
-*Seperti na**si sudah menjadi bubur*-
Roy berjalan sempoyongan menuju hotel. di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang gadis.
gadis tersebut tidak sengajak menabrak dada bidang Roy. Gadis itu bergidik ngeri melihat Roy yang berjalan seperti Zombie.
"Maaf" ucap Adiba. adiba melihat siapa yang di tabraknya tadi, dan dia adalah Roy! cowok yang berpapasan mata dengannya tadi.
"kamu nggak papa?" tanga Adiba saat melihat Roy seperti tidak sehat. Adiba pun berinisiatif mengantar Roy sampai kamar hotel.
Adiba menidurkan Roy di atas kasur. "Berat juga ya kamu" ucap Adiba. Adiba beranjak dari kasur Roy.
tapi tangan Adiba di pegang oleh Roy. "Sayang" ucap Roy tidak sadar.
Roy pun menarik Adiba sampai Adiba jatuh kedalam pelukan Roy.
Roy menghisap leher Adiba. Adiba berusaha keras untuk menyadarkan Roy, tapi usaha tersebut seakan sia sia saja.
kemudian Roy melepaskan pakaian yang di kenakan Adiba secara paksa. Adiba menangis sejadi jadinya pada malam itu.
Malam yang menurut Adiba malam yang tidak akan Adiba kenang sebagai kenangan.
pada malam itu juga, kehormatanya hilang begitu saja.
Pagi harinya
Adiba terbangun dari tidurnya semalam, ia masih menangis saat tidur.
__ADS_1
Adiba berjalan memunguti pakaianya yang berserakan di lantai dan kasur, kemudian memakainya.
Adiba melihat dirinya dipantulan kaca. Mata sembab, hidung merah, dan bekas merah di lehernya yang tidak begitu menonjol.
Adiba tidak tau apa yang ia lakukan semalam, ia sangat kecewa pada laki laki yang tengah tertidur pulas di atas ranjang.
tak lama laki laki tersebut pun bangun. melihat Adiba yang tengah berjaca didedapn cermin.
Roy pun tersadar, ia menarik narik rambutnya sambil berkata. "****! lu apaain anak orang ****! lu **** anjing".
Roy pun memakai pakaianya. ia berjalan ke arah Adiba. "Em gue minta maaf" ucap Roy kaku.
Adiba tak menjawab. "Gue minta maaf sebesar besarnya karena udah ngerebut kehormatan lo" ucap Roy lagi.
"Minta maaf nggak akan nyelesaiin ini semua" balas Adiba, kemudian berjalan keluar dari kamar Roy. dan menutup pintu kamar Roy dengan keras.
Roy harus bertanggung jawab, jika tidak dia akan dibilang pengecut oleh gadis tersebut.
Adiba berjalan ke arah kamar hotelnya dengan tatapan kosong, ia tidak tau apa yang ia perbuat semalam.
Kejadian semalam seakan berputar terus menerus di otak Adiba seperti kaset rusak.
Adiba mandi, di kamar mandi ia menangis tanpa suara. ia menjambak jambak rambutnya, ia rasanya ingin gila.
Pulang perkehaman
perkemahan itu pun selesai pada hari kamis. semua murid sudah ada di bis, dan bersiap untuk pulang ke sekolah.
__ADS_1
Lena merasakan keanehan yang terjadi pada Adiba. ia melihat Adiba seakan ada yang kurang.
"Dib lu gpp?" tanya Lena khawatir. "Gpp" balas Adiba tanpa melihat ke arah Lena.
Adiba menatap jalanan kosong, sama hal nya Roy. ia menatap jalanan kosong.
didalam pikiranya hanya ada rasa bersalah. ia tidak tau harus berbuat apa.
Roy berusaha untuk bersikap biasa saja, seakan tidak ada masalah.
sampailah di sekolah. Adiba sedang menunggu taksi onlinenya datang.
tapi sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di depan Adiba.
pemilik mobil tersebut pun membuka kaca jendelanya. "Masuk" suruh Roy. "Nggak" tolak Adiba.
"Masuk cepet!" suruh Roy. "Aku dah pesen taksi" balas Adiba. "Masuk gue mau ngomong sama lu" ucap Roy.
Adiba pun terpaksa membatalkan pesenan taksi online ya, kemudian masuk kedalam mobil Roy.
"mau ngomong apa?" tanya Adiba. "Gue minta maaf atas kejadian di perkemahan" jawab Roy sembari berfokus pada jalanan.
"Minta maaf nggak akan menyelesaikan ini semua" ucap Adiba sambil menatap jalan. "Gue tau ini kesalahan gue, tapi mohon maafin gue" ucap Roy memohon maaf kepada Adiba.
"Aku mau maafin kamu, tapi dengan satu syarat" ucap Adiba. "Apapun syaratny, intinya permintaan maaf gue di maafin" balas Roy.
"Kamu harus tanggung jawab kalau aku hamil, kalau kamu coba lari dari masalah ini. aku nggak akan segan segan ngelaporin kamu ke polisi" jelas Adiba. Roy melongo mendengar syarat Adiba.
__ADS_1
"Em oke gue terima syarat lo, tpi lo juga harus maafin gue" balas Roy. Adiba mengangguk. "Aku maafin kamu, tapi kamu harus ingat syarat itu!" peringat Adiba.