Sêbetsu No Tigau Betsuno Sekai He

Sêbetsu No Tigau Betsuno Sekai He
Volume I【Chapter.02】


__ADS_3

Raja, sepertinya menyembunyikan fakta.


"Ha" Kenapa semua orang menatapku dengan rasa keheranan, apa ada yang salah dariku, mungkinkah perubahan sangat besar padaku terjadi. Siapa tahu saja jika saya menjadi lebih baik dari diri sendiri daripada sebelumnya.... Tapi jangan sampai berubah jadi sangat buruk nantinya.


「... Kau Asterio. Apa benar itu namamu.」


「Memang benar itu namaku memang-.」


Tunggu sebentar. Ada yang aneh dengan suaraku saat ini, kenapa rasanya lebih kecil dan halus dari miliku yang sebelumnya. Saya mencoba menundukkan pandangan kebawah, saya terkejut dengan yang dilihat mataku. Tanganku mengecil, warna kulitnya lebih putih dan teksturnya lebih halus dari pada sebelumnya. Karna seragamku sedikit longgar, entah kenapa mataku dapat melihat sebuah keanehan, tanganku mencoba untuk menyetuhnya. Rasa pertama yang dirasakan adalah kelembutan yang tak pernah saya rasakan.... "Hm" Ada rambut yang mengurai panjang disamping mataku.


Saya menatap tak yakin kepada orang-orang di depan hadapanku, menunggu mereka mengatakan sesuatu yang memberikanku sebuah harapan dari ketidak nyataan dan kepastian yang sulit sekali untuk dipercayai oleh akal sehat.


「Saya tahu maksud dari tatapanmu itu... Tapi sayang memang hal buruk menimpamu Aster. Kau memang berubah menjadi perempuan.」


Flare menggengam tanganku, saya tak terlalu fokus pada perkataannya, ada perasaan aneh ketika tangannya menyentuhku. Entah kenapa wajahku memanas saat ini, karna saya merasa tak yakin dengan segera saya tarik tangan menjauh. Semua menatap dengan kebigungan, bahkan saya lumayan tak tahu dengan perasaan yang saya rasakan tadi. Sekaligus, kenapa dadaku berdegup kencang setelah digenggam, belum pernah saya rasakan sebelumnya.


「Kau demamkah Asterio. Wajahmu sampai memerah seperti itu... Hm tapi tak disangka jika bocah pendek itu menjadi gadis yang cantik.」


Orang dengan mulut yang mengesalkan ini saya rasa sangat mengenalnya, walau penampilannya berubah menjadi lebih muda tapi sifatnya masih saja tak dapat diubah dari sebelumnya. Tapi diperhatikan dengan lebih cermat, saya memikirkan sebuah siasat yang buruk padanya. Saya berjalan mendekat kearah dia berada, dia menaikan sedikit kepalanya menatap padaku, kami sekarang berdiri sejajar. Saya menaikan tangan diatas kepalanya, membandingkan tinggi dia sekarang dengan diriku. "Pfft" Saya dapat mendengar jika orang disekitar menahan tawa mengerti apa yang saya perbuat, membuatku melihat wajahnya menatapku dengan ekspresi kesal.


「Sekarang kita berdua sama. Jadi apa yang ingin kamu katakan.」


Saya tersenyum di depan wajahnya, dan menarik wajahku menjauh setelah beberapa saat. Dia hanya terdiam, bahkan tak ada keberanian lagi untuk menatapku, apa mungkin ada yang salah hingga dapat membuat dia ketakukan seperti itu. Saya mencoba mengalihkan pandanganku pada Flare, namun kenapa ada sedikit perasaan aneh ketika mata kami saling bertatapan, saya menjadi tak terlalu berani menatap matanya.


"Hm" Ada suara langkah kaki mendekat kearah diriku, dapat saya rasakan bahwa mulutnya dekat dengan telingaku, dengan nafas yang mengenai terus rambut panjangku. Apa yang sedang ingin dia katakan, saya dapat rasakan jika dia sedang membuka mulutnya.


「Apa kau menyukai Flare. Ingat walau dirimu sekarang perempuan sebelumnya itu adalah seorang laki-laki.」


Saya menjauh dari orang yang mengatakan itu, dia adalah perempuan yang tinggi, karakteristiknya seperti orang barat. Tapi tak ada orang yang sepertinya di kelasku berada atau bisa dikatakan jika itu merupakan seluruh sekolah tak ada ciri-ciri yang dia miliki. Namun jika gadia yang menjadi seorang kakak suka menjahiliku ada satu, merupakan saudara dari orang yang sering mengganguku, yaitu Lidia Varne.

__ADS_1


Dia sekarang berpenampilan lebih cantik dari sebelumnya, Rambut yang bewarna kuning coklat dan mata sedikit merah mudah sudah menjadi daya tariknya sendiri, mungkin saja kulitnya yang juga menjadi bagus dari sebelumnya, dapat dilihat jika itu menjadi lebih cerah. Tak hanya dirinya saja, tapi semua orang disini semuanya hampir mempunyai masalah dengan kemiripan yang, tak merugikan sama sekali tapi terkadang menjadi seperti dulu memang sesuatu yang lebih bagus.


Saya merasa dingin dipunggungku, ada tatapan tajam yang diarahkan padaku, sepontan pandanganku mencari arah dari orang tersebut. Saya sudah tak terkejut jika saja dia memberiku tatapan yang setajam itu setelah mendengar perkataan tadi, dia orang pasti sangat saya kenal dan setiap saat terus berpapasan dengannya. Saudari perempuanku sendiri Lional, siapa diantara kami yang tak mengetahui jika dia menyukai Flare, sekarang saya saudaranya sendiripun dianggap sebagai musuh.... Apa dia lupa jika diriku seorang pria.


Saya memandangnya sambil tersenyum, dia memalingkan wajahnya dengan pipi yang menggembung. Diperhatikan lebih baik lagi, penampilannya yang sekarang dapat saya katakan sangat cocok dengan sifatnya yang ceria, sekarang tak terlihat sekali jika kami merupakan saudari kecilku, lebih baik lagi sepertinya dia lebih berisi dari sebelumnya.


Saya hanya bisa tersenyum kaku melihat kelakuan saudariku ini, pertama kalinya dapat saya lihat jika dia cemburu dengan diriku, yang biasanya kami sangat akur dari sangat kecil. Jadi hanya tersisa satu orang saja yang masih belum, saya menatap kepada seorang gadis cantik yang sangat elegan sedang menatapku dengan dingin, dia seperti marah padaku dengan sebab tertentu. Saya mencoba untuk melambaikan tangan kepadanya, dia hanya merespon dengan acuh kepadaku, apa kesalahan yang saya lakukan saat ini. Hingga terjadi seperti ini.


"Kreak" Dapat terdengar suara dorongan pada pintu besar yang ada dihadapan kami saat ini, pandangan sekarang tertuju kepada seorang berpakaian pendeta gereja dengan prajurit yang berjalan dibelakangnya. Saya tak terlalu suka dengan sifat yang diperlihatkan oleh pendeta tersebut, jelas sekali jika dia memberikan intimidasi kepada kami yang hanya seorang siswa SMA biasa. Mungkin dia merasa sebagai pendeta akan menakuti kami, tapi sayangnya kepercayaan yang dianut kami tak semuanya mengikuti ajaran para pendeta salah satunya saya dan keluarga yang menganut kepercayaan Buddhisme.... Saya akan mendengarkan alasan yang diberikannya untuk sementara waktu, tak ada alasan untuk mengetahui motif dari kenapa kami disini.


Saya memperhatikan fokus pada para orang-orang itu, hingga tanpa disadari mataku bertemu dengan salah satu ksatria mungkin, dia pria yang berparas tak biasa dan kharisma yang kuat, sebuah berkat bahwa dia dianugrahi kesempurnaan seperti itu. Dia nampak tersenyum denganku, tapi saya tak merasa senang dengan itu, ada yang sangat menggangu saat pertama kami bertatapan, dia seorang yang tak bisa saya ketahui pengaruhnya pada kami semua nanti, tapi saya harus berhati-hati.


「Hai para pahlawan pemberani semua. Terima kasih karna dapat datang memenuhi panggilan kami. Saya akan membawa kalian menemuu yang mulia raja Jade II.」


Pendeta itu berjalan tanpa menunggu tanggapan yang akan kami katakan, apa dia memang tak menggangap kami sebagai orang. Tapi pahlawan, saya merasa ada masalah yang akan menunggu didepan jalan yang saat ini kami jalani, saya ingin tahu apa ada jalan nantinya untuk keluar dari situasi saat ini.... Saat ini kami sudah berada pada ruang yang dilihat baik-baik dekorasi ini memperkuat asumsiku jika saya berada ditempat atau dunia pada masa abad pertengahan dan sekarang kami menghadap pada raja yang duduk pada sebuah kursi tahta yang megah. Aura kewibawaan yang dia miliki memang sangat menampilkan sosok seorang yang berhak dipanggil raja. Tapi dapat dilihat jika mata yang dia perlihatkan seperti menatap kami dengan sangat merendahkan, apa firasatku benar jika kami akan dijadikan sebuah alat disini.


「Sebelum kalian bertanya. Saya akan menjelaskan maksud memanggil kalian pahlawan yang pemberani ini bermaksud untuk meminta batuan dalam mengatasi para iblis yang telah membuat kami para manusia terpojok. Khususnya kerajaan kami sebagai garis depan pasukan manusia. Kami sudah sangat terpojok sampai harus memanggil kalian dengan paksa seperti itu. Saya memohon maaf sekaligus permitaan tolong batuan kalian. Demi keberlangsungan hidup para manusia dunia.」


Raja ini sangat licik dari yang saya duga, siapa yang bisa menyangka jika dia sangat pintar dalam meilih kata-kata seperti ini. Hanya saja melihat dia mengatakan kata kesedihan itu mulai membuat rasa curigaku semakin besar. Apalagi kata pendeta tadi memenuhi tapi kenapa raja ini mengatakan bahwa ini adalah sebuah paksaan, dan lagi saya tak melihat wajah pendeta maupun orang-orang yang ada disini cemas kepada kami yang belum tentu mempunyai kemampuan untuk bertarung, khususnya raja itu yang melihat kami bukan seorang manusia melainkan alat untuk kekuasaannya.


Semua orang sedang berpikir, bukan suatu langka yang baik jika memberikan keputusan yang cepat dalam hal ini. Ada satu orang yang maju kedepan, dia terlihat ingin berbicara dengan raja.


「Baik saya sebagai ketua osis akan menyetujuinya demi kemanusaian. Dan tidak ada yang akan menolak keputusan ini.」


Dia si ketua osis bodoh itu, siapa sangka dia memberikan sebuah keputusan yang terburu-buru seperti itu. "Eh" Sepertinya tak hanya dia, ada banyak beberapa siswa dan guru yang malah menyetujui keputusan itu, dan ada yang malah diam yang tak menyukai hal ini tapi apa yang bisa dilakukan, banyak masa yang lebih condong yang setuju kami hanya bisa menerimanya walau tak mau.


Tapi yang membuat sangat penasaran adalah ada tatapan mata yang dapat saya rasalan terus menatap kearahku tanpa maksud yang jelas. Dia adalah ksatria yang tadi bertatapan denganku, apa dia ingin menajakku berbicara empat mata, akan saya temui dia nanti.


「Baiklah jika tidak ada yang ditan-.」

__ADS_1


「Bagaimana cara kami kembali nantinya.」


Flare dengan berani mengatakan pertanyaan itu, saya lihat jika banyak orang yang tak menyukainnua karna dia memotong perkataan seorang raja atau mungkin pertanyaan yang dilontarkan itu sulit untuk mereka beritahu sekarang.


「Maaf jika saya mengecewakan. Sihir itu hanya ada diistana raja iblis. Anda harus mengambil itu darinya untuk mendapatkan barang yang memang anda ingin kan itu... Jadi untuk sekarang lebih baik anda sekalian mengecek status yang dimiliki, karna itu yang dapat membantu disaat pertarungan.」


Entah apa ada yang menyadarinya, tapi raja ini tak terlalu baik untuk dupercaya, dia dengan cepat mengalihkan pertanyaan Flare dengan sangat indah sekali, perkataan manisnya itu tak baik jika dibantah atau malah membuat dirinya terjebat dalam kata-kata itu.


Status. Bagaimana caraku untuk melihatnya-... Jadi ini muncul ketika hanya dibayangkan saja, kenapa sang raja tak mengatakan itu dari awal. Saya melihat kearea sektirku, ada beberapa orang yang sangat fokus pada pandangan kedepan yang sepertinya sedang melihat status miliknya, namun ada juga yang hanya menoleh tanpa alasan bigung dengan apa yang terjadi. Walau tak banyak tapi itu sudah merupakan jumlah yang tak bisa dihitung oleh jari tangan.


「Raja bagaimana kami bisa melihat statusnya.」


Apa yang terjadi, kenapa ada yang harus menanyakan hal itu, bukan hanya saya sepertinya siswa yang lain banyak yang kebigungan oleh pertanyaannya. Padahal sudah sangat jelas jika anda hanya perlu memikirkan katanya dan itu akan keluar dengan sendirinya.... Bukan hanya siswa itu yang bertanya-tanya siswa lainnya dan guru juga menanyakan hal sama kepada sang raja, mereka orang yang saya lihat kebigungan tadi.


「Para orang tidak berguna. Seret mereka keluar dari istana. Berikan beberapa koin emas dan biarkan mereka hidup sebagai rakyat jelata.」


Pernyataan raja tersebut sangat mengejutkan kami semua, siapa yang akan menyangka ada kejadian semcam ini. Para penjaga mulai menangkap para orang-orang itu satu persatu, menyeret mereka keluar dari ruangan ini, ada beberapa siswa dan guru yang mencoba menghalangi namun siapa yang bisa melawan prajurit terlatih, kami hanya bisa melihat teman-teman sekolah kami diseret keluar dengan tak hormat. Ada banyak ekspresi kesal yang terlihat, namun mereka tak bisa melakukan apapun karna ini diluar kemampuan yang bisa kami lakukan.


「Baiklah kalian boleh kembali keruangan yang sudah disediakan. Istirahlah untuk saat ini... Tapi kalian harus ingat jangan mencoba untuk melarikan diri dari istana ini.」


Dia memberikan kami sebuah intimidasi yang sangat kuat, kami sekarang hanya tahanan yang akan patuh kepada perintahnya. Saya melihatnya keluar ruangan diikuti para orang berpakaian mewah dari rungan tahta ini, dan kami bisa bernafas dengan sangat lega. Tanpa ada perdebatan dan percakapan yang banyak, dengan rasa sedih, takut dan kesal para siswa dan guru juga mulai berjalan keluar menuju ketempat yang diarahkan oleh para penjaga. Saat saya juga ingin mengikuti jalan mereka, tanpa sengaja mataku mulai bertatapan lagi dengan orang itu. Saat ini dengan penuh keberanian saya berusaha mendekatinya untuk berbicara beberapa kata dengannya.


「Ha-halo tuan... Kenapa sepertinya saya melihat bahwa anda terus menatap saya dari tadi.」


Saya berbicara dengan sedikit kaku, ini pertama kalinya saya menyapa dalam penampilan semacam ini. Dia melihatku, dapat terlihat jika senyum muncul dimulutnya, dia melangkah mendekat kearah diriku membungkuk saat dihadapanku karna tinggi kami yang berbeda jauh.... Sangat menyakiti hatiku.


「Kenapa anda mencariku nona.」


Senyuman sangat indah, itu membuatku berdebar melihatnya, bahkan mukaku mulai memanas.

__ADS_1


__ADS_2