
Kejadiannya bermula pada malam berhujan di bulan Desember.
Rai tidak bisa tidur. Angin dan hujan mengetuk jendela kamarnya tanpa henti. Gorden tipis usang yang sudah longgar memperlihatkan malam yang kacau di luar. Namun, bahkan bunyi sekeras itu tidak menyamarkan suara-suara aneh di lantai bawah. Awalnya Rai mengira itu kucing milik nenek Mae yang kerap menyusup mencari sisa-sisa makanan dalam panci, tetapi kucing tidak berbicara. Lalu dugaannya jatuh pada hantu-hantu penghuni rumah.
Rai tidak ingat kapan pertama kali melihat mereka, atau bagaimana perasaannya. Matanya memang istimewa, walau orang-orang menyebutnya terkutuk. Baginya, melihat dan mendengar hal-hal seperti itu kadang-kadang agak menyebalkan dibandingkan takut, seolah-olah Rai hidup dengan kebiasaan itu sejak lahir. Dunianya menjadi lebih berisik. Kemudian, dia ingat perjanjian malam di antara mereka. Agak menggelikan sebenarnya, semenjak Rai tak sengaja melenyapkan satu, mereka menjadi takut dan patuh.
Terdorong rasa penasaran, Rai turun dari ranjang, perlahan melangkah ke pintu kamar dan membukanya sedikit. Suara percakapan menjadi lebih jelas. Cahaya suram lampu selasar tidak sampai ke ruangan itu. Rai dapat melihatnya sejelas siang hari karena matanya istimewa. Di sana dia melihat dua pria bertopeng.
Maling, pikirnya agak heran.
Rumah ini tua dan jelek. Dindingnya tipis dan bolong di beberapa sudut. Ukurannya kecil. Di seluruh kompleks, tempatnya terbilang yang paling bobrok. Karena tinggal sendiri, semua barang terbatas. Yang paling berharga hanyalah kompor gas. Semasa hidup, orang tuanya sangat miskin. Mereka hanya mewariskan rumah ini untuknya.
"Sial, penghalangnya kuat sekali." Rai mendengar suara masam mengeluh. "Benda ini sungguh tidak berguna." Orang itu melempar sesuatu secara asal, berdebam membentur dinding dapur.
"Jangan mengomel, kita tidak punya banyak waktu." Yang satunya membalas.
Rai melihat mereka mengedarkan pandangan, tampak mencari sesuatu. Apa? Tidak ada barang berharga di rumah ini.
"Kauyakin itu di sini?" Si masam bertanya tak yakin.
"Bos bilang begitu. Jangan banyak tanya," jawab yang lain, menjelajah dari satu sisi ke sisi lain.
Ada yang menyewa mereka? Rai bertanya-tanya apakah si Bos sedang begitu bosan sampai memberi perintah konyol menggeledah rumah bobrok di pinggiran kota.
"Ayolah, tidak ada apa pun di sini! Kenapa kita harus mencari dengan cara manual? Kamu bisa mencarinya lewat empati. Benda itu pasti memiliki energi yang besar."
"Diam! Cari dengan teliti."
Benda apa?
Sejujurnya Rai tidak takut pada maling. Selama lima belas tahun hidupnya, dia telah banyak menghajar orang. Dari benar-benar penjahat jalanan sampai si Ketua Osis yang hobi nyinyir. Rai pernah belajar beladiri, pelatih bahkan mendaftarkannya turnamen, tetapi itu dulu sebelum orang-orang berbalik dan meninggalkannya. Rai pikir, mengusir dua maling masih bisa ditanganinya.
Namun, dugaannya salah.
Si masam yang sejak tadi mengeluh dan menyumpah, mengangkat tangannya. Kilat perak berpendar menyambar buku-buku bekas yang tersusun rapi dalam rak di sudut ruangan. Kertas-kertas itu hancur berkeping-keping, berhamburan di udara. Dia terkekeh senang.
Rekannya, walaupun kelihatan terganggu karena ulahnya, tidak mengatakan apa-apa. Merasa tidak menemukan apa pun, pandangannya mendongak ke lantai dua. Rai masih terperangah di tempatnya, tidak sempat bereaksi. Mata mereka bertemu. "Sialan!"
Si masam berjengit. "Apa? Ada apa? Jangan membuatku kaget!"
Mereka penyihir, simpul Rai ketika pulih dari kejutan paling gila yang pernah dilihatnya. Tadi itu sihir, kan?
Pikirannya terus bekerja sementara dia berlari masuk kamar, mengunci pintu, mengganjalnya dengan meja, lalu berlari membuka jendela. Rai agak terkejut dengan refleks tubuhnya sendiri. Mungkin ini yang dinamakan insting menyelamatkan diri, pikirnya. Selain keinginan melarikan diri, Rai tidak ingat yang lain. Dia bahkan tidak memakai alas kaki.
Bahaya itu nyata. Rai mendengar sesuatu menghantam pintu kamarnya berkali-kali. Kilat petir berulang-ulang menyala dan meledak, merusak setiap lapis dinding dan atap. Rai berharap meja kecil itu dapat menahannya lebih lama. Tanpa menoleh, dia melompat. Di belakangnya, api hitam meledak ke segala penjuru. Asap mengepul. Dua sosok bertopeng memandang marah pada jendela yang terbuka. Rai sudah menghilang.
"Si Naraya, huh? Cepat juga dia melarikan diri." Si masam mendengus. "Andaikan pelindungnya tidak lebih tebal, mungkin dia sudah mati gosong."
"Bukan."
"Bukan?"
"Bocah."
Si masam kaget. "Jangan bergurau! Kita bisa mendeteksi sekecil kecoak sekalipun. Aku mengecek sebelumnya, tidak ada siapapun di rumah ini. Kalau rumah sebelah, beda lagi."
"Ada bocah."
"Kau tidak mendengarkan, ya? Kubilang sudah mengeceknya. Dengan teliti! Kecuali kalau kamu salah lihat."
"Kecuali bocah itu tidak dapat dideteksi."
"Apa maksudmu? Naraya sekalipun bisa terdeteksi, apalagi seorang manusia."
"Auranya seperti melebur bersama alam."
"Tidak ada manusia seperti itu."
"Aku tidak sedang membicarakan mereka."
Untuk pertama kalinya, si masam melihat mata merah rekannya. Dia serius. Dan marah. "Kalau begitu bukan manusia, bukan juga Naraya. Selama dia bukan dari mereka, kita beruntung. Oh! Kita membangunkan orang-orang itu!"
Rekannya menghela napas kasar. "Bocah itu," katanya penuh penekanan dan putus asa, "punya sepasang mata ungu!"
"..."
"..."
Si masam terhuyung. Rahangnya jatuh. "SIALAN!"
Hujan belum berhenti. Angin masih galak. Di balik gorden tebal merah tua, Rai mendengar percakapan itu dengan tubuh gemetar. Salahkan telinganya yang tajam. Siapapun mereka, jelas bukan teman. Ada kesan kekejaman yang kentara dalam suara mereka, seolah-olah kehadirannya merupakan ancaman. Kenapa? Orang-orang menjauhinya karena menganggapnya penyihir, tetapi bahkan penyihir pun ingin menyingkirkannya.
Ketegangan membuatnya lelah. Saat suara-suara itu menghilang dalam berisik hujan dan angin, Rai merosot di lantai dingin kamar tetangga. Dalam keadaan mendesak, tubuhnya refleks melompat ke balkon rumah nomor 13. Beruntung jendelanya tidak terkunci. Jarak jendela dan rumah nenek Mae sangat dekat, hanya dipisahkan sebuah jalan tikus sempit yang jarang dilalui. Setelah napasnya berangsur-angsur pulih, Rai merasa agak konyol. Kenapa tidak terpikirkan berlari lebih jauh? Mereka penyihir dan punya petir! Dengan jarak sedekat ini, dia mudah saja ditemukan.
Rai memberanikan diri menyibak gorden, mengintip rumahnya yang kini porak-poranda. Kamar ini gelap, lampu balkon mati, melindunginya dari pandangan orang luar. Bayangannya tersembunyi dalam kesuraman malam berhujan. Saat yakin tidak menangkap pergerakan aneh, dia bernapas lega. Mau tak mau Rai mengulang percakapan mereka dalam hati, mereka bilang tidak bisa merasakan kehadirannya. Mungkin hal ini tak lazim dikalangan penyihir, entah berarti baik atau buruk, Rai merasa beruntung. Mungkin karena alasan itu pula mereka tidak dapat menemukannya, walaupun pada kenyatannya dia berada sangat dekat.
Atau mereka tidak terlalu pintar. Rai terhibur dengan pikirannya sendiri.
"Rai?"
Dia tersentak. Nenek Mae berdiri di pintu kamar, jubah hitam membalut tubuhnya. Nenek Mae masih tampak perkasa di usia senja, kerutan di sudut matanya tidak menghalangi kecantikan masa muda yang tertinggal. Dilihat dari pakaian yang dikenakannya, Rai yakin dia belum tidur. Apakah nenek Mae mendengar semuanya? Wajahnya serius. Sorot matanya tegang. Tanpa bertanya sekalipun, Rai tahu jawabannya.
"Aku baik-baik saja." Rai pikir itu bagian yang paling penting untuk saat ini.
Nenek Mae tidak tergugah. Langkahnya cepat dan stabil ketika berjalan menuju lemari besar di sebelah Rai, membukanya, lalu meraih atasan abu-abu besar berlengan pendek, celana jins hitam dan mantel tebal hitam. "Ganti."
Ketenangan yang ditunjukkan nenek Mae agak menekan, mungkin karena dia sendiri memaksakan diri menutupi ketegangannya. Sikapnya yang lembut dan ceria telah menghilang, ekor matanya berkali-kali melirik balkon yang kosong, tampak waspada seolah-olah sesuatu bisa kapan saja muncul dan mengejutkannya. Rai berganti tanpa protes, piyama beruang yang dikenakannya basah oleh hujan dan keringatnya sendiri. Suasana dalam kamar hening, tidak ada yang memulai bicara. Pakaian kasual ini agak nyentrik untuk seorang nenek, Rai tidak berani bertanya mengapa dia memilikinya. Reaksi nenek Mae membuatnya gugup.
Nyaris berbisik, nenek Mae berkata, "Ayo, pergi."
"Pergi?"
"Orang-orang mulai ramai," katanya, mengangguk pada rumah yang hancur.
Gorden merah tua menghalangi pandangannya, tetapi Rai bisa mendengar keributan dalam hujan. Mereka pasti terbangun karena ledakan itu. "Pergi kemana? Apakah baik membiarkan mereka tidak tahu kalau aku baik-baik saja?"
"Jangan bodoh!" Rai kaget. Sepanjang ingatannya, nenek Mae tidak pernah mengumpat. Dia selalu duduk di kursi goyang di beranda setiap pagi dan petang, di kelilingi kucing-kucing, tersenyum lembut sambil bersenandung. Setiap kali Rai berangkat sekolah, dia selalu mengingatkannya agar tak pulang malam dan memastikannya mengenakan jam tangan. "Di sini sudah tak aman!"
Nenek Mae pernah marah sekali lantaran Rai melupakan jam tangannya. Kalau diingat lagi, hal itu agak aneh. Toh Rai punya ponsel untuk melihat waktu. Mungkin karena baru saja lolos dari bahaya, kemarahan nenek Mae sekarang membuatnya berpikir apakah dia mungkin tahu sesuatu ... dia bahkan tidak terkejut rumahnya meledak.
"Tidak aman dari apa?" Tidak ada jawaban. "Tapi, aku melupakan jam tanganku," katanya mencoba.
"Sudah terlambat," nenek Mae membalas cepat, lalu terguncang oleh suaranya sendiri.
Rai membelalak. Ketegangan di antara mereka meningkat. Suaranya bergetar karena takut dan syok. "Jadi, memang ada sesuatu? Sesuatu yang tidak kuketahui? Nenek tahu siapa mereka, kan?"
"Pakai!" Tanpa menjawab, nenek Mae memberinya sneaker hitam bergaris putih. Rai sudah menduga gaya kasual bukan seleranya. Apakah dia juga menerka hal seperti ini akan terjadi sehingga menyiapkan semuanya?
Sepatu itu pas di kakinya. "Nek."
"Diam."
Dia mengekor seperti yang biasa dilakukan kucing-kucing untuk menuntut jawaban. Nenek Mae tidak memedulikannya. Mereka turun dari kamar atas, di sambut tujuh orang asing yang menunggu dengan ketegangan yang sama. Semua orang berpakaian hitam. Siapa mereka? Ngomong-ngomong, Rai tidak melihat seekor kucing pun. "Nek?"
Pandangan ketujuh orang itu melahapnya, dari atas ke bawah dengan sorot aneh, lalu menetap di matanya yang ungu. Mungkin hanya perasaanku saja, pikirnya, tetapi Rai merasakan permusuhan dari seorang gadis yang berdiri paling jauh. Mereka menjura pada nenek Mae dengan kepatuhan mutlak.
"Pilar sebelah timur telah ditembus," kata seorang pria besar berwajah keras dan bercodet. "Haruskah kita mengerahkan--"
"Tidak ada waktu. Aku akan membawanya langsung ke tempat itu."
Mereka kelihatan tak senang. "Guru!" Si gadis yang paling marah. "Berbahaya! Biarkan kami yang melakukannya."
"Tidak."
"Guru tidak percaya padaku?"
Nenek Mae menghela napas. "Maisie, bukan saatnya untuk berdebat."
Maisie mengepalkan tangan. "Apa dia begitu berharga dari nyawamu sendiri? Berapa banyak lagi yang harus mati karena dia?"
Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang mati? Rai tidak menyangka akan terseret dan ingin sekali menyela. Setelah kehilangan orang tua, hanya tiga orang yang peduli padanya: Ava, Rena, dan nenek Mae. Selain mereka, semua orang meninggalkannya. Rai bahkan tidak tahu siapa Maisie. Bagaimana mungkin orang-orang itu mati karena dia?
Nenek Mae tidak memberinya kesempatan. "Kalian tahu apa yang harus dilakukan," katanya pada mereka. "Kita akan membaur. Ada kereta malam tiga puluh menit lagi. Bersiaplah!"
"Guru!"
"Maisie," seseorang di samping pria bercodet memberinya peringatan. "Perhatikan sikapmu."
"Kakak," dia protes.
Si kakak tidak tersentuh. "Ayo, pergi."
Maisie melotot pada Rai sebelum pergi dengan marah. Yang lain tidak banyak bicara, caranya melihat Rai seperti dia baru saja jatuh dari langit. Sebenarnya apa yang terjadi?
Banyak hal yang perlu diperjelas. Rai benci tidak tahu apa-apa. Segalanya mendadak kacau. Pikirannya berantakan. Benar bahwa ada penyusup yang tiba-tiba menyerangnya. Benar pula nenek Mae selama ini perhatian padanya, tetapi setelah semua kekacauan ini, Rai tidak yakin mempercayainya dengan mudah. Jangan-jangan nenek tua yang dikenalnya selama hampir lima belas tahun bukan benar-benar nenek Mae yang sebenarnya.
Setelah mereka menghilang di balik pintu, nenek Mae memanggil dua kucing putih yang muncul dari kehampaan.
Rai melompat kaget. Nenek Mae tidak mungkin penyihir juga, kan?
Ketika melihat sebuah tongkat di tangannya, Rai tidak bisa mengelak dari kebenaran. Tampaknya dia harus membiasakan diri dengan hal-hal ajaib mulai sekarang, akan merepotkan kalau terus-menerus terkejut setiap kali hal ini terjadi. Namun, saat dua kucing itu tiba-tiba berubah menjadi dua rubah api raksasa dari balik ledakan asap, dia terkejut lagi. Lalu bersin. "Nek, tidakkah kamu ingin mengatakan sesuatu?" Rai tidak tahan lagi.
"Eins."
"Huh?"
"Namaku."
Oh. Jadi, benar bukan nenek Mae.
Tiba-tiba Rai merasa asing. Mau tak mau dia meragukan dirinya sendiri. Kenapa ada penyusup di rumahku? Kenapa mereka menyerangku? Setelah menyaksikan sihir itu, Rai menduga-duga. Dia yakin Eins terhubung dengan penyusup itu. Orang-orang dari dunia lain. Mengapa Eins menolongnya? Rai mengernyit pada pemikiran ini. Benarkah dia ingin menolong? Kenapa? Mereka tidak saling mengenal. Dunia mereka bersebrangan.
Rai menggigil dengan pikiran baru yang melintas. Apakah mungkin dia punya identitas lain?
Eins menaiki satu rubah dan memberinya isyarat untuk melakukannya juga. "Aku tidak yakin harus menjelaskan dari mana," katanya. "Terlalu rumit."
Rai naik. Bulu rubah itu sangat lembut dan menggemaskan. Sayangnya hidungnya tidak tahan dengan bulu sebanyak itu. Dia bersin. "Aku punya banyak waktu." Bersin lagi.
"Tidak. Kita tidak punya."
__ADS_1
"Kalau begitu, setidaknya katakan kemana kita akan pergi?"
Sebuah lubang cacing muncul ketika Eins mengayunkan tongkatnya. Lubang hitam itu bertambah besar sampai mencapai langit-langit. Seolah tahu apa yang harus dilakukan, si rubah bergerak masuk. Rai tidak terbiasa menaiki sesuatu yang hidup, gemetar saat memeluk leher hewan itu seolah-olah menggantungkan hidupnya di sana. Dia bahkan tidak ingat kalau Eins belum menjawab. Hidungnya sakit karena terus-menerus bersin. Belum apa-apa, pusaran lubang hitam membuatnya pusing. Mereka menghilang dalam sekejap setelah Eins bergabung masuk dan menjentikkan tongkat.
Keduanya muncul di jalan sempit dengan pencahayaan minim di dekat stasiun. Perlu satu menit penuh bagi Rai untuk mengenali dimana mereka. Kepalanya berdenyut dan ingin muntah. Bersin lagi, hidungnya meler. Dua ekor rubah menghilang lagi dalam kehampaan. Seorang pemuda dan gadis remaja berpakaian serba hitam telah menunggu di sana, menjura ketika melihat Eins.
"Berikan mantelmu pada Pam," kata Eins, mengangguk pada salah satu dari mereka.
Gadis bernama Pam tidak kelihatan seperti penyihir karena matanya merah. Rai curiga, jangan bilang dia seorang vampir seperti di film-film!
Gadis itu melepas mantel hitam berhoodie yang mirip dengan miliknya, menukarnya tanpa kata. Rai menerimanya dengan canggung. Beruntung mantel itu bukan mantel bulu binatang, kalau tidak hidungnya tidak akan bertahan. Eins menerima dua tiket dari si pemuda, yang juga punya mata merah, mengucapkan sesuatu secara rahasia, lalu pergi secepat mungkin.
Rai sibuk menggosok hidung sampai lupa menuntut jawaban. Eins menariknya ke stasiun, menunggu kereta tujuan sekitar dua menit, lalu masuk dengan ketangkasan yang mustahil dimiliki seorang nenek. Dengan hoodie rendah yang menutupi hampir seluruh kepala dan wajahnya, Rai membentur pintu, tersandung, mengaduh, lalu memutar mata saat Eins memberinya peringatan tersirat untuk tidak menarik perhatian. Kursi mereka tepat paling belakang. Mayoritas penumpang sedang tidur, satu dua orang pergi dan kembali dari toilet. Rai duduk di sana dan hampir mati bosan karena semuanya dilalui dalam keheningan. Hidungnya telah lama membeku oleh pendingin ruangan. Walaupun jam bergulir pada angka dini hari, dia tidak mengantuk sama sekali. Ketegangan Eins mempengaruhinya. Setelah sejauh ini, dia masih bungkam, tidak memberinya petunjuk sekecil apa pun. Rai pantas mendapat penjelasan. Apa susahnya bicara?
Tiba-tiba Eins memberinya sebuah gulungan dari kulit yang sudah menguning. Jemari berkuku merah mengetuk gulungan itu, memberinya isyarat agar membukanya.
Ternyata sebuah lukisan.
Kelihatannya mahal. Goresannya tepat dan indah. Pilihan warnanya mulia. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita cantik dalam pakaian zamrud berkualitas. Rambutnya pirang keemasan. Matanya sebiru lautan. Senyumnya seperti musim semi. Pipinya kemerahan seperti buah persik dan bibirnya merah delima. Duduk di sebuah taman bunga menggoda seekor kelinci, wanita itu adalah keindahan itu sendiri. Rai yakin belum pernah melihat kecantikan yang bermartabat seperti ini.
Eins menghela napas, sudah menduga kalau bocah ini tidak mengenalinya. "Ibumu," katanya, pelan dan rendah, tetapi sudah cukup menghantam Rai sampai titik terendah.
"I-ibuku?" Rai menunduk, menekuri lukisan itu lagi. Wajah ini berbeda dari yang dikenalnya. Perutnya mendadak mulas. Bukankah ibunya sudah meninggal?
Rai ingat dengan jelas karena hari itu bertepatan dengan hari turnamen. Babak penentuan. Orang tuanya terlalu senang sampai nyaris tidak melepaskannya menaiki sepeda untuk pergi pagi itu. Mereka bersikeras ikut sampai rela memecah tabungan untuk menyewa angkot satu hari penuh. Rencananya mereka akan bersenang-senang, pergi ke taman kota di sore hari. Sayangnya, angkot itu meledak tiba-tiba di jembatan dua. Ayah, ibu, dan si supir tewas di tempat, sementara Rai menghilang. Polisi menemukannya tiga hari kemudian di hulu sungai. Sampai kasus itu ditutup, tidak ada yang berhasil mengungkap penyebabnya.
Sejak itu Rai tinggal sendirian di rumahnya yang bobrok di pinggir kota. Satu per satu orang-orang mulai meninggalkannya. Teman-temannya pun menjauhinya. Hanya Ava dan Rena yang masa bodoh. Hari-hari terakhir di sekolah benar-benar buruk. Rai tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena dirinya pun mempertanyakan hal serupa yang banyak digunjing orang.
Bagaimana dia selamat?
Api menyebar hampir seketika. Pintu taksi terkunci. Terlempar sekalipun, tidak akan membuatnya hanyut ke hulu sungai.
Orang-orang berpikir peristiwa ini tidak normal dan mulai menganggapnya penyihir. Bukan hanya karena mata ungu dan kemampuannya melihat hal unik, tetapi keajaibannya selamat tanpa luka sedikit pun. Mereka pikir keberuntungan saja tidak cukup membuatnya kembali dengan utuh!
Sekarang, setelah malam yang kacau dan Eins di sisinya, Rai menyadari kemungkinan lain. Saat itu, apakah seseorang menyelamatkannya?
"Namanya Lily. Lilian." Eins memecah keheningan setelah menghela napas panjang. Jejak kerinduan dan kesedihan terpatri di matanya. Tiba-tiba saja dia kelihatan seperti seorang nenek yang seharusnya, tua dan rapuh. "Seorang Alfar yang, selain dapat memanggil hujan, menguasai sihir penyembuhan ajaib. Keistimewaannya itu menarik perhatian Thanatos, yang menginginkan Kitab Es milik leluhur ibumu. Lily jatuh cinta pada ayahmu, seorang iblis perusuh yang entah bagaimana menaklukkan Naga Terakhir. Magadh, yang tergila-gila pada kekuatan besar, menginginkan sihir bayangan sang Naga untuk dirinya sendiri dan berkolusi dengan Thanatos untuk menggulingkan mereka berdua."
Rai tertegun. Informasi ini terlalu berlebihan untuknya. Ingin meminta jeda, tetapi melihat Eins larut dalam kenangan masa lalu sampai berkaca-kaca, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Yang bisa dilakukannya hanya mendengarkan dengan patuh.
"Melahirkan dua bayi membuat kondisi ibumu agak lemah. Magadh dan Thanatos memanfaatkan momen itu untuk menyerang langsung ke Perguruan Kabut yang dirintis orang tuamu sejak mereka menikah. Sayangnya, mereka kalah. Kekuatan Faith terlalu besar untuk ditanggung sendirian sehingga melukai dirinya sendiri, kekuatan sedahsyat itu menjadi bumerang baginya. Mereka percaya bahwa Kitab Es disimpan ibumu, sementara sang Naga dikendalikan ayahmu, mengira keduanya akan muncul sendiri ketika mereka tewas. Anehnya, dua pusaka itu lenyap tanpa jejak bersamaan dengan menghilangnya kalian berdua." Eins menghela napas berat. "Pada saat itu, kamu muncul di pintu rumahku di Bumi, dalam pangkuan Dirui yang sekarat. Dari jejak sihirnya, aku bisa mengenali portal itu dibuat oleh ayahmu dengan kekuatan terakhirnya. Untuk saudarimu, aku tidak tahu dimana dia."
Semua ini kedengaran mustahil di telinganya. Kitab Es. Naga. Kekuatan. Sihir? Dan bahkan saudara kembar!
Rai pernah bermimpi menjadi Wonder Woman, tetapi mendengar secara nyata terlibat dengan dunia seperti itu, dia merasa konyol. Rai suka menonton film sihir, membayangkan menjadi bagian darinya, dan berkhayal betapa keren menjadi Super Hero.
Jangan bilang, mimpi masa kecilnya menjadi kenyataan!
"Aku dan ibumu memiliki hubungan yang rumit. Aku sudah lama berhenti dari dunia itu, menjelajahi tempat-tempat asing sendirian, mencari kebebasan, tetapi tiba-tiba kamu muncul di sini. Seketika aku menyadari bahaya paling buruk dan tidak punya pilihan lain selain menitipkanmu pada pasangan itu, membiarkanmu memiliki kehidupan manusia normal. Kamu hidup dengan baik," katanya. "Omong-omong, saudarimu seharusnya bernama Raina."
Mungkin memang seperti itu. Bahwa, dia punya ibu seorang Alfar dan ayah seorang Iblis. Bahwa saudarinya tidak diketahui keberadaannya. Orang-orang jahat memburunya karena Kitab Es yang ajaib dan sihir naga yang hebat. Eins melindunginya dari mereka. Lalu, apa?
Lima belas tahun Rai hidup di sini, susah dan senang dengan sepasang manusia yang dipanggilnya ayah dan ibu. Temannya yang setia hanya dua. Rumahnya jelek dan masa depannya suram. Tiba-tiba ada maling yang menguasai sihir. Nenek Mae menjadi Eins. Dirinya sendiri menjadi keturunan Alfar separuh Iblis, terdampar di dunia manusia dan orang-orang jahat mengejarnya. Lalu, apa?
Jarinya yang ramping membelai wajah dalam lukisan, mencari jejak kerinduan dan keakraban yang mungkin tertinggal di hatinya. Wanita dalam lukisan itu cantik sekali. Struktur wajahnya mirip dengannya, kecuali matanya. Mungkin Rai mewarisinya dari ayah yang katanya biang rusuh itu. Sayangnya, hatinya kosong. Tidak merasakan apa pun.
Orang-orang ini asing. Bahkan nenek Mae menjadi tidak terjangkau lagi. Rai tidak mengenal mereka. Hidupnya di sini, bukan di dunia lain. Walaupun temannya hanya Ava dan Rena, selama mereka mengakuinya, itu sudah cukup.
Rai hanya ingin hidup damai. Orang-orang mungkin meninggalkannya, takut padanya, dan menggunjingnya, tetapi mereka bukan orang asing.
Mungkin dia bodoh karena bertahan dalam posisi ini, tetapi Rai pernah menjadi orang paling bahagia di dunia. Orang tuanya menyayanginya. Sekolah bangga padanya. Orang-orang menghargainya. Teman-temannya mengakuinya. Sekarang, semua kebahagiaan itu telah pergi, haruskah dia pun pergi meninggalkannya? Sebelum orang-orang ini datang, Rai punya dunianya sendiri, mimpinya sendiri dan keinginannya sendiri. Kenangannya mungkin menyedihkan, tetapi tidak ada yang pantas dilupakan. Secara kasar, Rai tahu apa yang orang-orang ini inginkan, tahu apa yang Eins ingin dia lakukan. Haruskah dia memulai dari awal?
Sayangnya, Rai tidak lagi bermimpi menjadi Wonder Woman!
Kereta berhenti sebentar menurunkan penumpang di stasiun 19. Hampir subuh. Seorang penumpang tersentak dari tidurnya, melihat keluar membaca platform yang diterangi cahaya lampu neon, lalu kembali tidur setelah memastikan belum saatnya turun. Penumpang di depannya mengigau sesuatu, membetulkan letak selimut, lalu pulas lagi. Suara-suara batuk dan rengekan anak kecil terdengar saat dengung klakson mengguncang keheningan yang nyaman. Kereta bergerak lagi.
"Magadh hampir mendapatkanmu," kata Eins setelah jeda yang panjang. "Kamu lupa jam tanganmu hari itu."
Rai menatapnya waspada. Itu adalah hari turnamen, dimana orang tuanya tewas dalam kecelakaan. Tiba-tiba firasatnya menjadi buruk. Mudah menebak siapa Magadh, siapa yang tega menghancurkan kebahagiaan sederhana sebuah keluarga miskin? Tentu penjahat paling jahat. "Jadi, bukan kecelakan?"
Eins menggeleng. "Aku menyisipkan kristal pelindung pada jam tangan itu, sesuatu yang kudapat dari ibumu. Kupikir kamu tidak akan suka tampilan aslinya, jadi aku memodifikasi sedikit. Sialnya Magadh sedang ada di sekitar sini dan melihatmu."
Rai ingat percakapan dua maling itu, "Bukankah mereka tidak dapat merasakan kehadiranku?"
"Ya." Eins tidak bertanya dari mana dia tahu, jadi kemungkinan kekacauan di rumahnya tidak luput dari perhatiannya juga. "Kristal itu menjadikanmu membaur dengan lingkungan di sekitarmu. Semua orang tahu matamu ungu, tapi kami melihat hal lain tanpa pelindung itu." Mata gelap Eins menyambar miliknya. "Kamu punya mata sama persis seperti ayahmu. Begitupun auranya yang tidak terdeteksi. Kalian seperti angin, hujan, tanah dan api, sekaligus cahaya dan bayangan. Sebuah kelebihan yang membawa sial," dia mengeluh.
"Maksudmu, hanya kami berdua yang begitu?"
"Benar, karena itu Magadh langsung tahu siapa kamu. Kalian ayah dan anak paling merepotkan!"
Rai tahu Eins tidak bermaksud buruk. "Kamu yang menyelamatkan aku saat itu?"
"Bukan," jawabnya enteng, membuat Rai terkejut. "Dirui melakukannya. Seorang Naraya. Sejak ayahmu menciptakannya, dia bertugas melindungimu. Dia yang membawamu ke rumahku, ingat? Beruntung Magadh sendirian, jadi kami tidak terlambat membantunya menyelamatkanmu."
Rai melotot. Ayahnya ... menciptakan apa?
Mungkin karena melihat wajahnya begitu konyol, Eins menjelaskan, "Sebesar itulah kekuatan ayahmu. Naraya hanya setia pada perintahnya, kamu bisa menyebut mereka prajurit khusus dengan kemampuan khusus. Kekuatan ayahmu memang tidak manusiawi, karena itu Magadh tergiur."
Kalian semua bukan manusia! Ingin sekali Rai berteriak keras-keras. "Apakah saat itu orang tuaku masih hidup?" Apakah kalian menolongnya?
Eins mengerti orang tua mana yang dimaksud. "Maafkan aku," katanya menyesal. "Tubuh manusia tidak tahan terhadap sihir. Kamu sendiri terluka, tapi tubuhmu memulihkan diri dengan cepat. Sayangnya Dirui tidak."
"A-apakah dia baik-baik saja?"
"Dimana?"
"Kebun Raya Selatan."
"APA?" Rai melotot. "Itu tempat umum!"
Eins memijat pangkal hidungnya yang panjang. "Ayahmu itu, tidak tertolong lagi, memang tukang biang rusuh!"
Uh. Ayahnya, ya. Yang katanya hebat.
Apa sih yang ada di kepalanya? Apa dia tidak memikirkan orang-orang di sekitar sana? Bagaimana kalau ada bahaya? Eins tepat menjulukinya biang rusuh. Membayangkannya saja Rai jadi malu.
Klakson berdengung lagi. Kereta berhenti. Eins bangkit dengan waspada. "Rapatkan mantelmu," katanya pada Rai yang mengekor di belakang.
"Apakah mereka mengejar kita?" Dia mengikuti arah pandang Eins di pintu keluar. Stasiun 20 sepi. Dua petugas yang berjaga di peron mengangguk sopan pada kedatangan mereka. Tidak ada lagi penumpang yang turun, jadi peluit di tiup. Kereta berangkat dengan bunyi yang berisik. Udara dingin membekukan, padahal sudah pagi.
"Kamu tidak akan benar-benar tahu sebelum bahaya muncul tepat di depan wajahmu. Yang kamu pakai adalah mantel Pam, dia setengah manusia. Kuharap aromanya tidak terlalu mencolok. Jadi, waspadalah dan jangan menarik perhatian."
"Kenapa tidak mantra pelindung?"
Eins kelihatan kesal. "Tidak selalu efektif, apalagi Magadh yang kita bicarakan. Kristal ibumu beda cerita."
Maksudnya, dia tidak terlalu kuat.
Rai bijaksana karena tidak mengatakannya dengan lantang. Tetapi, nampaknya Eins membaca ekspresinya karena kemudian mendelik kejam.
Perlu tiga puluh menit berjalan dari stasiun ke Kebun Raya. Rai heran kenapa Eins tidak memanggil lubang cacing seperti sebelumnya, dia bilang terlalu mencolok di pagi hari. Lagi pula mereka tidak boleh meninggalkan jejak sihir atau Magadh dan anteknya akan dengan mudah merasakannya di udara.
Rai lapar dan lelah, tetapi tidak punya uang. Tidak ada yang bisa digadaikan, jangankan dompet dan celengan, rumahnya pun sudah menjadi debu. Dia resmi menjadi gelandangan sekarang. Di sisi lain, Eins masih bugar. Walaupun wajahnya agak keriput, nampaknya masih sanggup berjalan dua jam lagi. Rai mendesah keras. Sayangnya Eins tidak membaca sinyal yang dia berikan. Sungguh malang.
Gerbang barat dibuka. Mereka berjalan beriringan, membaur bersama pejalan kaki lain yang bersantai menikmati suasana pagi yang segar. Orang-orang ramai berolah raga. Anak-anak berlarian gembira. Sebisa mungkin Rai menjaga pandangannya tetap lurus, bukan karena peringatan Eins, tetapi menghindari penjual minuman.
Mereka terus berjalan seperti itu, kelihatan seperti nenek dan cucu yang sedang rekreasi. Gaya kasual Rai tidak menjadi sorotan, tetapi Eins lain lagi. Dia seperti Nyonya besar dengan jubah hitam panjang. Beruntung, usianya tidak lagi muda. Dengan baju rajut merah dan celana bahan hitam, orang-orang akan berpikir dia kedinginan, alih-alih salah kostum.
Di perempatan kecil yang sepi, Eins membawanya berbelok kanan. Ini pertama kalinya Rai mengunjungi kebun Raya, sayang sekali bukan waktu yang tepat untuk bersenang-senang. Matahari naik sejengkal, tetapi tidak cukup menerangi hutan rimbun di depan. Mereka menuju arah itu. Kabut dimana-mana.
Tiba-tiba Eins berhenti. Rai melihat ketegangan di wajahnya dan mendekat untuk melihat, tetapi Eins menariknya ke balik punggungnya. Jalan setapak yang mereka lalui penuh daun-daun mati. Dari depan, suara langkah mendekat, meninggalkan suara gemerisik di belakang. Angin berhembus lirih. Dahan-dahan bergoyang. Rai menelan ludah. Mengapa suasananya menjadi horor begini?
Suara itu berhenti satu meter jauhnya. Pekik seorang gadis terdengar, "Astaga, kita selamat!"
Suara ini ....
"Ada orang!" Suara lain menyela. "Nek, apakah benek tahu jalan ke kebuh apel? Kami kira di sekitar sini."
Rai melotot, mengenali suara cempreng itu. Tidak tahan untuk memastikan, dia mengintip dari balik pundak Eins yang tidak bergeming. Itu memang mereka! Ava dan Rena! Apa yang mereka lakukan di sini? Pohon apel? Sial. Tampaknya Rai baru ingat Rena pernah menyinggung soal memetik apel di Kebun Raya saat liburan ke rumah Paman.
"Oh! Rai?" Ava terkejut melihatnya. "Itu kamu?"
Rena melihatnya juga. "Oi, apa ini, menyusul kami? Hahaha! Sudah kukatakan, dia tidak tahan kalau soal apel!" Mereka berlari padanya, melingkarinya dalam pelukan, lalu melompat-lompat.
Ava ikut tertawa. "Dan jeruk!"
Rena setuju. "Dan jeruk!"
Rai tidak tahu harus menangis atau tertawa. Mereka ini, kenapa harus sekarang? Kalau waktunya tepat, dia pasti sudah terbahak-bahak dengan kebetulan menyenangkan semacam ini, tetapi mereka sedang berpacu dengan waktu.
Tunggu dulu.
Memangnya, kapan dia setuju dengan pengaturan Eins? Haruskah dia pergi?
Eins telah menjelaskan bahwa dia bukan milik dunia ini. Kalau harus memilih, Rai ingin bergabung dengan Ava dan Rena, memetik buah dan makan sampai puas. Tapi, itu tidak mungkin. Ada orang-orang jahat memburunya. Rai tidak mau mengambil resiko. Apalagi menyangkut keselamatan sahabatnya yang berharga. Bagaimana kalau orang-orang itu datang dan menyakiti mereka?
Pada awalnya, Rai hanya penasaran mengapa ada penyusup yang meledakkan rumahnya. Kebetulan ada alasan besar di balik semua itu, dan Rai ingin tahu lebih banyak. Itu saja. Soal Kitab Es dan sihir-apalah, Rai bersumpah tidak peduli sama sekali. Silahkan ambil yang kalian inginkan, lalu tinggalkan aku. Hidupnya sudah menyedihkan tanpa terlibat urusan ini. Mereka penyihir! Orang dari dunia lain! Kekacauan macam apa yang menunggunya di depan? Rai ingin kembali pada kehidupan lama, tapi sekarang tidak mungkin lagi. Benar kata Eins, dia tidak punya jalan kembali.
Pertemuan ini membuatnya menyadari satu hal. Rai ingin melindungi mereka, persahabatannya, satu-satunya hartanya yang paling berharga. Melindungi semua kenangan yang dimilikinya. Setidaknya, cari dulu Kitab Es dan sihir-apalah itu, lalu berikan pada Eins. Entah disetujui atau tidak, setelah urusan ini selesai, dia hanya perlu pamit undur diri. Seperti yang dilakukan Eins untuk kebebasannya. Tidak ada ingatan tentang orang tua kandungnya, cukup tahu siapa mereka, lalu kembali kemari. Semua kehidupan dan kenangannya ada di sini, di Kota B, sebuah tempat kecil yang pernah memberinya kebahagiaan.
"Pergilah ke jalan itu," jawaban Eins memotong kegembiraan mereka. Yang ditunjuk adalah jalan yang baru saja mereka lalui, ke arah perempatan dan keramaian.
"Terima kasih," Ava membungkuk sopan. "Apakah nenek datang bersama Rai?"
Ava dan Rena sering berkunjung ke rumahnya, jadi tentu saja tahu nenek Mae. Namun, nampaknya mereka tidak mengenalinya dengan tampilan tangguh seperti itu. Yah, siapa yang mengira?
"Ada hal yang harus didiskusikan sebentar. Bisakah kalian membiarkan kami sendiri dulu?"
Kebohongan, tentu saja.
Mereka menatap Rai bersamaan, tampak heran. Sejak kapan Rai yang selalu kelebihan energi menjadi begitu pendiam? Mungkin urusannya benar-benar penting.
"Oke." Rena menepuk pundak Rai. "Kami senang kamu menyusul. Kami menunggu di perempatan, oke? Jangan terlalu lama. Kalau siang hari, Paman tidak mengizinkan kita memetik banyak!"
Ava mengulum tawa. "Bilang saja takut ketahuan!"
"Oi!"
Rai ikut tersenyum. Betapa dia akan merindukan tawa mereka. "Oke, tapi jangan mengintip!" Mereka tertawa lagi, lalu berpisah. Rai menatap punggung yang menjauh itu dengan perasaan rumit.
__ADS_1
"Ayo, pergi." Eins berbalik untuk meneruskan perjalanan, tetapi segera berhenti saat angin mendesing dari balik kabut. Sesuatu yang besar dan gelap melesat dengan kecepatan gila. Sesuatu itu menabrak Eins, menghempasnya sepuluh meter jauhnya. Rai terlalu syok untuk bergerak.
Mendengar bunyi benturan keras di belakang, Ava dan Rena berbalik kaget. Lalu menjerit.
Oh tidak!
Eins membentur sebuah batu besar, terbaring di sana dengan seorang pria kaku menindih perutnya. Dia bangkit dengan susah payah, mengenali pria itu sebagai Naraya, lalu menyingkirkan tubuhnya dengan agak kasar. Yang dicemaskannya adalah Rai. Ava sudah pingsan di pangkuan Rena yang pucat. Pandangannya menyapu Eins dan pria itu. Untunglah dia tidak berdarah, pikir Eins. Jadi, dia bisa berbohong tentang kematiannya kepada dua gadis itu nanti. Sayangnya Eins lupa, dengan jarak sedekat itu, walaupun udara berkabut, mata manusia pun bisa melihat dengan jelas bahwa pria itu sudah mati. Dadanya berlubang.
Keadaan Ava dan Rena menyulut kesadaran Rai akan bahaya. Dia berlari kepada mereka hampir seketika, tetapi kakinya tersandung sesuatu yang keras dan menyakitkan. Sebuah cambuk berduri membelit kakinya. Darah segar merembes menodai kulitnya yang pucat.
"Jangan pergi!" Suara seperti gemuruh longsor datang dari kegelapan. "Kamu menyakiti hatiku."
Bulu kuduknya berdiri. Pria itu tinggi dan besar. Dalam balutan jubah kebesaran dan wajah mengerikan, dia tampak seperti monster gunung. Di tangannya, sebuah batu hijau zamrud berkilau memantulkan cahaya pagi dalam kabut jingga. Rai mendongak hanya untuk melihat matanya yang merah.
"Ah. Lihat, siapa ini! Akhirnya kita bertemu juga, Putri Kecil." Pria itu tertawa lebar. Isi mulutnya adalah mimpi buruk dokter gigi. Batu hijau itu digigitnya seperti apel, bunyi kunyahannya yang keras terdengar mengerikan. "Bagaimana kabarmu?"
Rai mencoba berdiri, tetapi cambuk itu menahannya di tanah. Kakinya kebas.
"Jalgadh!" Eins berseru. "Aku tidak punya urusan denganmu. Lepaskan dia!"
Si pria raksasa bernama Jalgadh mendengus. "Siapa kamu, Wanita Tua? Aku hanya berurusan dengan gadis cantik. Putri Kecil, kenapa tidak menjawab? Jangan abaikan aku."
"Jalgadh!"
"Hei, hei, aku tidak tuli." Jalgadh memiringkan kepala dan melihat Rena yang pucat pasi melewati Eins. "Wah. Dua lagi gadis cantik! Sayang, yang satunya tidur."
Selain ototnya, makhluk besar ini tidak punya apa pun untuk dibanggakan. Isi kepalanya kosong. Walaupun tubuhnya besar, sejatinya usianya masih muda. Kekuatan fisik adalah kelebihannya. Pujian adalah kesukaannya. Sayang, Eins tidak punya mulut manis.
"Jangan ganggu temanku!" Rai menyalak.
"Oh! Putri Kecil yang berani." Jalgadh berjongkok dengan susah payah untuk melihatnya lebih dekat. "Lihatlah wajah indah ini, oh, kenapa harus mata itu? Aku 'kan jadi ingat dia. Putri Kecil, tenang saja, selama kamu ikut denganku, aku berjanji tidak akan menyakiti mereka."
"Dia tidak akan pergi kemana pun!" Eins bergerak. Empat rubah raksasa berdiri di belakangnya, siap menyerang. Rena menggigil dengan fenomena yang hanya dilihatnya di film, ketakutan, tetapi memaksakan diri terus melihat. Eins tidak punya waktu mencemaskannya. "Jalgadh, kamu tahu siapa dia! Ingat, konsekuensi macam apa yang akan kamu terima dari keluarganya!"
Jalgadh tampak bingung. "Siapa sih kamu, Wanita Tua? Jangan sok kenal denganku! Nah. Putri kecil, kamu mau 'kan ikut denganku?"
Eins menggertakkan gigi. Jalgadh mungkin tidak tahu siapa dia, tetapi Eins jelas siapa musuhnya. Bangsa mereka telah berperang selama ratusan tahun!
"Tuan." Seseorang muncul di samping Jalgadh dengan kesopanan seorang pelayan. Berbeda dengan Jalgadh yang tinggi besar dan sekokoh gunung, orang ini kurus kering, tetapi sama-sama mengerikan. "Mengapa Tuan masih di sini? Serigala Gunung dan Macam Merah sudah mengepung tempat ini. Sebaiknya Tuan kembali dulu. Tempat ini, tidak salah lagi akan menjadi area pertarungan. Berbahaya bagi ... Oh!" Dia terkejut melihat Rai, yang duduk menyedihkan di tanah. "Anda menemukannya dengan cepat, Tuan!"
Jalgadh berdiri dan terbahak-bahak. "Aku memang beruntung!"
Empat rubah di samping gelisah. Eins tahu musuh semakin dekat. "Jalgadh, kamu tidak perlu melibatkan diri dalam hal-hal seperti ini seperti yang telah kamu lakukan bertahun-tahun lalu. Biarkan kami pergi, oke?"
Jalgadh keras kepala. "Jangan bicara seperti kamu kenal aku! Kakakku akan marah kalau membiarkan kalian pergi. Lagi pula, Si Juru Kunci sudah mati." Jagadh mengangguk pada jasad pria dengan dada berlubang. "Sayang sekali aku agak telat, kristalnya hambar."
Eins mengepalkan tinju. Itu berarti bukan Jalgadh yang membunuh Naraya itu. Itu berarti musuh telah menunggunya datang. Siapa? Dia berpaling pada Jalgadh. Bagaimana dia bisa ada di tempat ini? Eins yakin ini bukan sebuah kebetulan. "Jalgadh, kamu tahu tempat ini dari siapa?"
Jalgadh mengangkat bahu. "Punya kesepakatan bagus. Tidak bisa bilang!"
Sial. Mereka masuk ke kandang singa.
Pada saat itu, lolongan serigala dan geraman macan bersahutan di kejauhan. Angin berhembus kencang membawa aroma pahit darah. Daun-daun mati mengamuk.
"A-apa yang terjadi? Rai?" Rena selalu yang menjadi paling tegar. Melihatnya menangis ketakutan dan menggigil seraya menopang Ava yang tak sadarkan diri, Rai sedih. Dan marah.
Lakukan sesuatu! Mereka membutuhkanmu, idiot!
Namun, jauh di dalam hatinya, Rai tahu tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak, ketika cambuk Jalgadh mengikatnya dengan kencang.
Tiba-tiba suara berdebam datang dari belakang, mengejutkan Rai untuk berbalik, tetapi angin kencang lebih dulu menekannya pada sebuah pohon besar. Cambuk di kakinya terlepas, lalu sebuah tangan pucat mencekiknya. Rai tercekat.
"Hei, hei, aku menemukannya lebih dulu. Lepaskan, dia milikku!" Jalgadh mengayunkan cambuk menghantam si pendatang baru, tetapi kekuatannya begitu mengerikan sehingga dia menghempaskan Rai bersamaan.
Rai jatuh menindih tubuh mati yang terkoyak. Anyir darah menerjang hidungnya. Saat berjuang untuk bangun, tangannya tidak sengaja menyentuh sebuah kepala berdarah yang terpisah dari tubuhnya. Wajah yang dilihatnya membuat Rai menjerit.
Di atas tanah, Eins, Ava dan Rena tergolek bersimbah darah. Tanpa kepala. Rai mundur dengan gemetar, lalu tangan pucat yang tadi kembali lagi, merenggutnya dari tanah dan mencekiknya dengan keras. Si pendatang baru yang tubuhnya nyaris hancur telah memulihkan diri secara tak terduga. Napasnya tersendat. Dalam keadaan syok dan nyaris mati, Rai mencari-cari kebenaran. Wajah di hadapannya seperti hantu, pucat dan berlubang. Matanya melotot kosong. Seringai di bibirnya bertambah lebar ketika Rai berurai air mata.
"Aku mendapatkanmu," kata suara serak itu. "Dimana itu? Berikan padaku! Berikan padaku!" Rai tersedak. "Tidak mau, heh?" Dia mencekik lebih keras. Tangannya yang lain mengangkat belati dan menghujam.
Ingatan Rai masih tidak meninggalkan wajah-wajah familier di tanah, lalu tiba-tiba amarah menyiksa rongga dadanya. Dia menendang dengan keras. Belati itu menggores bahunya dan kakinya sakit karena cambuk berduri sebelumnya. Karena syok, gerakannya lambat. Siapa dia? Tubuh itu sudah mati, tetapi bergerak selayaknya orang hidup! Dengan rasa sakit dan kesedihan dia berlari menghindari serangan. Lolongan serigala di kejauhan menyadarkannya bahwa dia sendirian. Dan terkepung.
Ava. Eins. Rena ... Mereka tewas! Karena kesalahannya! Bodoh, bodoh, bodoh!
Rai menangis dan marah sekaligus. "Siapa kamu?!"
Suara asing dalam tubuh mirip hantu terbahak-bahak. "Biarpun kukatakan, kamu tidak akan tahu!"
"Kamu membunuh teman-temanku!"
"Benar! Sangat menyenangkan! Mereka bahkan tidak tahu bagaimana mereka mati, hahaha!"
Satu tinju. Dua tinju. Rai menyerang maju. Menyikut wajahnya. Menendang tubuhnya. Dia marah!
Jalgadh tampak kagum. "Putri Kecil hebat juga."
Si Wajah Hantu terhempas jatuh, bangun lagi dengan cepat, dan terkekeh senang. "Berikan aku benda itu! Berikan!"
Apa yang harus diberikan ketika bentuknya saja bahkan Rai tidak tahu?
Belati menusuk tajam, Rai menangkisnya dan mematahkan tangannya, lalu merebut senjata itu. Si hantu tidak kesakitan, justru menyeringai. Rai menyerang lagi, menusuk jantungnya. Tidak ada jejak darah. Di tempat seharusnya jantung berada kosong, tubuhnya seperti batang pisang mati. Dia zombie! Rai menarik belati, lalu menancapkannya kuat-kuat di paru-parunya.
Si zombie melolong marah. Rai terkejut. Apakah itu kelemahannya? Sekali lagi belati itu ditarik, tetapi si zombie membaca maksudnya dan mencelat mundur. Sebuah tombak es terbentuk di tangannya yang pulih dengan cepat, lalu melemparkannya pada Rai dengan galak.
Rai mengelak. Tombak es lain terbentuk dan menyerangnya bertubi-tubi. Perut dan pahanya tergores. Dia terhuyung, kakinya yang terluka tidak dapat bertahan lebih lama. Dia terus menghindar seperti itu sampai jarak memisahkan mereka cukup jauh. Rai kehabisan napas dan tenaga, dia harus mundur! Namun, tidak menyangka sebuah petir hitam menyambar punggungnya. Dia jatuh dengan seteguk darah. Tombak es melesat menembus perutnya, memakunya di tanah. Rai menjerit.
"Enak saja lari! Berikan dulu benda itu!" Si zombie melesat dengan tombak es lain di tangannya, menyongsong Rai yang tergolek kesakitan dan berdarah-darah. Tiba-tiba sebuah kekuatan lain menghempas tubuhnya terbang ke kedalaman hutan, mematahkan dahan-dahan pohon dalam prosesnya. Api biru bergolak di sepanjang jalan itu.
"Jangan remehkan aku!" Eins muncul mendadak dari balik asap. "Pergilah ke Neraka!"
Rai terkejut. Jasad mati yang seharusnya Eins di atas tanah berubah menjadi seekor rubah. Dia masih hidup!
Jalgadh juga tidak menyangka. "Siapa dia?" tanyanya pada si pelayan. Mereka berdiri menonton di pinggir jalan, anyir darah yang tebal tidak membuatnya terganggu, seolah-olah sudah terbiasa dengan itu. "Wanita Tua itu lumayan juga."
Si pelayan menjawab patuh, "Namanya Eins. Dia yang menyudutkan Magadh bulan lalu."
"Oh?" Jalgadh terkejut. "Bukankah yang mengalahkan Magadh adalah seorang Naraya? Dilihat dari mana pun, dia hanya seorang penyihir."
"Benar, Tuan."
"Lalu, apa urusannya dengan Putri Kecil?"
"Menurut kabar, dia menghilang selama dua ratus tahun, tapi tiba-tiba muncul sebulan lalu, menyerang Magadh dan menyelamatkan anak itu. Mungkin menghilangnya dia berhubungan dengan masalah ini."
Jalgadh menatapnya galak. "Bukan anak itu, tapi Putri Kecil! Kok kamu tidak bilang hal ini sebelumnya?"
Si pelayan mengusap keringat di pelipisnya. "Tuan, saat itu Anda sedang sibuk menghitung daging domba...."
"Oh!" Jalgadh mengibaskan tangan. "Lupakan! Jadi, Wanita Tua ini menculik Putri Kecil?"
"Tuan, bukan seperti itu. Nampaknya dia yang merawatnya, bagaimanapun tidak ada yang tahu alasannya menghilang dua ratus tahun lalu, tapi dilihat dari waktunya memang ada kemungkinan begitu."
"Dia penyihir," Jalgadh mengulang.
"Benar, Tuan."
"Kenapa harus penyihir?"
Benar. Kenapa harus penyihir? Tidak ada yang menyangka anak yang mereka cari ada bersama seorang penyihir. Iblis dan Penyihir memiliki riwayat yang buruk, seharusnya Lily pun paham akan hal itu. Mengapa dia malah menyerahkan putrinya pada musuh bebuyutan?
"Aku yakin Wanita Tua itu menculik Putri Kecil."
Si pelayan menghela napas lagi. Tidak punya jawaban yang meyakinkan.
Sementara mereka mengobrol, Eins berseru, "Pergi dari sini!" Tombak es di perut Rai mencair dalam sentuhannya. "Kembali ke keramaian! Satu rubahku akan membawamu ke sana. Pergilah! Kelompok Maisie seharusnya di gerbang selatan! Susul mereka!"
"T-tapi," Rai tidak mau meninggalkannya. Mereka pergi bersama dan harus kembali bersama-sama. Dia melirik wajah hantu yang memulihkan diri dari ledakan, hampir siap menyerang lagi. Eins menjentikkan tongkatnya memanggil rubah lain. Moncong hewan itu menyambar tudung mantelnya dan melemparkan Rai ke punggungnya. Bersin. "Eins!" Bersin lagi. Si rubah membawanya berlari kencang. Pandangannya buram. "Eins!"
Si pelayan menoleh pada Tuannya yang melihat kepergian mereka dengan tenang. "Tuan, apakah kita akan mengejar?"
Jalgadh melihat pertarungan Eins sekali lagi, lalu sayup-sayup mendengar geraman dari langit. "Dia lari dariku, apa yang bisa kulakukan? Mungkin lain waktu saja. Ayo, pulang! Aku lapar."
"..."
Si pelayan tidak tahu, tetapi Jalgadh mengenal tanda itu dengan baik. Orang itu sudah muncul! Jalgadh tidak mau melihatnya walau sedetik. Perbedaan kekuataan mereka sangat besar. Dia tidak mau mati konyol.
Rubah itu berlari gesit sebelum melayang terbang di udara, empat kakinya berkobar dengan api biru. Mereka menuju gerbang selatan. Tenggorokan Rai sakit karena terus-menerus berteriak meminta diturunkan, tetapi hewan besar itu pura-pura tuli.
Mereka hanya berhenti ketika kekacauan terhampar di sejauh mata memandang.
Segalanya berwarna merah.
Apa yang terjadi?
Punggungnya sakit seperti mau patah dan perutnya terus-menerus mengeluarkan darah. Rai melepas cengkramannya dari leher si rubah. Bulu putihnya kini berwarna merah. Meluruskan punggungnya, menekan luka di perutnya, lalu mengedarkan pandangan.
Yang dilihatnya adalah pembantaian.
Rai menggigil. Api berkobar dimana-dimana. Darah menggenang di setiap langkah. Bangunan dan menara-menara hancur. Pohon-pohon tumbang. Jalanan penuh oleh mayat-mayat tergeletak, anak-anak terisak dalam pelukan ibunya yang sekarat. Orang-orang yang tersisa kehilangan harapan. Penderitaan dan kengerian tercium dari segala penjuru.
Kenapa begini?
Kelompok serigala menerjang, menggigit, dan merobek semua orang yang hidup, tidak peduli orang tua atau anak-anak. Kelompok macan membalas hal serupa, memburu serigala-serigala lapar bermulut merah, menginjak mayat-mayat dan menerkam anak-anak yang tertinggal. Dua kelompok itu saling menyerang membabi buta, menyingkirkan segala yang ada di jalan mereka.
Di atas punggung rubah, Rai tidak lagi dapat membedakan yang hidup dan yang mati. Segalanya merah dan tenggelam dalam kubangan darah. Potongan tubuh tercabik dan terlempar. Jerit tangis terdengar menyedihkan dari semua penjuru, lalu meredup, sebelum perlahan-lahan menghilang dalam riuh lolongan serigala dan geraman macan.
Rai kehilangan akal sehat. Tidak ingat lagi tujuannya, tidak tahu apa yang mesti dilakukan selanjutnya. Dia membeku di punggung rubah, tubuhnya tidak berhenti gemetar, darah di punggung dan perutnya tidak berhenti mengalir. Wajahnya sepucat mayat dan panca indranya mati. Matanya yang ungu terbuka lebar, merekam setiap kengerian tanpa berkedip. Rasa sakit di tubuhnya dan beban di dadanya tiba-tiba lenyap. Segalanya terasa kosong.
Mendadak, badai besar menghantamnya dari samping. Rai terhempas jatuh, menindih mayat-mayat yang tercabik dan terpotong. Anyir darah menyelimutinya. Dia terbatuk. Tiba-tiba pahit darah di mulutnya terasa lebih manis dari kengerian ini. Sergapan rasa takut meringkus kewarasannya. Rai tidak berhenti menggigil.
Si rubah mendengking, jatuh di sampingnya. Tiba-tiba pisau angin menyerangnya, mengurai tubuhnya. Darah segar menyembur, sebagian besar memercik di wajah Rai yang seputih kapas. Kengerian lain datang padanya tanpa jeda, bahkan tidak memberinya waktu untuk sekedar menangis.
Sebuah suara datang dari langit. Seekor naga terbang mendarat di hadapannya. Seorang pria muda turun, wajahnya yang rupawan kelihatan jijik dengan pemandangan berdarah di sekitarnya. Dia mengibaskan tangan, mayat-mayat di jalan kecil itu tersingkir oleh embusan badai kecil. Kakinya yang panjang berjalan angkuh menghampiri Rai, yang bergelung dalam rasa sakit dan kengerian.
Sihir memerangkapnya.
Sebuah tangan besar mengangkat wajah Rai yang pucat, memaksanya mendongak melihat seraut wajah asing. Matanya yang terang tidak cocok dengan kebencian yang memancar dari pandangannya. "Raizel," katanya. Suaranya yang berat jelas merendahkan. Rai tidak tahu mengapa pria ini memanggilnya begitu. Keputusasaan menguras tenaganya, tidak bisa melawan, walau sekedar bertanya siapa dia. Kepalanya pusing dan pandangannya buram. "Akhirnya aku menemukanmu." Pria itu menyeringai. Tangannya yang lain datang dan membelai matanya. "Andaikan kamu muncul lebih awal, mungkin aku tidak perlu membunuhmu." Lalu dia mencungkilnya.
Rai menjerit di atas paru-parunya, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya selain pasrah dalam rasa sakit. Tubuhnya mengejang, tangan mengepal, gigi bergemeretak. Darah segar menyembur, dan kegelapan menelan dunianya. Dua mata ungu yang indah terkunci dalam sebuah kotak es berukir naga kembar.
__ADS_1
Hal terakhir yang diingatnya sebelum jatuh adalah kemarahan.
***