
"Zaya cantik… pulang bareng yok?"
Dih, suara itu lagi. Bosan sekali setiap mendengarnya hampir setiap hari, siapa lagi kalau bukan Fian–tetangga kelas yang suka sekali menggangguku.
Aku tetap berjalan dan tak memerdulikannya.
"Hei, sayang. Kok diem bae sih. Pulang bareng aku ya?" ucapnya sambil berusaha menyejajari langkah kakiku.
"Gak!"
"Busyet.. Gak sembuh-sembuh itu sifat cuekmu."
"Biarin!" jawabku ketus.
"Kenapa sih, gak pernah mau kalau aku ajakin pulang bareng?"
"Ya gak mau aja."
Fian itu selalu saja mengajakku pulang bareng saat jam sekolah telah usai. Dia juga selalu bisa menemukan aku ketika berusaha menghindar darinya. Kuakui, Fian adalah orang yang tidak jelek-jelek amat, dia ganteng. Posturnya tinggi, dan tinggiku hanya sebatas pundaknya saja. Kalau melihat sekilas, pasti semua orang membatin kalau dia adalah rebutan kaum hawa di sekolah. Dan itu memang benar, banyak siswi yang mengejar-ngejar dirinya.
Yang tidak aku sukai dari Fian adalah sifat playboynya, dia suka menanggapi para siswi-siswi yang datang menggodanya. Meskipun begitu, tetapi Fian tidak pernah pacaran dan juga tidak pernah menggoda perempuan jika tak digoda terlebih dulu. Paham kan?
Dia hanya suka mengganggu diriku saja, dan aku tidak pernah menanggapi serius semua perkataannya, ya karena memang dia tak pernah seruius menurutku. Itulah alasanku tidak suka kepadanya.
Melihatnya, aku jadi ingat sesuatu. Rumahnya kan dekat dengan masjid Al Husna tempat sumber suara azan merdu itu, setahuku dia juga ikut anggota remaja islam di sana. Seharusnya sih dia tahu, siapa muazin yang bersuara bagus itu.
Masa iya, aku harus bertanya kepadanya. Mengingat aku sudah berlaku cuek kepada Fian, gengsi dong. Tapi, di sisi lain aku juga butuh informasi mengenai sang muazin.
Tanya gak ya. Tanya, gak, tanya, gak, tanya, gak, tanya, gak. Batinku bergejolak
"Hei, kok ngalamun sih?" Fian mengangetkanku.
"E-eh, gak kok," jawabku kikuk.
"Mikirin aku ya?"
__ADS_1
"Dih, gak!"
"Jujur aja deh. Ha? Ha?" ucap Fian sambil menaik–turunkan alisnya.
"Ih, ngapain sih ngikutin aku mulu! Pulang bareng teman-temanmu kek sekali-kali, jangan ngekorin aku terus!" ucapku bernada kesal kepadanya.
"Ya ampun, galak bener neng. Aku kan cuma mau melindungi bidadariku. Masa gak boleh?"
"Bidadari, bidadari apaan? Emangnya kamu mau cepet-cepet ketemu sama bidadari?"
"Maksudnya?" tanyanya bingung.
"Cepetan sono ke surga, biar ketemu bidadari!"
"Amin! Eh… kamu doain aku cepet mati ya, sayang?"
"Hih, gak usah panggil sayang kenapa sih?" Aku semakin jengkel dengan Fian.
"Hehe, habisnya kamu ngedoain aku yang enggak-enggak sih."
"Oh, iya. Kamu mau daftar jadi remaja islam masjid Al Husna gak?" lanjutnya
"MasyaAllah, sungguh cantiknya ciptaanmu Ya Allah."
"Hih apaan sih." Buru-buru aku menatap le arah depan lagi.
"Hehe, mau gak?"
"Ha? Apaan?"
"Mau gak jadi pacar aku?"
"Ih…" Aku menabok pundaknya.
"Duh! Kamu kok gak fokus terus sih. Tadi itu aku nanya, kamu mau daftar remaja masjid gak?" tanya Fian lagi sambil mengelus-elus lengannya.
__ADS_1
Jelas ini bukan suatu kebetulan semata, kalau mendaftar menjadi anggota RISMA (Remaja Islam Masjid) pasti aku akan tahu siapa muazin itu. Tentu ini adalah kesempatan emas yang sayang sekali untuk dilewatkan. Allah benar-benar telah mengabulkan doa-doaku selama ini, agar bisa bertemu dengan muazin itu.
"Emang buka anggota baru?" tanyaku.
"Iya, kan udah mau ganti anggota baru. Kasian orang-orang, pada bosen liat muka-muka lama senior," ucapnya seraya tertawa ringan.
Aku hanya mendengus.
"Mau?"
"Ha?"
"Ck! Mau daftar gak?"
"Mau, mau!"
"Kok semangat banget sih? Tumben?"
"Ya, gak apa-apa. Udahlah aku mau pulang."
Aku meninggalkan Fian saat sampai di parkiran sekolah. Kemudian berkendara pulang dengan perasaan yang tak karuan, karena sebentar lagi aku akan mengetahui siapa pemilik suara indah saat subuh itu.
Baru kali ini aku jatuh cinta kepada seseorang yang misterius, hanya mendengar suaranya saja sudah membuat hati melayang-layang. Apalagi saat bertemu orangnya? Duh! Sabar. Sebentar lagi, semua ke-misterius-an ini akan terungkap.
***
"Bu, aku mau daftar jadi RISMA, boleh, kan?"
"Sama siapa?"
"Sama siapa ya? Safa mau gak ya?"
"Lah kok malah nanya, emangnya kamu belum tanya sama dia?"
"Coba deh, ntar aku tanya."
__ADS_1
Tugasku saat ini hanyalah mencari teman yang mau diajak untuk mendaftar menjadi anggota RISMA. Aku tidak mau kalau harus berangkat–pulang sendiri, apalagi kalau malam hari. Aku bukan tipe orang yang pemberani untuk hal itu.
Hatiku saat ini sedang dilanda galau berkepanjangan, aku sudah tidak sabar untuk mengetahui sosok muazin itu. Semoga saja aku dapat bertemu dengannya, dan tidak lagi hanya mengagumi suaranya saja, melainkan sekaligus orangnya juga.