RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)

RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)
ENAM


__ADS_3

Ketika melihat Rai, yang pertama kali dilakukan Aezar adalah memberinya tiga putaran penuh, memindai tubuhnya dengan teliti, takut melewatkan luka terkecil. Bahkan setelah memastikannya dalam keadaan utuh, dia masih bertanya, “Kamu baik-baik saja?"


Rai teringat pertemuan pertama mereka dan tidak tahan untuk memutar matanya. “Aku lapar!"


Jawabannya membuat Aezar mendengus. Dia berlalu dengan kesal, memeriksa lokasi terbakar bersama dua orang lain. Sayangnya, bagian yang rusak menumbuhkan pucuk-pucuk baru, menutupi jejak api. Aezar mendesah. "Siapa yang menurunkan hujan?" Hujan ini terlalu ajaib sampai begitu merepotkan. Jejak sihir menghilang.


Dia bertanya kepada ketiga Laskar itu, yang dengan patuh melaporkan kejadian secara rinci. Korban sedang ditangani oleh bagian medis. Cederanya sudah sepenuhnya sembuh, tetapi masih tidak sadarkan diri. Petugas membawanya untuk pemeriksaan lanjutan. Cessa, Kana, dan Frigga harus ikut juga, sementara Rai diwakili oleh Andee. Bagaimanapun mereka saksi. Karena perbatasan Utara berada dalam wewenang Jendral Harding, maka mereka akan pergi ke barak miliknya.


"Kamu bilang apa?" Aezar melotot, menakuti Cessa yang seketika bersimpuh di tanah.


"Maafkan hamba, Yang Mulia, tapi itulah kebenarannya."


Andee menjura. "Itu benar. Kami bertiga dan Nona dari Vanaheimr menjadi saksinya."


Kana membenarkan.


Aezar memandang adiknya, yang berdiri dengan tenang menonton sekelompok prajurit yang sedang mempersiapkan keberangkatan dengan kereta-kereta yang tersedia. Ini bukan pertama kalinya dia merasa ada yang salah dengan adiknya. Tepatnya, sejak di Barat Laut, ketika Rai menjatuhkan Keyn dan sekelompok mayat hidup sendirian.


Dia tidak secara pribadi melihatnya, tetapi Ace berada di sana ketika hal itu terjadi. Kalau bukan kakaknya, dia tidak akan percaya sedikitpun.


Penyerangan di Timur Laut yang menyebabkan semua warga desa Paree tewas dengan mengerikan, menjadi berita menggemparkan yang meresahkan Paradis. Semua orang tahu pelakunya masih berkeliaran di jalanan sehingga mereka gelisah dan ketakutan. Penduduk yang tinggal di sudut-sudut terpencil memilih pindah ke kota-kota besar, begitu pula mayoritas pekerja dan petani di beberapa daerah, sampai rela meninggalkan ladang dan lahan pertanian. Padahal daerah mereka adalah pemasok bahan pokok terbesar di Greenland. Perekonomian Paradis mendadak terkena imbasnya.


Ratu bersedih karena putri kesayangannya menghilang di bawah hidungnya, tetapi segera menyadari bahwa menangis berhari-hari tidak lantas membawanya kembali. Maka secara pribadi, dia meminta Aezar untuk memimpin penelusuran.


Raja Valazar tidak punya banyak pilihan. Paradis sedang terancam. Tragedi ini adalah peristiwa besar, sementara pelaku berhasil lolos tak terendus. Urusan satu ini belum diketahui ujung pangkalnya, tetapi masalah lain segera menyusul; Raina menghilang! Seolah-olah belum cukup, kabar lainnya datang dengan cepat: Paradis mengalami krisis ekonomi!


Raja kepayahan mendapat serangan bertubi-tubi. Hanya dalam satu malam, dia merasa menjadi lebih tua dari leluhurnya sendiri.


Walaupun nyaris seluruh tentara dikerahkan, si pelaku dan Raina tidak ditemukan, bahkan setelah satu bulan, seolah-olah mereka menghilang dalam udara tipis.


Aezar, yang putus asa, pergi ke Barat untuk meminta bantuan kakaknya. Walaupun Pangeran Ace telah menyerahkan komando pasukan Xi padanya, setelah begitu lama tidak ada hasil, Aezar tidak merasa cukup. Takut ada kesalahan dalam strateginya, dia ingin meminta nasihat langsung dari yang telah berpengalaman. Dari sekian banyak pemuka, kakaknya adalah nomor satu yang paling dia percaya.


Ketika sampai di Benteng Wetn, dia merana karena kakaknya tidak ada di tempat. Setelah nyaris gila menunggu satu hari satu malam tanpa makan dan tidur, dia menerima kabar mengejutkan: Raina ditemukan!


Aezar mengguncang si utusan pasukan Xi, Kit, sampai membuatnya hampir mati karena mengulang pesan yang sama berulangkali. Dia begitu tergesa-gesa pergi ke Benteng Utama di Barat untuk melapor, melewatkan makan dan minum. Tubuhnya kelelahan dan perutnya lapar. Sekarang, kepalanya juga pusing sampai membuatnya ingin muntah. Dia merana. Yang Mulia, kasihanilah hamba!


Sementara Aezar menerima kabar itu, kelompok kecil Pangeran Ace dikejutkan oleh keberadaan mayat hidup di hutan Supala.


Ace adalah master elemen angin. Tanpa kelompok patroli sekalipun, dia akan selalu tahu bahwa sesuatu tidak beres. Saat itu, ketika mendengar kabar bahwa adiknya akan datang berkunjung, dia mendeteksi sihir gelap di udara. Tanpa membuang waktu, dengan dua orang kepercayaannya, mereka melesat ke Barat Laut. Dengan pegasus, mereka sampai lebih cepat, tetapi apa yang mereka lihat membuat Nex dan Will terkejut.


Sang Pangeran melarang mereka untuk mendarat. Walaupun udara membekukan tulang, keduanya patuh di punggung pegasus. Sambil melayang di langit malam, mereka melihat mayat-mayat hidup berdiri diam bagai patung di kedalaman hutan, seperti sedang menantikan sesuatu. Yang membuat kaget, mereka bukan berasal dari golongan Alfar, melainkan penyihir!


Mantra jahat mengalir di udara. Apa yang mereka lakukan di perbatasan wilayah Alfar?


Ace sudah lama curiga bahwa pembantaian di Timur Laut ada kaitannya dengan penyihir. Jasad orang-orang desa sama persis keadaannya dengan mayat hidup di bawah. Dia pernah melihat yang seperti ini di tempat lain. Bagaimanapun dia tahu ada semacam metode untuk membangkitkan kembali jiwa-jiwa yang mati. Metode itu tersimpan secara rahasia dalam Kitab Es. Namun, dari yang dipahaminya, mayat-mayat hidup ini berbeda. Mereka tidak sempurna. Apa yang kurang, Ace sendiri tidak tahu. Dia belum pernah melihat Kitab Es yang melegenda itu, apalagi mempelajarinya. Kebetulan saja dia pernah mendengarnya dari seorang teman lama.


Karena tidak sempurna, mereka seperti boneka yang dimainkan pemiliknya. Siapakah pemiliknya, Ace tak sabar ingin segera tahu karena dia berhasil menyusup tanpa terendus. Satu-satunya kemungkinan, mereka menyelinap di luar wilayahnya. Dimana?


Dia ingat rumor yang mengabarkan penyerangan di Timur Laut, bahwa warga desa dibantai tanpa pandang bulu; para orang tua dan anak-anak dibunuh dan dipotong, potongan tubuh mereka dijadikan gapura selamat datang di bukit Paree; hewan ternak dan tunggangan tidak terlewat, merangkai bangkai mereka di sisi-sisi jalan masuk desa. Rumah-rumah dibakar, lumbung padi dilalap api.


Kabar itu terlalu mengerikan untuk didengar, maka Jendral Harding mengerahkan pasukan besar ke lokasi. Keadaan desa tidak sesuai yang dikabarkan, tetapi semua warga terbunuh di tempat mereka terakhir berpijak. Tanpa darah dan daging!


Anehnya, pembantaian itu terjadi hanya beberapa saat sebelum pasukan Jendral Harding tiba. Mayat-mayat itu baru. Patroli kecil di bawah komando Lazarz, yang sedang berada di daerah itu, bahkan tidak tahu kalau rumor itu ada!


Ace memahaminya dengan jelas. Rumor itu disengaja! Dengan kepergian Jendral Harding, penjagaan Benteng Kaler menjadi kendur. Mungkinkah mereka menyelinap saat itu? Jika dibandingkan dengan kecepatan pasukan sang Jendral, penyihir punya keunggulan dengan mantra teleportasi, mereka hanya perlu menandai titik-titik tertentu untuk membuka portal. Pertanyaannya, bagaimana mereka melakukannya? Kecuali ada orang yang menuntun mereka dari dalam. Untuk apa? Membunuh secara acak tanpa tujuan, terdengar mustahil di telinga Ace. Jadi, pasti ada alasan. Apa?


Seakan memberinya petunjuk, kelompok mayat hidup di bawah bergerak ke menuju perkemahan pasukan Xi. Mereka terseok-seok di antara semak belukar setinggi pinggang. Ace mengikuti pergerakan mereka dari langit, mengantisipasi bahaya selanjutnya.


Entah siapapun yang mengendalikan mayat hidup itu, pasti memiliki tujuan. Peristiwa mengerikan itu terjadi sekali saja, satu bulan yang lalu, dan si pelaku menghilang tanpa diketahui. Malam ini, dia mendadak mengungkapkan keberadaannya sendiri setelah sekian lama. Apa yang diinginkannya? Apa yang dia cari di pasukan Xi?


Jarum es mengguyur perkemahan. Kemelut pertarungan dan bunyi bentrokan senjata menerjang malam yang kacau di barak pasukan. Sayup-sayup melodi pemanggil hujan datang menyalip, melemahkan pertarungan yang kacau dan tiba-tiba satu per satu orang-orang tumbang.


Ace membawa pegasus terbang di atas pintu masuk hutan. Dari posisinya dia dapat melihat perkemahan, cukup jauh, tetapi tidak ada niat untuk mendekat. Dia tahu mereka tidak mati. Dia sedang menunggu para mayat hidup datang untuk menyingkap pemiliknya. Ketika melihat si pemanggil hujan berdiri di sana, Ace tahu telah menemukan dalang di balik pembantaian itu, tetapi kehadiran seorang gadis kecil dengan wajah familier itu, yang keluar dari balik lindungan tameng, hampir membuatnya tergelincir jatuh.


Apakah pasukan Xi yang menemukannya?

__ADS_1


Ace melihatnya berdiri dengan acuh ketika orang itu menyerangnya. Dia bahkan tidak takut melihat semua orang jatuh. Tiba-tiba Ace menyadari sesuatu sejelas siang hari.


Raina menghilang di hari yag sama dengan penyerangan di Timur Laut. Tidak peduli apa pun caranya, pelaku penyerangan tidak ditemukan, Raina pun entah dimana, tetapi setelah satu bulan berlalu dia malah muncul di barak pasukan Xi ketika Raina ditemukan. Orang itu mungkin menyerangnya, tetapi bukan dengan maksud membunuh!


Tidak salah lagi, orang itu menginginkan Raina!


Jadi, dia menyerang desa sebagai pengecoh bagi prajurit di Kaler hanya untuk menculiknya? Kenapa? Usaha yang dikerahkannya terlalu beresiko. Kerja kerasnya tidak sepadan untuk seorang anak kecil seperti dia, yang bahkan tidak berbakat dalam hal apa pun. Apa yang dia cari dari Raina?


Orang itu mendadak jatuh. Para mayat hidup, yang berlomba-lomba menerobos hutan menuju pasukan Xi, mengangkat tongkat sihir, hendak melakukan sesuatu, tetapi tiba-tiba sebuah lecutan gelap muncul dari kehampaan dan mengempaskan semua mayat hidup terbang ke kedalaman hutan tergelap. Ketika jatuh ke tanah, tubuh mereka terkoyak dan tergeletak tak bergerak. Dadanya berlubang.


Apa yang terjadi? Siapa yang menyerang?


Ace mengedarkan pandangan, tetapi tidak melihat seorang pun di hutan.


Di samping, Will terkesiap kaget. "I-itu tidak mungkin!" katanya tak percaya. Suaranya bergetar. Ace menoleh hanya untuk melihat wajahnya sepucat bubur busuk.


"Apa yang terjadi?" Rex menyaksikan semuanya dan dibuat penasaran. Orang kuat mana yang menyerang tanpa diketahui kehadirannya? Dimana dia bersembunyi? Sekeras apa pun mencoba, dia tidak melihatnya dimanapun. Wilayah Barat Laut, yang dibatasi hutan dan sungai, mencekam di malam hari. Kecuali hewan liar, tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan lain di luar sana. Di perkemahan yang agak jauh, pasukan Xi telah tumbang, yang tersisa hanya gadis kecil itu. Sungguh kasihan.


"Bayangan," jawabnya gemetar. "Itu sihir bayangan!"


Hanya segelintir orang yang menguasai sihir bayangan. Sejauh yang diketahui Will, mereka sudah lama mati. Sihir bayangan adalah legenda. Namun, malam ini legenda itu muncul di bawah hidungnya.


Will tidak bisa berhenti gemetar.


Siapa pengendalinya?


Ace tertegun. Sihir macam apa yang membuat Will begitu ketakutan? Sekuat apa pun penyihir, Will selalu meremehkan mereka karena dia membenci penyihir sampai ke tulang-tulangnya. Reaksi Will menunjukkan bahwa dia mengakui yang satu ini. Ace melihat kehebatan itu juga, dan mendapati tangannya berkeringat. Apa ini, aku gemetar?


Tekanan udara yang berat membuatnya sesak!


Walaupun telah bertemu banyak lawan yang kuat, sang Pangeran baru pertama kali menjumpai kekuatan semacam ini. Hanya sekali tebas! Apa-apaan itu, bahkan si penyerang tidak menunjukkan batang hidungnya, tetapi dia sudah berkeringat sebanyak ini. Betapa sihir yang dahsyat!


Setelah kegelapan yang dirasakannya di udara berangsur-angsur mereda, Ace memutuskan turun untuk mengambil alih keadaan karena anak kecil itu tidak mungkin dapat diandalkan untuk mengurus pasukan Xi, yang tergeletak di tanah seperti mayat. Namun, tiba-tiba cahaya hijau meledak dari kegelapan, nyaris membutakan matanya.


Raina berdiri di sana dengan mata terpejam dan kedua tangan terbentang. Bibirnya menggumamkan sebuah melodi yang sudah lama tak dia dengar. Ace terpaku di tempatnya. Bukankah itu syair penyembuh? Bagaimana dia tahu lagu itu?


Mereka bertiga terpukau melihat cahaya hijau mengalir di udara, merayap menghampiri setiap tubuh-tubuh kaku di tanah, menyelimutinya dengan energi kehidupan. Racun pembeku otot dan sihir tidur dimurnikan dalam sekejap. Pasukan Xi secara bertahap menggeliat bangun. Rai kehilangan tenaganya dan menjatuhkan diri di tanah, berbaring terlentang menatap langit malam dengan kelegaan yang terpatri di wajahnya yang belia.


"Wow!" Rex hanya bisa berkomentar dengan kagum, sementara Will mengernyit bingung. Selain tinjunya, ketiadaan bakat Raina menjadi perbincangan seluruh kota. Bagaimana mungkin dia tidak tahu? Malam ini dia ragu bahwa kabar itu benar. Apakah sebaiknya dia bertanya pada Bos?


Ace tenggelam dalam dunianya sendiri. Pandangannya menetap pada gadis kecil yang tertidur di tanah. Tidak salah lagi, pikirnya, itu sihir penyembuhan! Alfar tertentu menguasai sihir penyembuhan, tetapi tidak ada yang sesempurna itu. Dulu sekali, ada satu Klan yang menguasainya dengan sempurna. Sayangnya, Klan itu sudah musnah, dan satu-satunya orang yang tersisa sudah lama mati. Apakah mungkin dia ... Ace tidak berani memikirkannya dan menyentak tali kekang menjauh dari perkemahan secara tiba-tiba. Nex dan Will mengikuti di belakang dengan bingung.


Mereka berpapasan dengan Pangeran Aezar saat pagi tiba, tetapi sang Pangeran Pertama tidak berhenti walau sesaat. Melihat ekspresi buruk di wajah kakaknya, Aezar tidak banyak bertanya dan melanjutkan perjalanan ke barak pasukan Xi. Ketika kembali ke ibu kota, dia mendapat surat darinya, memintanya untuk datang ke Benteng Wetn. Di sana Ace menceritakan penemuannya, termasuk kemampuan Raina yang muncul begitu tiba-tiba.


-


Sekarang, Laskar ini mengatakan bahwa adiknya baru saja memanggil hujan.


Aezar masih akan terkejut walau adiknya menguasai sihir yang remeh. Setelah menunggu adiknya berkembang sekian lama, betapa membahagiakan mendengarnya menemukan bakat sihirnya sendiri! Namun, yang terpampang di hadapannya melebihi batas kewajaran. Aezar kewalahan menerima kabar itu.


Hujan ini tidak bisa dipanggil sembarangan. Yang dapat memanggilnya hanya ahli yang menempa bakatnya bertahun-tahun. Untuk hujan sempurna yang baru saja turun bahkan lebih lama lagi! Master ahli mana yang dapat mengajarinya sesingkat ini? Ini Raina! Adiknya yang keras kepala itu, yang masa bodoh meski bakat sihirnya terlambat datang bertahun-bertahun!


Dia mengamatinya cukup lama. Gadis kecil itu, ketika ditanya bagaimana dia menguasai sihir penyembuhan, malah bertanya balik dengan polos.


"Menurutmu, bagaimana aku selamat dari orang-orang jahat itu?"


Aezar menemuinya ketika baru saja pulang dari Benteng Wetn, jubah bepergiannya bahkan masih menempel di bahunya. Maggie masuk di saat yang sama membawa sekeranjang buah. "Jawab saja," katanya jengkel. Mereka duduk di kursi dekat jendela yang terbuka. Udara panas, sepanas kepalanya yang susah payah mencerna kejutan demi kejutan yang datang.


Perhatian Rai teralihkan oleh buah-buahan yang datang. Dia segera melupakannya dan mendekat ke meja di sudut kamar, lalu bersin. Seekor kelinci melompat dari pangkuannya. Telinganya yang panjang bergerak-gerak, bola bulu salju dengan gembira melihat sekeliling, lalu melompat ke sana kemari. Duduk bersila di kursi, dia mengupas jeruk. Maggie menepuk tangannya. “Cuci tangan!”


Rai merengut, tetapi tidak membantah. Akhir-akhir ini Rai menyalin kebiasaan Raina semasa hidup dulu, mengobati apa pun yang di temuinya, dari binatang besar sampai yang kecil, bahkan seekor semut tidak lepas dari perhatiannya. Hidungnya tidak tahan, tetapi dia kecanduan dengan sihir ajaib. Sebentar saja, pikirnya. Namun, esok hari dia melakukannya lagi.


Shade jengkel dengan kelakuannya, dianggapnya menghabiskan tenaga dan sumber daya. Mereka tidak berbicara satu sama lain tiga hari lamanya. Sekarang, agak mendingan, walau masih seketus biasanya.


Aezar menghela napas lelah. "Raina!"

__ADS_1


Setelah menghabiskan dua jeruk, dia menggigit apel dan menjawab dengan mulut penuh, "Aku bertemu seseorang yang hebat."


"Apa hubungannya dengan itu? Dia membebaskanmu?"


"Tentu saja ada!" Rai tidak tahu bagaimana dia kabur dari penculikan dan berakhir di barak pasukan Xi, beruntung Shade memberinya sedikit pencerahan. "Dia mengajariku beberapa hal hebat. Sebagian kukuasai, sebagian lain ... aku sedang menjajal sihir ledakan saat tidak sengaja terjerembab jatuh ke sungai dan melukai diriku sendiri," dia berdusta dengan wajah lurus.


Aezar menatapnya curiga. "Siapa yang mengajarimu?"


Nah. Rai tahu mereka akan sampai pada bagian ini, jadi telah menyiapkan jawaban jauh-jauh hari. "Kamu tidak akan percaya padaku."


"Memang tidak!" Setelah jeda sejenak, dia memaksa, "Siapa?"


Seakan dicap murid tidak berbakti karena membocorkan identitas gurunya, Rai memasang wajah menyedihkan, "Kamu tidak akan mengatakan kepada siapapun, kan?"


"Tergantung sehebat apa dia," Aezar meremehkan.


Rai tidak sudi dikalahkan, "Dia luar biasa! Kamu pasti terkejut sampai tidak bisa tidur! Yakin, masih ingin tahu?"


"Raina!"


Rai membuang napas berat, sok kelihatan menyesal karena tidak bisa menjaga rahasia. Melihat sekeliling seolah takut seseorang menguping, dia mencondongkan tubuhnya dan berkata sungguh-sungguh, "Orang-orang memanggilnya Eins." Suaranya kecil, nyaris tidak terdengar. Namun, berhasil membuat Aezar membelalak. Rai terkejut juga melihat reaksinya. Jangan bilang, dia jatuh dalam kebohongannya sendiri? Dikiranya tidak ada yang mengenal namanya! Beruntung Eins memang penyihir, jadi tidak terlalu mencurigakan. Karena kepalang tanggung, dia mengarang indah, "Aku tidak yakin apakah itu nama sebenarnya atau gelar semata. Dia tidak ingin aku mengetahui hal lain tentang dirinya selain namanya itu, aku bahkan diancam menjadi santapan rubah kalau berani menjual namanya ...."


Secara mengejutkan Aezar bertanya dengan takjub, "Seperti apa dia?"


Siapa yang tidak tahu Eins? Namanya terkenal seantreo jagad! Dia memimpin kaum vier-gene pada perang saudara dua ratus tahun silam, menyerang pasukan kerajaannya sendiri dan memutuskan hubungan dengan Vanaheimr! Dia disebut-sebut sebagai pahlawan revolusi karena berani mendukung ras baru yang kehadirannya ditentang saat itu. Dekrit pemusnahan kaum vier-gene menjadi cikal bakal yang mendasari tragedi berdarah di Tanah Pengasingan.


Jauh sebelum perang pecah, Eins membangun komunitasnya sendiri di sebuah daerah tak berpenghuni jauh di wilayah Barat, tersembunyi di balik gunung dan bukit, serta hutan Terlarang Siergamus yang konon menjadi tempat tinggal hantu-hantu dan berbagai animagus buas yang misterius. Daerah itu pula yang kemudian dikenal sebagai Tanah Pengasingan setelah ditinggal pemiliknya pindah ke sebuah pulau Iblis dan mendirikan sebuah perguruan besar di sana.


Eins menghilang tak lama setelah itu, bahkan namanya tidak terdengar ketika terjadi penyerangan terhadap Perguruan Kabut di Tenggara oleh pasukan gabungan Penyihir-Iblis, yang mengakibatkan kekalahan dan kerugian besar di pihak vier-gene. Nama besar Eins menghilang dari peredaran, tetapi tak lantas begitu saja dilupakan. Namanya menjadi legenda mulia di kalangan kaum Pendatang, dan diakui sebagai tokoh besar oleh Kerajaan-kerajaan Tetangga.


Saat peristiwa itu terjadi, anak-anak sebesar Raina baru saja lahir, wajar kalau mereka tidak pernah mendengar namanya. Kalaupun pernah, hanya disebut dalam dongeng-dongeng tua sekilas lalu. Aezar menceritakan kisah itu berapi-api, seolah dia mengalaminya sendiri.


Rai menganga tak percaya. Nenek tua itu punya nama sebesar ini? Dalam ingatannya, Eins adalah nenek Mae, seorang nenek renta yang menghabiskan hari-hari tua dengan menggoda kucing-kucing di teras rumahnya. Kadang-kadang, di suatu hari dia akan bergegas kembali ke rumahnya karena lupa mematikan kompor, di hari lain dia meledakkan dapurnya. Orang-orang prihatin karena wanita tua yang sudah pikun itu tinggal sendirian, dan bergantian mengingatkannya soal apa pun dari waktu ke waktu. Anehnya, dia selalu ingat untuk berdiri di halaman setiap pagi-pagi sekali dan berteriak padanya mengenai hal-hal remeh, seperti memintanya memakai jam!


Ketika mengingatnya sekarang, setelah tinggal di dunia ini dan mengenal Eins lebih jauh, Rai merasakan matanya basah. Eins melindunginya tanpa pengetahuannya, tetapi dia bahkan tidak ada di sini untuknya mengucapkan terimakasih.


Rai mengingat hari pembantaian itu dan bertanya-tanya, apakah dia selamat? Mendengar Aezar menceritakan kehebatannya membuat Rai sedikit berharap. Eins tidak akan menyerah begitu saja, dia pasti bertahan!


Dia hanya perlu bersabar dan menunggu. Ketika saatnya tiba, setidaknya setelah urusan ini selesai, dia sendiri yang akan mencarinya. Mereka perlu membahas banyak hal!


"Kamu menangis?" Aezar menatapnya takjub. Reaksinya sangat berlebihan, dia melompat dari duduknya dengan kaget. "Astaga! Kamu benar-benar menangis? Wow!" Seakan belum cukup melihat, dia menunduk dan mengamati adiknya yang sembab, lalu menyerukan hal yang sama beberapa kali. Wow!


Rai menghapus air mata dengan kasar. Apa salahnya menangis?


Aezar mengira, adiknya yang gampang meledak itu tidak akan pernah berurai air mata walau kejatuhan meteor sekalipun! Namun, jika diingat kembali, adiknya memang menjadi lebih normal dan jauh lebih kalem akhir-akhirnya. Kecuali, kebiasaannya mengotori kamarnya karena menyelinapkan hewan-hewan.


Rai sebal dan tersinggung. Dia mengusir Aezar pergi, sekaligus memutus percakapan soal Eins. Meski agak tidak rela, Aezar pergi dengan suasana hati yang baik, tertawa-tawa di sepanjang koridor sampai menakuti pelayan dan penjaga yang gugup di tempatnya.


Ringkik kuda datang dari kejauhan. Aezar kembali dari lamunannya dan melihat Jendral Harding datang secara pribadi bersama kelompok prajurit pribadinya.


Rai masih memperhatikan kesiapan rombongan, lalu mendekat pada seorang gadis bertudung yang dikenali Aezar sebagai salah satu utusan Vanaheimr dengan agak terkejut, tampak mengatakan sesuatu padanya.


Kapan mereka menjadi akrab?


Perhatian Aezar sepenuhnya teralihkan oleh bakat ajaib adiknya sampai pusing, sementara orangnya sendiri masih setenang biasanya.


Dia tahu Eins seorang penyihir berbakat. Yang membuatnya heran, sihir penyembuhan dan hujan sempurna ini adalah sihir yang hanya dikuasai Alfar. Bagaimana mungkin Raina mempelajari semua itu darinya?


Dari kabar yang tersebar, Eins memang banyak bergaul dengan vier-gene, bahkan menciptakan hunian yang layak untuk mereka. Bisa jadi beberapa Alfar penyembuh yang berkeluarga dengan penyihir atau vampir, atau bahkan ras lainnya, tinggal di sana. Mungkin dari mereka dia mempelajarinya.


Karena tidak ada kemungkinan lain, dan kemampuan adiknya pun begitu nyata dan ajaib, Aezar hanya menemukan alasan inilah yang masuk akal. Kecuali, kalau Rai berbohong dan menyembunyikan bakatnya selama ini.


Namun, Aezar segera melemparkan pikiran itu ke belakang kepalanya. Dia itu, batinnya tak berdaya, sangat tidak mudah ditebak.


***

__ADS_1


__ADS_2