RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)

RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)
LIMA


__ADS_3

Pada langkah pertama, Rai limbung.


Permainan ini hampir di tinggalkan di kehidupannya yang lalu. Rai pernah mencobanya dan memang agak sulit, padahal aturannya hanya satu: tidak boleh menjejak tanah. Jika kakinya turun dari tumpuan bambu, maka dia kalah. Rai menyeimbangkan tubuhnya dengan susah payah, lalu mulai bergerak. Dia tahu, sekali hatinya ragu, dia akan jatuh. Rai melangkah dengan mantap. Berusaha rileks.


Atlee, di sisi lain, melangkah dengan percaya diri. Kelihatannya dia sudah terbiasa. Algis tertinggal di belakang bersama peserta anak-anak yang berjuang dengan tongkat pendek masing-masing. Wajah-wajah bulat itu memerah. Rai tersenyum geli. Mereka sangat imut!


“Peserta 15, gagal!” Baji berseru dari pinggir. Ternyata itu Algis.


Atlee sangat senang sampai tertawa terbahak-bahak. “Dikalahkan anak-anak! Rasakan!”


“Kamu curang! Kaupikir aku tidak tahu kalau kamu sudah berlatih sejak lama?” Algis berteriak. Tidak mau kalah.


“Heh. Itu namanya bersiap sebelum berperang. Apa kamu tidak tahu taktik dasar seperti itu? Jangan bilang, kamu akan menyerang membabi buta tanpa mengenali musuhmu? Itu namanya bunuh diri!”


Alih-alih marah, Algis malah tertawa. “Jadi sekarang kamu mengakui kalau Bosku hebat? Memang!”


Rai tidak punya waktu meladeni perdebatan mereka. Tongkatnya melangkah besar-besar dan menjadi semakin cepat. Atlee terkejut karena Rai menyusulnya dan segera berbalik, menyeret tongkatnya sendiri. Mereka berpacu menuju garis akhir. Kaki-kaki tongkat bambu menendang debu di udara. Napas mereka kasar dan keringat membanjir. Penonton bersorak.


Sedikit lagi. Sepuluh langkah lagi. Hitungan mundur bergema di alun-alun. Peserta anak-anak sudah lama kelelahan dan terjatuh. Elam menyingkir ke sudut. Mereka bersorak bersama.


Algis memandu orang-orang meneriakkan nomor punggung 10 untuk Kaili, sementara sisi kiri, yang melihat Atlee lebih jauh satu langkah, meneriakan nomor 9.


“10! 10! 10!”


“9! 9! 9!”


Tiga langkah. Rai menyejajarkan posisi. Alun-alun meledak. Mereka berdua memacu tongkat bambu dengan ganas, tetapi pada satu langkah terakhir Rai mendadak berhenti. Atlee terlalu fokus pada pertandingan dan terus berlari. Tongkat bambu miliknya menyentuh garis akhir dan penonton bersorak gembira.


“Hahaha! Aku menang! Hei, Kaili! Akui bahwa aku lebih hebat darimu!” Namun, Rai masih tak bergerak. Kepalanya dimiringkan seolah sedang mendengarkan sesuatu. Atlee melupakan kegembiraannya saat melihat wajahnya yang serius. Dia amat mengenal ekspresi ini! Sesuatu yang penting sedang terjadi. Sorakan penonton masih riuh di udara, Atlee tidak dapat mendengar apa pun. “Apa yang salah?”


“Bos! Kenapa kamu berhenti? Apakah kakimu sakit?” Algis berlari mendekat, kelihatan cemas. Leah menyusul kemudian. Begitu melihat Rai berhenti, dia tahu sesuatu telah terjadi.


Walaupun gampang meledak, sang Putri bukan orang yang serius, apalagi suka berpikir secara mendalam. Setiap kali dia melakukannya, hanya berarti satu hal. Masalah besar.


Responnya sungguh mengejutkan. Leah masih terengah-engah saat Rai melesat ke Utara, membelah kerumunan dan menghilang dalam keramaian. Atlee telah menghabiskan waktu untuk berburu, matanya awas dan cepat. Tanpa mempedulikan Algis yang terpana, dia berlari menyusul dengan kecepatan tinggi. Leah kebingungan karena baru sadar Frigga tidak ada di sampingnya.


Ada yang membutuhkan pertolongan.


Rai berlari cepat sambil berusaha agar tidak menabrak orang-orang di jalanan. Ketika hampir mencapai gerbang kota, keramaian memudar dan segera merasa lega. Perhatiannya beralih untuk melacak orang itu. Hawa keberadaannya sangat lemah.


“Yang Mulia.” Seorang prajurit wanita berlari mendekat. Dua orang lain mengapit mereka di setiap sisi. Mereka memakai baju dari kulit yang didesain khusus untuk bertarung. “Saya Andee. Anda tahu siapa kami,” katanya mengenalkan diri. Padahal tidak benar, walau Rai tahu mereka mengikutinya. “Apa yang terjadi?”


“Aku belum tahu,” Rai menjawab jujur. “Tapi, ada yang membutuhkan pertolongan. Di hutan sebelah Utara."


Hanya satu hutan di Utara, membentang luas sampai ke Timur Laut. Namanya hutan Merah. Dinamai begitu karena yang tumbuh di hutan tersebut hanya pohon-pohon berpucuk merah. Lokasinya lumayan jauh, di luar ibu kota.


Andee terkejut. Mustahil melihatnya sendiri, mendengarnya dari jarak sejauh itu pun kelihatan mustahil juga, tetapi dia masih menanyakannya, "Bagaimana Anda tahu? Apakah Anda mendengarnya?”


Rai hampir mengangguk. “Aku merasakannya." Itu juga benar.


Jawaban ini di luar perkiraan Andee. Dia hampir tersandung karena terkejut. Seluruh kota mungkin mengenalnya sebagai si Pembuat Onar, tetapi meski jagoan beladiri, Raina masih tertinggal kalau urusan bakat sihir. Semua Laskar tahu ini. Kenapa sekarang tampaknya berbeda dari yang mereka lihat?


Andee tidak punya waktu untuk meragukannya. Walaupun Raina senang membuat kekacauan, dia tidak mungkin bermain-main dengan nyawa seseorang. Segera berpaling pada rekan satu timnya, dia memberikan perintah, “Kalian mendengarnya sendiri. Pergilah!”


Satu orang bertugas melapor pada Raja, dua yang lain untuk melacak lokasi. Mereka bergerak dengan gesit. Mereka telah berlatih sepanjang hidupnya, kecepatan mereka bukan tandingan Rai. Di gerbang kota Paradis, Andee menghampiri pos jaga dan menarik seekor lebah.


Lebah itu besar sekali, sebesar gajah! Rai melompat kaget dan nyaris tidak dapat menyembunyikan ketakutannya sendiri. Diam-diam dia melihat bokongnya yang montok dan merinding. Bagaimana kalau hewan itu menyengat?


Seorang penjaga tertekan harus kehilangan tunggangannya, tetapi begitu melihat pakaian khusus yang dikenakan Andee, dia langsung bungkam ketakutan. Mereka tahu pakaian seperti itu hanya dimiliki oleh para Laskar, Prajurit Khusus Kerajaan. Dia masih menyayangi hidupnya. Namun, ketika melihat Rai melompat dengan ragu ke punggung hewan itu, dia meledak.

__ADS_1


“Hei, pengacau! Apa yang kaulakukan? Cepat turun!” Siapa yang tidak tahu Kaili dan segala kekacauannya? Dia dan gadis pemburu bernama Atlee terkenal di kota. Setiap kali pertarungan terjadi, orang-orang akan datang ke pos dan memintanya melerai adu jotos yang terjadi. Beruntung pertandingan hari ini sangat sepele. Singkatnya, dia selalu sial ketika menyangkut hal-hal berbau Kaili. Dia membencinya! “Apa kamu tidak tahu Nona Prajurit ini membutuhkannya?"


Siapa juga yang menginginkannya? Rai ingin protes.


Andee meliriknya sinis. “Nanti kuganti,” lalu kembali pada Rai dengan sopan. “Apakah cukup nyaman?”


Si penjaga menggosok matanya. Kenapa dia merasa prajurit tangguh ini bersikap hormat pada gadis bau itu?


“Lumayan.” Rai melihat Andee tidak mengambil lebah lain, tahu kalau dia akan berlari sementara dirinya terbang, dan langsung panik. “Tapi, aku tidak bagus dengan ini. Bagaimana kalau aku jatuh?”


Andee tidak mau mengambil resiko. Dia melompat ke belakang dan mengambil kendali. Rai memeluk leher berbulu, bergidik geli ketika bulu lembut menggelitik leher dan pipinya. Lalu bersin. Si lebah mendengung dan mereka menyentak terbang. Dia bersin lagi.


Di pos, si penjaga bertanya pada rekannya yang kelihatan terguncang juga. “Aku tidak salah lihat, kan?”


“Memang.”


Kapan mereka saling mengenal?


Mereka masih tersesat dalam kabut saat Atlee datang dan menyeret seekor lebah yang tersisa. Ketika tersadar, Atlee telah terbang tinggi. “Hei, hei! Gadis sial, kembali kau!” Sayangnya, dia tidak mendengar. Perhatiannya saat ini ada di Utara.


Algis dan Leah tertinggal jauh. Mereka kehilangan jejak. Ketika sampai di pos jaga dan bertanya, yang mereka dapat adalah murka si penjaga yang kehilangan hewan tunggangannya.


“Menurutmu, kemana mereka pergi?” tanya Algis pada Leah. Mereka berteduh di bawah pohon rimbun di luar gerbang, jauh dari pos jaga. Ketiga pengawalnya duduk bergabung dengan sebotol air di tangan. Algis menawari gadis itu, yang menunjukkan kantongnya, isyarat bahwa dia membawa sendiri. Algis tertawa. “Wow! Kamu bahkan tidak melewatkan hal-hal kecil seperti itu.”


“Nona sering lapar, tapi selalu lupa membeli minum,” kata Leah kalem. “Jadi, aku harus mengingatkannya setiap saat.” Dia tersenyum mengingat Nonanya yang ceroboh, tetapi baik hati. Matanya yang teduh memandang jauh pada jalanan berdebu yang menghilang di balik rerimbun semak dan hutan. “Aku sudah lama bersama Nona, tapi tidak bisa menebak jalan pikirannya. Ekspresinya saat itu ... aku hanya merasa bahwa sesuatu terjadi. Sesuatu yang gawat.”


“Aku tahu Bos tidak sederhana," kata Algis. "Dia tidak mengatakan apa pun bukan berarti tidak mau, pasti karena sesuatu mendesak. Saat ini mungkin dia sedang membutuhkan bantuan kita. Ayo pergi! Kita akan membeli kuda di desa perkebunan.”


Langit memerah di Barat. Leah harus segera menemukan Rai sebelum matahari tenggelam, dia punya janji makan malam di meja besar. Karena ini pertama kalinya dia menginginkannya sendiri, Ratu pasti sangat menantikannya. Leah tidak dapat membayangkan murka Raja atau pun kekecewaan Ratu.


Tanpa petunjuk apa pun, mengabaikan persimpangan dan jalan-jalan kecil, mereka berpacu lurus ke Utara. Satu keyakinan yang mereka tahu; Atlee tidak akan membutuhkan seekor lebah bila lokasinya di sekitar kota. Mereka bertaruh pada tempat terjauh dimana perbatasan Utara berada.


Hal itu pula yang menjadi keyakinan Atlee. Dia tertinggal. Dan agak heran. Sepanjang ingatannya Kaili tidak mahir menaiki apa pun yang terbang. Kenapa sekarang bayangannya bahkan tidak terlihat? Atlee curiga dia terjatuh ke dalam semak-semak dan mati. Ini hanya dugaan konyol, tentu saja. Rivalnya itu punya seribu nyawa. Kalau tidak, dia sudah mengalahkannya bertahun-tahun lalu.


Aroma dupa mengalir di udara. Menggosok hidungnya yang gatal, Rai mengangguk sebagai jawaban. “Sudah dekat. Bisakah lebih cepat lagi?”


Sepertinya Andee tidak menyadari apa pun. “Baik.” Mereka terbang lebih cepat, meliuk-liuk menghindari cabang-cabang pohon, dan kadang-kadang bermanuver mencari jalan yang lebih longgar. Rai tidak lagi memeluk leher lebah. Punggungnya tegak dan pandangannya jauh ke depan. Walaupun sedang duduk, Andee sangat tinggi. Rai terlihat mungil dalam dekapannya. Dia bersin lagi.


Api hitam berkobar beberapa meter jauhnya. Andee menarik kecepatan dan mendarat dengan mulus. Begitu kakinya menginjak tanah, sikapnya menjadi siap bertarung. Mereka bergegas ke depan, melewati semak rimbun dan sebuah pohon besar.


Apa yang nampak membuat mereka terkejut.


Frigga berdiri menghadap dua Laskar wanita. Yang satu kesakitan. Di sampingnya, seorang yang lain tampak panik melihat api hitam berkobar di tangan rekannya.


Si hantu Clo, yang dengan ajaib muncul di tempat ini, berteriak sepanjang waktu, "Dasar bodoh! Sudah kukatakan jangan menyentuhnya! Kau tuli, ya!" Umpatannya membuat telinga Rai panas.


Tentu saja mereka tidak mendengarmu, batin Rai tak berdaya. Kamu yang bodoh!


Di tanah, berbaring selusin prajurit yang sekarat. Tubuhnya meleleh oleh api hitam, mengungkapkan tulangnya. Bau daging terbakar mencemari udara.


Rai bergegas mendekat untuk menolong. Clo melihatnya dan membentak, “Jangan sentuh! Sudah terlambat!" bersamaan dengan Frigga yang meneriakkan hal yang sama.


“Yang Mulia!" Andee menghentikannya.


Rai melotot padanya. "Mereka masih hidup!"


Frigga, “Api itu tidak bisa dihentikan! Kalau kamu menyentuhnya, kamu akan mengalami hal yang sama!"


Clo menyahut jengkel, "Seharusnya aku yang bilang begitu, dasar Perampas!"

__ADS_1


Rai mendengarnya dan mengerti. Inilah yang ingin dia pastikan sebelumnya, tetapi hantu itu malah menghilang.


Salah satu Prajurit Wanita berkata, "Yang Mulia, jangan disentuh! Cessa mencoba menolong mereka dan hasilnya jadi begini."


Cessa, dalam kesakitannya, berseru marah pada Frigga, "Bagus! Kamu bahkan tahu detailnya! Yang Mulia, gadis ini berbahaya!"


"Sudah kukatakan bukan aku pelakunya!" Frigga menjadi berang.


Rai tahu itu.


Shade merasakan sihir kuat di hutan Merah, membuat Rai cemas kejadian di barak pasukan Xi terulang. Auranya mirip. Alasan itu pula yang membawanya ke tempat ini. Namun, melihat luka parah orang-orang ini membuat Rai melemparkan urusan lain ke belakang kepalanya. Dia bertanya pada Shade, bagaimana memanggil hujan, sungguh beruntung dia hanya perlu menggumamkan beberapa syair yang didiktekan Shade dengan malas.


Yang mengejutkan empat orang di sana. Plus, si hantu Clo.


Sebuah senandung merdu mengalir lewat angin. Udara menjadi dingin. Awan hitam terbentuk di atas kepala mereka dan tiba-tiba hujan turun.


Mereka memandang Rai bersamaan, yang berjongkok menatap api hitam pada kulit yang meleleh. Api berangsur-angsur padam. Begitu pula yang membakar semak-semak dan cabang-cabang pohon. Syukurlah kebakaran belum meluas sehingga tidak terlihat dari kejauhan. Kalau tidak, pasti akan menimbulkan kepanikan.


Frigga memandang hujan dengan kaget. Mereka tidak basah sama sekali. Pandangannya perlahan bergeser pada gadis kecil yang berjongkok dengan ekspresi datar. Wajahnya tenang, tidak menunjukkan kengerian apa pun, padahal luka orang-orang sangat parah.


Setelah api padam, Rai memandang sekeliling. Para prajurit tergeletak secara acak di tanah, bekas luka pertarungan terlihat di tubuh mereka. Wajahnya pun tergores. Luka terparah ditinggalkan api hitam di tempat-tempat berbeda pada semua orang. Mereka dalam bahaya, pikirnya. Mereka membutuhkan pertolongan secepat mungkin.


Shade memahami niatnya. Setelah dibujuk, dia menunjukkan caranya dengan ogah-ogahan.


Rai ingin mengobati mereka sekaligus. Kalau tidak, maka akan ada yang mati. Dia berdiri dengan tangan terulur di udara, berkonsentrasi pada energi alam di sekitarnya, menggumamkan bahasa asing dalam syair. Cahaya hijau perlahan-lahan berkumpul di kedua tangannya, bergelora seperti obor, lalu perlahan-lahan mengalir di udara seperti sulur tanaman, yang terus bercabang dan bergerak mencapai orang-orang tak sadarkan diri di tanah, membungkus mereka seperti kepompong dengan kilau zamrud yang indah. Cahaya hijau itu menyebarkan aroma lumut dan tanah basah yang menyegarkan. Secara bertahap, luka tertutup. Daging dan kulit gosong diperbarui, menumbuhkan bagian baru hingga akhirnya luka tertutup sempurna. Cessa mendapat perawatan yang sama. Mereka terpesona oleh pemandangan itu.


Setelah situasi terkendali, Andee berpaling pada Laskar di samping Cessa. “Kana,” katanya. “Bagaimana kejadiannya?”


“Seperti yang tadi kubilang,” Cessa menyela, “Ketika kami datang, dia berdiri di sana menatap pria itu, yang kesakitan meminta tolong, tapi sama sekali tidak bergerak. Kupikir dia gugup, aku maju untuk membantu, tapi setelah tahu siapa dia dan apa yang melukai pria itu, aku yakin dia di sana bukan untuk membantu. Lagi pula, apa yang dilakukan penyihir di perbatasan? Sangat mencurigakan!"


Clo tertawa senang, "Ya, ya. Salahkan saja dia!"


Kana mengangguk. “Nona Muda ini berada di sana ketika kami sampai.”


“Aku tahu siapa dia,” kata Andee. “Aku melihatnya di perjamuan.”


Cessa mengernyit. “Jadi, dia salah satu tamu dari Vanaheimr? Bukankah ini semakin mencurigakan?”


Andee menghela napas. “Aku mengerti kecemasanmu, tapi kita tidak boleh gegabah.”


Frigga menyela dengan pahit. “Mungkin kalian tidak percaya padaku, tetapi api hitam ini berasal dari sihir kutukan. Tidak mudah memadamkannya."


Clo mengejek di telinganya, "Itu karena kamu tidak becus, Perampas!"


“Kamu tahu itu sulit dan masih menggunakannya?” Cessa marah.


“Kakakku bisa! Kalau kalian memanggilnya—“


Clo, "Perampas sialan! Siapa yang mengizinkanmu menyebut kakakku?"


"Heh. Mencari bantuan? Kamu menyakiti warga Paradis, saudara kami, kamu pikir aku akan membiarkan penyihir mengotori tanah kami?”


Andee memijat pangkal hidungnya. Cessa terlalu sensitif. Secara pribadi, dia sendiri tidak sepenuhnya percaya pada penyihir. Sampai masalah ini dipastikan pelakunya, mereka tidak dapat menuduh sembarang.


Namun, secara mengejutkan, Rai berkata dengan tenang, "Aku percaya padanya." Sihir ini bukan berasal darinya. Bukan dia pelakunya.


Cessa hendak protes ketika suara-suara gaduh datang dari belakang. Mereka menoleh, melihat sebuah kelompok mendekat. Pangeran Aezar turun dari pegasus hampir seketika mereka mendarat. Mereka serentak membungkuk hormat.


Di samping, Frigga masih menatap Rai dengan pandangan rumit, tersesat dalam kata-katanya. Dia percaya padaku!

__ADS_1


Namun, Clo kecewa karena merasa dikhianati.


***


__ADS_2