
"Terimakasih Guru!."
Mata Fangyin melebar mendengar ucapan Zao Ling, baru saja Zao Ling memanggil Fangyin dengan sebutan guru.
Dalam keterkejutannya, Fangyin berkata."Ka-kau bilang apa barusan?."
Zao Ling berkata dengan enteng."Guru."
Fangyin ingin menolak, tapi bibirnya tertutup rapat ketika melihat wajah memelas Zao Ling.
Dengan malas Fangyin berkata."Baiklah, aku akan menjadi gurumu!."
mata Zao Ling berbinar-binar, anak itu segera bersujud sambil berkata."Hormat Zao Ling kepada guru."
Fangyin membantu Zao Ling untuk berdiri lalu berkata."Baiklah, karena sekarang kau sudah menjadi muridku, kau harus menjelaskan tujuanmu setelah menjadi kuat!."
Zao Ling menggangguk cepat lalu berkata."Aku ingin mengembalikan Kehormatan keluarga dan harga diri ayahku."
Fangyin mengeriyit kemudian berkata."Itu saja?."
Zao Ling mengangguk dan berkata."Iya, itu saja guru."
Fangyin termenung, untuk anak muda seperti Zao Ling, tujuannya benar-benar sederhana, padahal seorang kultivator hebat bisa melakukan apa saja, entah itu menguasai dunia atau menjadi pendekar tanpa tanding, tapi anak yang satu ini berbeda, menempuh perjalanan jauh tanpa memikirkan bahaya hanya agar menjadi kuat dan mengembalikan Kehormatan serta harga diri ayahnya, sungguh tujuan yang mulia.
Zao Ling yang melihat wajah bengong Fangyin memutuskan untuk bertanya."Ada apa guru? apa aku salah bicara? atau tujuanku ini sa-."
Fangyin memotong perkataan Zao Ling dengan berkata."Aku berjanji, bahwa aku Fangyin akan membuat Zao Ling menjadi Kultivator paling hebat di dunia."
Mata Zao Ling berkilat, mulutnya melengkung membentuk senyuman. Zao Ling memejamkan matanya, lalu perlahan dia merasakan cairan hangat melewati kulit wajahnya.
Akhirnya Zao Ling menemukan sosok guru yang mau mengajarinya dengan sepenuh hati.
Tapi?
Keraguan terlukis di wajah Zao Ling, dengan perasaan takut bercampur ragu Zao Ling berkata."Guru, tapi aku tidak bisa berkultivasi!."
Fangyin tercengang sambil berkata."Apa?."
Zao Ling menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berkata."Maaf Guru."
Fangyin menyuruh Zao Ling untuk duduk dan mengambil posisi seperti akan bermeditasi, kemudian Fangyin duduk menyilang di belakang Zao Ling sambil memejamkan matanya.
Perlahan Fangyin mulai melihat seluruh organ dalam Zao Ling, mulai dari aliran darah, tulang, dan seluruh sistem syaraf.
Fangyin mefokuskan penglihatannya ke arah dantian bawah Zao Ling, dan seperti dugaan Fangyin, ada sebuah energi besar yang menyegel dantian Zao Ling sehingga membuat anak tersebut tidak bisa berkultivasi.
__ADS_1
Fangyin menyatukan dua telapak tangannya di depan dada lalu mengalirkan energinya, perlahan kedua telapak tangan Fangyin yang menyatu mengeluarkan cahaya berwarna hijau pekat, cahaya itu semakin lama semakin bertambah besar.
Setelah di rasa cukup, Fangyin segera mendorong kedua telapak tangannya ke punggung Zao Ling.
Bamm!!
Terdengar suara dentuman di sana, detik berikutnya Zao Ling memuntahkan cairan berwarna hitam pekat.
Fangyin menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan setelah itu Fangyin membuka matanya dan berkata."Sekarang kau sudah bisa berkultivasi."
Zao Ling tersenyum senang kemudian dia memejamkan matanya untuk berkultivasi.
Perlahan Zao Ling mulai merasakan energi alam yang bergerak di sekitarnya seperti udarah, lalu dia menarik nafas dan menahannya, setelah melakukan itu, energi alam yang bergerak di sekitarnya perlahan-lahan masuk ke dalam tubuh Zao Ling melalui pori-pori kulit.
Senyuman legah terlukis di wajah Fangyin, setelah sekian lama Fangyin akhirnya menerima seorang murid.
...----------------...
Hari-hari terus berlalu, dari bawah tebing Fangyin menatap Zao Ling yang tengah fokus berkultivasi di puncak tebing.
Sambil menatap Zao Ling, Fangyin berkata."Ini sudah ketiga harinya, anak itu benar-benar memiliki dantian yang besar."
Seorang kultivator awal umumnya ketika berkultivasi hanya memerlukan waktu selama satu hari sebelum akhirnya dantian miliknya terisi penuh, lain halnya dengan seorang kultivator tingkat tinggi yang memang memiliki dantian besar untuk menampung energi alam, tapi Zao Ling adalah seorang pemula, seharusnya di hari pertama dantian miliknya telah terisi sepenuhnya.
Namun sekarang sudah memasuki hari ketiga, itu artinya Zao Ling memiliki dantian yang lebih besar dari orang-orang pada umumnya.
Zao Ling perlahan membuka kedua matanya, dia melebarkan senyumannya karena merasakan energi alam mengalir di setiap pembuluh darahnya, sehingga membuat tubuhnya terasa lebih ringan dan kuat.
Zao Ling bangkit dan terlonjat, anak itu melompat berkali-kali karena gembira.
Zao Ling menengadah ke bawah menatap Fangyin sambil berkata."Guru, aku naik Wood Spirit bintang 7."
Fangyin terkesiap, dia berkata dengan mata yang membola."Secepat itu?"
Zao Ling tersenyum dan berkata."Terimakasih Guru."
Fangyin berdehem."Humm."Lalu berkata."Kalau begitu turunlah! aku akan mengajarkanmu cara mengeluarkan tenaga dalam."
Zao Ling menggangguk lalu melompat dari atas tebing dan mendarat dengan sempurna di tanah.
Zao Ling bergumam."Tubuhku benar-benar kuat."
Fangyin yang mendengar segera berkata."Itu belum seberapa." Setelah itu Fangyin merangkul pundak Zao Ling sambil berkata."Ayo! aku akan menunjukkanmu sesuatu yang lebih keren."
Kemudian Zao Ling dan Fangyin berjalan menuju padang rumput yang luas, angin yang berhembus serta bunga-bunga yang bermekaran memberikan kesan indah pada tempat itu.
__ADS_1
Tak jauh dari tempat Zao Ling dan Fangyin berdiri, tampak beberapa bongkahan batu raksasa yang di tumbuhi oleh rumput-rumput hijau.
Fangyin berdiri di depan batu besar tersebut, lalu memfokuskan energinya pada satu kepalan tangannya.
Seketika kepalan tangan Fangyin terbalut energi chi berwarna hijau, kemudian Fangyin memukul batu besar tersebut sambil berkata."WIND BLOW!."
Brukkk!!
Segera bongkahan batu besar tersebut hancur berkeping-keping.
tampak kekaguman di wajah Zao Ling, kemudian berkata."He-Hebat."
Fangyin menatap Zao Ling lalu berkata."Sekarang giliranmu!."
Zao Ling menggangguk cepat lalu berkata."Baik."
Setelah itu Zao Ling berdiri di depan batu besar lainnya, dia mengepalkan tangannya lalu memukul batu besar tersebut.
Trakk!!
Terdengar suara tulang patah di sana.
Fangyin menekuk wajahnya sambil berkata."Uhhh, Pasti sakit."
Sontak Zao Ling membelalakkan matanya lalu berteriak dengan keras."Arrrrggghhh.. tanganku patah."
Zao Ling berguling-guling di pandang rumput yang luas itu dengan wajah meringis kesakitan.
Fangyin terkekeh kemudian berkata."Hei Zao Ling, tanganmu itu tidak mungkin patah hanya karena sebuah batu."
Zao Ling termangu lalu menoleh ke arah Fangyin dan bertanya."Kenapa?."
Fangyin menghela nafasnya kemudian menjelaskan."Tubuhmu itu sudah berada di tingkat SOLDIER'S BODY, memukul sebuah batu tidak akan membuatmu terluka."
Zao Ling termenung lalu menatap tangannya, kemudian Zao Ling tersenyum dan berkata."Benar Guru, tanganku tidak patah."
Fangyin mendengus kemudian berlalu meninggalkan Zao Ling.
Zao Ling segera bangkit dan mengejar Fangyin sambil berkata."Guru, Tunggu aku!."
"Tidak mau!."
-
-
__ADS_1
-