RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)

RAINA DINESCHA (Makhluk Tanpa Bentuk)
TIGA


__ADS_3

Berita kembalinya Raina menjadi sensasi besar lain di kota. Ingatannya yang hilang menjadi topik terpanas di Greenland.


Rai kewalahan dengan semua jenis kemeriahan yang terhampar. Ketika kereta mereka mencapai gerbang kota, jalanan telah sesak oleh keramaian. Rombongannya dijaga ketat oleh para Laskar, Prajurit Khusus Kerajaan, yang dipimpin langsung oleh Pangeran Aezar sendiri. Bunga-bunga dan permen-permen berhamburan di sepanjang jalan.


Rai baru tahu pemuda yang kelihatan acuh itu memiliki hati selembut marshmallow. Ketika baru saja datang di barak, Aezar nyaris mendobrak tenda dengan pegasus miliknya, mencemaskan adiknya dengan panik sampai lupa turun dari tunggangannya. Pada saat itu Rai sedang pulas tertidur, melewatkan kesempatan menyaksikan betapa konyol dan berantakan sang kakak terlihat. Xan tertawa sampai berguling-guling.


Setelah mengurus mayat hidup, Rai menjajal sihir penyembuhannya besar-besaran untuk memulihkan seluruh pasukan Xi. Pengalaman pertamanya dilakukan dengan sangat berlebihan sehingga dia kelelahan.


Ketika akhirnya terbangun, pasukan Xi dikejutkan oleh kenyataan paling memalukan seumur hidup. Dalam keadaan genting, mereka malah tertidur! Jarum es mengandung racun pembeku otot, tetapi tetap saja memalukan ketika tahu kalau mereka berakhir mendengkur beramai-ramai di tanah.


Keyn tidak dapat dibangunkan. Mereka mengira cedera internalnya sangat parah, sehingga pasukan Xi merawatnya dengan hati-hati. Ketika nanti diberitahu kalau dialah dalang penyerangan semalam, mereka mengumpat selama berhari-hari.


Rai tertidur begitu saja di tanah setelah urusannya selesai. Energinya terkuras. Tubuhnya terasa lebih berat dari biasa. Karena malas bergerak, dia berbaring bersisian bersama pasukan Xi. Ketika satu per satu mereka pulih dan terjaga, Rai telah hanyut dalam kenikmatan tidur, menakuti seluruh pasukan. Fae dan Lara bergegas membawanya ke tenda untuk melakukan perawatan, kemudian akhirnya menghela napas lega karena sang Putri hanya tertidur kelelahan. Pada saat itulah Aezar menerobos gapura sampai hancur dan mengentakkan kaki pegasus di depan tenda!


Mana berani pasukan Xi menghentikan sang Pangeran menjenguk adiknya sendiri?


Esok hari, ketika Rai akhirnya bangun dengan segar, Aezar memberinya tiga putaran penuh pengamatan, takut melewatkan luka terkecil, membuat Rai tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa. Dia tidak tahu hubungan Raina dan kakak angkatnya akan sebaik ini. Bagaimana jika dia tahu kebenarannya?


Dari pintu masuk kota sampai ke gerbang istana, orang-orang berdiri di pinggir, memanjangkan leher mereka demi sebuah kereta mencolok yang ditarik dua ekor kuda hitam, ingin melihat sang Putri walau hanya sekedar bayangannya. Gadis-gadis lebih tertarik melihat sang Pangeran, yang duduk dengan gagah di punggung pegasus, melihat dengan malu-malu dari balik lengan baju sambil melemparkan bunga-bunga segar ke udara. Anak-anak asyik berebut permen yang menghujani jalanan, dibagikan oleh pelayan-pelayan atas perintah sang Ratu demi menyambut putrinya.


Namun, tidak semua orang merasa senang. Orang-orang yang pernah berselisih dengan Raina, yang iri padanya, ataupun yang membencinya, menyesali keberuntungannya. Mereka tidak ingin menjadi mencolok di keramaian, sehingga mereka turut bersorak-sorai di mulutnya, tetapi mengumpat dalam hati.


Peach dan Ruby, dua bersaudara dari kediaman Bangsawan Stones, membenci Raina sampai ke tulang-tulangnya. Mereka menganggap Raina sebagai penghalang yang patut disingkirkan.


Peach dan Ruby telah mengejar Aezar sejak lahir, bersaing dalam berbagai hal untuk menarik perhatiannya. Caranya pun norak. Yang satu membual tentang betapa romantis pertemuan mereka yang indah di musim hujan, sementara yang lain mengkhayal pernah berkuda bersama.


Kenyataannya Aezar sedang mengunjungi daerah banjir. Kebetulan keluarga Stones yang sedang berlibur terjebak di lokasi dan menderita cacar. Terpaksa Aezar harus menarik kereta kuda mereka pulang agar tidak menulari masyarakat sekitar. Andaikan Raina tidak di sana, mereka dengan senang hati menyusun beberapa rencana!


Itu untuk konfrontasi langsung, berbeda dengan beberapa pihak yang membencinya di balik bayang-bayang.


Shade merasakan hawa kebencian itu, tetapi Rai malas memikirkannya. Sepanjang perjalanan, Clo menyerangnya dengan banyak pertanyaan, membuatnya lelah. Misalnya, soal sihir penyembuhan itu, atau bagaimana para mayat hidup dikalahkan.


Hanya dalam sepekan, Rai nyaris gila.


Bukan hanya Clo yang merusuh, sang Ratu pun membuatnya pusing.


Ketika dia menginjakkan kaki di istana, setelah menemui Raja Valazar dan Ratu Aimee untuk memberi hormat, pelayan bernama Leah mengantarnya ke sebuah kamar yang indah. Semua yang ada terlihat berkilau.


Ruangan ini besar dan luas, berlantai marmer dan berdinding perak. Ranjangnya dari jati berkualitas nomor wahid, bertiang empat berukiran bunga plum dan berkelambu biru muda. Bantal-bantal besar tersusun rapi dan selimutnya yang tebal kelihatan lembut. Sebuah permadani diletakkan di lantai. Di langit-langit, dia melihat lampu kristal yang besar.


Jendela-jendela yang terbuka di desain indah dengan pola bunga lily, mengungkap halaman hijau dengan taman bunga mini. Di sudut paling jauh, sebuah pohon magnolia mekar dengan indah. Tepat di bawahnya sebuah meja bundar dan sepasang kursi diletakkan. Cahaya matahari sore memantulkan kilau permukaan kolam teratai di sudut lain. Gorden biru bergerak lembut dibelai angin senja.


Dengan semua keindahan ini, seharusnya Rai bisa tidur dan bermalas-malasan, sayang sekali mereka tidak memberinya kesempatan.


Setiap hari, Clo datang untuk mengeluh dan sang Ratu menyita semua waktunya; mengikutinya kemana pun dia bergerak, menanyakan keadaannya setiap lima menit, dan meminta pelayan mengantar lebih banyak makanan dari waktu ke waktu.


Untuk urusan yang terakhir itu, Rai senang, tetapi dia tidak tahan diserang dari dua sisi bersamaan. Baik Clo maupun sang Ratu berbicara padanya tanpa lelah, menceritakan segala sesuatu sampai mulut berbusa. Mendengarnya saja, Rai sudah kelelahan. Namun, jauh di dalam hatinya, sang Ratu mengingatkannya pada ibunya yang telah tiada. Karena itu Rai duduk dengan patuh bersamanya, mengangguk ketika setuju dan menggeleng ketika tidak tahu. Sejatinya dia bosan, tetapi kedekatan ini sedikit mengobati kerinduannya.


Sang Ratu akhirnya pergi ketika mendengar kabar bahwa utusan dari Vanaheimr meminta izin untuk berkunjung. Raja Valazar secara pribadi meminta Rai menghadiri perjamuan tanpa terlambat. Wajahnya galak sekali, memperingatinya lagi dan lagi seolah-olah Rai bisa kabur kapan saja, membuatnya bertanya-tanya apa yang telah dilakukan pemilik asli tubuh ini di masa lalu?


Clo kelihatan terguncang dengan kabar itu, lalu menghilang entah ke mana.


Perjamuan di selenggarakan di halaman Hibiskus. Tamu undangan memenuhi halaman saat Rai tiba. Rambut merahnya sebagian besar dibiarkan jatuh di punggungnya yang ramping. Sejumput rambut di sisi telinganya dikepang ke belakang dan diikat dengan pita panjang biru es berlonceng perak. Setiap kali kepalanya bergerak, itu akan berdenting dengan indah. Gaun biru es yang dipakainya ditenun dengan benang emas.


Pelayan pribadinya, Leah, diam-diam meliriknya sepanjang waktu, pikirannya agak bengkok. Penyebabnya adalah sang Putri sendiri, yang bangun pagi-pagi sekali dan turut sarapan di meja besar, memilih gaya rambutnya dengan teliti dan bercermin untuk waktu yang lama. Maggie sampai curiga jiwanya tertukar karena tidak biasanya dia patuh tanpa mengeluh. Sebagai perawat basah, Maggie tahu Raina membenci hal-hal feminin.


Rai mengamati sekitar. Setelah beberapa saat, pandangannya jatuh pada meja hidangan. Leah tak berdaya ketika tahu apa yang dipikirkannya. Mungkin pikiranku yang kacau, batinnya, teringat sikap sang Putri yang menjadi aneh sejak kembali. Dia menjadi lebih bersahabat, lebih bersabar dan lebih kalem. Leah dan Maggie cemas dengan perubahan mendadak itu, tetapi sang Putri masih tergila-gila pada makanan seperti biasa, jadi tampaknya baik-baik saja. “Yang Mulia, sekarang bukan saatnya makan."


Beberapa orang mencoba bersikap ramah dan mendekat untuk menyapa, Rai menjawab seperlunya. Entah benar-benar tulus atau hanya bersikap formal, dia tidak tertarik untuk obrolan lebih panjang. Leah berbisik padanya, menyebutkan siapa mereka, tetapi Rai terlalu malas mendengarkan. Telinganya masih berdengung setelah menyimak cerita sepekan penuh. Dari sudut, Stones bersaudara melihatnya tak suka.


Hari ini Peach dan Ruby berpenampilan mencolok dengan banyak perhiasan di tubuh dan pakaiannya, seperti biasa. Merah dan kuning di antara gaun-gaun biru. Rai tidak tahu siapa mereka, tetapi menyadari sikap permusuhan yang mereka tunjukkan padanya dengan gamblang, sebisa mungkin dia berada jauh dari jangkauan dua orang itu. Makanan dan minumannya sungguh menggiurkan, rugi kalau dia melewatkannya begitu saja.


Seorang kasim yang gemuk dan agak pendek berteriak lantang di pintu masuk, “Yang Mulia Baginda Raja dan Ratu tiba ...!!!" lalu mundur ke samping, menyediakan jalan bagi dua tokoh agung Kerajaan Alfar. Semua orang menunduk dengan patuh.


Raja Valazar dan Ratu Aimee duduk di kursi besar di atas panggung pendek yang tersedia. Taman Hibiskus di kelilingi pohon tinggi yang rimbun, menyaring sinar matahari yang mulai naik. Pada dahan dan cabang-cabangnya bergelayut sulur-sulur hijau berbunga merah kecil. Semak-semak berbunga warna-warni dan anggrek kupu-kupu menyalurkan bau semerbak. Udara bersih.


“Bangun dan duduklah,” Raja berseru ringan.


Dua panggung besar yang tidak lebih tinggi dari panggung utama dibangun di setiap sisi, menyisakan lantai batu di tengahnya. Mirip dekorasi di Balairung, hanya lebih sederhana. Di atas panggung, berdiri meja-meja dari kayu kualitas terbaik. Tidak ada kursi. Semua jajaran staf istana dan tamu undangan duduk di balik meja mereka.


Leah menunjukkan dimana Rai harus duduk, menyisakan ruang kosong untuk Aezar di sampingnya. Namun, kakaknya ternyata telah duduk berseberangan bersama lima tokoh berjubah hitam yang tampak terasing dan menyendiri. Dari aroma belerang yang tercium, Rai tahu siapa mereka.


Satu di antaranya seorang perempuan. Sangat cantik dengan mata abu-abu yang besar. Rambutnya pirang. Dia duduk diapit dua pemuda yang tampak sangat kontras. Yang satu kelihatan ramah dengan senyum main-main di bibirnya, sementara yang lain dingin dan tak tersentuh; wajahnya tertutup tudung. Di belakang, duduk canggung pemuda besar berwajah serius; seperti batu besar di keramaian, kokoh tak terganggu. Yang terakhir memiliki mata seperti kucing liar, tampak menahan diri untuk tidak menopang dagu. Rai bertaruh dia bosan dan mengantuk.


“Salam sejahtera kepada kalian semua,” Raja memulai. “Dan selamat datang kepada tamu dari Vanaheimr.” Untuk kata ini beberapa orang menahan napas. Mereka tahu Vanaheimr adalah Negeri Penyihir. Berita kejahatan mereka lebih unggul dari kebaikannya. “Kami tahu perjamuan ini mungkin agak mendadak, tetapi ada hal penting yang harus Kami sampaikan. Dua hari yang lalu, Kerajaan Vanaheimr memiliki sebuah permintaan genting terkait penyakit Ratu Cassandra. Kalian mungkin sudah mendengar desas-desusnya, biarkan yang lebih tahu yang menjelaskan. Disilakan.”


Mereka mengalihkan perhatian pada kelompok itu.


Pemuda dengan senyum main-main berdiri. “Saya Fabian, mewakili kelompok ini untuk bicara.” Suaranya bersahabat. “Apabila kalian mendengar kabar burung bahwa Ratu kami mengidap penyakit aneh, itu benar. Bahwa penyakitnya sulit dideteksi sebabnya dan sangat langka, itu juga benar. Selama seratus lima puluh tahun kami mencari tabib yang dapat menyembuhkannya, tetapi sampai saat ini belum ditemukan.” Dia mengeluarkan sebuah kotak hitam berukir indah dimana di dalamnya terdapat sebongkah es sekepal tangan. “Ya, ini memang seperti es, tetapi bukan.” Diulurkannya kotak itu ke bawah sinar matahari dan seberkas cahaya hijau berpendar. “Seperti kristal, tetapi bukan. Sesungguhnya kami bahkan tidak tahu terbentuk dari apakah benda ini. Sihir api tidak dapat melelehkannya. Ada jejak sihir misterius di dalamnya sehingga kami menyebutnya batu sihir."


“Apakah ada hubungannya dengan penyakit Ratu?” Jendral tua Amzar bertanya dengan agak kasar. Kesannya terhadap penyihir tidak pernah baik.


Semua orang mempunyai pertanyaan yang sama, jadi membiarkannya.


“Benar,” Fabian menjawab jujur. “Ini hanya sebagian kecil yang kami dapatkan dari tiga hari yang dihabiskan untuk melelehkannya.”


“Bukankah kaubilang itu gagal?” seseorang dari staf istana tidak puas.


“Memang gagal. Setiap kali kami berusaha, setiap kali pula benda ini memulihkan diri.”


Orang-orang gaduh.


“Itu mustahil! Bukankah hanya benda mati?”


“Benda mati, tetapi memang benar bahwa benda ini memulihkan diri dengan cepat. Kami bahkan mengundang setiap pakar elemen untuk melelehkannya. Selalu gagal.”


“Ada yang seperti itu?” seseorang berbisik pada temannya.


“Mereka telah menyelenggarakan sayembara. Sudah bertahun-tahun sekarang. Tidak ada yang berhasil.”


“Kerabatku punya kenalan seorang pengrajin berlian yang terkenal. Katanya, walaupun indah, entah terbuat dari apa benda itu. Dia hampir mati karena penasaran, tapi akhirnya menyerah.”

__ADS_1


“Bahkan sihir tidak dapat menembusnya. Aku tidak heran Ratu Cassandra tidak juga sembuh.”


Temannya menyikut, “Hati-hati kalau bicara.”


Halaman menjadi ramai oleh diskusi kelompok mereka sendiri. Fabian tidak keberatan. Mereka maklum dengan keraguan dan antusiasme semua orang. Saat pertama kali, dia pun begitu.


“Lalu apa hubungannya dengan Ratu?” seseorang dari tabib istana bertanya.


Fabian meletakkan kotak itu di meja agar dapat dilihat semua orang dengan bebas. Nada suaranya berubah pahit. “Inilah penyakitnya. Benda ini membungkus tubuh Ratu seperti kepompong. Tidak goyah walau dihantam mantra apa pun.”


Bahkan Raja Valazar terkesiap.


Rai menatap kotak itu tanpa berkedip. Bukankah itu batu hijau yang dimakan monster bernama Jalgadh? Dia juga merasa cahaya hijau yang berpendar ringan di dalamnya tampak familier, hidungnya bahkan mencium bau lumut basah. Diam-diam ekor matanya melirik ke samping, mencari Clo, siapa tahu diberi petunjuk, tetapi hantu itu tidak tampak dimana pun. Shade sedang mendengkur, tidak bisa diharapkan. Di kursi besar, sang Raja salah paham, berpikir dia mencari kesempatan untuk kabur dari perjamuan sehingga matanya menyipit mengancam.


Leah yang menyaksikan dari samping meringis tak berdaya. Rai mengeluh.


“Jadi, tujuanmu kemari untuk mencari tabib atau—“ seorang Menteri menimbang. “Bagaimana?”


Fabian, “Siapapun. Siapapun yang dapat menghancurkan benda ini dan menyembuhkan sang Ratu, Raja Kami dan seluruh Vanaheimr sangat berterima kasih dan memberinya tiga kebajikan.”


Tentu saja Keluarga Stones menunggu kesempatan ini untuk unjuk gigi. Ruby berkata, “Kudengar satu kebajikan senilai dengan satu gunung emas. Apakah itu benar?”


Rai memutar mata. Mungkin karena ekspresinya begitu jelek, dia menarik perhatian si gadis bermata abu-abu yang tampak tertawa tanpa suara. Rai membalas dengan mengangkat alis, merasa wajahnya tidak asing.


Fabian dengan baik hati menjawab, “Setara dengan itu.” Setara bukan berarti sama. Ini hanya sebuah frasa untuk menggambarkan kemurahan hati Raja Vanaheimr yang jarang sekali terjadi.


“Apakah kamu akan memberi semua orang kesempatan untuk mencoba?” Peach mematuk. “Aku dari keluarga tabib yang terkemuka.”


Masih tersenyum, Fabian menjawab tanpa ragu, “Tentu. Siapapun memiliki kesempatan. Yang Mulia Raja Valazar telah berbaik hati memberikan paviliun Lily untuk kami tinggali sementara. Jadi, semua orang bisa datang ke sana untuk berkunjung.”


Antusiasme meledak di halaman itu.


Diskusi menjadi lebih intens dengan antusiame orang-orang yang tergiur hadiah besar. Mereka segera menawarkan diri mencoba memecah batu sihir tersebut. Perjamuan dihadiri banyak orang dari berbagai kalangan, dari staf istana sampai perwakilan rakyat biasa. Raja Valazar ingin bersikap adil. Bagaimanapun terlepas dari siapa yang berhasil, masihlah Paradis yang meraup keuntungan paling besar. Vanaheimr adalah Kerajaan Adidaya yang besar dan kuat, hubungan aliansi bukan urusan yang remeh. Lagi pula, utusan dari Vanaheimr tidak keberatan, justru semakin banyak yang datang mencoba, semakin besar pula kesempatan untuk berhasil.


Selama kegiatan itu berlangsung, Raja Valazar membuka perjamuan dengan menyesap anggur dari gelas piala yang tersedia. Ratu Aimee menyalin tindakannya. Segera hidangan-hidangan disajikan dan orang-orang yang lapar terpuaskan.


Orang-orang berkerumun di sekitar meja Fabian, menunggu giliran untuk mencoba keahlian masing-masing sambil mengobrol dan bertanya tentang satu atau dua hal, sesekali mereka menyesap anggur dan tertawa. Suasananya akrab dan ramah. Kesan buruk penyihir terlupakan untuk sementara.


Sayangnya, Rai sedang sial.


Dengan sengaja mencari meja hidangan paling jauh, biang masalah yang dihindari malah mengepungnya begitu dia sibuk memilih camilan. Makanan memang membuatnya lengah. Rai kesal karena menahan lapar dan sekarang dua orang ini datang mencari masalah.


Peach bertanya pada saudarinya dengan suara tinggi, jelas sengaja menarik perhatian orang-orang. “Bagaimana pendapatmu tentang masalah ini? Menurutmu siapa yang beruntung?”


Ruby menjawab dengan sok, “Yang berhasil pasti orang hebat!”


“Benar. Dan sudah jelas dia harus pekerja keras, bukan pembuat onar yang suka melewatkan banyak kelas.”


Akademi Relung Awan adalah yang paling terkenal. Di sekolah ini mereka mempelajari sihir penyembuh dan pertahanan diri. Di antara kelas-kelas bakat, terdapat kelas Etiket dan Kepribadian, dipandu oleh Miss Lotty. Namanya termasyhur di Paradis dan sudah menjadi kebiasaan bagi para pejabat untuk mendaftarkan putri mereka di kelasnya.


Raina terdaftar di dalamnya dan membenci kelas ini. Lebih benci lagi Miss Lotty yang glamor, yang juga membencinya. Di matanya Raina tidak punya bakat saking seringnya dia melewatkan kelas. Peach dan Ruby adalah anak emasnya. Ketika Raina terpaksa masuk, Miss memuji mereka sampai berbusa-busa, mulutnya bekerja tanpa henti sampai ludahnya terbang ke wajah dan buku-bukunya.


Raina lebih suka kelas pertahanan diri atau menjadi murid tak terdaftar di kelas militer sampai Instruktur Wood mengusirnya berkali-kali. Di setiap kehadirannya, Instruktur menjadi sakit kepala sampai akhirnya bosan sendiri memarahinya.


“Siapa tahu.” Peach mengedikkan bahu, tetapi pandangannya tak lepas dari gadis rambut merah yang asyik memakan camilan. Merasa diabaikan, dia menambahkan, “Mirip seseorang yang kita kenal.”


Rai tidak terganggu karena dia tidak tahu kalau yang mereka bicarakan adalah dirinya yang dulu. Namun, karena masih trauma terlibat dalam percakapan panjang, dia segera kehilangan minat pada kue manis. Diletakkannya piring itu sambil mengernyit.


Ruby mengira dia tersinggung. “Kakak, jaga mulutmu. Jangan membuat seseorang marah.” Lalu berpaling pada Rai, “Maafkan kakakku. Kami tahu kamu suka melewatkan kelas, tapi benar-benar tidak bermaksud menyinggungmu."


Rai baru sadar mereka membicarakannya.


“Oh! Aku tidak tahu kamu ada di sampingku,” Peach berseru kaget. Padahal mereka menghampirinya dengan sengaja, senang mengumbar aibnya.


Nyonya-nyonya dari kalangan pejabat yang berkerumun mendengar mereka dan mulai bergosip. Memiliki keelokan etiket dan kecantikan fisik adalah nomor satu. Melewatkan pelajaran sangat keterlaluan. Untuk gadis-gadis muda hal ini mencerminkan kepribadian mereka.


“Dia melewatkan kelas lagi? Anakku memang pernah bilang begitu. Sungguh menodai kemuliaan Keluarga Kerajaan,” seseorang berbisik.


Yang lain setuju dan diam-diam mengungkit pelanggaran-pelanggaran lain yang dinilai sangat buruk hingga akhirnya mereka sampai pada asal usul Raina yang misterius.


Di seluruh dataran Greenland, siapa yang tidak tahu kalau Rai hanya anak pungut? Turun-temurun cerita ini terus berulang dari sekedar bisik-bisik antar tetangga sampai menjadi dongeng pengantar tidur.


“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Siapa tahu, dia berasal dari keluarga bandit di Barat. Kudengar, mereka sangat liar dan kejam!”


“Tidak heran dia juga begitu. Lihatlah! Mata itu mengerikan!"


Dasar bodoh, gumam Rai dalam hati. Mata ini disebut heterochromia.


Awalnya Rai juga terkejut ketika pertama kali melihat cermin. Wajah ini sangat mirip dengan wajahnya yang dulu, kecuali rambut dan matanya. Matanya berbeda warna: biru dan ungu. Ketika mengamati pantulan wajah yang mirip dalam cermin, entah bagaimana Rai merasa telah menemukan saudarinya!


“Ada yang bilang rambut merah hanya dimiliki bangsa Iblis. Bisa jadi dia keturunannya.”


“Bisa jadi.”


“Ssst. Jangan sampai didengar abdi istana! Ratu sangat memanjakannya, gawat kalau ketahuan.”


“Terlalu dimanja jadinya keterlaluan.”


“Aku sampai mengancam anakku supaya tidak dekat-dekat dengannya. Dia selalu membuat Miss Lotty marah, aku tak akan heran jika suatu hari Kerajaan membuangnya karena malu.”


“Kau benar, aku harus menjauhkan anakku juga. Dia sumber masalah.”


Peach dan Ruby membiarkan mereka menggunjing. Semakin buruk reputasi Raina, semakin senang dia. Memasuki Keluarga Kerajaan begitu mudahnya, dia pikir semua orang menerimanya? Pikirnya, kalau bukan faktor keberuntungan, Raina sudah lama mati menjadi santapan serigala-serigala lapar di hutan. Sayang sekali Raja Valazar melarang rakyatnya mengungkit masalah ini. Padahal tidak semua orang setuju.


Rai sudah lama tahu kebenaran soal anak angkat, tetapi terlalu malas membalas mulut-mulut kotor yang membencinya. Biarkan saja, toh dia tak rugi. Semakin banyak bicara mereka, semakin jelas jejak cemburu yang terungkap. Berdebat tidak dapat menyelamatkan reputasinya, malah memperburuk. Rai senang karena Raina tidak perlu berpura-pura. Dia adalah dia. Dengan semua kebaikan atau keburukan yang ditemukan padanya, itulah yang sebenarnya dia.


Pada saat itu tiba-tiba Ruby terjungkal membawa Peach bersamanya, memecahkan segelas anggur merah dengan bunyi yang nyaring. Mereka menjerit.


“Gaunku!”


“Argh! Sakit!” Ruby mengusap bokongnya. Kakinya tertimpa pecahan gelas, tetapi perhatiannya teralihkan. “Sialan! Apa itu!" Dia menoleh ke belakang, tetapi tidak mendapatkan apa pun. Apa itu tadi? Dia yakin sesuatu menariknya jatuh.

__ADS_1


Dengung percakapan di halaman mati oleh kutukan tunggal putri bungsu Stones. Kerumunan membelalak ngeri. Kaum lelaki yang mengobrol bersama Fabian menoleh kaget. Dua saudari menjadi pusat perhatian. Greg Stone memerah wajahnya. Nyonya Fuschia bergegas menyeret puterinya untuk membungkuk pada semua orang. “Minta maaf sekarang!”


"Bu, kakiku sakit." Ruby baru menyadarinya.


Peach marah karena gaunnya kotor. “Gara-gara kamu! Ibu, dia membuatku malu.”


“Bukan aku,” Ruby berkilah. “Ini gara-gara dia!” ditunjuknya Rai dengan angkuh. Padahal Ruby tidak mengerti apa terjadi, dia hanya merasa Raina telah melakukan sesuatu padanya. Tidak mungkin aku jatuh sendiri, pikirnya. “Kalau bukan karena kamu, aku tidak akan terluka! Dasar liar!”


Nyonya Fuschia menamparnya. Bunyinya begitu nyaring dalam ketegangan. Semua orang takut mendapat murka Raja karena keributan itu, dan sekarang seseorang menghina Putri angkatnya. Jelas mereka membuat masalah. Sudah sepantasnya dia diberi pelajaran.


Leah membawa Rai ke belakang punggungnya. Dengan sangat jelas sang Putri berdiri cukup jauh dari jangkauan Stones dan tidak bergerak sedikitpun. Bagaimana ini menjadi kesalahannya?


Rai diam-diam mengeluh karena Shade bertindak semaunya.


Ruby menangis sedih. “Kenapa Ibu menamparku? Bukan aku! Sungguh bukan aku!"


Peach terisak juga. “Ibu, bagaimana dengan gaunku?”


“Diam kalian berdua!" Nyonya Fuschia tidak tahan lagi. "Minta maaf! Cepat minta maaf!”


“Aku tidak bersalah!” Ruby membantah. “Itu kakak!”


“Kamu menyalahkanku?” Peach mengamuk dan menjambak rambut adiknya. “Apa kamu buta? dasar tolol!”


Ketiganya berteriak dan menyumpah satu sama lain. Greg Stone wajahnya menjadi hitam. Sebelum dia sempat bergerak menghentikan keluarganya, suara dingin membekukan udara, “Siapapun! Seret mereka keluar! Jangan biarkan mereka bergabung dalam perjamuan di masa depan!”


Ekspresi Raja dan Ratu tenggelam. Perjamuan yang seharusnya semarak menjadi hambar. Kegaduhan itu membuat suasana hati Ratu menjadi jelek. Mereka segera menutup perjamuan dan meninggalkan halaman.


Greg Stones terlambat menyadari situasi. Bersujud, kepalanya hampir melubangi permukaan tanah, tetapi Raja dan Ratu telah beranjak pergi.


Aezar memandang tamunya dengan menyesal. “Maafkan kami. Seharusnya kalian menerima yang lebih baik dari ini, tetapi malah menyaksikan insiden yang memalukan.”


Rombongan kecil dari Vanaheimr berdiri dari duduknya. Fabian tersenyum. “Kami baik-baik saja. Jangan dipikirkan.”


Calvin, si canggung, tidak bereaksi, sementara Kyle, yang punya mata seperti kucing, sudah lama tertidur di sudut. Hanya Clossiana Frigga, si gadis mata abu-abu, yang bersemangat. “Apakah gadis merah tadi adikmu?”


Mengingat adiknya yang dipermalukan oleh segelintir keluarga pejabat, hati Aezar tenggelam. Ingatkan dia untuk menegur mereka nanti. “Benar,” jawab Aezar, lalu teringat sesuatu. “Ah! Biar kuperkenalkan kalian.” Sayangnya saat dia berbalik, Rai sudah menghilang. Aezar mengerti adiknya tidak suka duduk terlalu lama di setiap acara yang menurutnya membosankan, tetapi tidak secepat ini. Bahkan ayah ibunya masih belum mencapai gerbang.


Rai mengejar kedua orang itu tergesa-gesa. Dia membenci orang-orang bermuka dua, tetapi jika harus menjilat, dia hanya akan melakukannya pada dua orang ini. Orang tuanya. Enak saja pergi! Dia kelaparan sejak tadi, belum sempat makan besar, perjamuan malah dihentikan.


“Ibu, aku tidak terlambat.” Rai mengekor di belakang, setengah mati menahan perasaan asing setiap kali memanggilnya begitu. Melihat wajah menggemaskan putrinya, sang Ratu meleleh.


“Kemari,” dia meraih putrinya, melingkupinya dengan pelukan. Putri kecilnya yang nakal hanya bersikap manis ketika sedang menginginkan sesuatu. Walaupun tahu diperdaya, sang Ratu masih merasa senang. “Kamu melakukannya dengan baik.”


“Tapi aku lapar.”


Rai selalu lapar. Apalagi makan siangnya terganggu. Wajah Ratu tenggelam. “Biarkan Maggie menyiapkannya untukmu,” katanya sebelum mendesah. “Benar-benar tercela, Stones itu! Sayang, kamu harus memberi mereka pelajaran!”


Raja Valazar berhenti di depan kereta yang indah. “Hm.” Lalu masuk.


“Bolehkah aku makan siang di luar?" Rai tidak sanggup kalau harus makan di kamarnya, takut sang Ratu datang dengan berdalih menemaninya. Setidaknya, biarkan degung di telinganya mereda.


Sang Ratu menyembunyikan senyumnya, tahu muslihatnya. Masuk dan duduk dalam sofa empuk di kereta, dia berkolusi, “Tanya ayahmu.”


Kali ini Raja Valazar tidak segera menjawab. Tahu sang Raja sedang mempertimbangkan sesuatu, Rai bergegas melongok ke jendela kecil bertirai sutra, menyangga tangannya di kusen. “Sebentar saja. Aku berjanji makan malam di meja besar. Hari ini aku memegang janjiku datang awal, walaupun mereka menghinaku, aku tidak membalas. Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa.” Caranya merayu sungguh membuat orang lain merasa bersalah.


Sang Ratu meleleh untuk kesekian kalinya. Jarang sekali putrinya meminta izin dengan manis begini, biasanya dia melarikan diri dari semua orang. “Sayang, putri kita hanya ingin bermain, bukan mencuri mahkotamu. Biarkan saja!" Ratu Aimee tidak pernah bisa menolak. Aezar pernah bertaruh kalau ibunya akan tetap memanjakan adiknya sampai setidaknya seribu tahun lagi.


Akhirnya sang Raja berkata, “Jangan membuat kekacauan.”


“Hm!”


“Bawa Leah bersamamu.”


“Oke!”


“Jangan membawa setiap binatang terluka ke kamarmu.”


Maggie mengadu karena Raina punya kebiasaan buruk. Dia selalu membawa setiap hewan terluka pulang dari perjalanannya. Tidak masalah merawat mereka, tetapi kamarnya kemudian akan kotor karena menjadi tempat bermain hewan-hewan. Rai baru tahu hal ini dan mengeluh. “Oooke.”


Sang Ratu menahan tawa. Putrinya sudah mulai kewalahan, tetapi, tampaknya suaminya menumpahkan empedunya sekaligus. “Instruktur Wood mengeluh. Kamu jangan datang lagi."


Rai tidak mengenal siapa Instruktur Wood, tetapi masih menjawab, “Hm.”


“Bilang apa?”


“Ya!”


“Hadiri kelas Etiketmu.”


Apalagi ini?


“Ambil atau lupakan!”


Rai meledak. “Itu masalah lain! Aku hanya ingin keluar sebentar sebagai hadiah karena patuh hari ini. Kita buat perjanjian lain untuk itu, oke?" Tolong cepatlah, dia kelaparan!


Raja Valazar berpaling pada seorang prajurit jangkung yang berdiri mengawal. “Cad, tutup gerbang utama! Jangan biarkan siapapun—“


“Oke! Baiklah, oke?” Dengan ayah selicik itu, Rai tidak akan heran kalau Raina senang melarikan diri setiap hari. “Leah, ayo pergi! Oi, jangan ditutup!” Bahkan penjaga belum bergerak, tetapi Rai sudah berlari kencang.


“Kamu mempermainkannya,” Ratu tertawa. “Anak itu memang perlu ditegur, tapi kamu terlalu kejam. Bukan tanpa alasan dia melewatkan kelas. Kamu tahu, kan?”


Tentu sang Raja tahu, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Mereka duduk berdampingan dalam kereta menuju istana. Di belakang, Aezar menepuk dahinya. Kalau tidak sedang bertugas menemani tamu agung, sudah lama dia meneriaki adiknya karena begitu bodoh.


Dalam perjalanan ke paviliun Lily, Clossiana Frigga berhenti. “Bolehkah aku menyusul adikmu?”


Aezar melihatnya heran, “Apa yang terjadi?”


“Hanya ingin jalan-jalan.” Kemudian dia lenyap dalam udara tipis.


Pemuda bertudung yang terus diam sepanjang waktu, akhirnya angkat bicara, “Biarkan. Dia bisa menjaga diri.”

__ADS_1


Kyle menurut dengan patuh.


***


__ADS_2