Sang Muazin

Sang Muazin
Episode 9


__ADS_3

Pikiran tentang Gus Fawaid terus saja menghantui diri ini. Bahkan, saat ulangan pun aku tidak bisa berkonsentrasi. Semalam, waktu untuk belajar juga terganti oleh bayang-bayang dirinya, alhasil aku tidak menguasai semua materi untuk ulangan hari ini–hanya sebagian saja.


"Yang sudah selesai segera dikumpulkan, ya. Waktu sisa 5 menit lagi," ucap Bu Dwi–guru Ekonomi.


"Astaghfirullah." Aku reflek mengucap istighfar. Sontak, teman-teman kelas menoleh ke arah tempat dudukku. 


"Kenapa, Zaya? Sudah selesai?" tanya Bu Dwi.


"Eh, be-lum, Bu. Sedikit lagi."


Dia hanya manenaggukan kepala. Sedikit lagi? Lembar jawabku saja baru terisi separuhnya. Otak ini benar-benar blank, aku tidak bisa berpikir jernih, pikiran tentang Gus Fawaid telah menguasai diri ini.


Aku bingung harus bagimana, mau menyontek tapi tentu saja hati ini menolaknya. Tapi, ini mendesak sekali, waktu tinggal beberapa menit lagi, dan lembar jawab masih kosong separuh. Terpaksa aku menyolek Safa dan meminta bantuan darinya. Safa dengan baik hati pun rela memberiku jawaban atas soal yang sama sekali asing di kepalaku.


Dengan pelan dan penuh waspada, tanganku mulai menuliskan jawaban yang diberikan Safa. Hanya tinggal satu baris lagi, lega rasnya. Namun tiba-tiba lembar jawab yang tengah berada di tangan langsung ditarik oleh seseorang.


"Besok kamu langsung remidi di kantor guru!"


Bagai tersambar petir rasanya. Rasa malu dan takut menjadi satu. Bagaimana bisa Bu Dwi tiba-tiba berada di belakang tempat dudukku? Padahal, dia dari tadi ada di meja guru. Aku hanya diam dan gelagapan mendengar pernyataannya, dan juga harus menerima kenyataan bahwa aku harus langsung remidi besok. 


Kenapa harus aku yang ketahuan. Padahal, di kelas ini juga banyak teman lain yang juga menyontek. Tidak tanggung-tanggung, ada dari mereka yang sengaja menulis jawaban di kertas kecil dan menyimpannya di tempat pensil transparan miliknya. Meja mereka pun ada penuh dengan coretan materi yang ditukis dengan pensil. Kenapa aku bisa tahu? Tentu saja, itu sudah menjadi tradisi di kelasku mungkin juga terjadi di kelas yang lain.


Kebiasaan menyontek tidak pernah aku lakukan kecuali sedang kepepet seperti tadi. Aku juga memilih bertanya dari pada menyalin jawaban dari teman maupun dari sontekan. Tadi pun Sifa sudah memberitahuku dengan pelan sekali, tapi nasib sial memang sedang berpihak pada diri ini. Aku harus menerimanya.


"Kamu kenapa sih, Za. Gak biasanya kayak gini?" tanya Sifa saat ulangan telah selesai.


"Aku tuh bungung, Fa."

__ADS_1


"Bingung kenapa?"


"Sama Gus Fawaid."


"Astaga! Gara-gara mikirin Gus Fawaid, kamu sampai gak belajar? Jangan sampai gila kamu ya, Za."


"Astaghfirullah … gak kayak gitu, Fa. Aku cuma kepikiran, apa bener Gus Fawaid sudah kenal sama aku sebelumnya?"


"Kok bisa? Dari mana kamu tau?"


Aku menjelaskan semua yang dikatakan Mas Ali tentang Gus Fawaid kepada Safa. Tentang diriku yang sudah mengenal Gus Fawaid sejak kecil, dan juga dia yang suka mengganggu hingga aku menangis. Aku seperti orang yang sedang amnesia, karena menceritakan suatu hal tentang masa kecil diri sendiri tetapi sama sekali tidak mengingatnya. Safa mendengarkan semua cerita yang kuutarakan dengan seksama.


Pikiranku malah membuat khayalan sendiri tentang masa kecil yang kulalui dengan Gus Fawaid. Entah bagaimana, tapi otak ini dengan lihai merangkai keping-keping cerita yang dikatakan Mas Ali kemudian menyusunnya menjadi sebuah bayangan masa kecil yang indah.


"Oalah … pantesan, Za."


"Itu, Gus Fawaid bersikap beda sama kamu. Kalau sama perempuan lain dia cuek banget, tapi kalau sama kamu ramah, kan? Pake senyum juga lagi."


"Lha terus, apa hubungannya?"


"Ya jelas ada hubungannya lah … itu artinya dia itu sudah kenal kamu dari kecil, hobinya juga ngusilin kamu. Kalau menurutku sih nih, Za. Gus Fawaid itu berharap, kamu inget sama dia. Terbukti dari sikapnya yang beda sama dirimu wahai Zaya … paham gak?"


Aku mulai mencerna semua kata dari Safa. Apa benar begitu? Terus kenapa Gus Fawaid tidak bicara saja dengan diriku langsung? Aku semakin penasaran dengan masa kecilku dengannya. Sampai rumah nanti, Mas Ali akan kuinterogasi mengenai masalah ini, agar memori di otakku bisa mengingat semuanya kembali. 


***


Sesampainya di rumah, aku langsung mencari sosok Mas Ali. Semua penjuru rumah tak luput dari pencarianku, tetapi dia tidak ada. Kamarnya pun juga kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.

__ADS_1


"Bu, Mas Ali di mana sih, kok aku cariin gak ada?" tanyaku ada ibu yang sedang memasak di dapur.


"Ke rumah temennya. Mau ngapain sih?"


"Enggak ngapa-ngapain sih, cuma mau nanya sesuatu aja. Emang temennya yang mana?"


"Udah, nanti juga pulang. Kamu makan aja dulu. Nih udah mateng."


Ibu pergi mempersiapkan makanan di meja, tapi aku masih tetap saja kepikiran tentang masalah tadi. Pusing sekali rasanya berada dalam kondisi seperti ini. Mungkin, bagi orang lain, masalah seperti ini hanya sepele dan tidak berarti apa-apa. Berbeda denganku yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Apalagi mengenai sosok yang sedang kuidolakan.


Lama menunggu, akhirnya Mas Ali datang juga. Aku pun langsung menghampirinya.


"Dari mana sih, Mas? Ditungguin dari tadi tau gak?" 


Rasa kesabaranku mulai menipis, diri ini ingin segera mengetahui fakta yang sebenarnya tentang masa lalu itu.


"Dari rumah Fawaid, emang kenapa sih?"


Badanku memanas ketika mendengar nama itu. Pas sekali waktunya, namanya disebut saat aku ingin mengetahui lebih jauh tentang dirinya.


"Oh … E-ee … mau tanya aja sih." Sial! Aku mendadak gelagapan saat ingin membahas mengenai Gus Fawaid. Padahal, sebelum Mas Ali datang, aku tidak sabar sekali menunggu waktu ini agar bisa bertanya langsung padanya.


"Apaan sih, gak jelas banget. Udahlan Mas mau mandi. Nanti aja nanyanya. Lagian, pasti pertanyaanmu itu juga gak penting. Iya, kan?"


Mas Ali pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari pertanyaannya. Salahku juga sebenarnya karena mendadak jadi gerogi seperti ini.


Aku semakin dilanda galau berkepanjangan. Pokoknya, malam ini, aku harus menyuruh Mas Ali untuk bercerita tentang kejadian belasan tahun yang lalu. Tentang masa kecilku dengan Gus Fawaid.

__ADS_1


__ADS_2