
"Allahu Akbar, Allahu Akbar…"
Lantunan azan Subuh itu terdengar lagi, sudah seminggu terakhir ini, aku selalu terpana akan suara muazin yang melantunkannya. Entah siapa orangnya, yang pasti dia selalu berhasil membuatku bangun lebih awal, hanya karena untuk mendengar suara lantunan azannya yang begitu indah.
Banyak sekali tipe suara azan yang sudah aku dengar, berbagai macam nada yang beraneka ragam pun sudah akrab di telinga, kesemuanya juga bagus-bagus. Tapi, beda dengan suara azan yang satu ini, nadanya beda dari yang lain. Meski aku pun tahu, suara azan pasti berbeda-beda, tergantung muazin yang mengumandangkannya. Namun tetap saja, azan yang bersumber dari masjid kampungku ini benar-benar beda, bahkan setiap kali aku mendengarnya, tak terasa bulir-bulir bening menetes begitu saja. Saking menyentuhnya suara itu di hati. Dan itu tidak pernah terjadi dalam hidupku sebelum ini.
Jarak masjid dengan rumah sekitar satu kilometer. Ketika suara dari masjid terdengar azan, maka suaranya akan mendayu-dayu terbawa angin. Kadang keras sekali, kemudian lirih, bahkan sampai tak terdengar, tergantung arah angin yang berhembus dan membawa suara azan. Dan itu membuatku sebal sendiri, ketika angin subuh menerpa, yang kemudian mengakibatkan suara merdu sang muazin timbul tenggelam.
Yang membuatku heran, hanya pada saat subuh saja azan merdu itu terdengar, selain waktu itu, ada muazin lain yang melantunkannya. Yaitu suara bapak-bapak dan anak kecil saja, dan itu membuatku tak bersemangat. Bukannya gimana-gimana, namun jika kita mendengar suara azan yang bagus, itu juga mempengaruhi diri kita sendiri dan bisa menyalurkan energi semangat lebih untuk segera melaksanakan kewajiban salat.
Semakin hari, rasa penasaranku semakin memuncak. Aku ingin mengetahui siapa gerangan pemilik suara merdu itu? Apakah aku harus bertanya langsung kepada takmir masjidnya? Tidak, tidak! Itu memalukan sekali. Lalu bagaimana caranya, agar aku bisa tahu? Aku juga tidak punya nomor para remaja masjid di kampung. Kalau punya kan, aku bisa bertanya pada mereka, dan mereka pasti tahu.
Menyesal rasanya, kenapa dari dulu aku tidak mendaftar menjadi remaja masjid saja, agar bisa bertemu sang pemilik suara indah itu. Alasanku tidak menjadi remaja masjid waktu itu adalah karena masalah jarak, dan juga tidak ada teman dekat yang bergabung. Alasan yang bodoh memang. Dan kini aku sangat menyesalinya.
"Bu, azan subuh tadi bagus banget ya, kan?" ucapku pada ibu yang tengah menyiapkan sarapan.
"Yang kamu maksud itu yang mana? Suara anak kecil di musala depan itu?" Ibu malah balik bertanya.
"Eh, bukan, Bu. Bukan yang itu… yang di masjid Al Husna itu loh, masyaAllah indah banget suara azannya, tahu nggak siapa yang azan?"
"Siapa emang?"
"Ya ampun, kalo aku tau, mana mungkin aku tanya, Bu. Ih ibu mah gitu." Aku tepuk jidat.
__ADS_1
"Oalah, ya mana ibu tahu. Cari tahu aja sendiri."
Itulah ibuku, tidak pernah peka ketika anaknya sedang dalam keadaan bahagia. Tidak mau membantu mencari tahu siapa pemilik suara indah itu lagi, huh. Masa, aku harus menunggu setiap waktu subuh, hanya untuk mengobati rasa rindu ini terhadap suara sang muazin itu.
Mood-ku benar-benar membaik seketika, jika sudah mendengar suara indahnya itu mengumandangkan azan. Aku juga lebih rajin dalam beribadah, dan sudah mengurangi kebiasaan buruk mengulur-ulur waktu salat. Begitu hebatnya pengaruh suara azan tersebut, hingga aku perlahan mulai memperbaiki diri dalam hal beragama.
***
Hatiku telah dilanda rindu yang aneh, bagaimana tidak? Aku merindukan seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Oh Tuhan, hanya dengan mendengar suaranya saja sudah membuat tubuh merinding, hati berdebar, dan mulut yang tak henti-hentinya mengucapkan kalimat tasbih.
"Fa, tadi subuh denger azan nggak?" tanyaku kepada Safa saat berada di kantin sekolah.
"Ya denger lah, ya kali. Kupingku masih normal kali."
"Semua suara azan juga beda-beda kali. Tergantung orangnya yang ngumandangin," jawabnya datar.
"Ya Allah, Ya Robbi. Maksudku azan yang bersumber dari masjid Al Husna itu loh, Fa. Yang suaranya bagus banget, sampe menyentuh qolbu. Denger nggak?" Aku mulai jengkel dengannya.
"Buset, lebay amat. Biasa aja dong," jawabnya sambil menutup telinga.
"Denger nggak?"
"Enggak."
__ADS_1
"Ngomong dong dari tadi."
"Emang kenapa nanya kayak gitu?"
"Kayaknya aku mulai jatuh cinta deh, Fa," jawabku sambil mengaduk-aduk kuah bakso, sembari menatap kosong ke arah depan.
"What? Sama siapa, nggak lagi kesambet kan, Ya?" Safa mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahku.
"Ish, ya nggak lah. Enak aja." Aku menepis tangannya.
"Jatuh cinta sama siapa, ha? Jangan-jangan sama Fian yang ngejar-ngejar kamu itu ya?"
"Oh my God. Bukan lah, aku sudah jatuh cinta sama pemilik azan merdu itu."
"Allahu Akbar! Zaya, Zaya. Kamu masih waras, kan? Gimana kalo pemilik suara itu sudah beristri, sudah tua, mukanya jelek? Kamu masih mau, ha?" Suara Safa menggelegar mengisi setiap sudut kantin, para siswa lain pun reflek menoleh ke arah kami berdua. Benar-benar anak itu.
"Huuustt! Jangan teriak kenapa. Aku masih waras kali, lagian aku tuh yakin, pemilik suara azan itu masih muda, belum punya istri, dan berwajah tampan." Aku mulai membayangkan sosoknya. Tinggi, berkulit cokelat, hidung yang mancung. Dia memakai baju koko putih, bersarung batik khas pekalongan berwarna hitam, dan memakai peci di kepala. Oh, sungguh betapa tampannya lelaki itu.
"Astaga! Ekspektasi kamu itu selalu berbanding terbalik dengan realita tau nggak?"
Benar juga kata Safa. Aku selalu gagal jika disuruh membayangkan sesuatu, hasilnya pasti di luar ekspektasi. Tapi kali ini aku yakin, sang pemilik suara azan indah itu pasti sesuai ekspektasiku.
———
__ADS_1
Hai! Aku membawa sebuah cerita novel baru yang berbeda. Terima kasih telah berkenan membaca. Semoga kalian suka, ya. Barakallahu fiikum.