RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)

RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)
DELAPAN


__ADS_3

Aezar khawatir ketika adiknya terus-menerus bersin.


Mereka berada di ketinggian, di atas punggung pegasus, terbang dengan kecepatan tinggi. Nex pergi mengurus masalah hutan Merah ke Benteng Kaler, sementara dia tidak membawa pasukan lain. Dengan hanya lima prajurit tersisa dan mengutus satu-satunya pengawal pribadinya ke ibu kota untuk bantuan, Aezar melesat ke desa Dahae. Rai bersikukuh ikut bersamanya. Algis dan Atlee tertinggal di belakang. Leah kembali ke istana dengan tugas khusus melapor pada sang Ratu, membawa permintaan maaf Rai bersamanya.


Rai memeluk leher pegasus erat-erat dengan mata terpejam. Rambut emas hewan itu terbawa angin menusuk hidung, dan masuk ke mulutnya saat dia bersin, membuatnya mengerang sebal. Dia tersentak berkali-kali di udara, membuat Aezar menyesal membawanya. Serangan angin malam dingin membekukan. Akan merepotkan kalau dia sakit, ibunya tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.


Si pegasus mengeluh karena cairan dari hidungnya merembes di atas rambutnya yang berharga. Rai menggumamkan maaf berulangkali.


Aezar mengira itu untuknya, dan terhibur karena jarang sekali adiknya bersikap manis.


Perjalanan itu terasa lebih lama dari perkiraannya. Mungkin karena dia terlalu sibuk menghitung berapa kali Rai bersin, membuatnya heran. Kedinginan saja tidak lantas membuat seseorang bersin sebanyak itu. Wajah dan hidungnya merah seperti rambutnya, dan tubuhnya gemetar. Aezar menyentuh dahinya, lalu mengernyit heran. Angin mungkin membuat kulitnya dingin, tetapi Rai baik-baik saja.


Rai tahu apa yang dipikirkannya, dan berkata dengan suara sengau yang terbawa angin, "Terbanglah lebih cepat, mereka lebih penting."


Aezar berhenti mencemaskannya dan memusatkan perhatian jauh ke depan. Isi kepalanya masih berkabut. Raina membuat kejutan lain yang membuatnya nyaris percaya kalau yang berbicara adalah ahli ramal, alih-alih adiknya sendiri. Kalau tidak mendengar laporan Andee, sudah pasti dia menyeretnya pulang, bukan malah memberi perintah darurat kepada Keen untuk kembali mencari bantuan.


Dalam beberapa hari, Aezar merasa tidak lagi mengenal adiknya sendiri. Atau mungkin, aku terlalu sibuk di luar, pikirnya merasa bersalah. Raina telah tumbuh dengan cepat tanpa pengetahuannya.


Hanya ada tiga desa di arah Barat Laut ibu kota, ketiganya adalah desa pemburu. Tanah di daerah ini sangat subur untuk pertanian. Namun, tidak ada yang berani membuka lahan, walau sekadar ladang dan huma.


Konon daerah ini pernah menjadi medan perang melawan penyihir dari Barat, sehingga tanahnya hitam dan berbau belerang. Hutan dibiarkan tumbuh liar. Usia pepohonan di hutan ini bisa jadi lebih tua dari tetua di desa itu sendiri. Banyak sekali hewan senang tinggal di sini sehingga penduduk memanfaatkannya menjadi lahan perburuan.


Yang membuat takut penduduk sebenarnya bukan kisah dari masa lalu, tetapi keberadaan Bukit Mati di kedalaman hutan. Bukit itu gundul, bahkan lumut tidak berani tumbuh di atasnya. Menurut kabar, bukit yang dikelilingi semak tinggi dan pohon beringin besar itu sebenarnya adalah mayat-mayat korban perang. Tidak ada bedanya apakah itu Alfar atau penyihir, semua ditumpuk menjadi satu. Entah itu mayat utuh, potongan tubuh, atau hanya satu bagian saja. Saking banyaknya, sampai membentuk bukit besar yang luas. Setelah bertahun-tahun, alam mengambil alih mereka, mengubahnya menjadi bukit tandus. Bukit itu adalah kuburan massal para korban yang mati dalam perang. Pohon dan tumbuhan tidak berani berkembang di atasnya sehingga penduduk menyebutnya Bukit Mati.


Angin berhembus membawa serta bau darah dan dupa. Asap mengepul dalam cahaya keperakan bulan di langit. Aezar melihatnya dan menarik napas dingin. Api hitam berkobar di kejauhan.


Desa Dahae berada paling dekat dari ibu kota. Setelah melewati jembatan gantung di sungai Kierr, desa kedua akan terlihat. Jaraknya dengan desa terakhir sekitar satu kilometer. Kalau api sudah sampai sedekat ini, bagaimana dengan dua desa yang lain?


Rai mencium hal serupa dan memaksakan diri duduk dengan benar. Ketika melihat kobaran api meluas sampai begitu jauh, dia terkejut. Aku tidak merasakan apa pun, batinnya.


Shade mendengus.


Mendadak, Rai teringat sesuatu.


Kekuatan Shade adalah bayangan. Semua hal yang memiliki bayangan berada dalam kendalinya. Saat ini, dia berada jauh di langit. Bayangan mereka, atau bahkan pegasus yang mereka tunggangi, tidak menjejak tanah. Shade kehilangan kendalinya.


Astaga, batinnya. Jadi, inikah alasannya?


Dia merasakan jejak sihir di hutan Merah, bergegas ke sana dan sempat merasakan hawa kehidupan lemah dari para prajurit. Namun, begitu sampai ke lokasi, musuh malah telah pergi tanpa diketahui. Rai merasa itu aneh.


Sekarang, ketika tahu rahasia Shade, Rai mengerti dengan benar.


Dia terbang bersama Andee dengan seekor lebah saat itu. Pastilah mereka sedang berada di ketinggian ketika musuh lenyap.


Malang sekali, pikirnya.


Shade marah.


Rai mengabaikannya. Mereka hanya sedang tidak beruntung.


Semakin dekat mereka dengan api, semakin jelas pula tangis penderitaan terdengar.


Aezar membawa pegasus terbang rendah, tetapi Rai menghentikannya ketika dia hendak mendarat.


"Sebentar saja," pintanya. Dia harus memadamkan api sekarang juga, tidak peduli walau harus di atas punggung pegasus sekalipun. Mereka tidak punya waktu lagi. Api yang berkobar bukan api biasa, tetapi api hitam. Penyihir-penyihir itu tampaknya terlalu menikmati waktu mereka sendiri dengan menyiksa orang-orang lemah. Mereka bahkan membuat badai api. Mereka harus diberi pelajaran. "Bisakah kamu turun duluan? Bawalah orang-orang mundur lebih jauh ke Timur, aku akan menyusul!"


Aezar tidak membantah walaupun agak kaget. Adikku menjadi lebih bijaksana, pikirnya terharu. Dia menepuk kepala si pegasus, memintanya tetap tinggal dengan patuh. Aezar tahu adiknya tidak bisa dipercaya kalau menyangkut melayang di ketinggian, jadi memilih mempercayakannya pada hewan itu.


Dengan sihirnya, Aezar membentuk piringan es tipis yang melayang di udara, menjejaknya turun satu per satu seperti dia berjalan di atas tangga. Piringan itu kembali menjadi udara tipis setelah dia melewatinya.


Rai tidak punya waktu untuk mengaguminya, dan segera memanggil hujan. Angin membawa melodi dari mulutnya terbang ke angkasa, merayu kapas-kapas raksasa mendekat. Awan besar yang gelap berkumpul di atas sebuah desa yang nyaris hancur, menghalangi cahaya bulan yang keperakan. Hujan turun deras.


Aezar mengalihkan pandangan dari langit, membawa serta rasa kagum di hatinya. Hujan ini memang ajaib. Badai api hitam perlahan-lahan padam.


Kegelapan melanda. Cahaya keperakan di langit menyapu desa yang nyaris rata dengan tanah. Rumah, lumbung padi, menara-menara, bahkan gapura, semuanya terbakar. Bau hangus tercium di udara. Dia mengamati sekitar dengan waspada, aroma dupa terasa pekat di mulutnya. Namun, dalam kekacauan itu tidak nampak satu pun warga desa.


Hati Aezar mencelos. Hampir seketika dia melesat masuk, melewati gapura yang hancur, menyusuri desa yang beraroma darah. Apakah aku berlambat?


Bunyi bentrokan senjata mengalihkan perhatiannya. Pasukan Xi terpecah-belah melawan mayat hidup di sudut paling luar dekat hutan, berjuang sekuat tenaga. Seorang prajurit menghalau sekelompok mayat hidup lain sendirian. Prajurit itu adalah Xan.


Aezar segera melesat membantu.


Xan terkejut dengan kedatangan peluru es dari belakang kerumunan, dan segera bernapas lega begitu merasakan sihir sang Pangeran.


"Kamu datang dengan cepat," kata Aezar. "Bagaimana dengan desa yang lain?" Dia menendang seorang mayat, mengubahnya menjadi patung es yang kemudian remuk di tanah.


"Baltroz dan Lara di sana," Xan menjawab setelah menebas dua mayat sekaligus. Kelompok Baltroz di desa terjauh dan Lara memimpin kelompoknya sendiri pergi ke desa kedua. "Aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang."


Pasukan Xan terdiri dari tiga ribu orang. Pembangunan Benteng hampir selesai. Mereka sedang bekerja dengan gembira ketika serangan itu datang.


Yang menyerang mereka adalah mayat hidup. Pasukan Xan menderita kerugian. Mereka kelelahan dan banyak yang gugur, sementara gelombang mayat hidup bertambah banyak. Dalam perlindungan yang lemah itu, kelompok-kelompok mayat hidup berhasil menyelinap, menerobos pertahanan mereka dan terus masuk semakin dalam.


Lara mengusulkan pemisahan pasukan untuk sementara. Kalau dibiarkan, para mayat hidup yang berhasil masuk akan menyerang penduduk desa dan pembantaian lain yang lebih besar dari desa Paree akan terulang. Desa ketiga berada cukup dekat dari perbatasan dan mempunyai populasi yang lumayan, jumlah seluruhnya dua kali lebih banyak dari desa Paree. Mereka tidak boleh membiarkan musuh lewat.


Xan membagi pasukannya menjadi empat kelompok. Baltroz, Fae, Lara, dan dia sendiri. Fae bertugas memberi komando di perbatasan dengan jumlah pasukan lebih besar. Fae mungkin paling muda, tetapi dia juga seorang ahli strategi. Mereka percaya padanya.


Ketiga pasukan lain membawa masing-masing seratus orang. Mereka memikirkan skenario terburuk, dan bergegas ke desa yang berbeda. Kecepatan musuh yang diperkiraan Fae sangat akurat. Karena mereka penyihir, mayat hidup muncul di tempat-tempat tak terduga secara bertahap. Mereka memanfaatkan animagus menandai titik tertentu untuk membuka portal.


Namun, walaupun sampai tepat waktu, Xan tidak menyangka mayat hidup ini begitu sulit dibunuh. Berapa kalipun ditebas, mereka akan menyembuhkan diri dengan cepat, lalu kembali menyerang lebih ganas. Korban dipihak mereka semakin bertambah, tetapi musuh masih sekuat awal pertarungan, tidak goyah meski dipaksa mundur dengan susah payah.


Seorang prajurit terhempas oleh ledakan sihir, membawa serta prajurit lain bersamanya. Kakinya terlepas dari tubuhnya. Darah menyembur. Dia jatuh di hadapan sebuah keluarga yang bersembunyi di balik pohon, menunggu untuk melarikan diri. Mereka menjerit ketakutan melihat kengerian itu, gemetar ketika tiga mayat hidup mendekat dengan lunglai. Tongkat sihir terangkat.


Rai melesat membawa pegasus tepat waktu. Si pegasus menendang seorang mayat dengan kaki depannya. Dua mayat lain jatuh tak lama kemudian. "Serang paru-parunya!" serunya lantang kepada semua prajurit yang kewalahan. Lalu bersin.


Pegasus mendarat gagah di tanah. Shade kembali memegang kendali. Tiga mayat di tanah tergeletak dengan lubang menganga.


Aezar menyerang sesuai instruksi itu dan membelalak karena musuh kalah dengan telak. Semua orang yang mendengar seruannya melakukan hal yang sama, menyerang dengan akurat. Xan menjatuhkan diri di tanah karena kelelahan. "Bangun," kata Aezar. "Ini belum selesai."

__ADS_1


Pandangannya menyapu kegelapan di desa, terkejut ketika semua mayat hidup telah kembali menjadi tubuh tak bernyawa di tanah. Angin malam menyebarkan bau busuk dari tubuhnya. Secepat ini?


Xan, "Musuh kali ini sangat kuat, kami tidak bisa melakukan apa pun dengan kebakaran itu. Hujan tadi sangat membantu. Itu kamu, kan?"


Aezar tidak menjawab. Ekor matanya melirik pohon ek di samping, tunas-tunas baru tumbuh dengan cepat seperti jamur di musim hujan. Hujan ini, dia mendesah dalam hati, memang ajaib.


Pasukan Xi keluar dari kegelapan dengan wajah kelelahan. Seseorang menendang mayat musuh yang tergeletak di kakinya sambil mengumpat. Kelompok pemuda dan orang tua yang turut andil dalam pertarungan datang bersama mereka.


"Yang Mulia." Mereka membungkuk dengan hormat, yang dijawab Aezar dengan ringan.


Tak lama penduduk desa mendekat. Mereka bersyukur selamat dari bencana, tetapi tidak ada jejak suka cita pada siapapun. Kesedihan melanda setiap orang. Desa yang hancur dapat dibangun kembali, tetapi nyawa yang hilang tidak dapat kembali. Mereka berduka untuk saudara-saudara, tetangga, dan bahkan para prajurit yang berkorban melindungi mereka.


Suasana berkabung menyelimuti desa Dahae.


Rai kelelahan. Dalam sehari dia terbang ke dua tempat sekaligus, memanggil hujan besar, bahkan melupakan makan dan minum, lalu mengobati orang-orang. Energinya terkuras. Aezar melihat wajahnya pucat, ingat kalau adiknya tidak beristirahat walau sejenak. Setelah berdebat dan memaksa, akhirnya Rai hanya mampu mengobati cedera yang kelihatan paling parah, dan mengerahkan sisanya pada penduduk desa.


Semua orang terkejut dengan sihir penyembuhannya, tetapi tidak mengatakan apa pun. Mereka merasa cemas untuknya.


Penduduk desa segera menyibukkan diri dengan apa pun yang bisa dilakukan. Orang tua dan pemuda yang kuat memutuskan menyisir sekitar, bekerja sama mengangkut korban ke tempat yang layak, mendata siapa yang meninggal, dan merawat yang terluka. Beberapa orang mendirikan posko sederhana dan para wanita menimba air dan menyiapkan obat-obatan.


"Kakak!" Seorang anak laki-laki melihat Rai duduk menyendiri di tenda khusus yang disiapkan untuk sang Pangeran, lalu berlari padanya. "Tolong selamatkan ibuku!"


"Ren!" Seorang gadis kecil bergegas menarik si anak laki-laki menjauh, lalu membawanya membungkuk. "Maafkan adikku, Nona Muda, mengganggu istirahat Anda." Mereka membungkuk sekali lagi, lalu mundur.


"Kenapa, Ryn? Ibu harus segera diobati! Aku meminta bantuan kakak Kaili, bukan orang lain! Kita dan kakak Kaili sudah menjadi teman!" Ren protes, hendak berbalik lagi, tetapi Ryn menghentikannya.


Rai meletakkan minumannya. Anak laki-laki itu memiliki sepasang mata amber yang cantik. "Jadi, namamu Ren, yang ulang tahun lusa?"


Mereka berhenti dengan kaget.


Ren berbinar. Menurutnya, walaupun kakak Kaili galak dan suka sekali menggertaknya, dia adalah orang baik. Setiap kali kakak Kaili datang, dia selalu memberinya makanan enak. "Kakak ingat?"


Mereka mengenalnya sebagai Kaili, kedatangannya tidak lagi mengejutkan siapapun. Semua orang tidak lagi menganggapnya aneh karena Kaili selalu datang kapanpun dia mau. "Ya." Leah yang mengingatkannya. "Aku membeli hadiah untukmu."


Xan turut menyibukkan diri membantu penjaga desa membangun pertahanan darurat bersama pasukannya. Rai bersyukur dia tidak mengenalinya. Semua orang bekerja keras, tidak punya waktu untuk mengeluh atau meratapi kesedihan.


Mata amber yang cantik melebar senang. "Benarkah?"


"Ya. Untuk sekarang, bisakah kamu tunjukkan dimana ibumu?"


"Apa kubilang," Ren berbisik pada si gadis kecil. "Kakak Kaili adalah orang baik!"


Ryn, "Aku tahu."


Mereka segera pergi meninggalkan posko, melewati orang-orang terluka di lapangan. Para prajurit yang mengalami cedera juga duduk di sana menunggu perawatan. Rai melihat banyak jejak luka sihir, dan segera bersyukur mereka bukan luka api kutukan. Xan datang di saat yang tepat, melindunginya dengan baik. Namun, pasukannya banyak yang gugur. Sebagian warga yang mengenal pengobatan merawat semua orang dengan baik. Walaupun tidak sembuh secara instan, mereka tidak mengeluh. Mereka bersyukur masih hidup.


Dua anak kecil itu berbisik sepanjang jalan, membahas kebaikan-kebaikan kakak Kaili dan makanan-makanan enak yang dibawanya.


Rai tidak menyela, mengikuti kemana mereka menuntunnya pergi, tidak berhenti walaupun Aezar menyuruhnya istirahat. Mereka berjalan masuk ke pinggir hutan. Sebuah rumah pohon yang besar terhampar indah di hadapannya. Rai berhenti sejenak ketika Ren membuka pintu dan mengajaknya masuk.


"Apakah kamu yakin ibumu di dalam?"


Ren menatapnya aneh. "Ini rumahku."


Oh. Tentu saja. "Maksudku, apakah ibumu tinggal sendirian selama kamu pergi?"


"Kakak sedang pergi," si gadis kecil yang menjawab. "Kami menunggunya di gerbang, lalu tiba-tiba ada ledakan."


Rai menatapnya sebentar, "Namamu Ryn, benar?"


Si gadis kecil menunduk malu. "Iya."


"Kakak, ayo masuk." Ren meraih tangannya dengan akrab, seperti telah biasa melakukannya bertahun-tahun. "Ibuku jatuh saat membawa kami ke lapangan, tapi menolak diobati bibi Lyn."


Rai tidak merasakan adanya bahaya. Hawa keberadaan si mayat hidup begitu samar dan berbeda. Mereka berjalan seperti itu hingga ke sebuah ruangan yang diterangi lentera.


Wajah itu pucat. Tubuh kurus. Walaupun pakaiannya sangat tebal, Rai merasakan keberadaan batu sihir. Energi yang memancar dari batu hijau ini berbeda dengan milik mayat-mayat hidup di luar. Yang ini lebih murni. Aroma lumut dan tanah basah jauh lebih kuat tercium. Rai ingat, batu sihir yang dibawa utusan Vanaheimr mempunyai jenis energi yang sama. Apakah kebetulan?


Wanita itu cantik, tetapi tampak lebih tua dari yang seharusnya. Matanya melihat Rai dengan tegas, seolah-olah tahu Rai akan datang dan sengaja menunggunya. Dia kelihatan normal untuk ukuran mayat hidup, membuat Rai terkejut. Wanita itu menoleh pada anak-anak yang menatapnya cemas. "Bisakah kalian keluar?" pintanya dengan lembut.


Rai mempelajarinya dengan cermat. Wanita ini memang berbeda dengan mayat hidup. Dia lebih hidup dan masuk akal.


Ren dan Ryn tidak segera pergi, tetapi memandang Rai dengan wajah memelas. Rai tidak yakin bagaimana menyembuhkan mayat hidup, dia menjawab dengan kalimat umum seperti, 'aku akan berusaha keras', dan anak-anak itu pergi secepat kilat.


"Kamu berbeda dari mereka," kata Rai langsung, mengejutkan wanita itu sampai nyaris terjatuh dari tempat tidur. "Kamu ... apakah seorang Naraya?"


Kali ini si wanita benar-benar jatuh. Dia berlutut dengan hormat. "Yang Mulia." Sikapnya berbeda jauh dari sebelumnya. Dia berlutut dengan sebelah kaki menekan lantai. Kedua tangan ditangkup, kepala menunduk.


Selama puluhan tahun, dia tinggal di desa ini dan menyembunyikan identitasnya dengan membangun keluarga baru. Namun, dia adalah Naraya. Tidak mungkin baginya memiliki keluarganya sendiri. Jadi, dia mengadopsi anak-anak yang hidup sebatang kara, menyayangi mereka seperti anak-anaknya sendiri.


Di sisi lain, dia pun memantau Raina. Sepak terjang Raina amat dikenalnya. Dia tahu Raina tidak berbakat dalam sihir. Dia tahu, sebenarnya bukan karena tidak berbakat, energi internalnya terluka ketika dia baru lahir. Magadh hampir membunuhnya.


Ketika Raina tumbuh besar dan bermain dengan anak-anaknya, dia pikir identitasnya sebagai Naraya akan tersimpan selamanya karena Raina tidak tahu siapa dia. Bagaimanapun Raina tidak mengenal dirinya sendiri, apalagi prajurit tersembunyi seperti mereka? Ratu Aimee tidak peduli dari mana dia berasal, tidak berusaha mencari latar belakangnya walau sekali saja. Tugasnya sebagai Naraya adalah memastikan keselamatannya.


Sekarang, Raina datang dan mengenalinya. Entah bagaimana luka internal itu sembuh, dia tidak mempunyai hak untuk bertanya.


"Siapa namamu?"


"Ivy," wanita itu menjawab dengan patuh.


Rai melihatnya hampir goyah bersimpuh seperti itu. "Duduklah. Biar kulihat lukamu?"


Ivy tidak bergerak. Situasi telah berubah. Dia bukan lagi berdiri sebagai ibu Ren, dia seorang Prajurit Khusus. Seorang Naraya.


Naraya diciptakan dengan kepatuhan mutlak dan tidak diperkenankan mempertanyakan apa pun. Walaupun Ivy tidak tahu bagaimana Rai mengenalinya, dia tidak meragukannya sedikit pun. Ada ikatan tak kasat mata antara Naraya dan Tuannya. Dia merasakan hal yang sama ada pada diri Rai sekarang, dan hujan yang turun barusan adalah bukti konkretnya.


"Kami tidak pantas duduk sejajar dengan Yang Mulia."

__ADS_1


Ketika akhirnya mengerti, Rai memutar mata. "Ini perintah."


Ivy duduk dengan patuh.


Seorang mayat hidup tidak bisa terluka begitu serius. Satu-satunya alasannya ada pada batu itu. Rai melihat warnanya pucat, tidak sejernih yang seharusnya.


"Kami seperti nyala api. Semakin dekat dengan sumbu, semakin panas," katanya menjelaskan tanpa diminta. "Saya telah bertahan lebih dari seratus tahun di Paradis."


"Ayahku atau ibuku?"


Ivy terdiam. Kemungkinan dia tidak tahu siapa dari keduanya yang menciptakannya. "Yang Mulia pemilik Naga Terakhir, sementara Yang Mulia Putri menguasai sihir penyembuhan dari Kitab Es."


Muncul juga masalah ini. "Aku tahu," kata Rai.


"Kami mengenali keduanya sebagai Tuan Kami," Ivy melanjutkan. Artinya, Naraya tercipta karena kekuatan mereka berdua.


Rai mengamati batu itu. Jadi, mereka menciptakannya dengan menggabungkan sihir penyembuhan dan si Naga Terakhir? Entah bagaimana mereka melakukannya, Rai merasa lucu ketika membayangkan seekor naga besar bekerja keras mengolah bahan dalam panci.


Shade terusik, mendengus marah.


"Seperti apa si Naga Terakhir?"


Ivy menggeleng. "Kami tidak pernah melihatnya. Kalau untuk Kitab Es ... kurasa, Yang Mulia pernah mengatakan sesuatu seperti, 'tempat yang nampak tetapi tidak terlihat', ... ya, saya yakin mendengarnya begitu."


Tempat yang nampak tetapi tidak terlihat?


Rai merenung. Ada tempat seperti itu?


Dengung hewan terbang dan ringkik kuda terdengar di luar. Rai melihat batu itu lagi, dan merasa perlu memperbaiki energi yang lemah itu. Tangannya terulur, jari telunjuknya mengalirkan cahaya hijau yang jernih dan berbau lumut basah. Aroma itu hanya ditemukan pada hujan dan sihir penyembuhan, aroma yang sama dengan yang memancar dari batu di dada Ivy, maupun batu sihir di tangan utusan dari Vanaheimr. Nampaknya, penyakit Ratu Cassandra berkaitan dengannya.


Tidak, pikirnya kemudian. Dengan ayah dan ibunya.


Batu yang pucat itu memancar terang. Energi alam meluap-luap darinya. Rai memandangi tangannya sendiri dengan takjub. Aku hanya sembarang mencoba, pikirnya. Beginikah cara kerjanya?


Ivy memandangnya dengan kagum. Dia seperti melihat ilusi masa lalu, ketika pertama kali terbangun. Batu itu persis sama seperti keadaannya semula.


Rai keluar dan melihat Algis dan Atlee berdebat lagi.


"Kakak macam apa kau, melupakan adiknya sendiri?" Algis marah. Elam duduk sesugukan di punggung kuda bersama salah satu pengawalnya. "Beruntung kami melihatnya. Sepertinya, dia berusaha pulang sendirian, nyaris tersesat."


"Oh!" Atlee tampaknya baru ingat kalau dia telah meninggalkan Elam di alun-alun. "Maafkan aku," katanya pada Elam.


Mata Elam sembab. Wajahnya merah. Atlee membantunya turun dengan hati-hati. Ren dan Ryn memeluk saudara mereka, menghiburnya dengan sayang.


Algis memberi Atlee pandangan membunuh. "Tega sekali kamu!"


"Aku tidak sengaja!" Atlee merasa bersalah. "Maafkan aku, ya?" Dia memeluk adik-adiknya sekaligus. Elam hanya mengangguk samar, air matanya menetes lagi membuatnya tampak menyedihkan. "Syukurlah kamu baik-baik saja," Atlee menyesal. "Maafkan aku."


"Kakak!" Ren melepaskan diri ketika melihat Rai di pintu masuk. "Bagaimana ibuku?"


Atlee berdiri dengan mata nyalang, waspada dengan kabar terburuk. Di samping, Ryn menantikannya dengan takut.


Mereka mencapai desa ketika semua musuh telah dikalahkan. Penduduk desa yang selamat berkumpul di lapangan kecil di dekat hutan, biasanya mereka menggunakannya sebagai tempat berlatih panahan, tetapi kali ini tempat itu disesaki oleh orang-orang terluka. Atlee menghampiri mereka dengan panik, mencari keluarganya. Ketika tidak melihat seorang pun, dia diberi tahu kalau Ren membawa Rai ke rumahnya. Ibunya adalah orang yang tangguh. Namun, seorang petarung pun akan kesulitan menghadapi musuh sebanyak itu. Apalagi musuh mereka adalah penyihir.


Ayah Algis adalah Kepala Desa. Dia seorang pemburu yang andal dan kuat. Ketika serangan terjadi, dengan bantuan pasukan Xan yang menghalau musuh, dia memimpin warganya untuk memisahkan diri dari medan pertarungan ke tempat yang tersembunyi. Lapangan kecil itu terletak lumayan jauh di dekat hutan, terlindung oleh semak-semak tinggi dan pohon-pohon besar. Setelah memastikan mereka aman, dia memberi perintah kepada para pemuda dan orang tua yang bisa bertarung untuk membentuk dua kelompok: satu bertugas bertahan bersama warga desa dan siap siaga untuk melapor setiap saat, satu lagi untuk ikut bersamanya ke medan tempur. Betapa memalukan jika mereka menyerahkan semua hal pada pasukan Xan! Para pemburu memiliki harga diri yang tinggi. Bagi mereka, melindungi desa adalah tugas mereka sendiri!


Algis melihat ayahnya mendapat beberapa cedera ringan, warga desa telah merawatnya dengan baik. Ketika mendengar Rai berada di rumah Atlee, dia bergegas menyusul.


Ivy muncul dari balik pintu. "Aku baik-baik saja," katanya lembut. Rai menyingkir ke sudut ketika Ren dan Ryn menghambur ke pelukan ibunya. "Jangan menangis." Setelah menyakinkan mereka kalau dia baik-baik saja, Ivy menghampiri Elam yang melihatnya dengan canggung. "Apa ini, kamu tidak mau memelukku?"


Elam berlari padanya, menangis dengan lega.


Tiba-tiba Keen datang membawa dua ekor pegasus hitam, kelihatan mendesak. Tampaknya dia baru saja kembali dari ibu kota. Keen tahu kalau Rai sedang dalam penyamaran, jadi tidak menyebutkan gelar kehormatannya.


"Nona Muda," katanya. Algis memberinya salam hormat dengan bahagia, mulutnya merekah dari ujung ke ujung, nyaris tidak bisa berhenti nyengir. Atlee menyikutnya. Keen membalasnya dengan ringan. "Pasukan bantuan telah tiba dan Yang Mulia Pangeran memimpinnya sendiri ke desa Jahae. Nona Muda saatnya kembali ke ibu kota."


Atlee tidak mengira penyihir menyerang dua desa sekaligus. "Desa Jahae juga?"


Keen, "Dan desa Galae."


Kecuali Rai, mereka terkesiap kaget. Algis memandangnya dengan bingung. "Kamu sudah tahu, Bos? Oh, benar! Bagaimana kamu tahu?" Dia tidak mengerti bagaimana Rai tahu kalau desa mereka dalam bahaya.


Rai tidak tahu bagaimana mengatakannya.


Ivy menyela, "Anda harus kembali, Nona Muda." Dia tahu Rai menyembunyikan identitasnya sejak lama. "Walaupun serangan telah dihentikan, kita tidak tahu bahaya yang akan datang. Tidak aman untukmu berada di desa."


Algis dan Atlee hanya tahu kalau dia seorang putri dari kediaman bangsawan dan segera ketakutan. "Itu benar! Cepat pergilah!" Atlee terang-terangan mengusirnya.


Algis melotot padanya. "Yang sopanlah!" Lalu melihat Rai dengan tekad membara di matanya. "Bos, mohon kembali. Jangan cemas, aku akan menjaga desa dengan segenap kemampuanku!"


Keen merasa beruntung karena tidak perlu membujuknya secara pribadi. "Saya akan mengantar Anda kembali."


Rai tidak mungkin menyampaikan keluhannya di depan mereka, jadi memutuskan pergi dengan cepat setelah mengucapkan selamat tinggal.


Ivy melihatnya pergi dengan pandangan rumit, teringat perintahnya untuk tetap tinggal. Memang akan mencurigakan kalau tiba-tiba dia menghilang dari desa, dan malah mengikuti Rai. Walaupun dia bisa menyembunyikan diri dengan menjadi penjaga bayangan, cepat atau lambat para Laskar akan mengendusnya.


Dia tidak mengira Rai akan membuat keputusan dengan cepat, dan membaginya sedikit rencana ke depan. Rai memberinya tugas untuk mengamati perubahan situasi dari samping. Mereka tahu serangan ini tidak sederhana. Kalau tujuan musuh masih sama seperti bulan lalu, maka mereka mengincarnya. Rai tidak ingin mengejutkan ular dengan memukul rumput, merasa yakin ular besar itu akan datang padanya.


Dia hanya perlu bersabar sedikit lagi.


Ivy masih memandang langit walaupun pegasus hitam telah menghilang dalam kegelapan. Benaknya bekerja keras sejak tadi, tetapi dia hanya mencapai satu kesimpulan yang sama.


Raina telah berubah. Tidak lagi gampang meledak. Tidak lagi berbicara dengan tinju. Orang ini memikirkan semuanya dengan hati-hati. Orang ini menguasai hujan dan penyembuhan ibunya dan memiliki sesuatu seperti yang dimiliki ayahnya.


Orang ini bukan lagi Raina yang dikenalnya.


***

__ADS_1


__ADS_2