
Di hutan Merah, seorang pria tinggi besar turun dari kuda dan menghampiri Rai.
Wajahnya persegi. Luka bersilang bertengger angkuh di dagunya yang terbelah. Kulitnya kecoklatan terbakar matahari. Ekspresinya keras, seperti dia tidak lagi tersenyum selama bertahun-tahun. Dialah Jendral Harding.
Rai tidak suka caranya memandang seseorang. Matanya selapar serigala gurun. Tidak ada belas kasihan di wajahnya. Siapapun dia, Rai berharap tidak melihatnya di kemudian hari.
Jendral Harding melihatnya, mempelajarinya. Rai membalas dengan tenang. Mengejutkan sang Jendral.
Sepanjang ingatannya, Raina tidak tertolong lagi; tak sabaran, blak-blakan, menjengkelkan, dan sialnya sangat percaya diri. Itu seperti dia menyimpan bom waktu dalam kantongnya. Kenapa sekarang kelihatan sangat tenang? Apa yang direncanakan kepala kecilnya itu?
"Yang Mulia," sang Jendral menyapa.
Rai menatapnya polos, "Siapa?"
Kabar sang Putri kehilangan ingatannya telah sampai padanya, tetapi melihatnya bertanya dengan mata sebesar itu, membuatnya melihat ilusi bahwa gadis kecil ini sedang mempermainkannya! Jendral Harding menggertakkan gigi. "Saya Jendral Harding."
"Oh. Senang bertemu denganmu." Rai tersenyum formal.
Senyumnya membuat sang Jendral mengernyit. Sejak kapan dia menjadi sangat ramah? Karena dimatanya Raina adalah bayi harimau, dia menunggunya menggigit, tetapi Rai berhenti sampai di sana. Dia bahkan meninggalkan wajahnya, memusatkan perhatian pada rombongan yang siap berangkat. Jendral Harding merasakan cedera internal karena menahan amarah. Berani sekali gadis kecil itu mengabaikannya?
Aezar menghampiri mereka. Sang Jendral membungkuk hormat padanya, bertukar beberapa kata, lalu memberi perintah pada sekelompok prajurit untuk melakukan penelusuran. Aezar menoleh pada gadis berambut merah itu. "Kamu pulang bersamaku," katanya, menjauhkan adiknya dari sang Jendral, lalu bersiul memanggil pegasus miliknya.
Jendral Harding adalah orang yang serius, sementara Raina senang memberinya omong kosong. Aezar tahu, dia selalu naik darah setiap kali adiknya berada dalam jarak pandangnya.
Pegasus itu indah. Rai bersuka cita karena tidak perlu naik lebah raksasa, tetapi dia juga tidak mau naik kuda terbang. Cessa dan Kana tampak berbicara serius bersama empat pengawal Aezar, dia segera mencari alasan, “Bukankah ada yang harus kamu lalukan?”
“Menurutmu, apa yang bisa kulakukan ketika seseorang menghilangkan semua bukti-buktinya?” katanya menyindir sebelum memanggil Nex untuk membahas sesuatu.
Nex adalah pengawal pribadi Aezar sekaligus partnernya sejak kecil. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dari sang Pangeran, berambut pirang pasir, ramping, dan tangkas.
Rai berpura-pura tidak mendengar. Tiba-tiba dia mendengar seruan akrab dari kejauhan:
"Bos!"
Rai melihat Algis melambaikan tangan secara berlebihan di sebuah jalan kecil di pintu masuk hutan. Karena lokasi sudah diamankan, mereka hanya dapat menunggu di jangkauan terjauh. Atlee dan Leah berdiri di sampingnya. Jangan bilang, mereka menyusulnya kemari!
Ketika Rai mendekat, mereka sedang mendebatkan sesuatu.
“Apa kamu tidak tahu caranya memberi tahu?” Algis mendecap. “Beruntung kami melihat rombongan Pangeran Aezar melintas.” Ketika melihat Rai datang, matanya bersinar. “Bos!” melirik ke belakang, dia bertanya penasaran, “Apakah kamu mengenal Pangeran? Apa yang kalian bicarakan? Kalian kelihatan akrab!” suaranya jelas mengandung kekaguman.
Rai hanya bisa meringis.
Atlee berkata dengan jengkel, “Jelas Yang Mulia ingin tahu yang terjadi, Bodoh!” Kemudian berbalik pada Rai. "Siapa orang besar yang berbicara denganmu barusan? Sangat menyeramkan!”
“Jendral Harding!”
Mereka bergidik mendengar namanya. Jendral Harding terkenal dengan wataknya yang keras dan menakutkan. Menurut rumor, keganasannya di medan perang sebanding dengan seratus prajurit veteran. Wajar mereka merasa ngeri walau hanya mendengar namanya.
"Baguslah, kamu selamat!”
Rai tersenyum. "Terima kasih sudah mencemaskanku sampai menyusul kemari. Jendral Harding akan menyurus sisanya."
Algis maupun Atlee terperangah. Jarang sekali mendengarnya mengucapkan terima kasih, apalagi dengan tulus!
“Cih, siapa yang cemas!” Atlee menggosok hidungnya yang tak gatal, lalu melompat pada lebah di sampingnya.
Rai bersin.
“Hahaha! Akui saja! Kamu sampai mencuri lebah di pos jaga dan buru-buru menyusul!" Atlee menubruk Algis dengan kepala si lebah, memperingatinya dengan galak, tetapi pemuda itu tidak dapat dihentikan.
Rai Bersin lagi.
"Terserah! Ayo, pulang!"
"Apa ini, kamu takut pulang sendirian?"
"Dalam mimpimu!"
Mereka berdebat lagi.
"Nona baik-baik saja?" Leah cemas melihat Rai terus bersin. Dia melepas jubah kepergiannya, takut dia kedinginan, tetapi Rai menolak.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Terlalu banyak debu di udara," katanya beralasan, terlalu gengsi mengatakan kebenaran.
Leah mengenakan jubahnya lagi. Dua orang di samping masih berdebat, dia tersenyum maklum melihatnya. Kemudian berbicara pada Rai dengan pelan, "Nona Muda juga harus pulang. Anda punya janji makan malam."
Rai hanya mengangguk, sibuk menggosok hidungnya yang gatal, pandangannya tertuju pada rombongan Jendral Harding yang melewati mereka. Frigga duduk di kereta bersama para korban yang mulai sadar, kelihatan tenang meski tidak didampingi siapapun. Dia tersenyum ketika mata mereka bertemu. Di samping, pemuda bernama Nex berkuda bersama Andee, Cessa, dan Kana. Mereka mengangguk begitu melihat Rai.
"Kami sudah menghubungi saudaranya, Fabian," kata Nex tanpa diminta, melirik Frigga yang kelihatan sudah tahu. "Biarkan kami mengurus sisanya."
Rai tahu itu kata-kata Aezar. "Terima kasih."
Sekilas si pemuda tampak terkejut, tetapi segera menutupinya dengan baik. Mereka melanjutkan perjalanan dan menghilang di balik bukit.
"Bos, siapa gadis itu? Kulihat dia datang bersamamu siang tadi," Algis bertanya.
Rai menjawab kalem, "Seorang tamu dari jauh."
"Si Tukang Ikut Campur." Atlee mendengus.
"Oh. Lalu, kamu pulang dengan siapa? Aku tidak melihatmu membawa lebah. Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?"
"Sudah hampir malam," Atlee setuju. "Kita bisa pulang bersama."
Leah menjadi gugup.
Rai tidak menjawab. Suara-suara itu menyerbunya dari segala arah, mengejutkannya sampai limbung. Matanya tidak fokus, memandang sekeliling dengan linglung. Wajahnya pucat pasi.
"Nona Muda!" Leah berseru cemas, menopang tubuhnya.
Atlee melompat dari lebah dan berdiri bersama Algis di sampingnya, siap siaga.
Aezar mendengar seruan itu dan berlari mendekat dengan panik. "Apa yang terjadi?"
Kepalanya berdenyut. Suara-suara dari kehampaan melolong di udara. Serangga, hewan melata, bunga-bunga, bahkan pepohonan, berbicara hal yang sama padanya. Suara-suara itu tumpang-tindih dan bertubi-tubi. Bayangannya bergoyang gelisah.
Mungkin kedengaran aneh, karena sejak kecil Rai mendengar semua hal yang hidup di sekitarnya. Entah hewan besar atau lalat sekalipun, bahkan pohon dan bunga, dia mendengar mereka berbicara. Rai tidak pernah mengungkapkan hal ini kepada siapapun, karena entah bagaimana, ada bagian dalam dirinya yang menghentikannya. Ibunya bilang, tidak ada hal ajaib semacam itu, jadi Rai menyimpan semuanya sendirian.
Shade mendeteksi jejak sihir di tempat lain. Rai tidak tahu dimana, tetapi merasakannya sangat dekat. Dari arah Barat. Tidak, Barat Laut! Di sebuah tempat yang penuh kehidupan.
Aezar kaget. Algis dan Atlee lebih kaget lagi.
"Itu ... desa tempat kami tinggal, kenapa?" Algis menatap Rai prihatin. Kepalanya pasti terbentur dengan parah, pikirnya, sampai melupakan tempat bermainnya sendiri.
Raina memang selalu menghabiskan sebagian besar waktunya di desa Dahae, desa para pemburu, bermain sampai puas di hutan dan ladang; memburu kelinci dan memanah burung-burung. Seringnya, berenang di sungai sambil menangkap ikan untuk makan siang. Walaupun tak sabaran, berisik dan galak, anak-anak desa menyukainya, para orang tua menyayanginya. Mereka tahu dengan pasti, Raina hanya bersikap seperti itu ketika diganggu oleh segelintir pihak yang membencinya.
"Namanya desa Dahae," kata Atlee lebih jelas. "Desa pemburu. Apa? Kamu mengingat sesuatu?"
Pada saat itu, si hantu Clo yang sejak tadi cemberut, menatap Rai dengan pandangan kosong. Gambaran-gambaran mengerikan berkelebat dalam benaknya. Aku mengerti! batinnya. Desa itu ...
"Bahaya!" Rai berseru. "Desa itu dalam bahaya!" Terburu-buru berlari ke pegasus, dia mendorong Aezar dengan kasar, nyaris membuatnya terjungkal. Algis dan Atlee membelalak ketakutan akan sikapnya yang kurang ajar, sejenak melupakan seruannya barusan. Gadis ini, begitu kasarnya pada seorang Pangeran ... Rai menyentak kesadaran mereka dengan berseru lagi, "Cepatlah! Semua penduduk desa dalam bahaya! Penyihir menyerang!"
Sekali lagi, mereka membelalak ketakutan. Hanya dalam sehari, entah berapa kali Aezar tercengang.
***
“Tak ada yang tersisa,” kata Will setelah pemeriksaan ke lima. Dia yang jangkung dan tampak mirip manusia kecuali matanya yang merah, beranjak melangkahi mayat seorang Alfar dan berdiri di samping Rex yang meraba permukaan tanah dengan sihirnya. “Mereka sudah mati.”
"Belum lama,” tambah Rex, menarik kembali elemen tanahnya. Lembah Lor yang dingin dan misterius bertambah mencekam oleh orang-orang mati. Rex menengadah, sinar kelabu dari purnama di langit entah mengapa membuatnya gelisah, seolah-olah sesuatu yang berbahaya tengah bergerak mendekat. “Tapi, jelas ini sihir. Bukan begitu, Bos?”
Mata zamrud itu terbuka, tetapi sepertinya dia tak mendengarkan. Sang Pangeran tengah mengamati lembah Lor dengan sikap setengah bosan dan setengah melamun seperti biasa. Rex sudah cukup lama bepergian dengannya untuk tahu bahwa lebih baik tak mengganggunya saat sedang bersikap seperti itu.
"Aneh,” kata Will. Suaranya bergema, terlalu lantang di antara kesunyian malam dan dinginnya lembah. “Mayat mereka terlalu sempurna untuk seseorang yang terkena sihir kutukan.”
Rex melirik mayat seorang pria yang tergeletak di dekat kakinya. Dia tahu cepat atau lambat mereka akan sampai pada bagian ini, tetapi mendengar Will mengatakannya secara gamblang, kegelisahan itu kembali padanya.
Sebelum bergabung dalam kelompok ini, Rex adalah seorang bandit. Bandit gunung di perbatasan Barat. Dia telah terbiasa dengan bahaya dan berkeliaran menantang ganasnya malam. Namun, malam ini rasanya berbeda. Keremangan lembah Lor membuat bulu kuduknya berdiri, seperti ada sesuatu dalam kegelapan mengintai mereka dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. “Tak ada luka,” dia setuju. “Selain batu aneh itu.”
Will menunduk, mengamati benda hijau yang juga diamati oleh Rex. “Ya.” Benda itu ditanam baru dalam daging, terlihat dari bekasnya yang meninggalkan jejak darah dan bengkak. "Bukankah mayat-mayat ini terlihat persis seperti waktu itu?"
Yang dia maksud adalah korban pembantaian di desa Paree, dan mayat hidup di hutan Supala.
Rex membenarkan, tetapi ada sesuatu yang membuatnya heran. Sesuatu yang salah, yang seharusnya ada, tetapi mungkin terlewat begitu saja.
__ADS_1
“Aku mengerti,” sang Pangeran menggumam untuk pertama kalinya. “Seharusnya memang begini.”
Will dan Rex saling melempar pandangan heran. Mereka telah terbiasa dengan emosi sang bos yang kaku dan tak tersentuh, tetapi sikapnya malam ini terasa lain. Ada sesuatu yang tengah dipikirkannya, suatu hal mendesak yang mereka yakini amat dingin dan berbahaya.
“Bos?” Will memberanikan diri bertanya. Dia satu-satunya vier-gene yang direkrut sang bangsawan dalam perjalanannya ke Barat bertahun-tahun lalu, saat Will masih menjadi budak penyihir-penyihir perbatasan. Dia telah terbiasa menerima perlakuan kasar dan siksaan, sekadar mengganggu konsentrasi si Bos bukanlah hal besar baginya.
Namun, lagi-lagi sang Pangeran tak menjawab, dia menengadah pada bulan kelabu di langit. Sinar keperakan itu menyentuh kulitnya yang pucat, menyelinap melalui celah jubah hijau lumut miliknya dan membelai sutra halus di baliknya. Rambutnya yang pirang dipermainkan angin di pingganggnya. Untuk pertama kali, Will tak percaya bahwa Bos kaku yang menyelamatkannya dari perbudakan adalah seorang Pangeran Alfar. Will tak pernah sudi dikendalikan penyihir, jadi dia bersedia mengikuti orang ini dan menjadi pengawal setianya.
“Ambil batu itu,” perintah sang Pangeran tiba-tiba saat purnama tenggelam di balik kabut pekat. Kegelapan seketika menyergap mereka. “Mungkin ini penyebabnya,” gumamnya lagi. Dia masih ingat, dada para mayat yang ditemukan di hutan Supala berlubang. Mayat ini utuh, tepat dimana paru-parunya berada, sebuah benda hijau sekepal tangan disisipkan. Benda itu serupa dengan batu sihir yang dibawa utusan Vanaheimr! “Ya, benar. Hanya benda ini yang menghilang—“ tetapi kemudian dia tersentak saat melihat sebuah gerakan dari sudut matanya. Pangeran itu, Ace, menoleh, melihat kilasan bayangan di kegelapan, tetapi bayangan itu menghilang dengan cepat.
Rex menyadarinya dan instingnya yang tajam menuntunnya untuk waspada. “Ada yang datang!” serunya, mengingatkan selusin pasukan di belakang. Pasukan itu bergerak cepat membangun pertahanan mengelilingi ketiganya, siap siaga dengan senjata di tangan. Sang Pangeran menggenggam pedang perak sementara Rex mengetatkan glove di tangannya. Will mencabut tongkat sihir seringan kapas.
Sesosok bayangan muncul dari kegelapan. Tinggi, kurus kering, dan pucat dengan mata seluruhnya hitam. Batu hijau di dadanya bersinar di balik pakaiannya. Mereka sadar itu bukan sekadar batu. Aroma hujan memancar darinya, sang Pangeran mengernyit.
Mereka meluncur seringan asap, muncul tanpa suara dari segala arah. Mayat-mayat yang tergeletak di lembah secara mengejutkan bangkit dan mendekat bersamaan. Begitu pucat, limbung, dan terseok-seok menuju ke arah mereka. Mereka bergerak!
Sang Pangeran dan pasukannya terperangah, tak menduga hal itu akan terjadi.
Rex mengangkat tangannya, isyarat kepada pasukan untuk siap menyerang, ketika mayat-mayat itu tiba-tiba berhenti. Kepalanya yang kosong bergerak miring, seperti tengah mendengarkan sesuatu. Udara di lembah menjadi sedingin es.
Baru-baru ini mayat hidup menyerang desa-desa kecil di Barat Daya Paradis. Mayat-mayat yang tergeletak di jalanan persis sama keadaannya dengan mayat-mayat di hutan Supala dan korban pembantaian di desa Paree, tanpa darah dan daging, tetapi tidak ada luka yang nampak. Semua pasukan yang diutus untuk memberantas musuh, malah tidak pernah kembali. Mereka semua dihancurkan! Sang Pangeran ingin memastikan sendiri dan pergi dengan cepat begitu merasakan niat membunuh yang besar dari arah lembah, lalu menemukan satu perbedaan yang mencolok: batu itu.
Benda macam apa itu? Mungkinkah benda ini yang menggerakkan mayat-mayat?
Rex membuat tombak dari tanah ketika salah satu mayat hidup bergerak. Will telah siap dengan tongkatnya, sementara sang Pangeran tak bergeming dengan pedang di tangan. Seluruh pasukan mengetatkan genggaman pada senjatanya. Semua orang waspada.
Saat ketegangan berlangsung, sebuah suara mengerikan menggema dari belakang kerumunan, menjadi latar yang menggoncangkan seluruh pertahanan, “Sekumpulan sampah!”
Suara itu rendah dan sarat akan rasa jijik, melayang bersama angin malam. Mata sang Pangeran menembus kerumunan mayat yang berdiri dengan bodoh dan melihat sebuah siluet ramping dalam hutan. Cahaya bulan tidak mencapai tempatnya, mereka tidak dapat menebak siapa dia, walaupun hanya dari suaranya. Siluet itu tersembunyi di balik tabir. Yang mereka tahu, orang itu sangat kuat. Dalam kedipan mata, sebuah lecutan gelap menyambar secepat kilat dan setengah prajurit dalam pasukan ambruk bersamaan. Jasad mereka mengerikan!
Mereka terperangah, berdiri diam tak bergerak. Pandangan mereka terpusat pada satu orang, sayang sekali orang itu menghilang secepat datangnya. Suaranya yang tertinggal di udara memberi perintah tak terbantahkan:
"Bakar menjadi debu!"
Mayat-mayat serentak menyerang membabi-buta. Anehnya, walaupun dari golongan Alfar, mayat-mayat itu menguasai sihir api kutukan!
Pasukan yang tersisa kesulitan. Kemunculan entah-siapa mengacaukan formasi, membuat mereka ketakutan!
Rex membangun benteng dari tanah, menahan serangan api, lalu bertanya di tengah kekacauan, "Apakah itu dia?"
Si entah-siapa dari Barat Laut?
Kekuatan semacam itu, yang mampu menghabisi separuh pasukannya tanpa bergerak sedikitpun, sungguh di luar pemahaman. Metode ini mengingatkan mereka pada peristiwa di Barat Laut. Benarkah itu dia? Mengapa kali ini dia mengendalikan para mayat dan menyerang mereka?
Namun, meskipun sihir dan serangannya mirip, Ace merasa ada sesuatu yang salah. Tekanan udara tidak membuat napasnya sesak, dan dia tidak gemetar seperti waktu itu. Tetap saja, orang ini tidak bisa diremehkan. Dia berbahaya.
Will, yang berpengalaman dengan sihir, menjawab, "Tidak salah lagi, itu sihir bayangan!" Dia merapal mantra dan meledakkan beberapa mayat hidup sekaligus, memburai usus-ususnya, tetapi mayat itu segera memulihkan diri dengan cepat. Mereka menyeringai kaku padanya, lalu menyerang lebih keras dari sebelumnya.
Sang Pangeran menusuk jantung seorang mayat, yang kembali berdiri dengan tubuh berlubang. Mayat-mayat menyerang tanpa jeda, setiap cedera yang tercipta menutup ketika dia bergerak. Walaupun bagian tubuhnya terkoyak, mereka terus bergerak dengan leluasa, seolah-olah lubang ditubuhnya tidak berarti apa-apa. Mereka pulih dengan cepat.
Lembah Lor menjadi kacau. Bentrokan senjata terdengar dari segala arah, rapalan mantra terburai dan sihir-sihir meledak. Korban dari pihak sang Pangeran tidak terhitung jumlahnya, sementara mayat-mayat itu tidak berkurang satu pun! Meski bergerak terseok-seok dan tubuh berlubang, mereka tetap mampu memanggil sihir!
Tiba-tiba Ace teringat sebuah lubang tunggal pada mayat-mayat di hutan Supala. Secepat kilat, dia menyentak sihir angin dan menusuk paru-paru seorang mayat yang datang dari belakang. Seketika mayat itu tumbang, tergeletak kaku di tanah, tak lagi bergerak.
Itulah kelemahannya!
Semua pasukan, yang nyaris mati putus asa, melihatnya dan segera mendapatkan lagi harapan yang hampir musnah. Mereka maju sekali lagi, menyerang dengan percaya diri dan semangat yang tinggi.
Ace tertegun. Sasarannya adalah letak dimana batu aneh itu disisipkan. Ketika sihirnya menghancurkan benda itu, mayat hidup dikalahkan. Mendadak, bulu kuduknya meremang. Entah benda macam apa itu, benar-benar menggerakkan mayat-mayat!
Lembar Lor yang dingin dan misterius, sekali lagi mencekam oleh orang-orang mati. Namun, pergerakan angin tiba-tiba berubah. Aroma dupa dan darah segar dirasakan Ace mengalir begitu pahit di udara.
Dia tersentak di tempatnya berdiri, melecut kepalanya ke arah dimana angin dingin datang membawa berita. Si entah-siapa yang muncul dalam sekejap terbayang di sudut matanya.
Tak salah lagi! Orang itu datang bukan untuk pamer kekuatan, tetapi menggunakan mayat-mayat ini untuk memancingnya datang. Tujuannya seperti pedang bermata dua: untuk membunuhnya di tempat, atau mengecohnya menjauh dari tempat lain!
Ace mengepalkan tinju dengan marah ketika menyadari arah yang ditunjukkan angin.
Barat Laut!
***
__ADS_1