di Kerajaan mereka sendiri di pulau yang tidak diketahui keberadaannya, terpisah dari daratan luas dimana empat Kerajaan besar lain berkuasa. Kebanyakan orang menganggap mereka sebuah legenda, saking begitu jarangnya mereka menampakkan diri.


Setelah ribuan tahun hampir dilupakan, mereka tiba-tiba muncul di Perguruan Kabut sekitar seratus lima puluh tahun yang lalu, membantai semua Vier-gene dan menghancurkan tempat tinggal mereka. Ketika perang usai, mereka kembali menghilang tanpa jejak.


Kini, seorang dari mereka muncul di Paradis. Keen menduga orang inilah yang mengacau di desa-desa dengan pasukan mayat dan mengincar sang Putri yang, secara kebetulan, mempunyai rambut semerah dia.


Semua orang di Paradis tahu kalau rambut merah hanya dimiliki bangsa Iblis. Bahkan Ratu sendiri. Namun, tidak mengurungkan niatnya untuk mengangkat bayi yang ditemukannya sebagai anak angkatnya. Ratu mengecam siapapun yang mengungkit latar belakang putri kecilnya. Karena dia menemukannya, maka bayi itu miliknya.


Semua orang patuh dengan peraturan tak tertulis itu. Beberapa pihak yang tidak menerima, tidak berani mengungkapkannya secara langsung. Mereka menyimpan ketidaksetujuannya dalam hati.


Dengan kemunculan orang ini, Keen mengira pihak-pihak tersebut akan segera bergerak begitu mereka mendengar kabar dari perbatasan. Jika itu terjadi, maka sang Putri dalam bahaya. Musuh bukan hanya datang dari luar, tetapi pihak-pihak tertentu dari dalam sudah tentu memanfaatkan kesempatan ini untuk mengusirnya.


Bola api melesat mengincarnya, Keen membawa pegasus yang kepayahan itu menghindar tepat waktu, lalu memanggil petir dan menembak. Kilat menyambar pada siang hari yang cerah, gemuruh guntur meledak di udara.


Sang Iblis menerima ledakan itu dengan santai, mengibaskan tangannya seolah-olah sedang mengusir lalat. Sebuah bayangan hitam melingkupi tubuhnya dan melahap api petir yang datang. Sebagai balasan, dia mengirim dua macam api sekaligus. Api merah dan hitam berkobar di udara membentuk badai besar, menerjang dari ujung ke ujung, melibas apa pun yang berada di jalannya. Ekor badai api mencapai tanah, melubanginya dari satu tempat ke tempat lain seperti seekor ular raksasa yang menari di langit.


Angin besar yang datang bersama badai api melemparkan mereka begitu jauh. Hewan tunggangan mereka tidak sanggup bertahan dalam angin sekencang itu, seekor capung seorang Laskar mati setelah api melahap tubuhnya sampai gosong. Pemiliknya terlempar entah dimana. Tiga orang yang tersisa menderita luka bakar yang cukup parah.


Keen melirik tubuhnya sendiri, keadaannya tidak jauh berbeda dengan mereka. Kepalanya sudah mulai pusing karena terlalu banyak kehilangan darah. "Jangan menyerah!" serunya saat bangkit kembali bersama pegasus malang yang hampir roboh. "Kita hanya perlu sedikit waktu lagi."


Mereka mengerti. Mereka hanya perlu menahannya sedikit lebih lama sebelum bantuan tiba. Mina sedang berjuang keras membawa sang Putri kembali, mereka tidak boleh mati sekarang. Jika mereka kalah, musuh akan mendapatkannya. Kematian mereka akan sia-sia.


Seorang Laskar yang kehilangan hewan tunggangan berjalan terseok-seok dari dalam hutan, lalu berjongkok di tanah ketika sampai di samping mereka. Kakinya gemetar menahan bobot tubuhnya sendiri, tetapi dia tidak menyerah. Dengan tangan menempel di atas permukaan tanah, dia berkata, "Mungkin aku tidak bagus di udara, tapi tanah adalah medanku."


Dia memanggil elemen pasir, yang merayap di bawah tanah menuju ekor badai api yang masih mengamuk, menjebaknya dalam sebuah lubang pasir yang dalam dan memadamkannya dengan tanah padat.


Laskar yang menguasai elemen air memanggil hujan, mencoba meredam nyala api yang melahap hutan di sekitar mereka. Angin panas berembus, melelehkan dahan dan daun. Dia segera membangun benteng air sebagai pertahanan mereka, sekaligus melindungi temannya yang masih berkonsentrasi mengendalikan pasir di kejauhan.


Keen menarik tali kekang. "Aku akan mengalihkan perhatiannya."


Dua Laskar lain pergi bersamanya. Mereka terbang memutar agak jauh menghindari badai api yang mengamuk. Namun, setelah berputar beberapa kali, mereka tidak melihat naga besar itu dimana pun. Kemana dia?


Keen mendadak dilanda firasat buruk. Jangan katakan kalau musuh membuat mengecoh lain untuk mereka! Keen bisa membayangkan betapa bangganya dia melenggang pergi setelah mempermainkan mereka dengan badai api.


"Apakah dia pergi?" Seorang Laskar bertanya. "Kalau dia pergi, maka Yang Mulia dalam bahaya!"


Mereka mengumpat, nyaris bersamaan menarik kendali dan berpacu ke arah ibu kota. Keen berharap Mina telah membawa sang Putri pergi jauh dari jangkauan musuh. Setidaknya, sampai bantuan datang.


Secara mengejutkan, sebuah bayangan hitam besar muncul dari udara tipis di hadapan mereka, menghentikan kecepatan pegasus dan capung-capung yang tersentak, nyaris mematahkan lehernya karena berhenti tiba-tiba.


Keen terkesiap. Secara refleks dia memeluk leher pegasus yang mendengking kaget, terhindar dari kejatuhan yang menyakitkan. Dua Laskar yang terbang di sisinya tidak berdaya ketika capung besar yang mereka kendarai terkejut dan membawanya melarikan diri. Mereka berusaha menghentikannya dan kembali, tetapi hewan besar itu tidak mendengarkan. Ekor dan kepalanya terluka cukup parah.


Sang iblis keluar dari pusaran hitam yang melayang di udara, berdiri di atas punggung naga berkepala dua dengan congkak. Matanya yang merah memandang Keen dengan jijik. "Sampah yang keras kepala," katanya. "Apakah kalian tidak punya pekerjaan lain sehingga mengganggu urusanku? Sampaikan pada Tuanmu; Mendekatlah kalau kalian ingin kubakar menjadi debu!"


Naga besar mendengus keras. Pegasus yang ringkih itu terdorong oleh angin panas yang keluar dari hidungnya. Keen ingin muntah mencium bau busuk yang menjijikkan. Secara tak terduga, dia melihat sejumput rambut merah di kaki hewan besar itu. Matanya membelalak.


Sang Putri terjebak di antara cakar tajam kaki naga, diam tak bergerak. Pundaknya berdarah.


Keen begitu terkejut sampai nyaris jatuh. Sejak kapan ... bagaimana orang ini menangkapnya? Mereka hanya terkepung oleh badai api sebentar saja! Bagaimana mungkin secepat itu?


Si naga besar mendengus lagi. Cakar yang mencengkram sang Putri bergerak, seolah-olah memamerkan padanya kalau dia berhasil menangkapnya, lalu melemparnya ke punggungnya. Satu kepalanya yang lain menguap bosan.


Keen marah melihat sang Putri diperlakukan seperti sekarung beras. Tangannya mengepal sampai menunjukkan uratnya. Ketika dia memanggil petir, naga besar itu melahap kilat yang menyambar, sementara kepalanya yang lain meludahkan bola api. Keen terjungkal jatuh bersama pegasus yang berdarah-darah. Sayapnya koyak.


Sang iblis melihatnya dari ketinggian dengan pandangan menghina. Pusaran hitam terbentuk di sekeliling naga berkepala dua, lalu mereka lenyap dalam udara tipis secepat kedatangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2