
Hari ini adalah hari Senin, Roy sedang menghisap rokokyang ada di tanganya.
dan Revan sedang bermain game di ponselnya. Jam ini adalah jam istirahat, jadi mereka bebas mau ngapain apa aja.
dan posisi mereka sekarang sedang berada di kelas. tiba tiba dari arah pintu datanglah seorang cowok yang tengah berlari menuju Roy.
"Roy.." panggil lelaki terdebut. Roy pun menengok ke arah lelaki yang sedang mengatur napasnya.
"Anak sekolah sebelah ngajak kita tawuran" ucap lelaki tersebut. Selain hobi ke club, Roy juga hobi tawuran, apalagi kalau dia di tantang oleh sekolah lain.
"Sepulang sekolah kumpulin anak anak" balas Roy sambil menghisap puntung rokoknya.
lelaki tersebut pun nurut, kemudian keluar dari kelas Roy.
Pulang sekolah
sekarang Roy dan teman temanya sedang berkumpul di warung Pak Somat. Warung yang tidak begitu besar, cuman ada 2 kursi panjang dan satu meja. dan di warungvtersebut hanya menjual kopi, rokok, gorengan dan ciki cikian.
Warung itu sudah biasa di buay kumpul oleh Geng Royal, yaitu gengnya Roy.
Rata rata yang ikut gengnya Roy adalah siswa badboy dan sering buat onar di sekolah.
"Jadi dia mau ngajak kita tawuran jam berapa?" tanya Roy, kepada lelaki yang menghampirinya pada jam istirahat.
"Pulang sekolah ini" Jawab lelaki tersebut. "Ck kenapa lo ngga bilang dari tadi, ayo berangkat" ucap Roy kemudian ia berdiri dari tempat duduknya.
Tawuran antara kedua sekolah pun di mulai, dan di bubarkan oleh sirine mobil polisi yang lewat.
Geng Royal pun segera bersembunyi. setelah mobil polisi itu lewat Geng Royal memutuskan untuk kembali ke warung Pak Somat.
"Untung kita ga ketahuan" ucap Revan. "Kalau kita ketahuan ****** nanti!" ucap Geral, cowok berambut coklat.
__ADS_1
"intinya kita menang" ucap Roy. Geng Royal pun bercanda ria disana, sampai seorang gadis datang ke warung Pak Somat.
gadis tersebut menghampiri Roy, kemudian merangkul bahu Roy dari belakang.
Dengan paksa, Roy menepis kedua tangan terdebut. "Mau ngapain lo kesini?" tanya Roy dengan nada ketus.
"Aku mau ketemu sama ayang bebep lah" jawab Gadis tersebut, gadis tersebut ternyata adalah Gladys.
"Kita kan udah balikan, kamu lupa ya?" tanua Gladys. Semua teman Roy yang ada disitu terkejut dengan perkataan Gladys terlebih lagi Revan.
Revan menyenggol lengan Roy, kemudian membisikinya, "Kapan lo ketemu sama dia? lo beneran balikan ma dia? inget Diba Roy! Inget anak lo!".
Gladys semakin bergeliat manja di tubuh Roy, tapi Roy dengan cepat menyingkirkan tubuh, dan tangan Gladys dari badanya.
"Lo bisa pergi nggak?" suruh Roy dengan nada mengusir. "Kan aku baru dateng sayang, gimana kalau kita belanja?" balas Gladys.
"nggak, kalau gue nemenin lo belanja, serasa gue jadi budak lo doang" ucap Roy sambil membuat rokoknya ke tanah.
"Parah.. parah.. parah..." ucap Revan. "Lo pergi dari sini atau gue-" ucap Roy sengaja di gantungkan.
"Atau apa sayang?" balas Gladys. "Atau gue bakal ngusir lo secara kasar" sambung Roy melanjutkan omonganya tadi.
"Oke oke, aku pulang dulu ya sayang" ucap Gladys. dan Cup! bibir Gladys mendarat mulus di pipi Roy.
Roy dengan cepat menghapus kecupan Gladys di pipinya dengan Tissu. "Parah lo Roy! Parah! Lo nggak inget Diba? nggak inget anak lo!" ucap Revan.
"Gue udah menghindar dari tuh cewek, gue ga mau di sakitin dia lagi! tapi tuh cewek nempel trus sama gue!" balas Roy. "Btw si Gladys belum tau kalau lo dah nikah?" tanya Revan.
Roy menggindikan bahunya, kemudian ia menatap jam tanganya. ia terkejut setelah menatap jam tanganya.
"Gue pergi dulu" Pamit Roy tergesa gesa kemudian berdiri dari duduknya. "Woy lu mau kemana? ya sudahlah hati hati" balas Revan.
__ADS_1
Kantor Germany
Roy sampai di kantor papahnya. ia dimarahi habis habisan oleh papahnya karena terlambat masuk kantor.
"Kamu tau ini jam berapa? kamu telat 1 jam!" Ucap Herman dengan nada tinggi. "Maafin Roy pah" balas Roy dengan menundukan kepalanya.
"ini pertama kalinya kamu terlambat masuk kantor, kalau dibiarin kamu bisa ngelunjak! dan kamu bisa seenaknya sendiri! Kayak gini mau nafkahin keluarga?" ucap Herman dengan Nada yang masih tinggi.
"Maafin Roy pah, Roy janji nggak akan terlambat lagi" balas Roy dengan kepala masih menunduk kebawah. "alasan kamu telat kenapa?" tanya Herman dengan nada yang sudab sedikit rendah.
Roy tidak bisa menjawab. "Jangan katakan kamu telat gara gara tawuran!" tebak Herman, dan tebakan Herman selalu benar.
Roy mengangguk kaku. Herman pun marah besar terhadap anak semata wayangnya ini.
"Mau jadi apa kamu? ngga inget Anak kamu? ngga inget Adiba? kamu harys belajar dewasa Roy!" ucap Herman.
"Sekarang kamu boleh bekerja, tapi kalau kamu tawuran lagi, atau telat berangkat kerja lagi papah nggak akan segan segan ngehukum kamu lebih dari ini" ucap Herman.
Sepulang daru kantor
Adiba yang melihat suaminya kecapekan itu pun menghampiri. "Hari ini melelahkan sekali?" tanya Adiba.
Roy mengangguk. "Mau aku buatkan teh?" tawar Adiba. "Terserah" Balas Roy.
Adiba pun keluar dari kamar Roy untuk membuatkan teh. kemudian kembali lagi dengan membawa secangkir teh hangat di tanganya.
adiba meletakan teh tersebut di atas meja. "nanti belajar malemnya tetap berlanjut ya" ucap Adiba. "Nggak bisa gitu libur dulu?" balas Roy.
Adiba menggeleng. "Bentar lagi kan kamu ulangan akhir semester, kalau kamu nggak lulus gimana?".
"Oke oke nanti malem ya" balas Roy terpaksa.
__ADS_1