Sang Muazin

Sang Muazin
Episode 11


__ADS_3

Tak terasa, besok sudah memasuki bulan Ramadan. Itu artinya, nanti malam, semua umat Musilm akan menjalankan ibadah salat tarawih. Sesuai tradisi yang sudah turun-temurun di desaku, semua warga masyarakat akan melakukan padusan bersama. Yaitu, mandi di sungai, pantai, atau sumber mata air lainnya.


Namun, tak jarang, ada juga yang memilih mandi di rumah masing-masing. Seperti aku, walaupun padusan hanyalah sebuah tradisi, tetapi rasanya seperti sudah mendarah daging. Usia yang sudah memasuki fase dewasa ini, membuatku malas melakukan hal-hal yang menguras waktu dan tenaga. Berbeda waktu masih anak-anak dulu, aku akan merasa senang jika diajak padusan ke sungai karena bisa puas bermain bersama teman-teman. Tak peduli laki-laki maupun perempuan, kami semua bercampur baur tanpa malu-malu. Kalau sekarang, rasanya sudah tidak pantas untuk mengulang momen seperti itu lagi.


Pagi ini, semua pengurus masjid Al Husna dikumpulkan untuk menjalankan kerja bakti masjid. Tak terkecuali, para remaja masjid juga ikut berpartisipasi di sini. Kami semua diberi tugas masing-masing, ada yang menyapu, mengepel, mengelap kaca jendela masjid, mengganti lampu yang sudah mati, dan juga mencuci karpet di sungai. 


Sungai yang dimaksud, hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari masjid. Saat menjelang Ramadan seperti ini, banyak sekali orang-orang yang mencuci karpet di sana. Menjemur pun juga dilakukan di sana–di atas jembatan yang menghubungkan dua kabupaten di daerahku.


Di sela-sela membersihkan lantai masjid. Aku mencoba mencari sosok yang memenuhi pikiranku akhir-akhir ini. Dari kejauhan, terlihat Gus Fawaid sedang menaiki mobil pikap yang akan membawa rombongan pencuci karpet ke sungai. Dia terlihat menawan dengan peci yang dikenakan di kepala. Di saat seperti ini pun, dia juga tetap mengenakan sarung yang dipadukan dengan kaos polos berwarna putih. Aku mengintipnya dari pintu samping masjid agar telihat jelas.


Mata ini tidak bisa mengalihkan pandangan ke arah lain dan tetap mengawasi setiap pergerakan Gus Fawaid. Karena terlalu fokus akan dirinya, sapu yang kupegang pun jatuh ke luar masjid. Aku reflek mengambilnya dan turun ke bawah tempat sapu itu jatuh. Masjid ini mempunyai tangga pijakan yang hanya terdiri dari 5 tingkatan di sekelilingnya. Oleh sebab itu, aku harus menuruni setiap turunan pijakan itu dan mengambil sapu yang terjatuh ke luar.


Saat aku sudah berada ke luar. Aku melirik ke arah Gus Fawaid, ternyata dia juga tengah memperhatikan diriku. Mata kami saling beradu dan dia terlihat tersenyum kepadaku. Buru-buru, aku mengalihkan pandangan darinya. Jantung ini serasa mau copot setelah melihat senyum mahal itu.


Aku kembali masuk ke dalam masjid dan kembali mengintip lagi ke arah luar. Mobil pikap itu sudah berjalan, dan aku hanya bisa melihat sang idola dari balik punggungnya.


Rasa bahagia tak bisa aku sembunyikan karena berhasil mendapatkan senyum dari Gus Fawaid. Sampai detik ini pun, aku masih tidak percaya kalau senyuman itu diberikan kepadaku. Tapi di sisi lain, diri ini yakin, senyum manisnya tadi ditujukan untukku, siapa lagi kalau bukan aku?


Aku menjadi semakin bersemangat untuk mengerjakan tugas bersih-bersih. Semua lantai penjuru masjid semakin mengkilap, karena diri ini semangat sekali membersihkannya. Bahkan, aku juga masih bisa membantu yang lain mengerjakan tugasnya. Ini semua, hanya karena lengkungan senyum manis yang berefek luar biasa.


"Za, bantuin ngelap kaca sekalian," teriak Safa.


"Siap bosku," jawabku bersemangat.


"Gila! Rajin banget kamu, Za. Semua pekerjaan dilahap habis, Bro …" 


"Biasa aja kali. Mumpung lagi bersemangat, hehe."


Pekerjaan yang begitu banyak, namun, serasa tidak ada apa-apanya. Apa seperti ini, kalau kita lagi jatuh cinta? Eh … jatuh cinta?


***


Menjelang waktu Duhur, semua pekerjaan sudah selesai. Masjid juga sudah terlihat bersih dan wangi. Tinggal menunggu karpet yang dicuci di sungai saja. 


Semua orang juga sudah terlihat kelelahan, mereka ada yang merebahkan diri dan duduk santai di serambi masjid. Para remaja masjid, termasuk juga diriku, berada di dapur masjid untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk kami semua.


"Zaya … biar aku bantu ya?"


Tiba-tiba Fian menyelonong masuk ke dalam dapur tanpa permisi. Sontak, semua yang ada di dalamnya terkejut.


"Gak usah! Udah banyak yang bantu." Aku menolak dengan sadis.

__ADS_1


"Ya Allah. Padahal kan cuma pengin bantuin aja, masa gak boleh sih. Nanti kalau kamu capek gimana?"


Seisi dapur tertawa mendengar perkataannya kecuali aku. Benar-benar manusia satu ini, dimana-mana selalu membuatku harus menahan malu.


"Terserah ...." 


Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari dalam mulut ini. Tak ada habisnya jika harus meladeni kelakuan Fian. 


Aku pun berjalan ke luar dapur bersama teman-teman yang lain sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman. Langkah kaki ini dipaksa berhenti saat melihat selasar samping masjid yang sudah dipenuhi para pemuda. Dengan kompak, anak-anak di belakang menyuruhku untuk berjalan terlebih dulu. Tentu saja aku tidak mau.


Bagaimana mungkin aku bisa berjalan menuju kumpulan para kaum Adam itu? Yang ada tangan dan kaki ini keburu panas dingin menahan gemetar. Aku semakin bingung harus berbuat apa, sajian ini pasti sudah ditunggu-tunggu oleh yang lainnya.


"Nduk, ngapain berdiri aja di situ?" Panggilan dari Mas Ali mengagetkanku. Dia berjalan menuju ke arah diriku dan anak-anak yang lain. Pakaian Mas Ali terlihat basah, mungkin karena dia ikut menyusul mencuci karpet di sungai tadi.


Kebetulan sekali dia ada di sini. Aku akan meminta bantuan dirinya.


"Mas, tolongin aku dong! Bawain ini ke situ ya?" Aku memajukan kepala ke arah kumpulan para pemuda di selasar masjid.


"Lah, itu kan tugas kamu. Bawa sendiri aja, lagian mereka juga gak gigit." 


"Ya Allah … masa sama adek sendiri kayak gitu. Tolong lah, Mas! Aku gak enak lah kalau ke sana." Aku merengek.


"Ya udah, sini! Kamu sama yang lain bawa itu semua ke teman-teman di depan aja, yang ini biar Mas yang bawa."


Akhirnya, Mas Ali mau membantu kami semua. Lega sekali rasanya. Aku dan teman-teman pun mengikuti Mas Ali dari belakang, dan lanjut berjalan menuju serambi masjid. Saat melewati para pemuda itu, mata ini tidak bisa fokus untuk menatap lurus ke arah depan. Tanpa sengaja, aku melihat Gus Fawaid sedang duduk bersandar di tembok masjid, dia berada persis di depanku. Reflek, badan ini membungkuk dengan sendirinya. Langkah kaki juga berjalan sedikit cepat, meninggalkan teman-teman yang sedang membawa nampan di belakang.


"Lama banget sih, Za. Ngapain aja?" tanya Safa yang sedang mengipasi wajahnya.


"Lah itu, ngambil makanan." Aku menunjuk nampan yang dibawa salah satu anak.


"Kok kamu gak bawa?"


"Udah dikasih sama gerombolan kaum Adam."


"Tumben berani, gak gerogi apa?"


"Ya gak berani, lah. Orang aku minta bantuan sama Mas Ali."


"Mas Ali? Masmu?" Safa melotot memandangku.


"Iyalah. Siapa lagi kalau bukan?"

__ADS_1


"Kapan balik? Kok kamu gak cerita?"


"Kalau aku cerita, nanti kamu datang terus lagi, ke rumahku," jawabku sambil tertawa.


Safa melempar kardus yang dijadikannya kipas ke arahku. Aku tahu, dia memang mengagumi sosok kakakku itu. Saat Mas Ali pergi untuk mondok di luar daerah saja, Safa memberondong pertanyaan kepadaku. Katanya, dia berharap bisa berjodoh dengan orang yang seperti Mas Ali. 


Mas Ali memang banyak fansnya, terutama para gadis di desaku. Tak kalah dengan Gus Fawaid yang juga menjadi idola para kaum Hawa.


***


Tak terasa hari sudah menjelang sore. Sebagian para warga, anak-anak, dan remaja masjid juga sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Hanya tinggal beberapa orang saja di masjid.


"Nduk, kamu pulang bareng Mas aja, ya." Mas Ali menghampiriku yang sedang mengobrol dengan Safa.


"Oke, mau pulang sekarang?"


"Iya, ayok! Motornya ada di belakang masjid."


"Fa, aku pulang bareng Mas Ali, ya. Kamu sendiri gak apa-apa, kan?"


Safa terlihat bengong dari tadi. Aku berbicara pun dia tidak menanggapi.


"Safa!"


"Astaghfirullah … eh, iya, iya. Kamu pulang duluan aja." Dia terkejut mendengar teriakanku. Salah siapa, dari tadi dia bengong karena menatap wajah Mas Ali.


"Zaya pulang bareng aku duluan ya, Fa," ucap Mas Ali kepada Safa.


"I-iya, Mas," jawabnya sambil tersenyum.


Aku yakin, saat ini, Safa pasti sedang berbunga-bunga karena bisa melihat dan berbicara dengan Mas Ali. Meskipun dia sudah mengenal kakakku sejak lama, tetapi dia tetap saja kikuk saat berbicara langsung. 


Aku dan Mas Ali berjalan meninggalkan Safa untuk pulang. Tetapi, sesampainya di samping masjid, Mas Ali berhenti dan merogoh saku celananya–dia mengambil Hp. 


"Mau ngapain sih, Mas?" tanyaku.


"Bentar, nunggu Fawaid dulu, ya. Ada perlu sama dia."


Mendengar nama Gus Fawaid, aku mulai merasakan perasaan yang tak menentu. Deg-degan dan tidak tenang. Otak ini terus berpikir, bagaimana jika nanti aku dan dia bertatap muka secara langsung di tempat ini? Hatiku mulai tidak nyaman. Ingin hati, pengin menunggu di motor saja, tetapi kaki ini tidak bisa digerakkan, rasanya seperti ada sesuatu yang menahannya.


Aku bersikap setenang mungkin, saat di sela-sela pagar pembatas masjid, terlihat seorang pria berpeci sedang berjalan menuju ke sini. Detak jantung mulai berpacu tidak normal. Sungguh, ini benar-benar sangat berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2