Sang Penghianat

Sang Penghianat
11. Kesedihan Maya


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya dokter menyatakan bahwa Maya sudah biss pulang, mendengar hal itu raut muka bahagia tergambar jelas di raut muka David dan Ibu Maya.


Saat itu matahari tepat berada di atas kepala. Maya terlihat keluar dari rumah sakit dengan wajah sumringah. Dia berjalan dengan di bantu oleh ibunya menuju ke mobil David yang sudah terparkir di halaman rumah sakit.


''Akhirnya.. Kamu keluar juga dari rumah sakit, Mama mohon dengan kamu, tolong kamu jangan datang ke sini lagi, Mama sangat bosa harus menunggu kamu di sini,'' canda Ibu Maya dengan memeluk erat Maya.


Mendengar apaa yang di katakan oleh ibunya, Maya hanya diam dengan senyum kecil di bibirnya. Setelah itu Maya mengajak ibu dan David masuk ke dalam mobil.


Disisi lain, Veronica berdiri di dekat mobil mengintip Maya yang sudah pulang dari bersama dengan sang kekasih. Dia terlihat kesal karena melihat Maya sadarkan diri, namun dia juga bersyukur atas kesadarannya.


''Kenapa Maya sadar sih, seharusnya dia mati aja. Tapi kalau mati, Mas David tidak bisa menguasai hartanya. OMG, kenapa harus seperti ini sih? Kenapa sih?'' ucap Veronica dengan marah.


Tak berselang lama, David dan Maya sampai di rumah. Maya terlihat keluar dari mobil dengan di bantu oleh Ibu Maya.


Beberapa saat kemudian, Maya masuk ke kamarnya. Dia memandang sekitar kamarnya dengan mata berkaca-kaca.


Melihat hal itu, Ibu Maya mendekati Maya dan memegangi salah satu bahu Maya.


''Ada apa Maya? Kenapa kamu sedih? '' tanya Ibu Maya.


Maya hanya menghela nafas, dia menyeka air matanya dan melihat ke arah ibunya yang memegangi bahunya.


''Entahlah Mah, aku sendiri bingung. Ini kamar ku, dan semua ini milik ku, tapi kenapa aku merasa aku tidak memiliki apa apa .'' Ujar Maya dengan air mata yang terus berderai membasahi matanya.


Pelukan erat pun di berikan kepada Ibu Maya kepada Maya. Saat itu mata Ibu Maya berurai air mata mendengar apa yang dikatakan oleh Maya.

__ADS_1


''Kamu jangan seperti ini, kalau kamu seperti ini nanti Mama ikut sedih, jadi Mama mohon tolong kamu lupakan semua yang sudah terjadi,'' jawab Ibu Maya.


''Gaara-gara aku, hidup orang harus hancur Mah, gimana sekarang aku harus menghadapi Ayah Jack nanti? Gimana Mama?''


Tangis Maya seketika pecah ketika dirinya mengatkan hal itu kepada ibunya. Dia hanya berdiam diri memeluk erat ibunya.


''Kamu jangan menyalahkan diri kamu, ini bukan kesalahan kamu Maya..''


''Lalu, salah siapa Mah? Salah siapa kalau bukan aku, andai saja kalau aku tidak menghianati Mas Jack, mungkin Mas Jack masih ada di dunia ini. Semua adalah kesalahan ku Ma, aku.. Aku merasa bingung dengan perasaan ku, entah apa yang aku rasakan ini. Aku merasa menyesal dalam hati ku, dan setelah aku membaca surat itu, aku meras cinta sejatik adalah Mas Jack. '' Ujar Maya terlihat terpotong oleh David yang berdiri di belakang mereka berdua dan mendengar apa yang dikatkan oleh Maya dan ibunya.


''Jadi kamu mencintai Jack? Kamu berpikir kalau aku adalah cinta palsu kamu, iya?'' sahut David, membuat Maya terdiam dari tangisnya dan berbalik dengan wajah terkejut.


''Mas David, aku mohon dengan kamu. Tolong kamu jangan salah paham dengan aku, aku tidak cinta dengan Mas Jack. Aku hanya..''


''Hanya apa, hah?'' potong David dengan marah besar kepada Maya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh David, Maya snagat hancur. Ia terus memohon kepada David agar dia memepercayai dirinya lagi, namun apa yang di lakukannya tidak membuahkan hasil. David pergi dari rumah Maya dengan penuh kemarahan dan emosi yan sudah berada di puncak.


Ketika David berada di halaman rumah, Maya menghentika David dengan memegang salah satu tangannya. Melihat hal itu, rasa simpati di tunjukkan David kepada Maya. Dia menghentikan langkahnya di hadapan Maya.


''Aku mohon dengan kamu, tolong kamu pergi. Kamu salah paham dengan aku, aku tidak mencinta Mas Jack, aku hanya mencintai kamu,'' jawab Maya dengan air mata terus membasahi matanya.


David diam selama beberapa saat, dia berbalik menghadap ke arah Maya. Dia berjalan perlahan dan memegang salah satu lengan Maya dengan perlahan.


''Kalau kamu memang tidak mencintai Jack dan hanya mencintai aku, seharusnya kamu tidak mengatakan hal itu. Harusnya kamu tidak bingung dengan perasaan kamu. Aku kasih tahu kamu, Jack itu sudah mati, tapi kamu.. Kamu selalu mengharapkan diauntuk hidup lagi. Kamu itu memang benar benar sang penghianat, kamu ingin mendapatkan Jack, tapi kamu tidak ingin melepaskan aku.''

__ADS_1


''Aku benci dengan kebingungan kamu!'' lanjutnya dengan mendorong Maya menjauh dari dirinya.


Mendengar apa yang dikatakan David, Maya hanya diam. Dia memandang David dengan derai air mata yang terus mebashi matanya. Ketika David pergi dari rumah Maya, Maya jatuh terduduk di lantai. Dia benar benar hancur, dirinya merasa kehidupannya berantakan setelah kepergian Jack.


''Mas David, aku mohon dengan kamu. Tolong jangan tinggalkan aku, '' lirih Maya dengan sedih.


Melihat apa yang terjadi dengan anaknya, Ibu Maya hanya diam. Dia berjalan mendekati Maya dengan air mata yang terus membashi matanya. Saat dirinya berada di dekat Maya, salah satu tangan nya memegangi bahu Maya. Merasakan bahunya di sentuh oleh seseorang, Maya bergegas melihatnya. Menyadari bahwa ibunya yang memegang bahunya, Maya semakin tak kuasa menehan tangisnya. Dia menangis sejad-jadinya di pelukan ibunya.


''Kamu jangan sedih, Mama yakin David tidak akan pernah meninggalkan kamu, Mama janji itu.'' Pelukan erat pun di berikan Ibu Maya kepada Maya.


''Maya, Mama janji dengan kamu, David tidak akan pernah meningglkan kamu. Mama akan lakukan apa saja untuk kamu, Mama janji.''


Ucap Ibu Maya dengan sesekali menyeka air matanya yang terus berderai membasahi pipinya.


''Maya, kita ke kamar kamu ya, kamu istirahat. Mama akan berusaha nanti ketika kamu bangun dari istirahat mu, David akan duduk di samping kamu dan memegang tangan kamu,'' ucap Ibu Maya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, Maya mengangukan kepala dan bangun dari duduknya dengan di bantu ibunya.


Ketika berada di dalam kamar, Maya membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Dirinya hanya diam dengan pandangan mata kosong.


''Maya, kamu istirahat ya, Mama ingin keliuar sebentar saja ,'' ucap Ibu Maya.


''Mama, tolong kalau Mama kembali, Maya mohon dengan mama, tolong bawa Mas David. Tolong bawa dia ke rumah ini lagi, Mas David salah paham dengan aku Mah,'' jawab Maya dengan lirih dan mata yang terus meneteskan air mata.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Maya, Ibu Maya hanya diam dengan meleparkan senyum kecil seolah tidak yakin akan berhasil membawa laki-laki yang di cintai anaknya akan kembali kepada Maya.

__ADS_1


Ibu Maya pergi. Dia meninggalkan Maya di dalam kamarnya.


Bersambung....


__ADS_2