
Sore ini, remaja masjid akan mengadakan rapat untuk pertama kalinya setelah pelantikan anggota baru. Aku berangkat dengan dibonceng oleh Safa, ada rasa senang ketika mendengar kata "Masjid Al Husna", karena dari sanalah aku menemukan seorang idola yang tidak biasa.
Dari bahasan yang dimulai lewat grup RISMA–di Hp, diskusi kali ini akan membahas tentang TPA yang akan dijadwalkan selama bulan Ramadan tahun ini. Para pengurus akan membuat daftar nama petugas yang akan mengajar anak-anak nantinya. Selain itu, ada pembagian mengenai materi apa saja yang akan diajarkan, karena selama Ramadan, waktu untuk mengajar akan ditambah. Tentu itu semua akan memerlukan perencanaan yang matang.
Kali ini, aku dan Safa menjadi orang pertama yang sampai terlebih dulu di masjid. Di dalamnya masih kosong karena belum ada yang datang.
"Tuh kan, Za. Apa aku bilang? Kita itu terlalu disiplin, belum juga masuk waktu ashar, kamu udah ngebet aja mau berangkat," gerutu Safa.
"Hehe, maaf."
Memang akulah yang terlalu bersemangat hari ini, sengaja aku menyuruh Safa untuk segera bersiap menjemput ke rumah. Padahal, masih pukul 14.00, dan dia nurut saja. Ya, meskipun ada drama dia ngomel-ngomel segala dari tadi.
"Pasti kamu mau ketemu sama Gus Fawaid, kan?"
"Sssttt! Jangan keras-keras. Bahaya!" Aku menarik lengan Safa dan mendekat ke arahnya.
Suaranya menggema di seluruh penjuru masjid. Bagaiman kalau ada orang yang mendengar? Bisa malu setengah mati diriku.
Untuk mengisi kegabutan, kami berinisiatif menyapu lantai masjid yang sebenarnya sudah terlihat bersih ini. Di sela-sela menekuri kotoran di setiap ubin, tiba-tiba Safa memanggilku tapi dengan suara pelan.
"Za… Zaya… Zaya…." panggilnya pelan.
"Apa sih?" Aku yang gemas mendengar suaranya berbisik-bisik, sengaja meninggikan volume suara.
Dia terlihat kaget namun juga cemas. Ada apa dengan Safa?
Bersamaan dengan itu, terdengar suara pintu samping masjid yang tepat berada di belakangku mengeluarkan bunyi. Reflek, badanku langsung berbalik ke arah pintu tersebut.
__ADS_1
Mata ini serasa ingin keluar dari tempatnya. Tubuh juga terasa kaku dengan mulut yang terbuka. Gus Fawaid melangkah memasuki masjid. Dia tampak memesona dengan balutan sarung berwarna biru, baju koko putih, dan juga peci berwarna senada. Jantungku berdetak mulai tidak normal lagi, kaki ini juga sangat sulit digerakkan, ingin rasanya berlari dari sini. Tapi, seperti ada daya tarik misterius di tempat yang aku pijak sekarang.
Dia melewatiku begitu saja, tanpa menoleh sedikit pun dan langsung menuju mimbar masjid. Sebegitukah dia tidak peduli dengan perempuan? Tapi, kenapa saat mengantarku kemarin dia bersikap berbeda? Entahlah, kali ini aku setuju dengan anggapan orang-orang yang mengatakan bahwa Gus Fawaid itu dingin terhadap perempuan. Terbukti ada hari ini, dia seperti tidak menganggap aku dan Safa ada.
Tapi, itu semua tidak mengurangi kekagumanku akan dirinya yang memiliki suara indah, sudah gitu ganteng lagi.
Aku baru menyadari bahwa ini sudah memasuki waktu Ashar, berarti Gus Fawaid yang akan azan. Buru-buru aku menghampiri Safa yang juga bengong di tempatnya.
"Kita keluar aja, Gus Fawaid mau azan. Aku ingin menikmati suara indahnya di luar."
Kami menaruh sapu ke tempat asalnya terlebih dulu, baru kemudian berjalan ke luar. Hingga kemudian, suara yang telah lama kurindukan itu menggema ke seluruh penjuru desa.
"Allahu Akbar … Allahu Akbar …."
Nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan? Mendengar suara merdu saja aku sudah terpana, rasanya bahagia sekali, takjub, dan berbagai rasa lain yang tak bisa kuungkapkan.
Hingga azan berakhir, aku baru sadar setelah Safa mengajakku untuk mengambil air wudu. Di masjid pun sudah ada beberapa orang anggota RISMA dan warga di sekitar. Anehnya, aku tidak tahu kapan mereka datang. Suara Gus Fawaid memberi bius tersendiri dalam pikiran ini, sampai-sampai aku tidak menyadari hal apa saja yang terjadi di depanku.
"Gimana, Fa. Bagus, kan, suara Gus Fawaid?" Aku bertanya kepada Safa saat kami berdua berada di tempat wudu.
"Banyak kali, Za, yang suaranya bagus. Gak cuma Gus Fawaid aja." Dia mulai melipat kemeja yang menutupi tangannya tanpa menengok ke arahku.
"Beda lah. Suara Gus Fawaid itu beda dari yang lain, mempunyai ciri khas tersendiri yang membuat orang-orang terpesona, tau gak?" Kupelankan suara agar tidak ada yang mendengar ucapanku ini, bisa malu aku.
"Setiap orang juga beda kali suaranya."
"Tapi … Gus Fawaid itu tetap spesial."
__ADS_1
"Hmm … terserah deh, susah emang kalau ngomong sama orang yang sudah terkena virus bucin."
Tawa mengejek dari Safa membuatku berpikir. Apakah aku bucin sama Gus Fawaid? Masa sih? Yang kulakukan hanyalah sekadar mengaguminya, tidak lebih. Mungkin kalau diibaratkan, aku itu seperti fans yang mengidolakan seorang bintang, mana mungkin bintang itu mau dengan diriku yang hanya sekadar fans ini. Begitupun sebaliknya, aku juga tidak akan berharap lebih, mendengar suaranya setiap hari saja sudah sangat bersyukur.
Setelah selesai salat Ashar, para remaja masjid mulai berkumpul dan bersiap untuk membahas acara hari ini. Kulihat Gus Fawaid juga sudah meninggalkan masjid, entah kapan dia keluar, aku tidak tahu.
Mas Hamid–ketua baru remaja Masjid Al Husna, mulai memimpin rapat kali ini. Diawali dengan salam, dia menjelaskan semua hal tentang kegiatan Ramadan tahun ini yang akan diagendakan oleh RISMA.
Mas Hamid menuturkan, bahwa Ramadan tahun ini akan dibuat beberapa jadwal untuk mengisi kegiatan saat sore hari, terutama TPA. Untuk mengajar anak-anak kecil di desa, harus dibuat jadwal pengajar pengampu, sekaligus yang akan melaksanakan piket harian masjid.
Masjid di desaku tidak terlalu besar, berarsitektur jawa modern, dan yang menjadi ciri khas masjid kampung adalah atapnya yang dibuat tumpang. Masjid Al Husna ini juga salah satu yang tertua di Kabupaten Gunungkidul–tempat tinggalku. Letaknya dekat dengan persawahan yang begitu asri, jika sore tiba, para jamaah akan melihat matahari terbenam secara gratis. Kalau beruntung, kami juga bisa melihat Gunung Merapi dari kejauhan. Indah sekali.
"Zaya, nanti jangan lupa dibuat daftar pengajar, satu lagi, kalau hari Jumat, kita libur," ucap Mas Hamid di sela-sela rapat.
"Siap, Mas!" jawabku semangat.
"Zaya, jangan lupa. Buat jadwalnya kalau bisa aku sama kamu jadi satu. Biar bisa bareng, hehe."
Tubuhku memanas seketika mendengar perkataan itu. Siapa lagi kalau bukan Fian.
"Hahaha."
"Cie ... cie ...."
"Suit, suit. Ehem!"
Tawa dan ejekan seluruh peserta rapat pun menggema. Saat ini, aku benar-benar malu sekali. Fian malah cengar-cengir gak jelas. Dia tidak memikirkan kondisi diriku yang harus menahan malu di hadapan semua orang. Dasar Playboy! Kesal sekali rasanya dengan orang satu itu.
__ADS_1