
Ketika musuh datang secara tiba-tiba dan menangkapnya, Rai terperangah melihat wajah itu.
Dalam mimpi sekalipun, Rai tidak akan melupakannya. Walaupun dia tahu mereka berbeda, orang ini sangat mirip dengan Jalgadh. Wajahnya sama mengerikannya dengan iblis besar di Kebun Raya. Mereka pasti bersaudara! Apakah mungkin isi kepalanya juga?
Kemunculan musuh mengejutkan Mina, yang refleks menarik kendali dan menyingkir ke samping. Namun, bahkan sebelum dia mengendalikan pegasus dengan benar, satu kepala naga mendengus dan menjatuhkannya.
Rai melihatnya melayang di udara, lalu menarik kendali yang kosong untuk membawa pegasus menyusulnya ketika sebuah cakar besar dengan kuku-kuku tajam meringkus tubuhnya.
Mina membelalak ketakutan melihat sosok raksasa di belakangnya, berteriak tentang sesuatu, tetapi Rai tidak mendengarkan. Sebelum cakar itu menariknya pergi, dia menepuk kepala pegasus dan memberinya perintah untuk terbang secepat mungkin menyelamatkannya.
Secepat dia tertangkap, secepat itu pula musuh membawanya pergi.
Rai mendongak di antara cakar-cakar tajam, orang mirip Jalgadh tidak kelihatan. Dua kepala raksasa menghalangi jarak pandangnya, meneteskan air liur di rambutnya. Rai mengerutkan hidung dengan jijik, bersin berturut-turut tiga kali, lalu meringis ketika sadar kalau pundaknya berdarah. Kaki besar itu mencengkeramnya terlalu erat, nyaris meremukkan tubuhnya. Mereka menghilang dalam pusaran portal dalam sekejap, membuatnya pusing.
Ketika keluar, Rai mendengar orang itu berkata sesuatu, atau mungkin mengancam seseorang. Rai tidak memperhatikan karena menahan diri untuk tidak muntah setengah mati. Kepalanya berdenyut dan mulutnya pahit.
Shade mengomel dalam benaknya.
Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya melayang di udara, lalu mendarat di sebuah permukaan tanah yang keras dan tak rata. Pipi dan tangannya menekan sesuatu seperti sisik. Rai mengintip sebentar, lalu mengeluh ketika tahu kalau dia jatuh telungkup dengan menyedihkan di punggung naga.
Ketika baru saja mencoba bangun, mereka kembali memasuki pusaran itu lagi dan Rai kembali jatuh bersujud karena kepalanya sakit. Dia bersin dengan keras, lalu muntah saat portal terbuka di tempat asing.
Si naga menggeram marah karena merasakan punggungnya basah dengan menjijikan, tetapi kemudian terkejut sampai oleng. "Kamu berbicara padaku?" dia menggeram lagi.
Rai menepuk punggungnya sekali lagi di bagian yang bersih. "Kepada siapa lagi aku meminta maaf kalau bukan kamu? Orang itu?" Dia mengedikkan bahu pada sosok besar yang berdiri angkuh di depan, tampaknya tidak sadar kalau Rai tidak pingsan sama sekali. Naga ini sangat besar sekali, jarak mereka sangat jauh dari ujung ke ujung. Rai berada dekat ekornya, yakin dia tidak dapat mendengar bisikannya. "Tidak pantas."
Si naga senang ada orang yang mengerti dia sehingga melupakan kemarahannya. "Bagaimana kamu melakukannya?"
Bersin. "Tidak tahu. Sudah begini sejak lahir."
"Wah."
Mereka terbang sambil mengobrol. Rai bersandar pada tulangnya yang menonjol, mencoba melupakan rasa lapar dan haus dengan menikmati angin yang berembus. Rasa kantuknya kembali lagi, tetapi dia tidak boleh tertidur sekarang. Sayang sekali naga ini tidak tahu apa-apa soal si iblis mirip Jalgadh, mungkin karena keterbatasan bahasa. Si naga terus-menerus bertanya tentang hal-hal remeh, Rai menjawabnya dengan ramah. Kepalanya sudah agak mendingan, tetapi kemudian terganggu oleh bau penyihir. Aroma dupa mencemari udara.
Rai mengintip ke bawah. Hutan terbentang rapat dan gelap. Pepohonan yang tumbuh terlihat lebih besar dari pohon yang dilihatnya di desa Dahae. Lumut tebal menempel sampai ke dahan dan ranting. Kalau seseorang jatuh di sana, mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk ditemukan.
"Dimana ini?"
"Hutan Padapa," si naga menggeram lagi, yang ternyata bernama Ye Sa.
Bersin. "Bagaimana kamu tahu?"
Ye Sa mendengus. "Ini rumah kami." Kemudian mengingat sesuatu. "Ah. Tentu saja kamu tidak tahu, kamu 'kan tidak tinggal di sini."
Rai bersandar lagi dengan kening berkerut. Shade memberitahunya bahwa Hutan Padapa berada di wilayah Penyihir. Itu sebabnya dia mencium aroma dupa di udara. Mereka sudah pergi sejauh ini. Kemana orang ini akan membawanya?
Merasakannya begitu santai di punggungnya, Ye Sa heran. "Kamu tidak takut? Orang ini kejam sekali, kami hampir mati berkali-kali."
Dalam hidupnya, Rai hanya pernah merasa sangat takut dua kali. Yang paling parah, rasa takut itu datang bersama keputusasaan yang mencekik. Kesedihan ditinggalkan orang tuanya sangat menyesakkan sampai membuatnya takut, tetapi ketakutan saat serangan di Kebun Raya lebih mengerikan seribu kali lipat. Dia terjebak dalam keputusasaan, tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak tahu kepada siapa meminta bantuan. Rasa sakit ketika tangan itu mencungkil matanya masih terbayang sampai sekarang. Pandangannya memang buram, tetapi kalau mereka bertemu lagi Rai yakin bisa mengenali wajahnya.
Sekarang Rai tidak sendirian. Shade bersamanya. Apa yang harus dia takutkan? Sebaliknya, Rai ingin sekali membalas dendam. Ketika di atas pegasus, Shade bisa saja menyerangnya, tetapi Rai ingin melihat kemana dia membawanya. Rai harus tahu siapa dan bagaimana musuhnya terlihat. "Bukankah dia Tuanmu? Mana mungkin sejahat itu?"
Si naga mendengus. "Aku tidak tahu siapa dia," katanya. "Tiba-tiba dia datang dan mengancam kami untuk ikut. Apinya mengerikan. Benar begitu, Ye Du?"
Si kepala satu lagi, yang terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan menguap, lalu menggumamkan persetujuan.
"Kalau dia bukan, siapa Tuanmu?"
"Tuan, ya, Tuan," Ye Sa berkata dengan bangga. "Orang luar sepertimu tidak diperkenankan menyebut namanya yang mulia."
Rai memutar mata. Si naga besar ini tampaknya memiliki kekaguman tertentu pada Tuannya itu, sampai memperhatikan hal-hal kecil dan merahasiakannya, seolah-olah takut Rai akan mencurinya. Rai jadi mengingat Algis.
"Apakah mungkin Tuanmu seorang penyihir?" Kalau melihat dimana si naga besar tinggal, tampaknya Tuannya memang penyihir. Rai ingat Eins mengatakan kalau Magadh berkolusi dengan Thanatos ketika perang dulu, mungkin kerjasama mereka masih terjalin sampai sekarang. Iblis ini merebut si naga dari pemiliknya begitu saja, mana mungkin naga ini begitu tidak berharga sampai dia membiarkan seseorang mencuri darinya?
"Penyihir hebat yang kuat? Tentu saja!" Rai hampir melihat ilusi si naga menepuk dadanya karena begitu bangga. "Benar begitu, Ye Du? Oh! Kita sampai."
Ye Du membuka matanya, tetapi tidak menjawab. Raut bosan dan mengantuk menghilang darinya, matanya berubah waspada seperti sedang menunggu sesuatu.
Tidak lama kemudian, perintah untuk mendarat terdengar dari depan. Rai segera berbaring dan berpura-pura pingsan.
Mereka mendarat dengan mulus di sebuah tanah lapang di tengah hutan. Di hadapan mereka berdiri sebuah rumah pohon tua yang tertusuk dahan-dahan besar di beberapa sudut. Lumut merajalela.
Shade berjaya di tanah, jadi Rai tidak mencemaskan apa pun. Bahkan ketika satu tangan besar mengapitnya di antara ketiaknya, memperlakukannya seolah-olah dia sekarung lobak.
Rumah pohon itu kecil dan kumuh, tidak disangka dalamnya bagaikan paviliun besar nan megah. Kursi dengan sandaran tinggi berderet sampai ujung ruangan di kedua sisi, menyisakan jalan besar yang dilapisi karpet tebal. Karpet itu berakhir di anak tangga menuju sebuah kursi besar bertahta naga kembar. Kursi itu kosong. Pada kursi yang berderet itu, wajah-wajah asing duduk jumawa. Ketika pintu terbuka, mereka serentak menoleh untuk melihat siapa yang datang. Lebih tepatnya, melihat pada seorang gadis kecil di tangan sang iblis.
Suasana ruangan suram. Cahaya matahari sedikit sekali yang menyusup masuk. Obor di dinding tidak menyala, walaupun jumlahnya dua kali lipat dari orang dalam ruangan.
Shade gembira dengan ruangan yang murung itu, memberinya keleluasaan memegang kendali. Dia menyumpahi mereka karena begitu bodoh.
Rai mengeluh ketika si iblis menjatuhkannya ke lantai yang dingin, padahal dia menginjak karpet tebal yang kelihatan bersih itu. Kemudian dia beranjak ke sebuah kursi kosong terdekat. Rai hampir bangun karena jengkel.
Seseorang berdiri. "Apa ini," katanya sebelum tertawa begitu kencang. Suaranya melengking, menggema dalam ruangan dan menyakiti telinga semua orang. "Begitu sulitkah tugasmu? Berapa lama waktu berlalu, kamu malah baru datang sekarang dan membawanya langsung. Apakah kamu tidak tega melakukannya? Sungguh baik hati."
__ADS_1
Seseorang lain menyela, "Aodhyn, sebaiknya kamu punya alasan yang bagus setelah terlambat begitu lama."
Aodhyn merupakan satu-satunya iblis di ruangan itu. Rai mengernyit ketika melafalkan namanya. Kenapa tidak seirama dengan Jalgadh?
"Kenapa aku harus repot-repot menjelaskan? Kalian sudah tahu." Aodhyn berpaling pada seseorang yang menertawakannya, memberinya pandangan menghina. "Kenapa aku membawanya kemari? Astaga. Apakah kamu tidak tahu, Thundy? Thanathos memintanya. Dia lebih mempercayai aku dari pada seseorang yang tidak kompeten." Dia menyindir. "Lagi pula, kalau aku bisa membawa yang segar, kenapa tidak? Daging yang terlalu lama direndam dalam es tidak terlalu bagus."
Sebenarnya namanya Thunder. Dia benci ketika orang-orang mengoloknya dengan nama kecilnya. Thunder mengerti arah ucapannya, dan segera merasa marah. "Tetap saja aku lebih cepat darimu! Seharusnya kamu bersujud karena begitu terlambat. Memalukan!"
Aodhyn, "Begitukah? Tapi, kudengar Thanatos sangat kecewa karena tidak mendapatkan hal yang diinginkannya. Apa kamu salah mengenali target sehingga membawa mata yang salah? Atau, apakah mungkin informasi ini juga palsu? Yah. Tidak masalah buatku. Thanatos tetap ingin gadis ini mati walaupun benda itu tidak ada padanya."
Thunder sangat marah sampai petir hitam berkilat di tangannya. Dia tidak salah mengenali target, tetapi sepasang mata ungu yang disimpannya dengan hati-hati dalam kotak es terbuang sia-sia. Benda yang mereka cari tidak ada di dalamnya.
"Jadi, kabar kalau Thanatos merasa terancam itu benar? Sayang sekali," seseorang berkomentar.
Yang lain menjawab, "Kudengar juga begitu."
Rai mulai merasakan kram di kakinya. Apa yang mereka bicarakan? Dia sudah menduga Magadh dan Thanatos masih menjalin kerja sama. Mereka dan kelompoknya bekerja dalam bayang-bayang. Rumah tua ini tersembunyi di kedalaman hutan, mereka tidak ingin terlihat oleh siapapun.
Eins sudah memberinya gambaran tentang ambisi Thanatos dan Magadh. Namun, mereka tidak mendapatkannya ketika perang terjadi sehingga harapannya jatuh kepada dua bayi kembar yang terpisah di dunia berbeda.
Rai tidak tahu bagaimana mereka menemukannya, atau mengapa orang itu mengambil matanya. Seharusnya hal ini berhubungan dengan dua benda itu. Tampaknya mereka menyisir informasi sampai detail terkecil untuk mendapatkan apa yang mereka mau.
Rai menyeringai. Jadi, orang yang membunuh dan merebut matanya juga berdiri di ruangan ini? Sungguh mengejutkan. Namun, dia tidak mengerti satu hal.
Selain Kitab Es dan sihir bayangan legenda, apa lagi yang diinginkan Thanatos darinya? Mengapa Aodhyn berkata seperti itu? Si iblis bilang, dia akan tetap mati. Mengapa?
"Baru sebuah dugaan," Thunder meremehkan. "Semua orang bisa menghancurkan batu itu dengan mudah. Aku sudah berkali-kali mencobanya. Atau, mungkin pasukan buatanmu yang payah."
Aodhyn mendengus. "Sebaiknya tutup mulut kalau tidak tahu apa-apa. Kamu terdengar semakin bodoh."
"Kaubilang apa?" Thunder memanggil petir hitam dan menembak dengan marah.
Aodhyn tidak bergeming dari tempatnya, melahap kilat yang datang dengan tenang. Bayangan hitam di tubuhnya bergejolak sebentar, lalu menghilang lagi di balik jubahnya yang besar.
Rai merasakannya begitu familier.
Seseorang menjelaskan dengan baik hati, "Ada perbedaan. Mayat hidup yang kita ciptakan hanya seonggok daging tanpa otak. Mereka juga tidak dapat berbicara. Kenapa? Tentu karena batu itu. Batu sihir yang sempurna, yang membuat Naraya begitu kuat dan berakal, ada bersama Ratu. Sayangnya, batu sehebat itu, orang-orang malah menyebutnya penyakit. Sungguh konyol!"
Thunder, "Lalu kenapa? Walaupun dikatakan begitu hebat, ada waktunya untuk hancur!"
Aodhyn tertawa. "Kamu bodoh minta ampun."
"Aodhyn!"
"Maester Five," Thunder menggertakkan gigi. "Apakah Anda juga mengatakan aku bodoh?"
"Tidak," katanya. "Tapi, seharusnya kamu sudah mengerti. Memang benar batu sihir yang sekarang menyelimuti tubuh Ratu bisa hancur kapan saja, tetapi bukan oleh siapa saja." Maester Five melirik gadis berambut merah yang tergeletak di lantai. "Hanya dia yang dapat melakukannya."
Thunder terkejut karena baru mendengar hal ini. Yang dia tahu, semua orang dapat dengan mudah mengalahkan setiap mayat hidup dengan menghancurkan batu di dadanya. Batu itu memang rapuh dan mudah sekali hancur. Begitu pula milik Naraya. Dia pernah menghancurkannya sampai berkeping-keping, walaupun memang agak lebih kuat. Sementara untuk Ratu Cassandra, dia tidak memperhatikannya terlalu serius. Menurutnya, penyakit Ratu bukan berasal dari batunya, melainkan dirinya sendiri. Dia begitu takut ditemukan sehingga menekan kekuatan apa pun yang mencoba mengeluarkannya dari kepompong.
Kebenaran ini hanya diketahui oleh segelintir orang dalam kelompok, bahwa sebenarnya Ratu Cassandra adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia besar antara Magadh dan Thanatos. Dia tahu mereka berkolusi. Dia pula yang menyembunyikan satu bayi saat perang terjadi. Ketika Thanatos mendengar kabar mengenai bayi itu, dia pergi kepadanya, tetapi sang Ratu tiba-tiba telah terbungkus kepompong batu sihir, melarikan diri dari dunia.
Thanatos mendapatkan kerugian dan keuntungan sekaligus. Dia tidak dapat menemukan bayi itu, setidaknya tidak dalam waktu dekat, tetapi pergerakannya sendiri tersembunyi dalam kabut. Raja Vanaheimr tidak akan tahu kebenarannya.
Rai mendengarkan dengan kaget.
Mulut Thunder sangat besar, mengemukakan isi kepalanya sendiri secara gamblang dan rinci. Bagi Rai, ini sebuah keuntungan. Kelihatannya orang-orang dalam ruangan adalah orang yang mengetahui kebenaran seperti dikatakan Thunder, sehingga dia mengatakan semua hal tanpa ragu sedikitpun.
Di tengah keterkejutan itu, Rai merasa malu mendengar rahasia sebesar ini dengan berpura-pura pingsan. Pantas Shade mengabaikannya karena begitu terhina.
"Bagaimana mungkin?" Thunder masih belum puas walaupun sudah mengulik sejarah lama.
Maester Five yang tua dan pendek mengembuskan napas lelah. "Karena dia keturunan Lily. Tentu saja bisa!"
Thunder terdiam sejenak, merenungkan ucapannya. "Aku mengerti," katanya setelah cukup lama. "Kalau dia menghancurkan batu sihir, maka sang Ratu akan terbangun dan mengungkapkan rahasia yang kita simpan rapat-rapat. Ini membahayakan."
Aodhyn hampir tertidur menunggunya untuk mengerti sampai tahap ini. Ekor matanya melihat kursi paling besar yang kosong di depan. "Apakah Thanatos tidak akan datang? Aku harus segera pergi."
Thunder tersulut lagi. "Lihat, kamu hanya duduk sebentar dan sudah tak sabaran. Bagaimana dengan kami yang menunggumu lama sekali?"
Aodhyn, "Berisik!"
Seseorang yang duduk di sampingnya menjawab, "Tidak. Istana sedang sibuk, tampaknya utusan Raja kita di Paradis dalam kesulitan."
"Heh." Aodhyn tertawa terbahak-bahak. "Sepertinya aku meninggalkan banyak masalah."
Orang tua lain dalam ruangan tidak setuju. "Justru bagus. Semakin lama mereka di sana, semakin baik kesempatan kita."
"Ingin menyingkirkan saksi?"
Si orang tua mengangguk pada gadis berambut merah di lantai. "Bangunkan dia," katanya memberi perintah. "Menyingkirkan saksi tidak bisa dilakukan tanpa dia."
Yang lain menambahkan, "Ini waktu yang tepat. Bocah itu tidak ada untuk mengganggu."
__ADS_1
"Benar. Bersyukurlah Raja mengirimnya pergi, kalau tidak kita dalam masalah."
"Heh. Kuakui dia memang merepotkan."
Thunder menunjuk si gadis kecil. "Bukankah kita akan membunuhnya?"
"Sekarang atau nanti sama saja. Kalau dia bisa dimanfaatkan, mengapa tidak? Dia bisa mati setelah itu."
Maester Five terkekeh setuju. "Maester Seven benar. Dia bisa menghancurkan batu sihir terlebih duhulu. Thanatos akan mengurus matanya nanti."
"Menggunakan tangannya untuk membunuh saksi?" Aodhyn menyeringai. "Boleh juga."
Seorang pengawal berbadan besar dan berotot dipanggil untuk membangunkannya. Kulitnya legam, kepalanya plontos, dan telapak tangannya nyaris sebesar panci. Langkahnya berdebam dengan berat. Rai bangun lebih dulu sebelum tangannya yang kasar meraih kerah bajunya.
Duduk di lantai yang dingin, dia mengerjap polos dan mengedarkan pandangan dengan heran. "Dimana ini?" Andaikan sedang tidak berpura-pura, Rai akan tertawa melihat wajah-wajah terkejut mereka.
Si pengawal besar tertegun sejenak, lalu mengulurkan tangannya. Dengan gesit, Rai berdiri dan berlagak limbung sebelum si Otot Besar menariknya paksa. Karena gerakannya cepat dan mendadak, rambut palsunya jatuh, mengungkapkan rambut semerah api.
Mata merah Aodhyn melahapnya penuh kebencian. Sebelum dia mengatakan sesuatu, seorang tua yang jangkung dan berleher panjang beranjak melewatinya.
Orang tua itu melihat gadis kecil berambut merah dengan heran, yang berdiri di hadapan si Otot Besar tanpa terintimidasi. "Anak yang baik, kamu pasti bingung kenapa tiba-tiba bangun di tempat ini. Aku tidak ingin membohongimu, setiap orang asing yang memasuki rumah ini harus mati, mungkin kami bisa memberimu keringanan jika kamu setuju untuk bekerja sama," katanya. "Kamu mungkin tidak tahu kalau tanganmu sangat ajaib. Kamu bisa menyembuhkan Ratu Cassandra dari penyakitnya. Maukah kamu melakukannya?"
Suara ini milik Maester Seven. Rai tidak termakan tipuan, pandangannya menelisik wajah-wajah asing yang duduk melihatnya. Dia merasakan petir hitam mengendap di tangan seorang penyihir muda yang duduk di kursi bersebrangan dengan Aodhyn, tampaknya dia yang bernama Thunder. Namun, Rai agak terkejut. Bukankah dia yang merampas mata dan membunuhnya? Kenapa wajahnya berbeda? Kalau ingatannya tidak berkhianat, si perampas itu mempunyai mata yang cerah dan menguasai sihir angin. Seseorang dapat menguasai dua atau tiga elemen, tetapi warna mata seseorang tidak dapat ditukarkan.
Thunder mengakui menyimpan mata itu, tetapi tidak menjelaskan bahwa dialah yang mencurinya sendiri. Rai curiga hal itu dilakukan orang lain. Dia pasti berhubungan dengan orang itu. Mungkin tangan kanannya.
Rai merasa kecewa karena musuh berhasil lolos sebelum dia menemukannya.
Rai tidak sudi membuang waktunya berurusan dengan seorang penyihir tua. Jadi, dia mengabaikannya. "Apakah tidak ada lagi? Kenapa hanya sedikit orang?" Rai menghitung ada tujuh penyihir dan satu iblis. Dua penyihir yang tidak Rai dengar suaranya duduk paling jauh, kelihatan tidak tertarik pada pertemuan yang berlangsung. "Sayang sekali si Thanatos tidak datang. Aku penasaran dengan wajahnya."
Begitu kalimat itu terucap, semua orang tersentak kaget.
Maester Seven menunduk, mempelajarinya dengan saksama. Wajah yang belia ini tidak menunjukkan ketakutan, matanya yang cerah setenang kedalaman danau paling gelap. Anak kecil ini tidak gemetar, tidak juga gugup atau pun canggung. Caranya melihat mereka, seolah-olah dia melihat kerumunan orang di pasar yang berburu barang murah. Tidak terkejut atau heran, seperti dia telah terbiasa.
Anak kecil itu balas mempelajari wajahnya dengan tenang. Ketenangannya mengusik Maester Seven, yang melihat ilusi kalau gadis ini senang melihatnya, menandainya sebagai target selanjutnya. "Apakah kamu mengerti apa yang baru saja kamu katakan?"
Seseorang mengumpat. "Kamu menguping!" Dari mana lagi dia tahu nama Thanatos kalau tidak mendengarnya secara langsung? Thanatos mungkin penyihir besar, tetapi dia adalah orang yang menghabiskan waktunya di balik bayang-bayang. Tidak suka menjadi terkenal. "Bunuh dia!"
Rai melihat Thunder berteriak murka. "Aku tidak menguping," katanya berkilah. "Kalian mengucapkannya dengan lantang, bagaimana aku tidak mendengar?"
"Ikat dia!" Suara Maester Five menggelegar dalam ruangan. "Kita pergi sekarang juga!"
"Bagaimana kita bisa pergi? Anak sial ini mendengar rahasia kita, dia harus mati sekarang!" Thunder ketakutan membayangkan kemarahan Thanatos. "Kalau dia mati, benda itu juga tidak akan pernah terpecahkan. Rahasia kita terkubur selamanya!"
Maester Five mengingatkan, "Dia memang satu-satunya yang bisa menghancurkannya, tetapi sebagai keturunan Lily. Apakah aku harus mengulang hal ini lagi?"
Thunder meneguk ludah. Tentu saja dia mengerti! Rahasia besar tidak dapat dikatakan besar kalau tidak mengguncangkan dunia. Rahasia lain yang terkubur selama ratusan tahun adalah kenyataan bahwa pasangan itu tidak mati! Faith menghilang saat perang memburuk, sementara Lily terkurung dalam ilusi Thanatos. Walaupun pada akhirnya dia berhasil melarikan diri.
Bahkan sampai sekarang, mereka tidak dapat ditemukan walaupun hanya tapak kakinya. Kabar mengatakan bahwa mereka mati, tetapi kabar itu palsu. Thanatos menyebarkan rumor demi melindungi dirinya sendiri. Namun, tidak diragukan kalau dua pusaka itu tidak ikut menghilang bersamanya.
Lily memindahkan kepemilikan Kitab Es pada seseorang. Thanatos memaksa masuk ke dalam pikirannya, tetapi semuanya kelihatan buram dan terpecah-pecah. Dia hanya mendengar satu kalimat dengan jelas, 'Tempat yang nampak tetapi tidak terlihat'. Setelah merenung sekian lama, akhirnya dia sadar kalau petunjuk itu mengungkapkan lokasi dimana Kitab Es berada. Dan jawabannya adalah mata.
Ketika kelompoknya berhasil melacak keberadaan dua bayi yang mengilang itu, perintah pertamanya setelah bertahun-tahun bungkam adalah untuk mendapatkan kedua bola matanya.
Sayang sekali, sepasang mata ungu dari bayi pertama bukan lokasi yang dicarinya.
"Aku baru saja datang, kenapa harus buru-buru pergi?" Rai menyela, mengejutkan semua orang. "Aku ingin bertanya--"
Tiba-tiba bola api hitam melesat mengincarnya. Rai tidak bergeming, bola api itu menghilang dalam udara tipis begitu mendekatinya.
Semua orang terperangah.
Masih duduk menumpang kaki, Aodhyn menyeringai. "Sudah kuduga ketenanganmu sangat mencurigakan. Jadi, ini yang kamu sembunyikan? Sayang sekali, kekuatan semacam itu bukan hanya kamu satu-satunya." Dia menjentikkan jari dan bayangan di kakinya merayap bangun menjadi sebuah siluet hitam menyerupai dirinya sendiri. "Aku ingin melihat, siapa yang lebih hebat."
Dalam ruangan itu, semua orang terperangah lagi. Anak kecil ini menguasainya? Maester Seven begitu gembira sampai rahangnya jatuh ke tanah. Kalau anak ini menguasai bayangan, meski bagian terkecil sekalipun, maka dia bisa menuntun mereka mendapatkan si Naga Terakhir!
Shade murka karena ada orang yang meniru kehebatannya. Dia mengumpat berulangkali. Hancurkan dia berkeping-keping!
Pantas saja Rai merasa familier sebelumnya. Orang ini entah bagaimana memiliki bagian Shade bersamanya. Bagian terkecil saja. Aodhyn terlalu mengagungkan dirinya sendiri. Shade pantas marah.
"Jangan menangis kalau kamu mati duluan." Rai menyeringai. Shade menjadi tidak sabar, bahkan sebelum ucapannya selesai, Aodhyn ambruk ke tanah seketika itu juga. Tidak terlihat bagaimana dan siapa yang menyerangnya. Semua penyihir melompat berdiri dengan waspada, menatapnya seolah-olah Rai adalah hantu yang tiba-tiba muncul dan mengejutkan mereka. "Ah. Aku lupa kalau orang mati tidak menangis. Bagaimana kalau kalian yang menangis untuknya?"
Tongkat sihir bergetar dalam genggaman semua orang, tetapi tidak terdengar ada mantra yang dirapalkan. Ruangan itu dalam keheningan total. Suasana murung bertambah suram.
Mereka tidak menyangka gadis kecil yang rapuh itu begitu kejam. Dia membunuh tanpa berkedip! Seorang iblis sekuat Aodhyn mati di tangan anak kecil? Orang di luar akan menganggapnya lelucon. Sayang sekali kekuatannya sama sekali bukan lelucon. Mereka pernah menyaksikan seganasan ayahnya di medan perang, bayangan si Naga Terakhir begitu mengerikan. Ibunya pun setangguh yang dikatakan orang.
Sekarang, putri mereka datang dengan berani dan mengobarkan niat perang. Hawa membunuh menguar begitu tajam.
Saat itu, semua orang menyadari bahwa membawanya kemari adalah sebuah kesalahan fatal. Rencana yang mereka susun bertahun-tahun terancam gagal.
Kematian Aodhyn hanyalah sebuah awal.
***
__ADS_1