RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)

RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)
EMPAT


__ADS_3

Clossiana Frigga sedang berkonsentrasi pada Moth, yang bertengger di pundaknya, untuk menemukan Rai di kerumunan pasar saat seorang penjaga gerbang mendekat.


“Kamu orang asing,” kata si penjaga. “Sepuluh sen.”


“Apa?”


Si penjaga mengangkat dagu pada rombongan di samping. Ternyata para Dwarf yang hendak berdagang. Pria kecil itu duduk mengendalikan keledai yang menarik gerobak penuh barang. Teman-temannya menyusul di belakang. Dia menyerahkan sekantung kecil uang pada penjaga yang memeriksa bawaannya dengan teliti.


“Aku kemari bukan untuk berdagang,” kata gadis itu dengan sabar. Lagi pula dia tidak punya uang Alfar.


“Tapi kau orang asing,” tandas si penjaga. Baru-baru ini Kota Paradis dikunjungi Kaum Pendatang. Mereka disebut Vier-gene, Kaum Campuran, yang kemunculannya menggegerkan dunia Eartha karena dianggap menyalahi takdir alam. Kerajaan Vanaheimr pernah mengeluarkan dekrit pemusnahan Kaum Campuran, tetapi kemudian mereda setelah perang saudara. Sejak saat itu Vier-gene mulai menyebar. Sekarang melihatnya secara langsung menjadi antusiasme baru. Kebiasaan mereka mengenakan jubah bepergian seperti gadis ini. “Nona, setiap orang asing wajib membayar pajak. Kamu Kaum Pendatang, benar?”


Moth menemukan sinyal keberadaan Rai. Frigga tidak mau ketinggalan terlalu jauh. “Ambil kembaliannya,” katanya menyerahkan perak berlogo naga kembar. Mata uang Vanaheimr.


Si penjaga kegirangan mendapat jakpot, tetapi kemudian kaget. “Ini ... bukankah?” saat dia mendongak, gadis itu sudah menghilang.


Di keramaian pasar, di sebuah toko senjata, seorang pria berwajah rakus merasa gila sampai ingin mencekik seorang gadis menyebalkan yang gigih menginginkan sebuah busur dengan harga murah. “Nona, sudah kubilang, tidak ada harga rendah untuk busur ini!” katanya kehabisan napas.


“Kau hanya perlu menurunkannya sedikit." Gadis berambut hitam yang dikucir kuda itu tidak lantas menyerah. Pelayannya yang pemalu berdiri di sampingnya, menyaksikan transaksi dengan canggung.


“Sedikit? Kamu meminta 200 dari 500!”


“Bermurah hatilah, temanku sedang ulang tahun!”


“Kamu yang seharusnya murah hati! Aku berdagang untuk bertahan hidup!”


“Baiklah. Kutambah 5 sen, oke?”


Si penjual menendang kursi. “Sudahlah, aku tidak jadi menjual busur itu. Pergilah!”


“Tidak bisa! Aku terlanjur menyukainya!”


“Kalau begitu bayar 500!”


“Kenapa tidak 200 saja?”


Si penjual menarik kembali kursinya, duduk, lalu menarik napas panjang. “Dengar, Nona,” katanya kewalahan. “Busur ini sangat langka, terbuat dari Tulang Paus Laut Selatan. Hanya satu-satunya di kota!”


Rai, si penawar yang memakai rambut palsu atas saran Leah, mencibir, “Justru karena satu-satunya, aku curiga kamu membuatnya sendiri dan mengarang cerita. Dari mana kamu yakin ini asli?” Di perjalanan tadi Leah mengingatkannya soal seorang teman bernama Ren, bocah pemburu, yang katanya ulang tahun besok lusa. Rai tidak tahu siapa dia, tetapi karena dia teman Raina, apa salahnya memberi hadiah.


Si penjual muntah darah.


“Itu asli.” Colossiana Frigga yang tiba-tiba muncul, menyela setelah melihatnya sekilas. Si penjual mendapatkan kembali energinya.


“Akhirnya orang pintar muncul juga!” dia hampir bersujud karena lega. “Nona yang baik, matamu sangat tajam! Benar, ini asli. Saya membelinya dari seorang pengembara lama sekali. Tadinya saya tidak berniat menjualnya, tapi saya pikir sayang sekali busur sebagus itu terus menggantung menjadi pajangan di dinding, jadi saya memutuskan menjualnya.”


“Keputusan yang bagus.”


Si penjual menjadi lebih bahagia.


“Siapa kau?” Rai merajut alis. Orang asing ini memakai jubah bertudung. Perawakannya jelas seorang gadis. “Kamu ingin busur ini juga?”


Leah terkejut Clossiana Frigga dapat menemukan mereka dengan akurat. “Yang Mul—ah! Nona Muda, dia adalah—“


“Kamu cepat sekali melupakanku!” Frigga menyingkap tudung dan menampakkan paras cantik dengan mata abu-abu. Si penjual melotot kagum. "Di perjamuan, ingat?” usulnya begitu tidak ada respon.


Rai tidak punya waktu memikirkannya. “Jadi, 205?” perhatiannya sudah kembali pada busur, meninggalkan Frigga yang terpana. Gadis ini mengabaikannya!


“Astaga! Nona, busur ini asli! Asli! Kalau tidak sanggup membayar, pergi saja! Jangan pernah kembali lagi!”


“Kamu menghargai ini 500 perak?” Frigga bertanya.


“Jangan gila!” Rai menyanggah.


Si penjual menghela napas. “Walaupun mengggiurkan, tapi itu harga yang mustahil. Hanya 500 sen, tapi dia,” tuduhnya pada Rai, “sangat pelit! Kalau kamu begitu tidak punya uang, jangan memaksakan diri membeli sesuatu yang mahal.”


“Oh.” Frigga mengerti. “Memang murah. Busur langka seperti ini, di kotaku, harganya sekitar 10 perak.”


“APAAA?”


Bahkan Leah terkejut. Sebelum si penjual selesai menghitung, Rai membanting uang di meja. “500! Setuju!” lalu kabur. Leah dengan patuh menyimpan busur itu dalam kantong serbaguna.


Si gadis penyihir tak habis pikir. “Kamu kaya, kenapa harus menawar?” tanyanya ketika mereka sampai di sebuah kedai makan. Karena sudah lewat jam makan siang, kedai dalam keadaan sepi pengunjung.


Rai mengabaikannya. “Pelayan! Ayam panggang dan sup jamur! Minumnya jus jeruk.” Kemudian berpaling pada Leah. “Kamu mau makan apa? Pesan sesukamu.”


“Nona, jangan begini,” Leah kepayahan. Sudah sepantasnya seorang pelayan melayani majikannya, bukan malah sebaliknya. Setelah bertanya pada Frigga, apa yang diinginkannya, dia bergegas ke depan, memesan. Sementara itu, Rai memilih meja terjauh yang menghadap jendela. Pemandangan di luar sangat ramai. Orang-orang datang dan pergi. Penjual sibuk di toko dan pembeli asyik berbelanja. Di jalanan, seorang anak menangis karena permennya jatuh. Menjulang di hadapannya seorang pria berwajah keras. Tidak tersentuh.


Frigga duduk di meja yang sama. Melihat Rai merajut alis tidak bahagia, dia mengikuti garis pandangnya, tetapi tidak menemukan hal aneh. Leah datang bersama pesanan mereka. "Ini enak," katanya saat mencoba sup jamur.


Rai mengernyit, baru ingat gadis ini mengikutinya sejak tadi. "Kamu siapa?"

__ADS_1


Agak terlambat, sebenarnya. Rai memang selalu begitu, menanyakan sesuatu setelah terlewat sekian lama. Itu pun jika hal tersebut dirasa cukup penting untuk diingat.


Leah gemas dengan ingatan Rai yang mengerikan.


"Clossiana Frigga," Frigga menjawab percaya diri. "Kamu bisa memanggilku Clo. Aku melihatmu di perjamuan, kebetulan ingin berjalan-jalan dan aku mengikutimu."


"Oh. Jadi, namamu Clo ...," Seketika Rai tertegun. Dia selalu merasa wajahnya tidak asing, dan memang benar! Sekarang, dia ingat! Wajah gadis yang mengaku bernama Clo-apalah, terlihat sama persis dengan si hantu Clo! Mungkinkah ini kebetulan? Mereka tidak mungkin kembar, kan? Rai mengamati wajah itu dengan cermat, terang-terangan menunjukkan keingintahuan yang besar.


Frigga merasa aneh ditatap begitu intens. "Ada apa?"


"Kamu mirip seseorang," jawab Rai dengan jujur, mengejutkan Frigga. "Apakah kamu punya saudara kembar?"


"Tidak."


"Oh." Rai mengalihkan pandangannya. "Mungkin aku keliru." Dimana hantu berisik itu di saat genting begini? Rai yakin mereka adalah orang yang sama. Jika Clo sudah menjadi hantu, dengan siapa dia berbicara sekarang?


Tiba-tiba Rai ingat permintaan Clo hari itu: ... Seseorang merampas tubuhku!


Wah. Apakah orang ini mengalami kebangkitan juga? Shade terikat dengannya. Adakah kekuatan hebat lain yang mampu melakukannya selain dia?


Di benaknya, Shade tersinggung. "Hanya sebutir debu!"


Oh? Jadi, memang ada?


"Tidak."


Lalu, apa yang kamu tahu?


Shade menolak menjawabnya. Benar-benar menjengkelkan!


Rai tidak mengatakan apa pun lagi. Frigga tertekan. Apakah aku begitu membosankan sampai dia tidak mau melihatku dua kali? Namun, setelah dipikir lagi, mereka hanya orang asing. Tidak mungkin akrab saat pertemuan pertama. Kenapa sih aku ini? Dia tidak mudah dekat dengan siapapun, mungkin karena rambut merah dan mata ungu itu mengingatkannya pada seseorang.


Mereka makan dalam diam. Di luar, dengung percakapan mengalir.


“Kamu melihatnya? Seperti apa mereka?” suara seorang gadis terdengar penasaran.


Yang lain menjawab bangga, “Tentu. Mereka datang berlima. Empat laki-laki dan satu perempuan.”


Rupanya mereka sedang membicarakan tamu dari Vanaheimr. Orang yang menjawab jelas menghadiri perjamuan. Rai melirik lewat jendela yang terbuka dan teringat Leah mengenalkan orang-orang di perjamuan. Gadis itu putri dari keluarga Jendral Balin, kalau tidak salah ingat namanya Camille. Mereka berempat. Selain Camille, ada Rose, putri dari keluarga Pejabat Daerah. Sisanya, Rai tidak mengenalnya.


“Hanya satu perempuan?” suara lain bergabung. “Apakah dia cantik?”


“Lumayan. Tapi, tidak terlihat cukup lembut,” Camille menjawab dengan sombong.


“Bagaimana yang lain? Apakah tampan?”


“Tampan sih, tapi aku penasaran dengan yang bertudung. Dia tidak mengungkap wajahnya sampai akhir. Kurasa, yang bernama Fabian cocok dengan tipemu, Myra.”


“Maksudmu, dia nakal?”


Rose tertawa. “Eline, jangan berburuk sangka. Mereka tampan dengan caranya sendiri.”


“Dia hanya iri,” Myra mencemooh. “Sudah sebesar ini masih sendiri.”


Eline, “Siapa yang iri? Aku hanya menunggu orang yang cocok.”


“Seperti Pangeran Aezar, huh?” Camille menggoda.


Rai tersedak sup.


“Pangeran memang terkenal,” kata Eline. "Sayang, terlampau tinggi. Lagi pula, aku malas berurusan dengan Stones bersaudara.”


Adalah rahasia umum bahwa Peach dan Ruby mengejar Pangeran Aezar. Hampir semua gadis di kota yang mengagumi sang Pangeran menyerah untuk membicarakannya. Mereka takut pada Stones. Dua bersaudara itu tak segan mempermalukan setiap gadis yang menjadi saingannya. Biarpun tersisa angan-angan terhadap sang Pangeran, mereka hanya dapat melakukannya diam-diam.


“Berbicara soal pria tampan,” kata Myra. “Kudengar ada yang lebih tampan dari Pangeran Aezar.”


Rose, “Pangeran Ace?”


Camille tersenyum nakal. “Jadi, tipemu seperti itu? Yang dingin membekukan? Ow. Beruntung sekali hadir hari ini, jadi tahu tipemu.”


Rose memerah. “Bukan seperti itu!”


Eline, “Berhentilah bermimpi! Status sosial mereka setinggi langit, pernikahan anggota Kerajaan sudah ditentukan sejak lahir.”


“Kata siapa kau?” Myra membantah. “Kerajaan lain mungkin benar, tapi Yang Mulia Raja sendiri menikahi kekasihnya. Kakak, jangan cemas, siapa tahu harapanmu bisa menjadi kenyataan."


“Diamlah kalian! Kakak tentu sudah tahu hal itu.” Camille tak sabar. “Jadi, siapa itu?”


Myra tersenyum misterius. “Apakah kalian belum pernah mendengar gosipnya? Wajahnya memang selalu tertutup tudung dan kabar mengatakan sikapnya sangat dingin, anti-sosial, kaku dan suka menyendiri, dia juga sangat jenius! Menjadi begitu hebat di usia muda! Semua orang memujanya!" Pandangannya menyapu wajah-wajah yang mendengarkan dengan penasaran "Masih tidak tahu? Dialah Pangeran Zen dari Vanaheimr!”


Rai berkomentar dengan heran, "Kalau rumor mengatakan bahwa dunia saja tidak tahu bagaimana wajahnya, bagaimana mereka tahu kalau dia tampan? Dengan wajah tertutup begitu, siapa tahu dia punya suatu cacat yang harus disembunyikan. Seperti ... kutil, misalnya?”

__ADS_1


Gambaran ini sangat mengerikan. Leah menggigil ketakutan, tetapi Frigga malah tertawa terbahak-bahak. Di pintu masuk, seseorang juga tertawa.


Seorang gadis dengan pakaian berburu melompat, duduk di meja menghadap Rai, masih tertawa. “Yo! Imaginasimu memang jempolan!”


Rai kebingungan. Gadis ini kelihatan kuat, rambut dan matanya coklat terang. Menyapanya dengan akrab seperti itu, seharusnya mereka cukup dekat. Mungkin dia salah satu teman Raina.


Atlee, si gadis pemburu, menyeringai ketika Rai tidak mengenalinya. "Jadi, kabar itu benar, bahwa ingatanmu hilang? Kupikir kamu hanya sedang bercanda." Dia mengulurkan tangannya. "Ayo, kita mulai dari awal lagi! Namaku Atlee!"


Tanpa ragu, Rai menyambut tangannya. Tiba-tiba genggaman Atlee mengencang, meremas tangannya dengan kuat. Rai mengenali niatnya, membalas dengan santai. Menantang? Heh. Boleh juga dia. "Namaku R--"


"Nona Kaili, apakah Anda masih lapar?" Leah menyela dengan gugup, cemas Rai keceplosan dengan identitasnya.


Kaili?


Adalah nama alias Raina. Mana mungkin dia berkeliaran di kota dengan identitas nyata. Setiap kali menyelinap keluar, Raina menggunakan rambut palsu hitam dan memakai pakaian biasa agar mudah berbaur. Leah selalu membawa kantong serbaguna bersamanya, mengisinya dengan uang dan kebutuhan-kebutuhan Raina yang lain. Termasuk alat penyamaran. Sang Ratu diam-diam memberinya kantong itu dan menyiapkan segala hal untuk putrinya. Namun, karena Raina sangat ceroboh, dia hanya dapat mempercayakannya pada pelayan pribadinya. Kemanapun Raina pergi, Leah mengikutinya dengan patuh.


Frigga beruntung memiliki Moth sehingga dapat menemukannya dengan mudah.


Rai segera mengerti. Makanan di meja telah tandas, menyisakan segelas jus jeruk. Dia menenggaknya sekali teguk. "Sudah cukup," katanya pada Leah. Sebelah tangannya mengencang di jari-jari si Gadis Pemburu.


Atlee merasakan tangannya kebas, tetapi menolak untuk mundur. “Ayo bertanding di tempat lain!"


Frigga menyeruput sup terakhir dengan sedikit tidak bahagia. "Tidak sopan mengganggu orang lain makan."


“Siapa kau?” Atlee mengerutkan hidung. “Aku tidak bicara denganmu. Yo! Kaili, jangan bilang kamu takut padaku?"


"Jangan ganggu dia," kata Frigga lagi.


“Hei, pirang! Aku tidak suka orang lain ikut campur! Walaupun kamu sangat cantik, minggirlah! Wajahmu mungkin tergores kalau terlalu dekat!” Atlee berbalik, “Bagaimana?”


Rai, “Oke!”


Frigga terkejut karena Rai setuju dengan mudah. Leah segera bangkit membayar biaya makan siang. Ketika selesai, Rai dan Atlee sudah berjalan saling mendului keluar kedai.


Rai bersedia ikut karena ingin menunda kepulangannya sedikit lebih lama. Akan lebih bagus lagi kalau saat kembali nanti, sang Ratu sudah tertidur. Dia sama sekali tidak ingat dengan makan malam yang dijanjikannya sendiri, membuat Leah yang membaca gelagatnya tidak berdaya.


Atlee membawa mereka menuju alun-alun. Orang-orang telah berkumpul mengelilingi arena balap yang ditandai dengan sulur hijau yang tertanam di tanah. Anak-anak ramai membawa tongkat bambu yang memiliki satu pijakan di bagian bawahnya, berguna sebagai tumpuan. Ternyata lomba balapan egrang. Permainan ini membutuhkan keterampilan dan keseimbangan saat menaikinya.


“Bos! Kamu datang?” seorang pemuda gelap menghampiri Rai dengan tatapan memuja di matanya. Tampaknya Raina mempunyai banyak teman, dan entah bagaimana, berhasil mengesankan pemuda besar yang kelihatan buas ini, pikirnya. Saat melihat Atlee, hidungnya mengerut. “Apakah kamu memaksanya tertanding lagi, Umpan Burung?”


Atlee tidak termakan pancingan. Bagaimanapun dia dan Algis sudah saling bertarung sejak kecil. Dia mengenal sikap permusuhan ini. Sebaliknya, dia bertanya pada Rai. “Yakin ikut?”


"Siapa takut!”


“Bos, ini hanya permainan anak-anak! Kamu tidak perlu bersusah payah begini. Duduk saja dan menonton, ya?” Algis memberi perintah pada tiga orang yang terlihat seperti pengawal, “Cari bangku yang nyaman dan bawa kemari!”


Rai mengibaskan tangan. “Aku tetap akan bertarung sampai akhir.”


Algis tahu tidak ada yang dapat melelehkan tekadnya, jadi tidak memaksa lagi. Pemujaannya bertambah. “Bagus! Walaupun permainan ini hanya skala kecil, kita harus bertarung sampai akhir! Aku ikut!"


Atlee muak. “Kalau begitu, jangan buang waktu dan cepat beli tongkatmu sendiri! Yang ini milikku.” Dia meraih sepasang tongkat dari anak lelaki yang berdiri diam bagai patung. “Kamu boleh menunggu sambil menonton.” Anak lelaki itu mengangguk patuh, bergeser ke pinggir lapangan, berdesakan dengan kerumunan orang dewasa. Tampak menyedihkan.


“Adikmu?” Rai bertanya.


Atlee menjawab sekenanya, "Sejak tiga hari lalu."


Rai terkejut. "Keluargamu mengadopsinya?”


“Ditemukan hampir mati di pinggir sungai dua minggu lalu. Kehujanan, kelaparan, kurus kering. Sudah mendingan sekarang.”


“Siapa namanya?”


“Dia belum bicara sampai hari ini. Beruntung dia mengerti bahasa kita. Mungkin bisu. Kami memanggilnya Elam.”


Rai mengamati anak kecil itu dan segera merasa malang untuknya. Leah datang membawa tongkat egrang. “Beli satu lagi dan berikan pada Elam,” katanya sambil menunjuk anak lelaki itu.


Frigga terkesan. "Apakah kamu selalu seperti ini, membeli sesuatu untuk orang-orang?” Gadis ini berbaik hati terhadap orang asing yang pertama kali dijumpainya, melakukannya tanpa canggung seperti telah menjadi kebiasaan sejak lama. Bukankah tempramen Putri Raina galak dan tak sabaran? Mengapa berbanding terbalik sekarang?


Rai ingat rasanya mendambakan sesuatu, tetapi tidak mempunyai uang untuk membelinya. Elam kelihatan menyedihkan ketika Atlee mengambil tongkatnya, teringat dirinya sendiri di masa lalu. Anak ini juga tidak punya orang tua. "Dia bukan orang asing. Temannya temanku adalah temanku juga."


Kalimat ini diucapkan Eins ketika masih menjadi nenek Mae yang ramah dan baik hati. Hari itu Rai bertanya mengapa nenek begitu perhatian padanya, padahal orang-orang meninggalkannya. "Kamu bukan orang lain," katanya. "Orang tuamu adalah temanku. Anak temanku adalah anakku juga."


Mengingat Eins, suasana hati Rai menjadi mendung.


Elam berseri-seri menerima egrang baru dari Leah. Atlee mendesah berat. “Kamu membuatku kelihatan buruk. Setelah lomba selesai, aku akan mengembalikannya padanya. Kamu tahu itu, kan? Tidak mungkin menyimpan benda ini selamanya.”


“Itu,” Rai menunjuk barisan anak-anak yang berbaris mengikuti lomba. “Elam pasti menginginkannya juga.”


Atlee tidak mengatakan apa-apa lagi karena perlombaan segera dimulai. Semua peserta berbaris di ujung lapangan Utara. Garis akhir berada di Selatan. Anak-anak menjadi serius, sementara orang tua dan penonton riuh menyemangati. Seorang pria dewasa kurus yang mengenakan stelan coklat, Baji, meniup peluit. Suaranya melengking di udara.


Di pinggir lapangan, Frigga berdiri bersama Leah, turut bersorak antusias saat pertandingan berlangsung. Kegiatan semacam ini bukan hal baru baginya. Dulu sekali, dia pernah memainkannya. Kemeriahan dan kegembiraan ini mengingatkannya pada masa lalu, membuatnya nostalgia. Namun, tiba-tiba wajahnya menegang. Sebuah gambar berdarah melintas di matanya.

__ADS_1


***


__ADS_2