Sang Muazin

Sang Muazin
Episode 5


__ADS_3

Rasa kecewa menyelimuti hati saat pagi tiba. Bagaimana tidak? Aku yang sudah bangun sejak pukul 3 pagi, sekalian untuk salat tahajud, kemudian menunggu waktu Subuh datang, harus kecewa saat mendengar azan Subuh berkumandang. Bukan suara Gus Fawaid yang melantunkan azan itu, melainkan suara bapak-bapak yang sudah sepuh–terdengar dari suara azannya yang putus-putus.


Niat hati ingin mendengarkan suara indah dari Gus Fawaid agar tambah bersemangat, malah yang ada, aku tidak bersemangat sama sekali. Begitu besar pengaruh suara azan itu, hingga berhasil membolak-balikkan mood-ku.


Dengan malas, aku melajukan motor untuk pergi bersekolah pagi ini, pikiran di otak terus saja dipenuhi oleh pertanyaan: kenapa Gus Fawaid tidak azan saat subuh, tadi? Hal itu membuatku malas sekali, hingga tak terasa ternyata aku sudah mulai memasuki gerbang sekolah.


"Za, gimana pertemuan RISMA kemarin?" Safa bertanya kepadaku saat kami bertemu di parkiran.


"Ya gitu deh, luar biasa."


"Luar biasa gimana?" tanyanya penasaran.


Sambil berjalan menuju kelas, aku pun menceritakan semuanya mengenai pelantikan anggota baru RISMA kemarin. Mulai dari saat aku berangkat sendiri ke masjid, bertemu dengan Fian yang nyebelin, aku yang ditunjuk untuk menjadi sekretaris baru namun aku menolaknya, hingga perdebatan pun terjadi dan berujung pada pemaksaan. Kemudian pada puncaknya saat aku mengetahui siapa pemilik suara azan merdu itu, yang tak lain adalah Gus Fawaid.


"Jadi Gus Fawaid yang azan?" tanya Safa.


"Iya. Eh, kamu udah tau Gus Fawaid?"


"Ya tau lah, Za. Dia kan anaknya Pak Muhsin, imam masjid."


"Kok aku baru tau ya, Fa. Setahuku, anak Pak Muhsin itu ya cuma dua."


"Itumah kamu yang kuper."


"Asem!" Aku mencubit lengan Safa.


"Eh tapi ya, Fa. Kejadian kemarin yang paling luar biasa adalah…" Sengaja kugantungkan ucapanku.


"Apa?" tanya Safa penasaran.

__ADS_1


"Saat aku dianter pulang sama Gus Fawaid!" Aku mengatakannya dengan sangat antusias.


"Hahahahaha. Jangan ngayal deh… duh bahaya kamu ini, baru ketemu sekali, udah berkhayal-khayal gak jelas." 


"Eh, gak percaya lagi. Ini tuh serius, aku gak boong. Se-ngefansnya aku sama seseorang, gak bakalan berani boong lah aku. Ya kali."


"Masa sih, kok bisa?" Safa terlihat tidak percaya.


Kujelaskan pada Safa, kenapa saat itu aku bisa diantar pulang oleh Gus Fawaid. Dia terlihat khusyuk mendengarkan.


"Tapi gak biasanya loh, Za. Gus Fawaid bersikap kayak gitu sama perempuan."


"Ha? Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Dia kan dikenal cuek banget sama yang namanya perempuan. Kecuali, sama ibu dan saudara-saudaranya sendiri. Emang banyak sih, para kaum hawa yang mengidolakannya. Tapi, itu semua gak bisa mencairkan sikap cuek bebeknya itu loh."


"Ah enggak… dia itu sama sekali gak cuek kok. Malah ramah banget kelihatannya."


"Apa?"


"Gak jadi deng. Nanti kamu jadi besar kepala lagi, haha." 


Dasar Safa! Apa maksudnya coba? Entahlah, hari ini aku harus mengembalikan fokusku terhadap pelajaran di sekolah. Jangan sampai kepikiran terus sama suara azan Gus Fawaid yang tidak berkumandang pagi tadi, bisa-bisa itu semua akan membawa hal negatif untukku. Aku tidak mau.


"Safa! Nanti sore ada pertemuan RISMA. Harus hadir pokoknya!" Aku memberitahu Safa saat istirahat tiba.


"Siap bosku! Nanti aku bonceng deh."


"Nah gitu dong. Sekali-kali buat diriku ini bahagia, haha."

__ADS_1


"Yaelah… kumat, mentang-mentang lagi kasmaran."


"Siapa nih yang kasmaran?"


Tiba-tiba datang tamu tak diundang ikut duduk di bangku kami berdua. Siapa lagi kalau bukan Fian.


"Bukan siapa-siapa?" Langsung kusambar saja pertanyaannya.


"Hmm. Kalau aku tidak akan berhenti untuk tetap kasmaran sama Si Zaya cantik," ucapnya yang membuatku mual.


"Gak ada yang nanya!" Tanpa janjian, aku dan Safa kompak menyahuti Fian, hingga dirinya sampai tersedak keripik bakso yang super pedas. Aku dan Safa tidak bisa menyembunyikan tawa keras plus terbahak-bahak yang reflek untuknya.


"Makanya jangan jail," ucapku kepada Fian, sambil mengusap sudut mata yang mengeluarkan air akbiat tertawa tadi.


"Duh. Huk, huk… siapa juga yang jail. Aku ngomong berdasarkan fakta tauk!" jawabnya dibarengi dengan sisa batuk.


"Tuh, godain aja cewek-cewek itu tuh. Lebih cantik, seksi. Kasihan tauk, Si Zaya kamu gangguin terus." Safa menunjuk siswi adik kelas yang berdandan bukan seperti anak sekolahan. Bibirnya merah merona, alisnya diukir sedemikian rupa, juga dempul yang dipakai, sangat kontras dengan warna tangannya. Ditambah rambut yang sengaja dibiarkan muncul keluar dari kerudungnya. Benar-benar hancur sudah generasi milenial ini. Kalau guru BK melihat, habis sudah anak ini.


Fian hanya melongo saat melihat siswi itu. Aku dan Safa tertawa melihat ekspresinya.


"Hmm… eh ngomong-ngomong nih ya. Kok kemarin malam kamu gugup gitu lihat Gus Fawaid?" Pertanyaan Fian membuatku berhenti makan.


"Lah emang kenapa?"


"Yah aku cemburu lah." Ingin rasanya tertawa saat mendengar jawabannya itu. Emangnya aku siapanya dia?


"Dia itu lagi jatuh cinta pada pendengaran pertama tau gak?" Safa ikut berkomentar.


"Hah, maksudnya?" Fian terlihat tidak mengerti. 

__ADS_1


"Heh… udahlah, gak usah bahas macem-macem. Yuk buruan, Fa, kita balik ke kelas. Udah mau masuk." Aku berusaha menghindar dari bahasan kali ini. 


Jangan sampai Fian tahu kalau aku mengagumi Gus Fawaid. Dia kan teman dekatnya, bisa mati karena malu kalau sampai Fian membongkar hal ini dihadapan Gus Fawaid. 


__ADS_2