
Sial, saat pelantikan anggota baru seperti ini, Safa tidak bisa hadir karena sedang demam. Aku jadi harus berangkat ke masjid sendiri, untung saja waktunya bakda Ashar, aku masih berani berangkat sendiri.
Dengan secepat kilat aku sudah memarkirkan motor di halaman masjid yang luas, ada segerombolan anak yang sudah datang, mereka adalah anak Tsanawiyah–terlihat dari postur dan wajahnya yang masih polos, ditambah ada Intan di sana–aku mengenalnya. Mau tidak mau aku harus ikut bergabung dengan mereka, masa iya aku duduk sendiri di pojokan serambi masjid, ya ogah lah.
"Assalamualaikum." Aku mengucap salam kepada mereka semua.
"Waalaikumsalam," jawab mereka kompak.
"Eh, Mbak Zaya. Sini, Mbak!" Intan melambaikan tangan, dia cukup kenal denganku.
"Ikut gabung ya, udah lama nih?" tanyaku basa-basi.
Sebenarnya, sebagian besar anak-anak ini sudah mengenalku, karena mereka semua adalah adik kelasku saat Tsanawiyah dulu. Ditambah, aku yang menjadi anggota OSIS aktif saat itu, membuat banyak siswa mengenaliku.
Mereka tampak mengobrol hal yang patut dibicarakan untuk anak seusianya. Aku hanya bermain dengam Hp dari tadi, sambil menunggu anggota lain datang.
Tak lama, muncul beberapa orang dari dalam masjid. Mereka lewat pintu samping yang tembus ke dalam masjid. Ada Dina, Umi, dan satu orang yang aku tidak kenal namanya, tapi pernah lihat wajahnya. Maklum, rumahnya yang paling jauh dari masjid di antara mereka hanyalah diriku.
"Hai, Za. Udah lama?" sapa Umi.
"Belum. Selisih sebentar dari kedatangan kalian," jawabku.
"Kamu beneran mau ikut?" tanya Dina.
"Ikut apa?"
"Ya ini lah, RISMA."
"Oh, iya. Lha emang kenapa?"
"Ya, gak apa-apa. Rumah kamu kan lumayan jaraknya."
"Bukan masalah itu mah, haha."
Kami larut dalam obrolan hangat, hingga tanpa sadar sudah banyak orang yang berkumpul di serambi masjid. Sebagian juga ada yang di dalam.
__ADS_1
"Halo, Zaya!"
Fian lagi. Aku harus ekstra sabar kali ini, mengingat aku akan sering bertemu dengannya, di sekolah maupun di masjid.
Aku hanya membalasnya dengan tersenyum.
"Ikut gabung di sini yak?" ucapnya enteng.
"Ih. Jangan-jangan! Itu tuh, gabung sama temen-temen laki-laki aja. Kamu ngapain ikut kita?" ucapku jengkel.
"Lah emang kenapa?"
"Aku gak mau lah."
"Gak mau apa?"
"Gak mau kalo kamu ikut duduk bareng kita di sini!" jawabku bernada kesal.
"Ya Allah jahatnya."
Dina, Umi, dan Fitri–teman mereka tadi, hanya tertawa melihat tingkahku menghadapi Fian. Malu-maluin saja orang satu itu.
"Idih. Gak bakalan!" Dia pun pergi meninggalkan kami berempat seraya tertawa kencang. Aku kesal, sedangkan ketiga temanku ini terlihat menikmati hiburan barusan.
Di tengah suara tertawa teman-teman yang meledekku, terlihat sebuah motor memasuki halaman masjid. Ada dua orang berboncengan, tidak kelihatan wajahnya dengan jelas karena terhalang helm yang dipakai si pengendara. Motor itu melewati jalan di samping masjid, ternyata yang dibonceng adalah Pak Muhsin–imam masjid Al Husna ini. Aku melihatnya karena beliau membonceng dengan duduk menyamping yang membuat wajah teduhnya terlihat jelas, kami semua menyapa dengan menunduk dan tersenyum.
"Gus Fawaid, kan itu?"
Pertanyaan Fitri mengembalikan fokusku pada teman-teman.
"Iya, dia liburan pondok. Sudah sekitar satu mingguan kayaknya ada di rumah." Umi menjawab pertanyaan Fitri.
"Siapa Gus Fawaid?" Aku mulai penasaran.
"Anak bungsu Pak Muhsin. Masa gak tau sih," jawab Umi.
__ADS_1
"Lah… aku aja baru tau. Kirain anaknya cuma Mbak Syifa sama Mas Farhan doang."
"Oalah. Kemana aja kamu, Za. Padahal Gus Fawaid itu ganteng loh."
"Ganteng, tapi cueknya minta ampun." Dina menimpali.
Kami pun tertawa bersama, hingga kemudian ada perintah dari dalam masjid agar semuanya berkumpul di dalam.
Pelantikan anggota baru remaja masjid kali ini memakan waktu yang cukup lama, hal itu disebabkan oleh semua orang yang menunjukku untuk menjadi sekretaris, dan aku tidak mau. Kami pun beradu argumen hingga memakan banyak waktu. Tak mau kalah, Mbak Wulan–sekretaris lama tetap memaksaku dan akhirnya aku harus menuruti keinginannya meskipun terpaksa.
Rapat sekaligus pelantikan anggota baru remaja masjid selesai menjelang waktu Magrib, kami semua memilih untuk berjamaah sekalian di sini. Tak mau membuang-buang waktu, aku pun segera mengambil air wudu di sebelah utara masjid yang berbatasan dengan tempat wudu laki-laki dan dipisahkan oleh tembok penghalang.
"Lama liburan pondoknya, Gus?" Terdengar suara yang tak asing di telingaku. Fian tengah berbicara dengan seseorang di balik tembok pemisah ini.
"Lumayan, bisa buat refreshing," jawab orang itu diiringi tawa. Siapa lagi orang yang dipanggil "Gus" di sini kalau bukan Gus Fawaid yang dibicarakan Umi tadi. Menurut pendengaranku, kelihatannya Gus Fawaid adalah orang yang ramah, terbukti saat dia berbicara dengan Fian. Tak ada cueknya sama sekali.
"Duluan ya, saya mau azan."
"Siap, Gus!"
Aku pun segera masuk ke dalam masjid dan bersiap memakai mukena. Hingga kemudian…
Allahu Akbar, Allahu Akbar…
Hatiku serasa disiram oleh air es, jantung pun terasa berirama lebih kencang. Suara azan itu persis suara sang muazin yang aku cari.
Allaahu Akbar… Allahu Akbar...
Suaranya yang lembut dan merdu, iramanya juga berbeda dari yang lain, membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan terpana.
Hingga azan berakhir, aku tetap berdiri mematung sambil memegang mukena yang belum sempat menempel di badan.
"Za, ngapain berdiri aja, gak pegel?" Suara Umi membuyarkan lamunanku.
"E-eh iya… yang azan tadi siapa?" Akhirnya pertanyaan itu aku lontarkan kepadanya.
__ADS_1
"Gus Fawaid, bagus kan?"
Ya Allah, jadi selama ini Gus Fawaid lah pemilik suara indah itu?