Sang Penghianat

Sang Penghianat
18. Pertemuan Arga dengan Maya Kedua kalinya


__ADS_3

Arga bangun dari duduknya, dia celingukan kesana kemari namun tidak ada seorang pun di pemakaman itu.


''Siapa yang mengatakan hal itu? Siapa? SIAPAA?!!! ZAYRA!!!'' teriak Arga.


Tiba-tiba hujan turun dengan deras, Arga hanya bisa diam dengan memandang ke arah langit dengan mata terpejam.  Kesedihan kembali di rasakan oleh Arga, setelah dirinya mencari Maya.


*****


Dalam mobil, Maya sedang mengendari mobilnya, dia  berjalan dengan santainya, namun tiba tiba matanya meneteskan air mata. Maya yang menyadari hal itu dia menyeka air matanya dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Dia melihat ke arah jari yang terdapat butiran air mata.


''Ada apa dengan aku? Kenapa aku bisa menangis tanpa sebab seperti ini? Aapa yang terjadi dengan aku? '' ujar Maya dengan kebingungan.


Ketika dirinya memikirkan apa yang sedang terjadi, seorang pria yang tidak di kenalnya datang menghampiri dirinya dan mengetuk pintu dengan kencang nya. Pria itu seolah ingin meminta bantuan karena di luar hujan dengan sangat deras. Terlihat pria itu sangat polos, namun kepolosan itu hanya di luar saja. Kenyataan nya pria itu adalah seorang begal yang ingin menyakiti Maya dan barang berharga miliknya. Namun keadaan berubah ketika mobil Arga datang melewati mobil Maya. Dia turun dari mobil dan menghampiri mobil maya tanpa mempedulikan hujan yang turun dengan deras.


''TURUN KALIAN!!! '' bentak Arga dengan kepada para begal itu tanpa menyadari wanita yang berada di dalam mobil ternyata Maya, wanita yang di temuinya beberapa saat yang lalu.


Ketika dia menyadari bahwa wanita yang berada di dalam mobil adalah Maya, Arga terdiam. Dia terus menatap ke arah Maya tanpa berkedip sekalipun. Tanpa di sadari oleh Maya dan Arga, salah satu begal itu keluar dari mobil dengan membawa sebuah pisau. Dia berjalan perlahan mendekati  Arga.


Jleb...


Arga menerima tusukan pisau dari begal itu. Waktu seketika berhenti di rasakan oleh Arga, dia limbung dan jatuh terlentang di jala dengan berlumur darah. Melihat hal itu, Maya sangat terkejut. Dia tidak bisa berbuat apa apa melihat laki laki yang menolong dirinya terkapar dengan berlumur darah.


Beberapa saat kemudian, para begal itu meninggalkan Arga dan Maya tanpa pertanggung jawaban.


Merasa sudah bebas dari para begal itu, Maya keluar dari mobil dan membantu Arga.


''Mas, saya mohon.Mas jangan menutup mata, saya akan mencari bantuan,'' ujar Maya dengan  menenangkan Arga.

__ADS_1


Kala itu Arga hanya diam,pandangan matanya hanya tertuju pada Maya. Terlihat mata Arga di penuhi kesedihan ketika melihat Maya. Dia seolah melihat Zayra kembali hadir dalam hidupnya.


Ketika Maya bingung untuk mencari bantuan, tanpa di sadarinya mata Arga perlahan terpejam dan Arga tidak sadarkan diri.


******


Waktu berjalan dengan cepat, terlihat Maya duduk di kursi tunggu dengan wajah yang sangat khawatir. Beberapa saat kemudian, seorang suster datang menghampiri Maya dengan membawa barang milik Arga.


''Keluarga korban,'' panggil suster itu.


''Iya Sus, saya.. '' jawab Maya dengan bangun dari duduknya dan berdiri di hadapan suster tersebut.


''Ini barang barang milik korban,'' ucap suster membuat Maya terdiam. Dia menerima barang itu dengan penuh kesedihan.


Dalam ruang operasi, Arga terbaring tak berdaya. Di sekelilingnya beberapa suster dan dokter tengah berusaha menghentikan pendarahan yang terjadi pada Arga.


Maya melihat Arga dari luar kamar, matanya di penuhi air mata memandang pria yang sudah menolongnya tak berdaya.


Tangis selalu mengiringi setiap ucapan Maya. Dia selalu berdoa untuk kesembuhan pria yang sudah menolongnya tersebut. Namun, keediohan itu seketika sirna karena sebuah ponsel berbunyi dari jas pria yang tidak di kenalnya tersebut.


Di sisi lain, kekhawatiran Ibu Arga terlihat jelas. Dia terus menghubungi ponsel Arga, karena dia merasa punya perasaan tidak baik tentang anaknya.


''Halo,'' sapa Maya dengan mendekatkan ponsel laki-laki itu di telinganya.


''Halo, kamu siapa ? Kenapa suaranya cewek? Kamu kemana kan anak saya, jawab saya! Kamu kemanakan anak saya ? '' ucap Ibu Arga terus berbica tanpa memeberikan kesempatan Maya untuk menjelaskan.


''Anak Tante, di tusuk orang!.''


Ibu Arga seketika terdiam. Dia terpaku, tanpa di sadarinya, ponsel yang di pegang erat, perlahan jatuh ke lantai dan di waktu yang bersamaan, tubuhIbu Arga limbung dan jatuh tak berdaya di tanah.

__ADS_1


Ia tak percaya anak haus mengalami kejadian seperti ini.


''Gak mungkin! ARGAAA!!!!'' teriak Ibu Arga.


Maya yang mendengar teriakan itu, dia hanya bisa menangis tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia bergegas menutup panggilan itu. Dia duduk di kursi tunggu dengan kesedihan yang sangat dalam di rasakannya.


******


Di rumah Maya, David datang dengan wajah yang terlihat sedih dan tidak terurus.


Ketika berada di depan rumah Maya, rasa ragu antara menemui dan tidak menemui Maya terjadi dengan David. Dia bingung, harus menemui Maya atau tidak, namun hatinya ingin menemui Maya dan ingin kembali bersama dengan Maya.


Saat rasa dilema menyelimuti hatinya, pintu rumah Maya tiba-tiba terbuka. Terlihat Ibu Maya keluar dari rumah dan dia sangat terkejut dengan kehadiran David di depan rumahnya.


''Tante,'' panggil David dengan lirih di hadapan Ibu Maya.


Melihat hadirnya David, Ibu Maya hanya diam. Dia menghela nafas dan terlihat tidak suka dengan kedatangan David ke rumahnya.


''Ngapain kamu ke sini? Ingin menemui Maya, iya ? '' tanya Ibu Maya dengan nada serius.


''Tante.. ''


''Gak ada!.'' Potong Ibu Maya, saat David belum menyelesaikan ucapannya. ''Aku tahu, kalau kamu pasti bertanya soal Maya, Maya tidak ada di rumah. Lagian, kalaupun Maya ada di rumah, dia tidak akan menemui kamu, paham!.''


David hanya diam dengan apa yang dikatakan oleh Ibu Maya. Matanya terlihat sedih, namun dia tidak meneteskan air matanya di hadapan Ibu Maya.


''Tante, David mohon dengan Tante. David tahu, David salah David minta maaf. Tapi tolong tante, tolong izinkan David meminta maaf dengan Maya. David mohon, '' pinta David dengan duduk bertekuk lutut di hadapan Ibu Maya. Namun, Ibu Maya terlihat tidak peduli dengan permohonan itu, tanpa banyak bicara di hanya menutup pintu dan melewati David begitu saja.


''Kalau tante terus seperti ini, maka rumah ini akan menjadi saksi tempat terakhir aku bernafas!'' ancam David dengan memegang pisau yang di arahkannya ke dadanya hingga terlihat bercak darah keluar dari baju yang di kenakan David.

__ADS_1


Ibu Maya pun harus menghentikan langkahnya, dia berbalik dan melihat ke arah David. Ketika Ibu Maya berbalik, Ibu Maya hanya diam dan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Bersambung....


__ADS_2