Sang Muazin

Sang Muazin
Episode 10


__ADS_3

Saat itu, aku baru berusia sekitar 4 tahun. Ibu akan memarahi Mas Ali apabila dia membuat diriku sampai menangis. Ke mana pun Mas Ali pergi, aku akan ikut dengannya. Itu membuatnya kerepotan karena harus mengurus dan menggendongku kalau sampai menangis.


Ibu menyuruh Mas Ali untuk mengajakku mengaji di tempat Pak Muhsin–seorang guru ngaji satu-satunya yang ada di lingkup desa pada saat itu. Kami berdua diantar oleh bapak menggunakan motor, karena jarak yang lumayan jauh jika harus ditempuh dengan jalan kaki untuk anak seusia Mas Ali dan aku. Begitu pun saat pulang, bapak akan kembali menjemput di rumah Pak Muhsin.


Diusia yang baru menginjak 4 tahun, aku baru mengenal huruf alif dan ba saja. Aku hanya menemani Mas Ali mengaji dan ikut mendengarkan bacaan anak-anak yang mengaji di sana. Buku Iqra juga tak lupa disiapkan ibu di dalam tas yang aku bawa, meski itu hanya untuk barang bawaan saja karena aku belum mau mengaji saat itu. Tentu saja diri ini tidak hanya diam menunggu kakakku itu selesai mengaji. Aku bermain dengan anak-anak lain yang juga ada di sana. 


Keceriaan demi keceriaan kami ciptakan dengan sendirinya. Sampai akhirnya, ada seorang anak laki-laki seusia Mas Ali membawa sebuah boneka yang menyeramkan. Bagaimana tidak menyeramkan? Boneka itu tangannya buntung, tidak mempunyai rambut, dan hanya memiliki satu mata. Bentuknya mengerikan, hingga aku selalu berusaha menghindar dari anak itu.


Aku mendekat pada Mas Ali yang sedang mengaji untuk berlindung di balik punggungnya. Entah bagaimana ceritanya, anak tadi seakan tahu kalau aku takut dengan boneka yang dibawanya. Dia mendekat ke arahku dan menyodorkan boneka menyeramkan miliknya di wajah ini. Sontak aku menghindar dan memejamkan mata. Aku tidak berani menangis walaupun ingin sekali melakukannya, karena takut dengan orang-orang yang berada di sana, apalagi Pak Muhsin yang kelihatannya sangat galak.


Sejak saat itu, aku selalu diganggu olehnya. Keusilan demi keusilan dia lakukan kepadaku. Sampai pada puncaknya, saat itu dia membawa seekor ayam untuk menakut-nakuti diriku. Aku menjerit ketakutan dan menangis kencang. Mas Ali berusaha menenangkan diri ini, tapi tak kunjung berhasil. Akhirnya, dia menggendongku untuk pulang dengan berjalan kaki.


Sejak saat itu, aku kapok untuk mengaji lagi. Berbagai rayuan dan bujukan ditujukan agar aku mau mengaji di tempat Pak Muhsin lagi, tapi, tetap saja aku tidak mau. Akhirnya, bapak lah yang mengajariku mengaji hingga tamat jilid 6, kemudian tidak lama setelah itu, di dekat rumah ada yang mendirikan rumah tahfid, dan aku memilih mengaji di sana.


***


Pelan-pelan, otak ini mulai mengingat semuanya tentang masa kecilku yang takut dengan Gus Fawaid. Mas Ali telah menceritakan semuanya dengan gamblang, kepingan memori itu telah tersusun dengan sendirinya. Padahal, dulu aku berusaha untuk melupakan kejadian menakutkan itu. Tapi, ternyata saat ini, aku sendiri yang ingin menguaknya.


Aku tak pernah menyangka, orang yang saat ini kuidolakan adalah orang yang sama dengan orang yang aku takuti dulu. Perubahan fisik dari Gus Fawaid begitu menonjol. Dulu, dia berbadan tambun dan berkulit putih, wajahnya juga terlihat menyeramkan sekali untuk anak seusianya pada saat itu. Namun, sekarang dia sudah berubah. Kulitnya tetap putih, tetapi tidak seputih dulu. Dan dia juga berbadan ideal, sesuai dengan tingginya. Wajahnya begitu meneduhkan, pantas saja aku tidak mengenalinya.

__ADS_1


"Dia tadi juga nanyain kamu loh, Nduk," ucap Mas Ali seusai bercerita. Panggilan "Nduk" itu adalah untukku yang diberikannya sejak kecil.


Aku terkejut mendengar ucapannya barusan.


"Masa sih? Nanyain apa?"


"Katanya gini, kok Zaya itu kayak gak kenal sama aku, ya, Al. Apa dia benci banget ya, sama aku? Gitu. Sambil ketawa-ketawa gak jelas."


"Ya iyalah gak kenal, orang di berubah banget." Aku menjawab apa adanya.


"Yaudah, mulai sekarang, kamu kalau ketemu sama Fawaid bersikap akrab dong! Kasihan dia, udah berusaha ramah sama kamu."


"Lha wong dia sendiri yang cerita."


Malam ini, akhirnya aku sudah mengetahui teka-teki yang selama ini belum terjawab. Yaitu, tentang Gus Fawaid yang bersikap berbeda terhadap diriku, dia yang selalu ramah dan tersenyum kepadaku itu ada alasannya. Ternyata, dia sudah mengenal diri ini sejak kecil. 


Tapi, kenapa dia berusaha untuk membuatku mengenali dirinya? Walapun dia sudah mengenalku sejak kecil, tetapi mestinya dia juga harus bersikap sama dengan yang lain. Mengapa hanya aku yang dibedakan? Berbagai pertanyaan mengenai dirinya, terus saja menghujani otak ini.


Entahlah, aku bisa tambah pusing jika harus memikirkannya terus menerus. Yang terpenting, aku sudah menemukan jawaban dari pertanyaanku. Hati ini sangat senang ketika tahu bahwa Gus Fawaid–sang muazin idola semua orang itu, malah sudah lebih dulu mengetahui tentang aku.

__ADS_1


Dan aku juga senang, karena beberapa hari lagi sudah akan memasuki bulan Ramadan. Itu artinya, sebagian waktuku akan dihabiskan di masjid, dan semoga saja aku bisa sering melihat dirinya sekaligus mendengar setiap lantunan azannya yang begitu indah. 


***


Sampai di sekolah, aku langsung bercerita kepada Safa mengenai Gus Fawaid. Dia terlihat kaget saat mengetahui bahwa aku dan Gus Fawaid sudah saling mengenal sejak kecil. 


"Kok kamu sama sekali gak inget sih, Za? Masa harus diceritain dulu," tanya Safa.


"Ya iyalah, karena aku itu udah berusaha melupakan semua kejadian waktu itu. Aku takut banget tau gak. Gara-gara dia, sampai sekarang aku takut sama boneka bayi dan ayam."


Safa tertawa keras saat mendengar jawaban dariku. Memang, sampai sekarang, kejadian itu membuatku trauma terhadap boneka dan ayam. 


"Tapi sekarang malah jatuh cinta. Iya, kan?"


"Enak aja. Aku cuma ngefans ya, ya kali jatuh cinta. Boro-boro dia mau sama orang kayak aku."


"Iya juga, ya. Mana mungkin Gus Fawaid mau sama kamu yang konyol ini. Hahaha."


Aku tidak bisa membedakan antara perasaan cinta dan hanya sekadar mengidolakan seseorang. Aku juga tidak tahu, apakah aku ini hanya menyukai suara indah Gus Fawaid saja, ataukah sebenarnya ada perasaan lain di hati ini.

__ADS_1


Perkataan Safa, sukses membuatku berpikir kembali. Apakah aku sudah jatuh cinta?


__ADS_2