Sang Penghianat

Sang Penghianat
21. Mencari Donor Darah


__ADS_3

Wajah khawatir terlihat dari orag tua Arga, tidak hanya khawatir Ibu Arga juga sedih karena orang yang di anggapnya Zayra ternyata Maya. Saat itu dia duduk dengan tatapan mata kosong dengan bersandar di bahu suaminya.


''Kamu yang sabar, Zayra sudah pergi mana mungkin dia bisa kembali hidup, itu tidak mungkin,'' ucap suaminya.


Beberapa saat kemudian, Maya datang ke kamar Arga, melihat ke datangan Maya, Ibu Arga bangun dari duduknya. Dia memandang ke arah Maya dengan tatapan mata yang memerah seolah terdapat sebuah kesedihan yang di rasakannya.


Setelah beberapa saat memandang Maya, Ibu Arga bergegas menghampiri Maya dan memeluk erat Maya. Maya yang menyadari hal itu dia hanya diam dengan mata di penuhi air mata.


''Maafkan saya, saya sudah menuduh kamu menjadi penyebab anak saya seperti ini,'' bisik Ibu Arga dengan sedih.


Maya hanya diam mendengar bisikan itu. Dia hanya menghela nafas dengan sesekali menyeka air matanya yang mengalir membasahi pipi.


Tak berselang lama, Maya melepaskan pelukan Ibu Arga. Dia memegang kedua tangan Ibu Arga dengan penuh kasih sayang.


''Tante, jangan meminta maaf dengan aku. Aku tahu ini memang kesalahan saya, kalau seandainya anak tante tidak menyelamatkan saya mungkin semua ini tidak terjadi,'' jawab Maya dengan memegangi tangan Ibu Arga yang bersedih.


''Keluarga Pak Arga!'' panggil seorang dokter membuat Ibu dan Maya terkejut.


Mereka berdua terlihat menghampiri dokter dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


''Ada apa Dok? '' tanya Ibu Arga.


''Kami ingin memberi tahu kalian, kalau keadaan Arga memburuk. Dia kehilangan banyak darah akibat drai tusukan itu, kami membutuhkan golongan darah sekarang,'' ucap Dokter itu.


Mendengar apa yang di katakan oleh orang itu, Maya menyeka air matanya. Dia terlihat sangat terkejut.


''Dokter, apa golongan darahnya? '' tanya Maya dengan sangat khawatir.


''Golongan darahnya adalah B-, golongan darah ini sedang kosong di rumah sakit ini, mungkin Bapak/ Ibu bisa mencarinya di rumah sakit lain,'' jawab dokter itu.


Maya terdiam, dia sesaat melamun memikirkan bagaimana caranya mendapatkan golongan darah itu. Tanpa banyak bicara, Maya berbalik dan berlari sekuat tenaga untuk mencari golongan darah yang sama dengan Arga.


Ketika dia keluar dari rumah sakit, dia semakin kebingungan karena hujan turun dengan derasnya, dia berjalan kesana kemari, namun ia menekadkan diri untuk menerjang hujan demi mendapatkan golongan darah yang sama dengan golongan darah dari pria yang sudah menolongnya.

__ADS_1


Di jalan, Maya terus berlari, dia pergi dari rumah sakit satu ke rumah sakit yang lain. Ketika dirinya di pertengahan jalan menuju ke rumah sakit yang dekat dengan rumah sakit tempat Arga. David melintas di jalan yang sama dengan Maya.


''Itu bukannya Maya? '' tanya David dengan perlahan melajukan mobilnya untuk memastikan wanita yang berlari itu adalah Maya, ketika David tahu bahwa wanita yang berlari di derasnya hujan adalah Maya. Dia sangat terkejut, tanpa banyak berpikir dia menghentikan mobilnya dan menghampiri Maya yang berlari hingga terengeh-engah.


''Maya!'' panggil David.


Maya menghentikan langkahnya mendengar teriakan itu, namun dia berlari sekuat tenang ketika dia mengetahui kalau orang yang memanggil nya adalah David.


David yang ingin meminta maaf dengan Maya, dia mengejar Maya dan berhasil menghentikan langkahnya.


''Kenapa dengan kamu? Kenapa kamu berlari dariku, kenapa ? '' tanya David dengan memegangi salah satu tangan Maya.


Menyadari tangannya di pegang oleh David, Maya menghempaskan tangan David hingga tangannya terlepas.


''KAMU TANYA? SETELAH APA YANG KAMU LAKUKAN, KAMU TANYA KENAPA AKU BISA MENGHINDARI KAMU? DIMANA OTAK KAMU DAVID? DIMANA?'' jawab Maya dengan nada lantang di hadapan David.


''Seharusnya kamu bisa memikirkannya sendiri, aku menghindar dari kamu itu wajar, apa lagi setelah semua yang kamu lakukan ke aku. Aku pergi dari kamu itu wajar, yang tidak wajar itu.. Kehidupan mapan, tapi ingin merampas harta orang lain dan selingkuh pula. '' Tegas Maya pada David.


David yang mendengarkan ucapan Maya, ia hanya diam dengan sedih.


''Aku mohon...''


Maya hanya diam, melihat permohonan itu. Dia memandang David dengan sedih, namun apa yang dilakukan oleh David tidak meluluhkan hati Maya sedikitpun, tanpa banyak berkata maya berbalik dan pergi membiarkan David memohon kepada dirinya.


Melihat hal itu, David seketika lemas. Dia menyadari kalau Maya tidak memaafkan dirinya.


Kesedihan di rasakan oleh David, melihat kepergian Maya, tidak hanya David. Maya pun merasakan kesedihan yang sama, dia melangkahkan kakinya dengan derai air mata yan menyertai kepergiannya dari David.


''AAAAAA!!!'' teriak David ketika Maya sudah pergi dari hadapannya.


Rasa penyesalan atas kehilangan Maya, benar-benar di rasakan oleh David. Kehidupannya hancur ketika dirinya kehilangan Maya.


Tak berselang lama, dengan langkah hampa, David berjalan di atas sebuah jembatan. Pandangan matanya terlihat penuh kesedihan.

__ADS_1


Ketika dia berada di tengah jembatan, David melihat ke arah bawah jembatan yang terlihat air sungai mengalir deras di bawah jembatan.


Dengan perlahan, ia mengeluarkan sebuah cutter dari slah satu saku celananya.


Tanpa banyak berkata, David memotong pergelangannya, dan menaikan salah satu kakinya ke pagar pembatas jembatan. Namun, usahanya di gagalkan oleh seorang wanita yang tanpa sengaja, melewati jalan yang sama dengan dirinya.


''Mas, tolong Mas, jangan melakukan ini, kenapa mas mau melakukan ini? '' tanya wanita itu setelah dirinya berhasil menarik David menjauh dari pagar jembatan.


Saat itu, wanita itu tidak menyadari kalau David sudah memotong pergelangan tangannya. Dia baru menyadarinya saat secara tiba -tiba David jatuh di pelukannya.


Singkat cerita..


David sudah berada di rumah sakit yang sama dengan Arga. Kala itu, David di dampingi wanita yang menyelamatkan David.


Dia bernama Naviza, seorang mahasiswi di salah satu fakultas kedokteran terkenal.


''Dokter, bagaiman dengan keadaan nya? '' tanya Naviza pada dokter yang merawat David.


''Mbak tenang saja, Pak David baik -baik saja. Untung saja, Mbak membawa Pak David tepat waktu ke sini, kalau seandainya terlambat.. Entah, apa yang akan terjadi,'' jawab dokter itu dengan sesekali menggelengkan kepalanya.


''Makasih Dokter.''


Setelah memberi tahu, Naviza tentang keadaan David, dokter itu pergi dari kamar David, dan membiarkan Naviza menunggu di kamar sendiri.


Tiba -tiba ponselnya berbunyi, terlihat sebuah nomor dengan nama *IBU* menghubungi Naviza.


Naviza yang menyadari hal itu, dia keluar dari kamar dan mengangkat panggilan itu di luar kamar.


Di waktu yang bersamaan, Maya datan dengan membawa darah yang di inginkan oleh dokter untuk Arga.


Maya terburu buru, dia menabrak Naviza yang baru keluar dari kamar, hingga membuat kotak darah dan ponsel Naviza jatuh ke lantai.


''Maafkan saya, saya tidak sengaja menabrak kamu. Saya sedang buru-buru untuk memberikan darah ini pada dokter,'' ucap Maya dengan bergegas membantu Naviza.

__ADS_1


Melihat hal itu Naviza hanya diam. Dia meminta Maya untuk pergi menuju ke ruangannya. Maya yang melihat sikap baik dari wanita yang tidak di kenalnya, dia tersenyum kecil di bibirnya dan dia bergegas pergi dari hadapan Naviza.


Bersambung......


__ADS_2