
Hari Minggu ini, aku menghabiskan waktu dengan Mas Ali, dia mengajak untuk jalan ke luar. Tentu saja aku mau, sudah lama sekali rasanya tidak pergi bersamanya.
Kami berdua berkeliling alun-alun kabupaten, menyusuri taman kota dan melihat pemandangan kendaraan yang tengah berlalu-lalang. Suasana di alun-alun lumayan ramai meski siang hari, hal ini wajar karena hari ini adalah akhir pekan. Melihat kami yang berjalan hanya berdua, banyak yang mungkin mengira bahwa Mas Ali itu adalah pacarku. Tak sedikit orang-orang yang memandangi aku dan Mas Ali, hal itu karena diriku yang selalu menggandeng mesra tangannya.
Aku bahagia sekali rasanya, setelah sekian lama, akhirnya bisa menimkati momen bersama kakak satu-satunya.
"Mau beli apa? Mas yang bayar," ucapnya saat kami sedang berada di tengah-tengah pedagang kaki lima.
"Nah, gitu dong! Aku baru seneng. Hehe." Aku bersemangat sekali.
Aku memilih banyak makanan di sini, ada siomay, bakso bakar, es degan, dan aneka jajanan kue tradisional daerahku. Mas Ali heran melihat porsi makanku yang tidak biasa.
"Mau dimakan semua?" tanyanya.
"Ya iyalah, masa dibuang," jawabku sambil menggigit bakso bakar yang super pedas.
"Kok tumben makannya banyak?"
"Soalnya lagi bahagia, hehe."
"Kamu pacaran ya?" tanyanya penuh selidik.
Mas Ali memang melarangku untuk berpacaran begitu juga dengan bapak dan ibu. Di dalam keluarga, tidak ada yang boleh menjalankan hubungan dengan seorang lawan jenis yang belum sah. Itu yang ditanamkan bapak kepada aku dan Mas Ali. Maka dari itu, aku tidak berani menjalin hubungan dengan laki-laki yang bukan muhrim. Meskipun, aku juga bukan seorang yang alim, tapi setidaknya, bisa menjaga diri dari hawa nafsu berpacaran itu sudah penting sekali.
__ADS_1
"Awas aja kalau kamu ketahuan pacaran, Mas bilangin sama bapak," ucap Mas Ali lagi.
"Enggak, Mas … ngapain juga aku pacaran, gak ada faedahnya sama sekali."
"Terus kamu bahagia kenapa?"
"Ada deh, hehe."
Aku belum berani jika harus mengatakan semuanya kepada Mas Ali, karena perihal dunia percintaan, kami jarang sekali untuk membahas itu semua.
Setelah acara jalan-jalan selesai, kami pun bersiap untuk pulang. Tidak lupa juga, aneka kue yang telah dibeli tadi, aku bawa pulang untuk hadiah ibu dan bapak. Perjalanan yang kami tempuh lumayan lama, sampai rumah hampir menjelang Duhur.
Aku pun menaruh semua makanan di meja, dan menuju ke teras rumah untuk duduk santai sambil bermain Hp–membahas ulangan besok hari Senin, memusingkan sekali. Bapak dan ibu juga tidak berada di rumah, mereka berdua sedang menghadiri undangan pernikahan di luar desa. Tangan ini lihai sekali menekuri kata demi kata yang menghiasi layar Hp. Hingga kemudian …
Suara indah dari azan itu menggema di seluruh penjuru desa, tak lain dan tak bukan, pengumandangnya adalah Gus Fawaid. Aku menikmati setiap lantunan azan itu dengan memejamkan mata, hingga azan selesai aku masih setia berada di teras dan melamunkan hal-hal yang tidak mungkin dan mustahil untuk menjadi kenyataan.
"Hei! Ngapain ke sini? Bukannya salat malah ngalamun." Mas Ali mengagetkanku yang tengah menikmati khayalan demi khayalan.
"Apaan sih … orang lagi mendengarkan azan juga."
"Terpesona sama suara muazinnya, ya?"
Aku gelagapan mendengar pertanyaan yang dilontarkan Mas Ali. Kenapa dia bisa tahu sih?
__ADS_1
"Emang kenapa?" tanyaku seakan tidak mengerti.
"Ya pasti itu mah. Orang muazinnya juara MTQ nasional, ya pasti semua orang kagum sama suaranya."
Aku semakin bingung, kok Mas Ali seakan-akan tahu segalanya tentang Gus Fawaid. Padahal, aku tidak cerita sama sekali sebelum ini kepadanya.
"Emangnya Mas tau siapa yang azan?" Iseng aku bertanya kepadanya.
"Tau lah, si Fawaid, temen Mas waktu Tsanawiyah sampai Aliyah dulu."
Astaga! Gus Fawaid ternyata adalah teman kakakku sendiri, pantas saja dia mengenali suaranya. Ya Allah, apakah ini tanda darimu, kalau aku bisa lebih dekat lagi dengan … astaghfirullah! Tidak, tidak! Pikiran ini semakin semrawut, tidak mungkin hal itu terjadi.
"Siapa itu Fawaid?" tanyaku pura-pura tidak tahu, semata-mata hanya untuk menggali informasi lebih dalam saja tentang Gus Fawaid–sang muazin bersuara indah.
"Anaknya Pak Muhsin, masa gak tau. Orang dia dulu suka banget godain kamu sampai nangis. Masa gak inget?"
"Hah?" tanyaku tidak mengerti. Kali ini, aku benar-benar tidak paham maksud dari Mas Ali. Apa maksudnya dengan kata "menggoda".
"Iya, dulu waktu Mas ngajakin kamu ngaji di tempat Pak Muhsin, dia seneng banget gangguin kamu. Sampai Mas harus gendong kamu kalau kamu nangis. Masih kecil sih, makanya gak inget, kan, sekarang?"
Otakku kembali berputar dan mundur beberapa tahun ke belakang. Memori itu harus ketemu, bagaimana bisa aku sudah tahu Gus Fawaid sejak kecil? Dan kenapa diri ini tidak ingat sama sekali?
"Sudah, salat dulu. Baru nanti dipikirin," ucap Mas Ali sambil bersiap menuju musala dekat rumah.
__ADS_1
Aku masih berpikir di tempat tadi, tidak beranjak sama sekali hanya untuk memuat memori otak yang harus aku cari. Mungkinkah Gus Fawaid bersikap berbeda dengan diriku karena dia telah mengenal diri ini sebelumnya?