Sêbetsu No Tigau Betsuno Sekai He

Sêbetsu No Tigau Betsuno Sekai He
Volume I 【Chapter.01】


__ADS_3

Sebuah rahasia yang akan tetap dia sembunyikan.


Ku terlahir tanpa tahu siapa itu orang tua, mereka menghilang meninggalkanku pada sebuah keluarga. Memang mereka menyayangiku, tapi tak selamanya Karna mereka lebih menyukai seorang anak kadungnya. Ku sering sekali sulit tersenyum tulus kepada orang sekitar, memasang topeng untuk menutupi semua perasaanku yang terpendam.


Namun kali ini tak sulit untuk mengutarakan itu semua. Ku merasa bahagia berada disini, melihat banyak orang yang benar-benar menghargaiku, sulit kudapatkan dimasa lalu. Ku telah mengalami banyak kesulitan untuk menyapainya, tapi sebanding dengan hasilnya.... "Eh" Sebuah air mata menetes, ku bisa mengekspresikan perasaan sedihku yang sudah ku pendam sebelumnya, rasa sakit yang tak ku usahakan untuk menutupinya.


Sebuah tangisan ku keluarkan. Bukan sebuah kesedihan, melainkan sebuah tangis kebahagian untuk melepaskan semuanya. Dengan hujan yang turun deras mengiringiku.


「Hai... Kenapa kau cengeng sekali. Kami akan tetap disini bersamamu. Membangun dunia yang sedang krisis ini.」


Suara itu membuatku tersadar, segera ku mengusap air mata yang terus mengalir. Ku merapikan seluruh pakaian, membalikkan badan kearah asal suara dengan senyum cerah yang terlihat jelas diwajahku.


「Cobalah untuk menikmati malam hari. Kamu terlalu serius.」


「... K-kau tahu aturannya bukan. Jangan pernah tersenyum seperti itu dihadapanku. LAGI!』


Wajahnya sering sekali mudah memerah. Ku tertawa pelan melihat temanku yang masih malu melihatku yang sekarang. "Hai" Ku melambaikan tangan dari gadis disampingku dan berjalan melewatinya, telah biasa dengan penampilannya yang sekarang ini, ku juga sudah lama menerimanya.... Ku berjalan menuju kebawah, mendorong sebuah gerbang yang lumayan besar disana. Meperlihatkan sekelompok orang maupun yang lainnya bersorak melihatku disana. Untuk sekian kalinya ku tersenyum kembali.


「Mari kita ubah sejarah dunia.」


Suara sorakan yang lebih meriah dapat ku dengar. Ini sangat membuatku senang.


..."Kriing"...


^^^[][][][]^^^


"Ugh" Udah kesekian kalinya ku mengalami mimpi yang hampir sama setiap waktunya. Tubuhku berkeringat, sendiku juga pegal tanpa sebab setelahnya. Ku pernah menkosultasikan ini ke dokter, namun mereka hanya mengatakan bahwa saya hanya mengalami Somnabulisme.... Seriuslah, bahkan tak ada keluhan keributan yang dilontarkan oleh keluargaku maupun tetangga. Apalagi ini sudah terjadi terus menerus, sudah membuatku sangat lelah.


'Ku akan keluar untuk mandi.'


Ku berjalan ke kamar mandi untuk bersantai sambil berendam. Ku menyalakan air hangat, menggunya penuh membutuhkan waktu yang lumayan lama, asap juga sudah mulai menggelilingi ruangan.... "Ah" Segarnya tubuhku, berendam di air hangat saat pagi adalah hal yang sangat kusukai.


「Apa ada orang di dalam.」


"Em" Sepertinya lagi-lagi diriku bangun lebih pagi dari yang lainnya. Ibu sepertinya sedang sibuk membuat sarapan, dia sudah tak terlalu terkejut dengan kebiasaanku yang baru.... Ku membasuh air pada tubuhku hingga kering, menutupi bagian kemaluanku menuju ke kamar untuk berganti baju.


Jaraknya lumayan jauh dari ruang kamarku, harus melewati beberapa ruangan lainnya. Seperti ruang tidur adik sekaligus orang tua, sekaligus beberapa ruangan yang tak digunakan. Ku melangkah pada sebuah ruangan, tepat saat pintunya terbuka saat diriku berada di depannya.

__ADS_1


「Ah... Kak kamu sudah selesai.」


Walau kami saudara, tapi tak bagus baginya untuk berpakaian seperti itu di depanku. Dia seorang gadis yang masih tumbuh, tubuhnya tak sesuai dengan penampilan yang seharusnya. Ku menatapnya, dengan tersenyum menjawabnya.


「Cepatlah. Airnya nanti menjadi dingin... Sekaligus aku tak ingin menunggumu yang akan lama nantinya.」


Ku berjalan meninggalkannya yang nampak bahwa dia terlihat kesal. Tanganku memegang gagang pintu untuk membukannya dan masuk kedalam. Ku mencari seragam yang akan dipakai, banyak pakaian yang menumpuk disini, lain kali mungkin bagus jika diriku menyempatkan waktu untuk menyumbangkan beberapa pakaian tak terpakai.... "Yep" Saatnya turun kebawah untuk sarapan disana.


Ku turun melewati tangga, berjalan masuk keruang yang telah ada pasangan disana. Mereka merupakan ayah dan ibu, duduk menunggu di meja makan. Ku berjalan mendekat, sekaligus duduk pada salah satu bangku yang masih kosong, dengan suasana yang diam dan sunyi. Tak ada percakapan yang terjadi, saya tak tahu juga ingin membahas apa disini.


「Jadi... Apa kita harus memberitahukan hal itu sekarang sayang~. Sebelum Akira datang.」


Ada apa ini? Suasana menjadi serius setelah perkataan itu. Ada perasaan aneh yang menggangu diriku saat ini, sepertinya kabar buruk akan menimpa diriku.


「Sebenarnya kami tak ingin memberi tahumu... Tapi karna sudah saatnya kamu tahu dengan umurmu yang sudah dewasa. Kami akan memberikan sebuah surat yang sudah disembunyikan lebih dari 16 tahun... Saat kamu telah terlahir.」


Firasat buruku muncul pada kata-kata yang dilontarkan oleh ayah, entah kenapa saya akan menyiapkan mental yang kuat untuk ini. Ku mulai membuka lipatan kertas tersebut, membacanya dari kata paling atas.


'Flare, itu nama yang ku berikan kepadamu. Kuharap kamu dapat bahagia dikeluarga yang sekarang. Maaf jika tak bisa berada disampingmu disaat yang dibutuhkan dan memenuhi kewajibanku. Banyak beban yang kupikul saat ini dan nanti. Ku tak ingin kamu menjadi ikut terbawa dengan masalah yang ku tanggung... Flare, kau itu istimewah. Jadi ku harap untuk dirimu mengerti maksudku.'


Ku sangat terkejut, tapi terasa puas sekaligus lega setelah membacanya. Fakta ini menjadi sangat hambar dengan akibat mimpiku, tak terdapat rasa sedih yang ku rasakan dihatiku. Tapi namaku tak di ubah oleh keluarga ini, apa yang menjadi maksudnya ini.... Ku menatap kearah mereka, tanpa keraguan lagi ku akan melontarkan pertayaan yang menjanggal.


Dengan senyum ku menahan rasa yang terasa sakit. Mereka tak ada jawaban yang terlontar, diam membeku dengan apa yang ku katakan. Memang benar diriku bukan bagian dari keluarga mereka, tapi itu menyakitkan bahwa tak ada rasa toleransi selain kasihan terhadapku oleh mereka. Ku sadar bahwa marah membuat masalah ini tak membaik.


Suasana canggung terasa diruangan ini, tak ada sepatah kata yang saya maupun mereka ini katakan. Hingga akhirnya adiku datang kesini menghangatkan suasana. Kami berempat makan bersama disana, dengan diriku yang merasa tak ada kehangatan yang sering ada, sangat dingin bagi diriku yang merupakan seorang luar disini. Mungkin Dia tak ada kaitannya dengan ini, lebih baik tak kuberi tahunya masalah yang satu ini.


Ku menyelesaikan makannya duluan, merapikan diri untuk berangkat ke tempat ilmu ditempa. Karna tempat diriku dan adiku bersekolah sama, karna dia pintar meloncat satu tahun bukan suatu masalah yang besar.... Suasana cangung diantara kami, sunyi tanpa ada sepatah kata. Diriku bisa dikatakan tak terlalu akrab dengan dirinya, walau tetap harus ku tunujkan sosok kakak yang baik baginya.


Kaki melangkah lebih dulu darinya, melewati rumah yang tersusun rapi dan menyapa orang yang berada diluar. Ku hidup disebuah perkomplekan perumahan, disini merupakan perumahan terbesar yang ada dikota, sekaligus tempat hunian paling ramai dan dekat dengan sekolahan-sekolahan yang berprestasi.


Saat diperjalanan ku dapat melihat sebuah toko, yang disana seorang laki-laki dan perempuan sedang belanja. Sangat ku kenali mereka, sepasang saudara beda ibu yang 'berbakat'.... "Yah" Selain satu perumahan, salah satu dari mereka merupakan teman satu kelasku, Asterio. Seorang laki-laki berambut biru, yang sangat menyukai makan dingin, yang salah satunya sedang ia makan, ice cream.


「Hai Aster. Apa sudah menunggu lama.」


Ku dengan senyum menyapanya dengan tangan melambai tangan.


_____________________________________________

__ADS_1


〔Depan toko, pagi hari〕


"Hup" Ku menggigit ujung ice cream tersebut. Terdengar ditelingaku suara yang sangat familiar, ku mencoba untuk memalingkan pandangan untuk melihatnya. Ku membalaskan lambaiannya, kami lumayan dekat untuk beberapa faktor. Mereka berdua berjalan menghampiriku, ku melihat ada jarak dikeduanya jika dikatakan sebagai saudara.


Kalau begini hanya ada alasan yang dapat ku ketahui, mereka tak terikat secara darah, mungkin. Ku tak terlalu pasti, tapi ku sering tak pernah melihat mereka saling berbicara bersama, ada penghalang yang membatasi keduanya. "Eh" Icenya mencair, mana ku peduli lebih baik ku lanjutkan memakannya saja.


Ku berpikir, jika bukan karna Liona yang memaksa saya juga tak ingin berjalan bersama mereka. Saudari bodohku ini sepertinya menyukai Flare, setiap saat memintaku untuk mendekatkan mereka. Tapi mungkin itu membuatku dekat dengan saudarinya, ku akui bahwa dirinya merupakan gadis cantik.


「Hai kalian berempat akrab sekali.」


Ku membenci orang yang mempunyai suara ini. Seseorang yang akan membuatmu masuk kedalam masalah dengan mudah, ku mendengar langkah kakinya yang sepertinya menghampiriku. Badanku tertarik padanya, tangannya merangkul leherku hingga diriku sulit untuk bergerak.


「Kau tak tinggi-tinggi.」


Pembahasan ini yang selalu dia bahas, ku benci mengakuinya, tapi tak ada yang dapat ku bantah dari pernyataan tersebut. Semuanya dapat dipastikan itu merupakan 100% sebuah kenyataan. Ku pernah berharap jika tubuhku bisa tinggi, bahkan saudariku lebih tinggi.... "Buk" Telingaku dapat terdengar sebuah pukulan keras, dapat dipastikan bahwa dia sudah diberikan sebuah pelajaran.


「Berhentilah untuk menghina seseorang. Kau itu tak akan bisa mengalahkan dirinya dalam kepintaran.」


Dia merupakan kakak perempuannya, sifatnya memang sangat dewasa karna dirinya dua tahun lebih tua dari kami. Sebuah kebetulan bahwa kami berenam ini dapat berteman, banyak kesamaan yang terjadi diantara kami. Memang ada perbedaan yang terjadi, tapi ini merupakan sebuah bukti jika itu tak akan menjadi sebuah masalah yang besar.


^^^[][][][]^^^


Kami sekarang telah berada di dalam kelas, belum banyak orang yang berada disini, termasuk waktu yang awal untuk datang tepat waktu bagi siswa disini. Para guru akan masuk sepuluh menit setelah bel masuk, saat itu semua jadi lautan manusia yang berhamburan memasuki kelas.


Karna waktu yang masih ada jeda, ku akan tidur sebentar disini. Ku memalingkan wajah kepada siswa yang telah datang, mereka sibuk dengan smartphone mereka masing-masing, sepertinya sudah menjadi budaya untuk zaman sekarang ya. Tanpa tersadar, mataku tertutup sekaligus kesadaranku sudah mulai menghilang.... "Hem" Kenapa disini terdengar sangat ramai sekali, ada keributan apa lagi yang terjadi. Ku mencoba untuk membuka mata, melihat situasi sekitar.


Semua berteriak dengan suara yang menggema, diriku masih mencerna apa yang terjadi. Dapat ku lihat jika sebuah ruangan berbatu disini, berbagi orang dengan seragam sekolah yang ku tempati berkumpul pada tempat ini. Diriku sedikit bigung dengan apa yang terjadi sebenarnya, ku tak mengenali siapa pun yang ada dapat kulihat.... "Ah" Sepertinya ada seseorang yang dapat ku ajak bicara disana.


Ku berjalan untuk menghampirinya, tanganku mencoba untuk menggapainya. Dengan sekejap ku memegang bahunya, dia berbalik melihat kearah diriku, wajahnya tak berubah sama sekali.


「Flare, ternyata kau tak ikut berubah seperti mereka.」


Sepertinya tak hanya diriku yang menghampirinya, tapi juga masih ada beberapa siswa yang juga sulit ku kenal juga menghampirinya. Terlihat jika wajah mereka nampak terkejut melihatku, apa yang coba mereka pikirkan tentang diriku. Dapat ku pastikan jika mereka mungkin juga salah satu dari mereka berempat. Flare, menggengam tanganku, ada sebuah perasaan aneh saat tersentuh tangannya. Kepalaku entah kenapa terasa panas.


「Kau Asterio. Kau... Seorang perempuan.」


Apa yang baru saja dia katakan. Saya masih belum dapat mencernanya dengan baik.

__ADS_1


...ーAuthor timeー...


X: Saya merilis cerita baru, walau sebelumnya tak kulanjut dengan kendala utama adalah cuma satu. Kehilangan inspirasi untuk dilanjutkan, tak ada yang pernah memberikan komentar yang bagus, seperti hal utamanya adalah untuk memberikanku sebuah ide. Semoga di novel ini ada orang yang nemberikan manfaat lewat komen.


__ADS_2