
Aku masih tidak percaya akan kejadian baru saja yang ada di depanku. Sang muazin itu telah kuketahui, kaki ini berjinjit-jinjit hanya untuk melihat sosoknya, tapi tidak berhasil karena terhalang sekat antara jamaah perempuan dan laki-laki, ditambah berdirinya orang-orang di saf depan yang semakin membuat aku kesusahan untuk melihat sosok muazin itu.
Meskipun tadi aku sudah melihatnya sekilas saat dia menaiki motor, tapi tetap saja aku tidak bisa mengenali wajahnya dengan jelas. Diri ini semakin dibuat penasaran karenanya.
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin tibbil quluubi wa dawaihaa
Wa 'afiyatil abdani wa syifaaiha, wa nuril abshoori wadhiyaiha
Wa 'ala alihi wa shohbihi wassalim
Selawat Tibbil Qulub dilantunkannya dengan begitu indah, menusuk hati, membuat air mata ini tak mampu tertahan. Sungguh, beginikah rasanya menikmati keindahan ciptaanmu Ya Rabb? Aku tidak peduli jika orang-orang berkata bahwa aku ini terlalu lebay, tapi setidaknya aku tidak munafik. Jujur, diri ini sangat kagum dengan Gus Fawaid, dengan suaranya.
***
Aku mulai kebingungan saat semua orang telah membubarkan diri. Hanya ada beberapa jamaah yang masih berada di dalam masjid untuk mengaji. Bagaimana caranya aku pulang? Sedangkan membayangkan melewati lapangan desa yang gelap dan berada di tengah persawahan saja aku sudah merinding sendiri.
"Za, kita duluan ya?" ucap Dini.
"Oh, iya iya."
"Berani kan? Atau mau nginep aja di rumahku, ha?" tawarnya.
"Eh, gak usah. InsyaAllah berani kok, tenang aja, hehe." Kali ini aku berbicara melawan kata hati sendiri, demi menutupi rasa ketakutan yang ada.
"Haha. Sip. Pulang dulu ya."
Akhirnya mereka bertiga pun meninggalkanku sendiri di serambi masjid.
Berani gak ya. Ya Allah tolong hamba
"Loh, loh, loh. Kok belum pulang sih, Za?"
Fian lagi, Fian lagi. Huh, sabar.
__ADS_1
"Hehe, belum."
"Pasti takut, ya. Ha?"
Tumben dia tahu kalau aku takut pulang.
"E-enggak... " jawabku ngeles.
"Bohong, mau dianter pulang?"
Di satu sisi, aku ketakutan dan butuh teman untuk pulang. Tapi di sisi lain, masa harus Fian sih yang nganterin? Gak mau lah aku. Bisa-bisa dia ke-geer-an lagi.
"Eh, Yan. Kok di luar?" Terdengar suara seseorang dari arah belakang.
"Eh, Gus. Ini mau nganterin pulang temen. Penakut dia, haha."
Apa? Gus?
Jedug, jedug, jedug, jedug. Irama jantungku mulai terasa cepat dan keras. Aku reflek menengok ke arah belakang, dan…
"Hah, apa?" Fian bertanya kepadaku. Secepat kilat tangan ini langsung membungkam mulut. Bisa-bisanya mulutku berbicara tanpa berdiskusi dulu dengan otak. Malu sekali.
"Eh. Maksudnya, aku pulang sendiri aja. Gak usah dianter." Aku berusaha menutupi rasa salah tingkah sekaligus malu.
"Bener nih? Gak takut ada hantu?" Sial. Fian malah membuatku semakin takut. Ngeselin banget orang itu. Kalau tidak ada Gus Fawaid, pasti aku sudah menaboknya.
"Bareng saya aja, Dek. Saya mau ke warung depan beli minum."
Lemas rasanya tubuh ini mendengar sosok yang berbicara barusan tadi. Oh Tuhan, aku tidak bermimpi, kan? Dan, tunggu, tunggu. Dia tadi memanggilku apa? Dek? Adek? Hah?
Ya Allah… semua ini telah mematahkan argumen Dina yang menyebutkan kalau Gus Fawaid itu orang yang cuek. Nyatanya, tidak begitu kok.
"Gimana, Za. Mau gak? Malah bengong lagi." Fian kembali berkata padaku. Orang ini, selalu saja mengganggu saat aku sedang menikmati pemandangan yang ada di depan ini.
__ADS_1
"Eh, iya Mas. E-eh astaghfirullah, maaf Gus." Mulut ini minta di sumpal kayaknya, dari tadi bicara ngawur terus. Sebenarnya, aku memanggil kedua kakak Gus Fawaid dengan panggilan Mbak dan Mas. Aku juga bingung, kenapa anak-anak lain memanggil Gus Fawaid ini dengan tambahan "Gus". Aku hanya ikut-ikutan saja.
Gus Fawaid menyunggingkan senyumnya, beda dengan Fian yang malah cemberut. Mukanya asem banget, gak enak dilihat.
"Saya ambil motor dulu," ucap Gus Fawaid. Aku pun menatap kepergiannya hingga punggungnya sudah tidak terlihat lagi.
"Heh. Liat apa sih?" ucap Fian membuyarkan penglihatanku.
"Gak liat apa-apa. Ya udah aku mau pulang dulu."
Aku langsung menuju ke halaman masjid untuk mengambil motor. Di seberang jalan, terlihat Gus Fawaid sedang menunggu di sana. Ya Allah, gerogi sekali rasanya. Dia pun mengendarai motor di depan, dan aku mengikutinya dari belakang.
Syukurlah, warung yang dimaksud Gus Fawaid adalah warung yang ada di sebelah barat lapangan desa, itu artinya rumahku sudah dekat. Aku pun ikut berhenti saat dia memarkirkan motor di depan warung.
"Terima kasih, Gus." Akhirnya kalimat itu keluar juga.
"Eh. Oh iya-iya. Santai aja, lagian kan saya juga mau ke sini," jawabnya membuat hati ini bahagia. Duh, aku bingung harus ngomong apa lagi.
"Mau beli apa?" tanyanya lagi.
"Eh, enggak. Saya gak mau beli apa-apa. Ya sudah, Gus. Saya pamit dulu. Terima kasih sekali lagi. Assalamualaikum."
"Sama-sama. Waalaikumsalam."
Jantungku berdebar saat kau menatapku
Jadi salah tingkah bicara sama kamu
Birbirku terbungkam menatap senyummu
Aku tak kuasa saat di depanmu
Tiba-tiba saja aku menyanyikan lagu itu saat perjalanan pulang ke rumah. Hati ini benar-benar bahagia karena telah mengetahui sosok muazin yang selama ini menjadi misteri.
__ADS_1
Kali ini, ekspektasiku tidak meleset jauh. Gus Fawaid sangat tampan sekali. Posturnya tinggi, mungkin tingginya sama dengan Fian. Hidung yang mancung, mata bulat dan alis yang tebal, bibir tebal dengan rona merah alami, pasti dia tidak merokok. Karena seorang perokok pasti bibirnya ungu kehitam-hitaman, dan Gus Fawaid tidak begitu.
Tidak sabar rasanya menunggu dia untuk melantunkan azan Subuh nanti. Kalau seperti ini, aku pasti tidak bisa tidur karena memikirkannya. Apakah ini yang dinamakan bucin?