Sang Muazin

Sang Muazin
Episode 7


__ADS_3

Rapat kali ini selesai pada pukul 17.00, aku berharap bisa lebih lama dari itu, supaya bisa salat Magrib di masjid sekaligus mendengar azan dari Gus Fawaid tentunya. Tapi, belum pasti juga sih, siapa yang akan azan nanti. 


Kalau harus menunggu kurang lebih satu jam, tentu saja Safa tidak mau. Berbeda denganku yang akan selalu menunggu walaupun dua jam lamanya, demi sang obat penyejuk hati.


"Buruan, Za. Kita pulang, yang lain udah pada bubar juga."


"Iya, iya."


Kami pun pergi ke parkiran dan bersiap untuk pulang. Pupus sudah harapan untuk bertemu dengan Gus Fawaid dan mendengar azannya dari dekat. Pertemuan tadi kurang mengesankan karena dirinya yang tidak menyadari bahwa ada dua orang wanita di dalam masjid. Antara tidak sadar dan cuek sebenarnya.


Saat Safa melajukan motornya melewati tikungan untuk ke luar masjid, aku melihat Gus Fawaid sedang mencuci motor miliknya di depan sebuah rumah, entah itu rumahnya atau bukan karena aku belum tahu persis rumah Gus Fawaid. Mata kami sempat beradu hingga menimbulkan debaran jantung yang tak biasa dalam diriku. Sebagai bentuk rasa hormat, aku menundukan kepala dan tersenyum dengan maksud menyapa ke arahnya. Di luar ekspektasiku, Gus Fawaid terlihat membalas memberi senyum padaku. 


Entah aku sedang halusinasi atau tidak, tapi, aku benar-benar melihat senyuman manis darinya. Sikapnya membuat wajahku memerah saat ini, berbeda dengan pertemuan kami saat di dalam masjid tadi, dia cuek sekali dan tidak melirik padaku maupun Sifa, meskipun hanya sekilas. 


"Fa .... Gus Fawaid, Fa." Aku menepuk pundak Sifa.


Karena terlalu semangat, tepukanku itu berubah menjadi pukulan yang keras untuknya.


"Aduh! Sakit tauk, Za. Apaan sih!" Dia mengomel.


"Maaf, maaf. Itu tadi aku lihat Gus Fawaid lagi cuci motor di depan rumah."


"Terus kenapa?"

__ADS_1


"Dia senyum dong, ke arahku." Aku berkata dengan perasaan sangat bahagia.


"Dasar halu!" Safa tidak percaya.


"Astaghfirullah … sumpah! Aku gak bohong kali, dia beneran senyum. Beda banget sikapnya, sama tadi pas waktu kita nyapu masjid."


"Kok bisa?"


"Ya mana aku tau. Duh, jantungku serasa mau loncat ke luar deh, Fa."


Aku memegang dada yang terasa memanas, sambil senyum-senyum sendiri karena mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Bagaimana mungkin sikap Gus Fawaid bisa seramah itu, padahal, tadinya dia sangat cuek sekali. Apakah dia berkepribadian ganda? Astagjfirullah … tidak mungkin lah. 


"Kok kalau sama kamu dia bisa ramah gitu ya, Za?" tanya Safa yang membuat keningku berkerut.


"Maksudnya?" Aku balik bertanya.


Tentu saja aku mengingatnya. Mana mungkin aku bisa lupa, karena momen ketika Gus Fawaid mengantarku pulang adalah saat pertama kali pertemuanku dengan dirinya. Aku juga sempat bingung dan berpikir, kalau sikapnya sama sekali tidak seperti yang orang-orang bicarakan. Dia begitu ramah saat itu. Tapi, keramahannya hilang begitu saja saat pertemuan kami di masjid tadi. Aku berbalik setuju dengan penilaian orang lain mengenai dirinya yang dingin. Tapi, lagi-lagi pikiran ini terusik oleh sikapnya beberapa menit yang lalu, dia kembali menjadi Gus Fawaid yang pertama, ramah dan sama sekali tidak dingin.


"Apa dia suka kali ya, Za, sama kamu?" tanya Safa yang membuat tubuhku memanas.


"Astaghfirullah … mana mungkin, Fa. Aku bisa mendengar suaranya setiap hari saja udah seneng banget. Aku gak berharap lebih, karena itu semua juga gak bakalan mungkin." Aku menyangkal pertanyaannya, karena memang begitulah faktanya.


"Ya mungkin aja. Bisa dilihat dari sikapnya yang beda sama kamu. Terus, masalah Guss Fawaid yang cuek waktu di masjid tadi, bisa jadi karena dia tidak sadar kalau yang ada di hadapannya itu kamu, Za. Dia kan nundukin kepalanya waktu lewat di depan kamu, iya kan?"

__ADS_1


"Jangan buat aku jadi besar kepala gini ya, Fa. Kalau aku kena virus cinta, kamu mesti tanggung jawab!"


"Lebay!"


Otak ini terus berpikir tentang kata-kata Safa tadi, masa iya Gus Fawaid suka sama aku. Aku? Astaga! Benar-benar mustahil. Tidak mungkin seorang Gus Fawaid suka sama diriku yang sama sekali belum diketahuinya, lagian, aku ini siapa? Sampai-sampai bisa membuat dia jatuh hati. Itu semua tidak mungkin terjadi, aku hanya sebatas penggemarnya saja dan tidak berani menaruh hati lebih dalam untuknya. Ucapan Safa hanya kuanggap sebagai penghibur saja, karena diri ini tahu, berekspektasi itu tidak seindah realita.


Sudah berusaha untuk tidak memikirkan perkataan Safa, namun, tetap saja tidak bisa. Sampai di rumah pun, aku tetap kepikiran hal itu. 


"Ngapain sih, ngelamun aja? Lagi patah hati ya?"


Terdengat suara yang tak asing di telinga. Aku mengenali suara itu.


"Loh. Mas Ali! Kapan pulangnya?" Aku langsung menyambar ke arah dirinya. Dia adalah Mas Ali, kakakku satu-satunya yang sedang menempuh pendidikan di pesantren sekaligus bekerja. Lama sekali kami tidak bertemu, mungkin sudah tiga kali lebaran–sudah seberti Bang Toyib saja. Bukan tanpa alasan dia tidak pernah pulang selama itu, ketidak pulangannya disebabkan karena dirinya yang menjalankan tirakat. Agar bisa bertemu dengan jodoh yang cantik kata dia.


Aku memeluknya erat, dia pun juga begitu. Tak terasa mata ini mengeluarkan air. Aku menangis di pelukannya.


"Udah gede masih juga cengeng!" ucapnya.


Aku tidak menanggapinya, karena saat ini yang terpenting adalah bisa melihat kakakku kembali. Meskipun, setiap kami bersama selalu saja tidak akur, tapi, kalau berpisah rasanya seperti ada sesuatu yang hilang.


"Kok gak ngabarin kalau mau pulang?" tanyaku saat tangis ini mulai mereda.


"Ya aku ngabarin bapak sama ibu lah. Ngapaun ngabarin kamu," jawabnya sambil tertawa.

__ADS_1


Aku memukul dadanya, dia tidak berubah–suka sekali menggoda diriku. 


Rasa rindu yang telah bersemayam selama bertahun-tahun, akhirnya terobati juga. Aku bahagia sekali melihat kakakku.


__ADS_2