
Peristiwa itu telah terlewat. Mungkin berminggu-minggu silam. Bisa jadi kemarin. Atau tadi pagi.
Rai tidak tahu kapan tepatnya. Rasanya waktu telah berlalu lama sejak kematiannya. Rai tidak yakin berapa lama dia tertidur di tempat ini, tidak juga pasti hari apa dan jam berapa sekarang. Yang jelas, dia berada di tubuh seorang gadis asing. Shade menyeret jiwanya padanya. Tentunya, dengan sebuah kesepakatan yang mereka bahas secara rahasia.
Siapa Shade?
Nah. Ini agak rumit. Singkatnya dia adalah sebuah kekuatan jahat dari kegelapan. Wujudnya tidak jelas, kadang-kadang menyerupai bayangan abstrak, kadang-kadang bayangan seseorang, pohon, batu, kecoak, atau apa pun yang dia inginkan. Sekarang, dia menetap menjadi bayangannya sendiri. Kerjaannya tidur sepanjang hari dan mengumpat dari waktu ke waktu.
Asalnya?
Entah.
Dia tiba-tiba muncul dari ketiadaan di hadapannya ketika Rai sekarat dan menawarkan kesepakatan gila. Walaupun tahu mustahil, Rai menyanggupinya karena tidak sudi mati penuh penghinaan. Banyak hutang yang harus dia bayar, terutama pembantaian itu, yang mengakibatkan kematian sahabatnya dan menghancurkan tempat tinggalnya yang berharga. Sekarang, ketika hal gila menjadi kenyataan, Rai curiga, jangan-jangan Shade-lah yang diperebutkan banyak orang, yang katanya sebuah kekuatan dahsyat yang menghilang. Dia bahkan sanggup menyeret jiwanya pada gadis ini, yang mati malam itu.
Membahas Shade, Rai teringat perdebatan mereka di saat-saat terakhir hidupnya, termasuk janji-janjinya. Dia menunduk, memusatkan energi pada sepasang tangan mungil yang kini miliknya, merasakan sesuatu yang tiba-tiba mengalir di pembuluh darahnya. Cahaya hijau memancar dari telapak tangannya, meluap-luap seolah itu hidup. Bau tanah basah sehabis hujan tersebar di udara. Rai berpukau oleh keajaiban itu, berdecak kagum berkali-kali.
"Norak," kata Shade dalam benaknya, penuh rasa jijik.
Clo, yang melihat Rai memandangi sihir di tangannya sendiri dengan takjub, mengernyit heran.
Rai tidak ambil pusing. Merasa puas, dia berhenti mengagumi sihir penyembuhan di tangannya, mencubit pipinya, kegirangan merasakan betapa halus wajahnya. "Ini nyata," gumamnya tak percaya. "Aku kembali."
Nampaknya gadis ini adalah sosok yang dimanjakan. Kulitnya sangat putih dan halus. Jari-jarinya ramping dan ukuran kakinya menggemaskan. Rai tidak bisa berhenti nyengir membayangkan penampilan barunya, tidak sabar menemukan cermin, tetapi kemudian melotot menyadari dadanya sangat datar. “Tubuh ini, apakah aku seorang laki-laki sekarang? Ini mengerikan! Bisakah kau mencari tubuh yang lebih baik? Tidak masalah dia pendek, tetapi laki-laki?” Demi Langit, Rai tidak sanggup merasa malu setiap pagi!
Shade, “Lihatlah dengan teliti! Tak tahu malu!”
Rambutnya sangat panjang, warnanya semerah api. Dia mengukur tubuhnya sendiri, lebih pendek dari tubuh yang lama. Dengan pakaian kebesaran, dia kelihatan mungil. Tidak apa-apa. Masih ada waktu. Dadanya bahkan belum tumbuh. Masih sangat muda. Dilihat dari tinggi badannya, gadis ini tidak lebih dari tiga belas atau empat belas tahun. Rai bertaruh Bibi Besar belum datang mengunjunginya.
Di belakang, si hantu Clo tak berhenti mengumpat sementara Rai berlenggak-lenggok di depan hidungnya.
Ah. Rai lupa mereka sedang dalam percakapan serius.
Karena suasana hatinya sedang bagus, bolehlah memberinya kesempatan. "Akan kupikirkan," katanya pada Clo tanpa repot-repot berbalik.
"Bagus!" Si hantu berseru gembira. "Aku pasti memberimu banyak imbalan! Aku tak sabar ingin segera menghajar bedebah itu! Ngomong-ngomong, berhentilah mempermalukan dirimu sendiri."
"Hm?"
Clo melihatnya jijik. "Kamu terlihat bodoh!"
"Apa yang kamu bicarakan?" Rai tidak peduli, memindai tubuh barunya lagi dan lagi. Satu tangannya meraba dadanya sendiri, yang lain menarik pakaian bawahnya sedikit, mengintip untuk memastikan sesuatu.
Kemudian seseorang masuk.
Ternyata seorang perempuan. Tinggi, ramping, dan cantik. Usianya sekitar dua puluhan. Kulit putih. Dia mengenakan pakaian panjang longgar berwarna biru. Rambutnya yang dikepang mengintip dibalik ikat kepala yang menjuntai panjang. Beda dengan pakaiannya yang polos, ikat kepala ini yang lebarnya berukuran tiga jari orang dewasa, disulam dengan benang hijau membentuk daun semanggi empat kelopak. Matanya biru dan jernih. Sayangnya, ekspresi yang ditunjukkannya membosankan dan suram, seolah-olah dunia tidak menarik di matanya. Melihat Rai berdiri dengan pose konyol, dia hanya mengangkat sebelah alisnya yang cantik.
“Anda bangun.” Suaranya datar dan stabil, tidak tampak terkejut. Justru terdengar puas, seolah-olah dia telah memprediksi sebelumnya. “Bagaimana keadaanmu, Yang Mul--”
Saking terkejutnya Rai tidak mendengarkan, tetapi berlari merenggut pintu tenda dan menyibaknya dengan kasar. Rai tidak takut pada orang asing, apalagi yang cantik, tetapi telinga runcing gadis itu mengingatkannya akan sesuatu. Rai merasa jantungnya merosot ke perut saat melihat pemandangan di luar. Bahkan sebelum orang-orang melihat kehadirannya, dia lebih dulu berteriak.
Tidak diragukan lagi, dia berada di dunia yang hanya didengarnya dalam dongeng. Shade telah memberi tahu sebelumnya, tetapi melihatnya secara nyata, tetap saja membuatnya syok!
Apa yang dilihatnya adalah sekumpulan peri yang cantik. Kulitnya pucat, telinganya runcing. Mereka menjulang tinggi sekali. Api unggun berkelip di malam hari, menghiasi perkemahan seperti sekoloni jamur. Hutan yang mengelilingi mereka disesaki pepohonan tinggi besar yang rimbun dan semak-semak setinggi pinggang.
Dengung percakapan tiba-tiba mati. Pasukan Xi menoleh dengan terkejut.
Gadis kecil itu mendongak menatap langit malam. Wajahnya lembut dengan pipi kemerahan dan bulu mata tebal. Matanya yang besar dan berkaca-kaca, memantulkan cahaya obor seperti sinar matahari yang menerobos danau jernih di pagi hari, berkilau dan cerah. Pakaiannya agak kebesaran. Itu milik Fae. Meski kelihatan kurang pantas karena pakaiannya berbahan kasar dan kusam, masih lebih baik dari pakaian basah dan kotor. Kecantikannya tidak berkurang. Mirip boneka porselen. Mereka agak tertekan karena keindahan halus seperti itu berada di kemah mereka yang sarat akan bau karat besi bersimbah darah.
Seolah-olah keheningan sesaat itu hanya ilusi, detik selanjutnya perkemahan menjadi gempar!
Setiap orang bersorak gembira, mengangkat tinju ke udara. Tampaknya tidak ada yang menyadari meja-meja yang menampung hidangan makan malam doyong tertekan dari semua sisi, kursi-kursi terhempas, dan cangkir-cangkir menumpahkan isinya. Mereka dengan serentak berdiri menghadap gadis kecil itu. Kegembiraan dan rasa lega terpancar di wajah setiap orang.
Rai berdiri di sana dengan linglung.
Seseorang terjerembap dan mengumpat. “Sialan, Bard! Jangan mendorongku!”
“Tapi kamu terlalu dekat, Xan!”
“Aku kaptennya!”
“Mundurlah sedikit!”
“Aku hanya ingin melihatnya sebentar!”
“Tapi nanti kamu membuatnya takut!”
Tepat ketika Xan menoleh ke pintu masuk tenda, dia mendapat tinju dari gadis kecil yang terabaikan kehadirannya. “Berisik!” Perawakannya mungkin mungil, tetapi dia adalah remaja tanggung berusia seratus tujuh belas atau delapan belas tahun. Di sampingnya, si gadis cantik menghardik juga.
Xan menekan hidungnya sambil menyeringai bodoh. “Dasar kau, Fae! Kami hanya ingin memastikannya baik-baik saja. Benar, teman-teman?” Sayangnya, keributan mereda hampir seketika. Mereka telah berbaris rapi dalam posisi siap. Rupanya mereka lebih takut pada dua gadis cantik dibandingkan kapten mereka sendiri. Xan merasa dikhianati.
"Yang Mulia Putri, apakah ada sesuatu yang salah? Kenapa Anda berteriak?” gadis bernama Fae bertanya panik. Suaranya sopan dan lembut, seolah-olah takut bila dia meninggikan suaranya gadis kecil itu akan menangis, sama sekali berbeda dengan sikapnya tadi saat membentak pemuda bernama Xan sebelumnya.
Yang Mulia Putri?
Rai terintimidasi perbedaan tinggi badan di antara mereka dan melewatkan panggilan hormat itu. Lupakan para lelaki yang sedang berpura-pura fokus pada barisan, mereka sudah jelas sangat tinggi. Kenapa dibandingkan gadis ini, Rai masih harus mendongak ketika melihatnya berbicara? Apakah kakinya begitu sangat pendek?
“Jangan-jangan lukanya terbuka lagi?” seorang pria dengan dua gigi depan besar menyela ketakutan. “Lara! Cepat lihat, apakah Yang Mulia baik-baik saja?”
Rai menatapnya sebentar, memastikan kalau telinganya tidak berkhianat, lalu bertanya, “Kamu tahu aku?”
Yang ditanya terperangah. “T-tentu saja! Yang Mulia adalah Yang Mulia!”
Dilihat dari mana pun, tempat ini adalah tenda militer. Mereka adalah pasukan Peri. Entah bagaimana mereka menyebut bangsa mereka sendiri, Rai mengenalinya sebagai makhluk mitologi Elf! “Maksudku,” Rai mengedarkan pandangannya pada semua orang yang balas menatapnya penasaran. “Apakah kamu mengenalku? Siapa namaku?”
Sekumpulan orang memandang satu sama lain. Caranya berbicara membuat mereka tertegun, dan ketenangan di wajahnya tidak cocok untuk seseorang yang baru saja melewatkan masa kritis. Raut polos di wajah Rai tiba-tiba membuat Xan membelalak ngeri.
Mungkinkah Yang Mulia melupakan dirinya sendiri?
Dia berputar pada Lara, si gadis cantik, yang kelihatan terkejut juga. "Apakah lukanya membuatnya bingung?” Xan teringat luka mengerikan di sekujur tubuhnya kemarin, membuat semua orang ketakutan.
Di samping, Clo terperangah juga. "Kamu benar-benar tidak ingat?" Rai kelihatan bersungguh-sungguh. Padahal bukan tidak ingat, sejatinya baik identitas maupun dunia ini, Rai tidak tahu apa-apa. Seketika Clo kelihatan takjub. "Wah." Kemudian dia teringat sesuatu. "Hei, kita bahkan berbicara banyak! Apakah kamu tidak terkejut? Maksudku, kamu baru saja bangun dan tidak ingat apa-apa, lalu tiba-tiba kamu melihatku, melihatku! Kamu tidak takut? Bagaimana dengan kesepakatan kita? Kamu masih mau memikirkannya, kan?"
Rai hanya menggumam tak jelas sebagai jawaban. Fae mengajaknya duduk di meja paling dekat api unggun. Mangkuk-mangkuk yang tumpah telah diganti dengan yang baru. Teh hangat disediakan. Hidangan yang sempat ditinggalkan tetap tak tersentuh. Fae dan Lara duduk di sebelahnya, sebisa mungkin menjauhkan kaum lelaki yang berebut duduk di kursi terdekat.
Secara alami mereka penasaran. Orang yang mereka selamatkan dari pinggir sungai kemarin sore bukan orang asing, melainkan Yang Mulia Raina Dinescha, putri angkat penguasa Kerajaan Alfar! Menurut berita yang beredar, Putri Raina telah menghilang saat pembacaan doa di Kuil Labda sebulan lalu. Kenapa tiba-tiba dia muncul di perbatasan Barat Laut? Lokasi tempatnya menghilang dan tempatnya ditemukan sangat jauh bersebrangan!
Melihat ketenangan Rai, Fae segera merasa ada sesuatu yang salah. Luka di sekujur tubuhnya sangat serius, nyaris merenggut nyawanya. Bahkan orang terkuat sekalipun akan kepayahan, apalagi untuk seorang gadis yang dimanjakan. Ekspresi di wajah Rai memberi tahu mereka seolah-olah tragedi mengerikan itu tidak berhubungan dengannya sama sekali. Yang mana sangat aneh. Tampaknya, kepalanya terluka sangat parah sehingga membuatnya lupa. Fae memutuskan menceritakan beberapa hal penting.
"Yang Mulia Putri bernama Raina Dinescha."
Kisahnya dimulai seratus lima puluh tahun yang lalu.
Raina kecil ditemukan di suatu pagi di ujung paling Timur ibu kota, mengambang dalam sebuah keranjang rotan di sungai Eiter yang meluap ganas. Ratu Aimee, yang telah lama mendambakan anak perempuan mengadopsinya hari itu juga.
Pikirnya, anak gadis sangat menyenangkan. Teman dekatnya sering bercerita betapa manisnya mereka dengan pita dan gaun. Sang Ratu pun membayangkan memiliki anak perempuan dimana dia dan putrinya menghabiskan waktu bersama, mengepang rambutnya yang panjang, mengobrol sambil menghirup teh, dan tentu saja mengajarinya menjadi cantik. Betapa menyenangkan!
Kedua anak sang Ratu laki-laki: Ace dan Aezar. Ace sibuk mengurus perbatasan Barat, hampir tak pernah pulang. Aezar asyik berlatih dengan gurunya dan suaminya sendiri menghabiskan waktu di pengadilan. Sang Ratu kesepian dan menggabiskan waktu di kuil Labda setiap akhir pekan untuk berdoa. Letaknya di kedalaman hutan pinus yang menjorok ke sungai Eiter di Timur. Pemandangan di sana sangat indah; gunung-gunung tinggi menjulang, awan-awan seperti kapas raksasa bergerak tenang, air sungai jernih dan berkilau, binatang liar dan kelinci gemuk menyibukkan diri di balik rumput yang dipermainkan angin. Udara bersih.
Seperti itu keadaannya ketika Ratu Aimee menemukan Raina, bayi paling merah di dunia, tertidur dalam keranjang rotan. Saking girangnya, Ratu menangis, membangunkan bayi perempuan yang dinamainya Raina Dinescha. Hujan yang hangat turun kala itu.
Sejak Raina ditemukan, Sang Ratu semakin rajin berdoa di kuil Labda. Hari itu Ratu Aimee datang di akhir bulan seperti kebiasaan sebelumnya, mengajak Raina yang sepekan lagi bertambah usianya. Di perjalanan, sebuah kelompok misterius menghadang, mengincar Putri Kecilnya, dan menculiknya.
Fae menceritakan latar belakangnya dengan sabar. Terlepas bagian mana yang tidak diingat Rai, dia menceritakan semua hal yang diketahuinya. Dalam duduknya Rai menyerap informasi dengan agak tertekan. Waktu di dunia ini berputar sangat cepat. Umurnya seratus lima puluh, tetapi dadanya belum tumbuh dan dia sangat pendek!
Dia tidak tahu, bagi Alfar yang berumur panjang, usianya dianggap masih bayi!
Kaum lelaki membagi perhatian antara Fae yang serius bercerita dengan Rai yang mendengarkan dengan ekspresi datar. Orang paling bodoh pun tahu kalau dia tidak mengenali nama-nama yang disebutkan.
Clo berkomentar dengan kejam, "Jadi, kamu anak pungut."
"Yang Mulia sungguh tidak ingat apa-apa?” pria dengan dua gigi depan besar kelihatan takjub. Adakalanya ketika seseorang melupakan sesuatu atau sesorang, tetapi melupakan namanya sendiri jelas membuat isi kepalanya agak bengkok. “Bagaimana dengan ... eh, ini?” Yang ditunjuknya adalah sepotong roti kering.
Xan mendorong kepalanya. “Sialan kau, Bard! Yang Mulia bukan orang bodoh!” lalu mengeluh, “Aduh! Kenapa kamu memukulku, Fae?”
Fae mendengus. “Bicara yang sopan!”
Dengan tidak berdaya Rai berkata, “Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku.”
Mereka terperangah. Menurut rumor, Yang Mulia Putri adalah orang yang galak, tidak sabaran dan pemarah! Kenapa terlihat berbeda sekarang?
__ADS_1
"Yang Mulia, kami tidak melakukan apa-apa. Seharusnya kami yang mengucapkan terima kasih karena Yang Mulia telah kembali dengan sehat dan utuh. Kami patut bersyukur!” yang berbicara adalah seorang pria paruh baya berwajah letih. Rambutnya di potong pendek menyerupai batok kelapa. Meskipun tampak lelah, matanya bersinar dengan kelegaan seolah beban yang dipikulnya selama bertahun-tahun menghilang dari pundaknya dalam kesejap.
Melihat ketulusan di matanya, Rai merasa sedih. Seandainya mereka tahu kalau dia bukanlah Raina yang sama ....
“Anda benar, Pak. Yang Mulia Raja dan Ratu pasti lega sekarang,” Luca, seorang pemuda dengan luka di pelipisnya, menyahut. “Sesuai intruksi, kami telah mengutus seseorang ke Benteng Utama untuk menyampaikan informasi ini. Kalau beruntung, mereka akan kembali dalam dua hari.”
Laporannya membuat Rai tertegun.
Pada kehidupan sebelumnya, orang tuanya sudah meninggal. Temannya hanya dua, dan mereka tewas dalam pembantaian di Kebun Raya. Tetangganya membencinya dan orang-orang menganggapnya penyihir. Rai tidak siap mengalami perubahan secepat ini.
Xan menampar meja dan tertawa terbahak-bahak. "Bukankah dia sedang di Benteng Wetn saat ini? Pasti dia sedang mengebut dengan kuda besarnya sekarang! Aku bertaruh akan sampai besok pagi! Pastilah dia terkencing-kencing karena terkejut! Apa? Kenapa kalian melihatku begitu? Bukankah kalian juga ingin melihat wajah panik itu sekarang?”
Mereka ketakutan setiap kali Xan memanggil Pangeran Aezar tanpa gelar kehormatannya, walau keduanya memang teman yang akrab.
Ketika adik perempuannya menghilang, sensasi besar meledak di ibu kota, bahkan mencapai seluruh dataran Greenland: Pangeran Aezar menyebar sayembara dan hampir seluruh pasukan di Paradis dikerahkan. Tentara-tentara yang sedang cuti pun diseret dari tempat tidur mereka. Jendral Balin bahkan menyewa orang-orang. Pasukan Xi yang bertugas di perbatasan bekerja dua kali lipat dari biasa. Pekerjaan mereka bertambah. Malam-malam dilalui tanpa tidur. Dalam waktu sebulan, pasukannya kewalahan. Selain menenangkan mereka, Xan tidak dapat berbuat apa-apa karena dia sendiri hampir putus asa.
Hanya Pangeran Ace yang tidak tersentuh. Kabar burung mengatakan, dia sangat dingin. Bahkan tidak peduli soal hidup dan mati adik perempuannya. Orang-orang berspekulasi bahwa dia membenci Raina.
Kemunculan Rai di tepi sungai sore itu mengejutkan seluruh pasukan Xi.
Seseorang yang menghilang tanpa jejak, tidak peduli bagaimana orang-orang mencarinya, tetap tidak membuahkan hasil. Keluarga Kerajaan kehilangan harapan. Siapa tahu ketika Fae dan Lara hendak mandi di sungai, tiba-tiba Rai muncul dengan sendirinya. Walaupun ditemukan tak sadarkan diri menyangkut di cabang pohon yang hanyut, mereka bersyukur dia masih hidup. Setelah tertekan selama sebulan, detak jantung Rai adalah masa depan mereka! Ketika mereka berdua membawanya ke kemah, semua orang terkejut sampai giginya rontok.
Selama rentang waktu Rai ditemukan sampai dia bangun malam ini, Lara dan Fae kewalahan menjaga tendanya tetap utuh.
Bard melihat Rai dengan pandangan memuja. “Syukurlah Yang Mulia baik-baik saja. Kalau kami menemukanmu sedikit lebih lambat, aku pasti sudah mati sekarang!”
Yang lain menyuarakan kesepakatan.
Fae mendengus lagi. “Bicara yang sopan, Bard!”
Rai tidak mungkin memberitahu kebenarannya, jadi dia menyembunyikan rasa bersalah dengan ikut tertawa.
“Tapi aku penasaran,” Bard tidak bisa dihentikan. “Siapa sih yang berani-beraninya menculik Yang Mulia? Sebulan adalah waktu yang panjang. Bagaimana keparat itu bisa lolos tanpa terendus?"
Secara alami mereka memandang Rai, lalu segera ingat kalau sang Putri tidak mengingat apa pun. Mereka berpaling dengan canggung dan memberi Bard tatapan membunuh. Bard menyadari kesalahannya dan tertawa tanpa humor.
Clo menyahut, "Benar juga, apa yang penyihir inginkan darimu? Beberapa kali aku mendengar mereka menyebutkan soal buku atau sesuatu."
Setelah terpisah dari wujud fisiknya, jiwa Clo berkelana cukup lama mencari bantuan tanpa lelah. Keyakinannya mengatakan, jika orang itu bisa memaksanya pergi, maka seharusnya ada seseorang yang dapat membawanya kembali. Untuk permulaan, dia harus mencari siapapun yang dapat melihatnya. Selama dendam di hatinya belum terbalas, Clo tidak akan menyerah. Jadi, dia mengikuti kelompok penyihir tertentu ke mana pun mereka bergerak, mendengarkan ambisi dan rencana-rencana jahat yang mereka bicarakan secara rahasia. Rencana penculikan Raina tidak luput dari pengamatannya dan merasa malang untuknya.
Secara tak terduga, Raina meledakkan penjara bawah tanah dan menghancurkan mantra pengikat setelah sebulan dikurung. Selama orang-orang itu menyembunyikannya di desa-desa terpencil, Clo tidak melihatnya secara istimewa, tetapi malam itu lain. Raina meloloskan diri dari bawah hidung penculiknya dengan mudah, bahkan dengan mata tertutup! Dia bahkan mengumpat dari waktu ke waktu saat Clo berkomentar mengenai keadaannya yang menyedihkan. Pada saat itu, Clo mendapat pencerahan! Gadis ini bukan sekedar mengumpat, tetapi menjawab setiap komentarnya dengan pedas! Artinya, gadis ini mendengarnya. Gadis ini mengakui keberadaannya!
Clo dilingkupi ekstasi. Sayang, saat kabur Raina terjerembab jatuh ke sungai dan hanyut sampai pasukan Xi menemukannya. Beruntung, dia bertahan hidup.
Clo tidak tahu kalau jiwa Rai mengambil alih tubuh Raina saat itu, yang tewas dalam kurungan. Shade terpaksa mengendalikannya untuk Rai yang masih belum sadar dan sengaja membiarkannya terjerembab karena sungai menjadi rute tercepat menuju pasukan Xi. Rai sendiri tidak tahu kejadiannya, ingatan pertamanya adalah tenda bundar tempat dimana dia terbangun pertama kali.
Diingatkan, Rai mengulang cerita Eins dalam benaknya. Kalau Clo tidak salah dengar, maka kemungkinan mereka menginginkan Kitab Es dari gadis ini. Yang mana membuatnya terkejut. Apakah dia tahu sesuatu?
“Lupakan saja untuk saat ini.” Xan menyelamatkan mereka dengan mengulurkan semangkuk teh. “Sekarang yang paling penting Yang Mulia kembali! Lara, terima kasih, obatmu memang mujarab!” dia tertawa terbahak-bahak. Tawanya yang keras dan bebas menular pada pasukannya. “Yang Mulia, mari bersulang!”
Seandainya itu arak, Xan pasti telah ditendang oleh Fae karena mengajak anak di bawah umur minum anggur.
Bard menyalak, “Bersulang pantatmu! Tidak ada anggur!
“Jangan merusak suasana, Bard, anggap saja begitu!” Xan balas berteriak. “Ayo, ayo, angkat mangkuk kalian teman-teman! Yang Mulia telah kembali dan malam tanpa tidur telah berakhir, hahaha! Bersulang!”
Baltroz, pria paruh baya sekaligus wakil kapten, dengan patuh mengangkat mangkuknya. “Bersulang!”
Yang lain mengikuti, “Bersulang!”
Bahkan Lara yang tidak banyak bicara bergabung. Fae sempat mendelik pada Bard yang tidak dapat menjaga mulutnya dari kata-kata kasar sebelum membenturkan mangkuk teh bersama-sama. “Bersulang!”
“Seandainya saja kita punya anggur,” Bard mengeluh sebelum menghirup tehnya.
Karena tidak tahan, Fae menghardik dari samping. “Kita masih dalam tugas, Bodoh! Bagaimana kalau musuh tiba-tiba datang dan menyerang? Tunggu hari libur dan kamu bisa mabuk sepuasnya!”
“Nah. Kamu mengumpat,” Xan berkomentar.
Fae melotot padanya. “Bukan salahku!” Tanpa daya Bard mengalah dan meminta maaf dengan sedih. Semua orang tidak terganggu seolah-olah telah terbiasa. Xan hanya melengos dengan malas. Wanita selalu benar.
Makan malam tertunda. Walaupun hidangan telah menjadi dingin, tidak ada yang keberatan. Semua orang bersantap dengan gembira. Tidak ada hidangan mewah di semua meja. Hanya sup jamur encer, acar sayuran yang layu dan roti kering. Tidak ada ikan dan daging. Meski begitu mereka kelihatan menikmati setiap gigitan seolah-olah mengunyah makanan paling enak di dunia. Rai mendapat perlakuan istimewa dengan mendapatkan porsi paling banyak, bagian paling bagus, serta mangkuk paling bersih. Bahkan dalam kehidupan sebelumnya, Rai belum pernah terharu sampai ingin menangis. Mereka benar-benar orang baik.
Bukan obat yang menyembuhkannya.
Hari itu, nyawa sang Putri di ambang kematian. Lara tidak percaya diri dengan obat rahasia keluarganya yang terkenal itu. Siapa sangka sang Putri menyembuhkan dirinya sendiri secara ajaib, menepis rumor jahat yang mengatakan bahwa Putri Raina tidak berbakat dalam sihir mana pun, apalagi sihir penyembuhan. Namun, tampaknya bakatnya sama garangnya dengan temperamennya yang dikabarkan meledak-ledak itu.
Tiba-tiba suara mendesing meluncur dari kegelapan. Satu, dua, tiga ... Lara melompat seraya melemparkan mangkuk terbang menabrak sebuah anak panah yang jatuh menancap di tiang bendera. Dia bersalto dan menendang sisanya sampai patah menjadi dua. Pecahan tembikar terdengar nyaring dalam riuh rendah obrolan ringan di kemah itu. Lara berseru, “Sergapan!”
Yang lain telah siap dengan senjata di tangan. Xan memberi perintah, “Lindungi Yang Mulia!”
Rai merasakan serangan itu datang dari jauh, tetapi memilih bertahan di kursi. Biarkan orang dewasa yang mengurus ini, pikirnya, masih kewalahan mencerna perubahan drastis hidupnya sendiri. Pasukan Xi bukan sekumpulan orang lemah. Untuk sementara Rai ingin menghayati perannya sebagai Nona Muda yang manis dan polos. Serangan ini hanya masalah sepele. Kalau tidak, mana mungkin Shade masih mendengkur dengan nyaman? Mereka terikat satu sama lain. Kalau dia mati, maka Shade pun mati.
“Dasar licik.” Shade mendengus. Rai mengabaikannya dan menghirup teh.
Setelah yakin barikade tiga lapis tentara menenggelamkan Rai dalam perlindungan, Xan melesat maju memimpin pasukan yang berbaris rapi siap bertempur. Lara memiliki kelompoknya sendiri dan siaga di posisinya, tetapi hujan panah berhenti sampai di situ.
Malam pekat tanpa bulan. Walaupun Alfar memiliki penglihatan yang baik di malam hari, mereka terbatas. Panah itu mengandung tenaga dalam yang besar, jelas musuh tahu bahwa jarak adalah kelemahan mereka.
Tiba-tiba seseorang keluar dari kegelapan. Perawakannya tinggi dan besar. Terbalut jubah bulu hitam, dia tampak seperti hantu gunung. Xan tidak mengenalinya karena wajahnya tertutup topeng. Seluruh pasukan mencengkeram pedang lebih erat. Empat orang yang juga berjubah hitam mencelat di sebelahnya. Dua di antara mereka menarik anak panah dari kantong di punggungnya dan memainkan belati yang mengilat di bawah temaram cahaya obor.
“Tahan,” si hantu gunung berseru dengan suara teredam yang terdengar seperti gemuruh longsor. Si pembawa panah dan si pemegang belati mundur dengan patuh. Dia lantas membuka topengnya. Wajah yang terungkap enak dipandang. Alisnya tampan, rahangnya kokoh, dan matanya yang panjang agak sempit. Auranya mendominasi, memudahkan orang-orang tunduk padanya. Tetapi bahkan penampilannya yang menarik, tidak menyurutkan kemarahan pasukan Xi.
“Lazarz!” Xan tidak repot-repot memanggilnya dengan gelar kehormatannya. Baginya, Reiga Lazarz hanya berarti masalah. Dia membenci orang ini. “Itukah kalian yang menyerang kami?”
Reiga Lazarz tidak mengelak, malah memberinya tatapan merendahkan. “Pada saat seperti ini kau masih punya waktu untuk mengobrol, aku tidak akan heran jika kalian mati tanpa tahu siapa musuhmu.”
“Itu tidak akan pernah terjadi!”
“Kuharap begitu.”
"Tuan Marquis Muda,” Baltroz menyela. Reiga Lazarz bukan orang yang mudah ditangani, dan Xan tipe orang yang gampang mendidih saat diprovokasi. Terutama oleh orang jenis ini. Kalau dibiarkan, mereka akan berdebat sampai mati. “Apakah ada sesuatu yang Anda perlukan di tempat kami?”
Apa yang dia inginkan di perbatasan Barat Laut? Jangan mengira karena pasukannya ditarik dari medan tempur, mereka seenaknya menjajah wilayah orang lain.
Xan masih menyimpan dendam. “Yang pasti bukan pesan dari Jendral Harding.” Melirik empat orang yang kelihatan asing, dia mengejek. “Orang baru?”
Bukan tanpa alasan pasukannya ditarik dari peredaran. Ini terkait insiden pembantaian warga sipil di desa kecil di Timur Laut ibu kota. Semua orang di desa itu tewas dengan tubuh kering kerontang tanpa darah dan daging. Mayat-mayat tergeletak ditinggalkan dengan kondisi tulang berlapis kulit. Sialnya, kelompok kecil milik Reiga Lazarz sedang berpatroli di daerah yang sama, tetapi tidak menyadari tanda-tanda bahaya. Jendral Harding marah besar dan menghukumnya dengan menarik pasukannya sampai masalah selesai.
Reiga Lazarz bukan orang bodoh. Dia tahu pasukannya menjadi yang teratas dari daftar orang yang patut dicurigai. Sebagai Komandan, dia tidak luput dari pemeriksaan. Sayangnya, sampai sekarang masalah itu masih menjadi misteri dan Lazarz menghabiskan masa pengasingan dengan menjelajahi setiap sudut kota dan desa-desa terpencil.
Xan menyinggung titik sakitnya.
"Bukan urusanmu!” Reiga Lazarz mencoba menekan kemarahan dengan mengabaikannya dan mengedarkan pandangan. Pasukan Xi masih menggenggam senjata dengan erat, siapa tahu dia menyerang tiba-tiba. Bagaimanapun Lazarz bukan orang yang gampang ditebak.
Xan berkata tanpa berpikir, "Siapapun yang kaucari, tidak ada di tempatku.” Hanya dalam sebulan, Reiga Lazarz telah banyak meringkus orang-orang yang dicurigainya sebagai pelaku pembantaian, tidak peduli kalau dia menangkap orang yang salah, mereka tidak pernah keluar hidup-hidup. Sampai bersusah payah melibatkan diri di jalanan larut malam, tidak salah lagi berhubungan dengan hal ini.
“Bagaimana kamu tahu? Dari tiga ribu orang?” Reiga balas mengejek.
Pasukan Xi disibukkan dengan pembangunan benteng baru ketika insiden itu terjadi. Bahkan sampai sekarang, proyek itu belum selesai. Walaupun ceroboh, Xan akan tahu kalau seseorang menghilang.
Pada saat itu suara manis kekanakan melayang di udara. “Kakak, siapa mereka?” Sejak kemunculannya, perhatian Rai terpusat pada satu orang yang berdiri di belakang. Dia tidak punya tubuh kekar, cenderung kurus, kentara dari jari-jari pucat ramping yang memegang seruling bambu. Tingginya hanya rata-rata. Orang lain tidak akan menyadari kehadirannya tanpa melirik dua kali. Di antara mereka, auranya paling lemah. Hampir seolah-olah dia tidak ada.
Namun, di mata Rai, dialah yang paling kuat.
Kelompok kecil itu terkejut. Ada anak kecil di sini? Lazarz menelisik kerumunan dengan matanya yang tajam. Saat menemukan seorang gadis kecil duduk nyaman di samping gadis lain yang kelihatan tegang, alisnya berkedut. Tempat ini bukan tempat untuk anak-anak bermain! Saat mengenali wajah lugu yang menghirup teh tanpa rasa bersalah, pikirannya agak tersesat. Pertama bingung, lalu terkejut. “Kamu .... kamu!”
"Dimana sopan santunmu!" Fae membentak.
Reiga Lazarz menyadari kesalahannya. Walaupun anak angkat, gadis kecil itu masih Keluarga Kerajaan. "Yang Mulia," katanya meralat. Kejutan ini terlalu besar. Bukankah dia dikabarkan menghilang? Mengapa tiba-tiba berada di barak pasukan Xi? "Apa yang sedang Anda lakukan di tempat ini?”
Rai menjawab polos, “Minum teh. Paman mau bergabung?”
Jawabannya seperti olok-olok yang mengaduk empedu di hatinya. Selama masalah ini belum tuntas, bagaimana mungkin dia punya waktu untuk minum teh?
Sebenarnya Lazarz agak terkejut karena bocah itu kelihatan patuh dan tenang. Sepanjang ingatannya, Raina adalah bocah yang berisik, tak sabaran, dan galak. Selain hobi melarikan diri dari istana dan berkeliaran di jalanan, dia tidak pernah tertarik urusan lain. Sejak kapan mulutnya menjadi begitu licin?
“Begitukah caramu melihat Yang Mulia? Sungguh tak sopan! Kalau Anda tidak punya kepentingan lain, silakan angkat kaki! Jangan cemas soal pasukan Xi, kami tidak akan berakhir seperti pasukanmu!” Fae berdiri dengan marah.
Reiga Lazarz mengamati Raina dengan ganas secara tak sadar, ketika Fae berteriak di wajahnya, dia menolak dipermalukan. “Sialan! Jangan pernah berani membandingkan pasukanku dengan milikmu! Ingat, masalah ini masih jauh dari selesai. Siapa tahu pasukanmu sasaran berikutnya!”
__ADS_1
“Jaga mulutmu!” Xan menerjang meraih kerah jubahnya. “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Siapapun itu, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh teman-temanku!”
Lazarz lebih tinggi dari Xan. Karena serangan tiba-tiba itu, lehernya sakit karena harus menunduk. Xan terhuyung mundur saat Lazarz mendorongnya. “Teman?” dia terkekeh. “Ternyata kamu masih bocah naif.” Tanpa memedulikan seruan marah Xan, dia memberi isyarat pada pengikutnya. Tanpa kata mereka bergerak secara terpisah.
Xan tahu apa yang hendak mereka lakukan. “Jangan pernah berpikir kalau aku akan membiarkan kalian menggeledah tempat kami!”
Setiap tempat yang disentuh Lazarz tidak pernah kembali dengan utuh. Baltroz mencoba memberi solusi, "Tuan Marquis Muda, mari kita bicarakan baik-baik.”
Namun, Lara tidak sudi. Tanpa peringatan, dia mencelat menghadang si pemegang belati dan memberinya tendangan. Pria itu mengelak dengan mudah. Pedang dan belati berbenturan, mengeluarkan kilat putih yang tampak seperti petir. Bunyi gesekannya menyakiti telinga. Mata Lara yang cantik dipenuhi aura membunuh. "Maju satu langkah lagi, kupotong lehermu!”
Menurut berita yang beredar, pasukan Xi mempunyai seorang Letnan wanita yang, selain cantik, dia juga seorang ahli pedang. Tampaknya berita itu benar. Si pemegang belati, yang kelihatan bosan semenjak dia datang, terpukau dengan ketangkasan Lara. Jarang sekali dia bertemu lawan yang tangguh. Semangatnya tersulut. “Tidak akan,” dia menyeringai. Lara menyerang dengan pedangnya. Sementara yang satu menyerang, yang lainnya bertahan dan kadang-kadang menyerang dengan main-main. Setelah beberapa gerakan seimbang, dia bicara lagi, “Aku tidak mau melukai gadis cantik. Mau jadi kekasihku?”
Reiga Lazarz mendengus. “Lihat, sepertinya anak buahmu tidak setuju. Siapa yang butuh bicara sekarang?”
Xan mengertakkan gigi.
Tahu bahwa bentrokan tidak dapat dihindari, pasukan Xi segera siaga. Luca berhadapan dengan si pemegang panah. Baltroz menghalau seorang pria yang kelihatan seperti monster gunung dengan otot-otot yang besar. Si pemain seruling tidak bergerak setelah dihentikan oleh Ye bersaudara. Lalu tiba-tiba udara malam menjadi lebih dingin.
Shade terbangun dalam benaknya. Alih-alih murka karena tidurnya terganggu, dia malah menyeringai. Rai tahu ini pertanda buruk.
Sisa teh di mangkuk mengeras menjadi es. Selain Rai, tidak ada yang memperhatikannya. Fae sibuk mengamati situasi, merasa kesal karena kedatangan Reiga Lazarz mengacaukan malam mereka. Proyek pembangunan benteng masih jauh dari selesai. Kasus menghilangnya Raina membuat pekerjaan mereka tertunda. Sialnya, ketika akhirnya ada waktu untuk membahas agenda untuk besok, penganggu datang tak terduga. Betapa menjengkelkan!
"Dingin," kata Rai, memberi peringatan.
Orang-orang yang membentuk barikade mendengar keluhannya dan segera sadar bahwa mereka juga kedinginan. Padahal mereka berada paling dekat dengan api. Fae segera menyadari ada sesuatu yang salah. Lara dan si pemegang belati masih baku hantam. Yang lain tenggelam dalam permainan mereka yang indah, tampak tidak menyadari perubahan situasinya. Sebelum dia sempat memberi peringatan, jarum-jarum es bergemuruh datang dari langit.
Serangan mendadak itu mengejutkan semua orang. Kelompok Reiga dan Xan yang sebelumnya bersitegang tiba-tiba mendapati diri mereka berdiri dengan punggung menempel satu sama lain, menghalau serangan yang datang seraya mendukung pergerakan orang di belakangnya. Fae melucuti jubah kulitnya dan menyampirkannya di pundak Rai yang sempit, lalu menyambar tameng di samping dan menggunakannya sebagai pelindung. Tiga lapis barikade tidak berdaya menahan ribuan jarum es yang meluncur cepat seperti hujan.
Meski tidak tampak melakukan apa pun, dalam perlindungan yang bocor itu Rai memusatkan perhatian pada sesuatu. Sambil menggerutu, Shade bergerak setelah diminta karena energi yang dipancarkan jarum es menarik perhatiannya. Rai juga mengendus bau belerang di udara. Dari Shade, Rai tahu aroma ini hanya dimiliki penyihir.
“Dimana mereka?" gumam Rai mendesak. Nampaknya, jarum-jarum ini dikendalikan oleh penyihir. Seharusnya mereka berada di suatu tempat di sekitar sini.
Shade mendengus jijik. Ada saatnya ketika dia ingin mengunyah bocah ini sampai mati. Shade benci diperintah, apalagi diremehkan. Bocah ini, pikirnya, sudah bagus aku bergerak, masih juga tak sabar!
Dengan bayangan miliknya, Shade dapat mendeteksi semua hal dengan mudah. Entah yang hidup atau benda mati, dekat maupun jauh, selama hal itu memiliki bayangan, mereka berada di bawah kendalinya.
Rai mendengarnya menggerutu, tetapi akhirnya mendengar jawabannya.
Mereka berada di sisi Utara, di kedalaman hutan rimbun yang letaknya cukup jauh. Pantas tidak ada yang menyadari kehadirannya. Mereka ini adalah sekelompok mayat hidup, mengingatkan Rai pada si wajah hantu yang telah membunuh teman-temannya.
Rai merasakan kemarahan di dadanya melonjak. Kebetulan yang menyenangkan, pikirnya. Tidak perlu mencari dengan susah payah, musuh datang dengan sendirinya. Rai tak sabar ingin membalas kesakitannya, tak sudi menunggu lebih lama. Namun, Rai belum memahami medannya, atau mengenali alurnya. Walaupun satu nama telah ditandai di benaknya, siapa tahu masih lebih banyak lagi? Tidak mungkin orang itu bekerja sendirian! Rai ingin memberantas mereka sekaligus, sehingga harus bersabar sampai waktunya tiba. Pertama-tama, dia harus mengenali dulu musuh-musuhnya dan memahami alurnya.
Untuk saat ini, kelompok kecil yang sejenis dengan si wajah hantu adalah mangsa pertamanya. Sayang kalau dilewatkan, siapa tahu Bos Besarnya akan datang berkunjung.
Xan mulai mengutuk, “Ada apa sih dengan jarum sialan ini?” Wajah dan tangannya penuh jejak luka gores. Jarum-jarum es itu sangat kecil. Dalam kegelapan malam, mereka terlihat seperti tirai-tirai sutra yang lembut. Dia menyerang dengan elemen angin melalui pedangnya, kadang-kadang menendang dengan kakinya. Angin yang dia ciptakan cukup besar,tetapi selalu saja ada jarum yang lolos, mereka seperti memiliki mata sendiri dan bergerak dengan bebas mengikuti kemana pun dirinya pergi.
Yang lain tidak jauh berbeda. Bard kewalahan karena serangan seperti ini tidak membiarkannya berpura-pura mati.
Si pemegang seruling menghindar dari kecamuk medan yang kacau, mencari tempat tinggi untuknya berpijak. Saat tidak menemukan batu atau permukaan tanah yang menonjol, dia berdiri di batang pohon mati yang digunakan pasukan Xi untuk duduk, lalu menempelkan seruling di mulutnya. Jari-jari kurus dan ramping bergerak lincah. Nada yang tenang dan karismatik mengalun. Itu adalah sihir pemanggil hujan.
Terkejut, Rai hampir terjatuh dari duduknya. Lagu yang dimainkannya tidak lain adalah lagu yang pernah diajarkan nenek Mae ketika usianya tujuh tahun! Dari mana dia mendapatkannya? Walaupun Rai melihat wajahnya sampai bosan, dia tidak mengenalinya sedikit pun. Siapa orang ini?
Suara seruling agak mengerikan karena seruling bambu itu tampak dibuat sembarangan, tetapi lagunya dimainkan dengan benar. Sayangnya, Rai merasakan jejak sihir yang berbeda. Orang ini jelas bukan orang sederhana. Kalau dilihat lebih cermat, meskipun Rai masih tidak mengenalinya, orang ini sangat jauh dari profil seorang peri seperti pasukan Xi. Sihirnya berbeda. Sihir yang digunakan Xan dan kawan-kawannya bersifat terang dan murni, tetapi dia tidak. Ada energi gelap dalam dirinya. Rai terkesiap karena energi jenis ini mengandung kebencian.
Shade mendecih, tetapi tidak mengatakan apa pun.
Hujan segera mengubah jarum-jarum es menjadi tetesan air. Lazarz mengenali kekuatan milik Keyn dengan baik, lalu menepis jarum-jarum yang tersisa dengan tenaga dalam yang memancar melalui kibasan jubahnya. Xan melotot karena terkena imbasnya, tetapi Reiga Lazarz tampak masa bodoh.
“Kamu sengaja, kan?”
“Itu karena kau terlalu lemah!”
“Kamu bilang apa?”
Mereka sudah akan berdebat lagi kalau Baltroz tidak menyela dengan serius, “Kapten, ini belum selesai.”
Tentu saja belum selesai. Keparat mana yang begitu pengecut menyerang mereka dari belakang?
Xan, “Pecundang inikah yang kaucari?”
Lazarz tidak yakin, tetapi tidak membantah juga. Warga desa diserang entah oleh siapa dan dengan kekuatan apa. Bisa jadi seseorang, atau bahkan kelompok. Dia maupun orang-orangnya tidak mengalaminya sendiri, jadi sulit untuk menentukan penyebabnya. Namun, dia yakin orang dibaliknya bukan orang sembarangan karena mampu menyedot energi banyak orang tanpa terdeteksi. Dia bahkan sulit membayangkan kekuatan macam apa yang digunakannya sampai begitu mengerikan. Orang yang menyerang mereka jelas punya tujuan membunuh. Dia curiga ini berkaitan. Setelah begitu lama mencari tanpa membuahkan hasil, Reiga Lazarz melihat secercah harapan, tetapi tiba-tiba merasa mengantuk.
Bard selalu tersentuh oleh aksi-aksi heroik. Dengan mata basah dia menghampiri Keyn yang menyelipkan seruling di ikat pinggangnya. “Terima kasih, Tuan Muda, terima kasih banyak! Anda benar-benar hebat! Terima kasih sudah menolongku.” Dia bersujud di tanah.
Di bawah lindungan tameng, Fae memandang cemas pada Rai, takut dia menderita. Bagaimana jika jarum es melukai kulitnya yang lembut dan meninggalkan bekas luka? Bagi orang-orang sepertinya yang menghabiskan usia di medan tempur, bekas luka adalah hal biasa, tetapi sang Putri lain cerita. Yang Mulia adalah orang mulia! Tubuhnya lebih berharga dari gunung emas! Jangan sampai Putri Kecil ini menderita karena kecerobohannya!
Beruntung setelah melihatnya dengan teliti, Rai tidak terluka sedikit pun. Namun, ada yang salah dengan matanya. Fae tercengang karena menduga sang Putri kelihatan takjub. Tidak mungkin medan tempur berdarah membuatnya takjub! Ketika Fae mengikuti tatapannya, jantungnya turun ke perut. Tentu saja bukan! Pastilah Yang Mulia ketakutan!
Satu per satu orang-orang mulai tumbang. Lazarz dan Xan, yang bertarung lebih banyak, adalah orang pertama yang jatuh. Bard, walaupun pengecut, tidak pernah tunduk selain kepada kekasihnya di kampung halaman. Yang lain menyusul dengan mata membelalak dan mulut masih terbuka lebar karena terkejut. Fae ketakutan. Pemandangan ini terlalu mengerikan untuk dilihat. Apa yang salah?
Lara terhuyung dari samping. Wajahnya pucat. “Jarumnya ... beracun!” itu yang mampu dikatakannya sebelum jatuh.
Fae menyambutnya dengan tubuh gemetar. Dia sendiri terluka. Bila benar jarum ini adalah sumber bencana, dia lega karena Yang Mulia selamat, tetapi juga takut. Siapa yang akan melindunginya? Tak berdaya, Fae menatap Rai dengan mata basah. Pandangannya buram. “Yang Mulia, maafkan aku,” dia menangis. Suaranya menghilang. Ilusi sebelum mati tampak begitu nyata, pikirnya, karena dia melihat sang Putri yang halus dan lembut menyeringai jahat pada satu titik di belakangnya.
-
Ada yang salah dengan bocah ini, pikir Keyn.
Seharusnya, dia gemetar ketakutan. Seharusnya, dia menangis. Seharusnya, dia jatuh tertidur. Seperti yang lain. Sehingga Keyn bisa menangkapnya dengan mudah seperti ketika mereka membawanya pergi dari bukit Labda kala itu.
Kenapa sihir ini tidak mempan padanya?
Kalau bukan demi benda itu, Keyn malas berurusan dengan bocah. Baginya, anak kecil sama bodohnya dengan keledai. Beri sesuatu yang manis, dan mereka akan mengikutimu seperti anjing.
Semua ini karena kecerobohan Mir. Padahal mereka sudah bersusah payah mengecoh selusin Laskar yang melindunginya.
Sang Ratu bukan main memanjakan anak gadisnya sampai tingkat yang membuatnya jijik. Kemana pun gadis kecil itu pergi, diikuti pengawalan ketat. Keyn tidak sudi bertahan lebih lama dalam kelompok si Komandan Muda yang menurutnya sok, jadi diam-diam dia menyelinap untuk memanggil hujan, membuat pengecoh di sebuah desa di bukit Paree, bagian Timur Laut wilayah Alfar. Sihir dalam lagunya menidurkan semua orang desa dalam sekejap sampai kelompoknya menangani sisanya. Sekutunya adalah kelompok mayat hidup yang haus energi kehidupan, dan Alfar mempunyai energi yang murni dan kuat. Mereka ketagihan.
Dia telah merencanakannya dengan matang. Letak kuil Labda berada tepat di sisi Timur, di kelilingi pegunungan dan perbukitan hijau yang rapat, rute sempurna untuk menyelinap tanpa resiko merepotkan. Kelompok Lazarz selalu haus pertarungan. Kebetulan mereka ditugaskan di sebuah pos yang letaknya cukup dekat dengan lokasi desa itu. Keyn menyelinap dari benteng dan memainkan serulingnya. Dia sering bermain untuk menghilangkan rasa bosan, sementara hujan adalah fenomena yang lumrah di Paradis. Jadi, tak seorang pun menghubungkan kedua hal ini.
Sesuai dugaan, kekacauan di desa memancing jiwa heroik Lazarz dan pasukannya. Dalam waktu singkat, rumor yang diam-diam dia ciptakan menyebar ke seluruh daratan seolah-olah menumbuhkan sayap. Bahkan Jendral Harding pun terkecoh.
Dengan penjagaan longgar di Benteng Kaler, dua kelompok pemburu andal menyusup masuk, menyelinap sepanjang hari dan malam hingga ke kuil Labda. Rutinitas sang Ratu telah lama diketahui, kehadiran Raina di tempat itu telah diramalkan. Mereka menyergap secara tiba-tiba, mengejutkan para Laskar dan pengawal istana.
Sayang sekali, Mir mengacaukan jerih payahnya dengan membiarkan dirinya merasa iba. Padahal dia telah berkali-kali mengingatkan bahwa kasih sayang adalah pedang bermata dua. Karena kasihan melihat tubuh kecil yang rapuh terikat terus-menerus, dia melepasnya. Hanya untuk malam ini, katanya. Sayangnya, besok pagi ketika dia membuka pintu kamar bobrok di pinggir desa, anak itu menghilang. Mereka pikir seseorang membebaskannya.
Ketika tahu anak kecil itu berada di barak pasukan Xi, Keyn terkejut. Mungkinkah mereka yang menyelamatkannya? Tidak mungkin! Keyn telah memastikan tempat itu tersembunyi dengan baik.
Bagaimanapun masalahnya berawal dari kecerobohan Mir, atau mungkin memang anak itu yang terlalu beruntung.
Keyn mengabaikan orang-orang di tanah dan beranjak menghampiri gadis kecil itu yang tampak lugu dengan pakaian kebesaran dan jubah kulit longgar. Pipinya memerah karena udara dingin. Rambutnya yang panjang jatuh di punggungnya yang sempit dan rapuh. Cahaya kuning obor memantulkan cahaya emas di sekelilingnya, membuatnya tampak mulia dan bermartabat. Keyn merasa heran. Bocah yang mereka tangkap kemarin adalah bocah paling berisik dan paling merepotkan. Tanpa aura yang menindas. Bocah ini berbeda. Dengan orang-orang tergeletak nyaris mati di kakinya, dia kelihatan tidak tersentuh. Anak biasa akan tahu sesuatu terlihat salah dan menangis karena takut. Dia bahkan tidak repot-repot menoleh pada tubuh lemas gadis tanggung yang telah mati-matian menyelamatkannya. Apa yang terjadi?
Masa bodoh, pikirnya. Mereka tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi fajar menyingsing. Keyn tidak mungkin membiarkan para mayat hidup terlihat oleh orang-orang. Di desa itu mereka beruntung, belum tentu dia mendapatkannya kali ini.
Dengan jarum perak tersembunyi di tangannya, Keyn mendekat diam-diam. Gadis kecil itu tidak bergeming, seolah-olah sedang menantikan sesuatu. Tiba-tiba firasat buruk melandanya. Hutan Supala berada di arah matanya memandang, tempat dimana para mayat hidup menunggu.
Keyn tidak tahu bahwa Rai telah melihat rahasianya. Bahkan Clo, yang mengoceh karena merasa pernah melihat Keyn bersama penyihir di suatu tempat, tidak menduga.
Jarum perak membentur tengkuknya yang putih bagai giok, tetapi patah menjadi dua. Keyn terkejut. “Apa katamu?” dia berharap telinganya berkhianat.
Tanpa repot-repot berbalik, Rai berkata dengan tenang, “Kamu berpura-pura menolong dengan memanggil hujan, tetapi sebenarnya kamu mendorong nyawa mereka untuk para mayat hidup. Kamu berpura-pura berada di pihak Lazarz, tetapi kemungkinan kamulah yang menuntunnya ke barak pasukan Xi untuk mati.” Kemudian dia menatapnya. Pandangan itu bukan berasal dari anak biasa. Keyn merinding, seolah-olah sesuatu menembus tengkoraknya. “Kubilang, usahamu sia-sia."
Tanpa alasan, Keyn gemetar. "Apa yang ...." jarum itu patah di tangannya. Gadis kecil yang mereka tangkap kemarin memang jagoan, tetapi tidak memiliki bakat sihir apa pun. Gadis ini bahkan hanya meliriknya dengan remeh, tetapi sudah membuatnya tidak dapat bergerak. Napasnya mendadak sesak. "Siapa kamu?" Dilihat dari sudut mana pun, gadis ini masih orang yang sama. Apa yang salah?
"Kamu sendiri siapa?" Rai balik bertanya. Enak saja dia menggunakan lagu yang dikenalnya untuk kejahatan. "Aku tidak mengizinkanmu memakai lagu itu lagi."
"A-apa?"
"Song of Forgotten Souls." Rai menembakkan pandangan tajam, Keyn seketika ambruk di tanah yang dingin. Orang ini mengendalikan mayat hidup, artinya dia punya hubungan khusus dengan pemilik mereka, atau bahkan penciptanya. Rai tidak tahu dimana harus menemukan Magadh, tetapi Shade mengenalinya sebagai Iblis. Mereka harus mencari informasi lebih banyak lagi. Orang ini mungkin berguna. Lagi pula, lagu yang dia mainkan mengusik perhatian Rai. Apa hubungannya dengan Eins? Mengapa orang ini malah menjadi pendukung mayat hidup, sementara Eins membelanya. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, tetapi mengenal lagu yang sama. Benang apa yang menjadi penghubungnya? "Dari mana kamu mendengarnya?"
Kali ini, bukan hanya tubuhnya yang kaku, jiwa Keyn seakan tercabut darinya. Apa yang dia katakan? Keyn melecut kepalanya memandang Rai yang berdiri dengan acuh. Bagaimana dia tahu lagu ini? Desa Kabut menciptakan lagu tersebut untuk mengenang jiwa-jiwa saudara mereka yang telah gugur. Hanya warga desa mereka yang mempelajarinya. Setelah pembantaian kaum Vier-gene dua ratus tahun silam, hanya dia yang tersisa yang mengetahui warisan ini. Baginya, lagu ini adalah harta paling berharga. Bocah ini mengatakannya dengan mudah seolah-olah sedang menyebutkan lagu pengantar tidurnya sendiri. Selain kemarahan, Keyn terkejut mendapati dirinya sendiri diliputi rasa ingin tahu. "Siapa kamu?"
Mungkinkah ada orang selamat dari pembantaian selain dia?
"Aku?" Rai menyeringai, memutus percakapan itu. Ada yang lebih penting untuk diurus. Mayat hidup harus segera dimusnahkan, atau mereka akan berkeliaran karena pemandunya telah dikalahkan. "Raina Dinescha."
Tiba-tiba sesuatu tak kasat mata membuat dunia Keyn menjadi gelap. Ketika tersadar, dia telah meringkuk di penjara air Kerajaan Alfar.
***
__ADS_1