
David sampai di rumahnya. Dia bejalan menuju ke kamarnya dengan penuh kemarahan dan kesedihan yang di rasakannya.
Melihat hal itu, Ibu David menghampiri David . Dia mengetuk pintu dengan sesekali memanggil-manggil nama David. Namun, tidak ada respon dari David mendengar panggilan itu.
Tak berselang lama, Ayah David datang. Wajahnya terlihat bingung dengan apa yang terjadi dengan istrinya.
''Mama, ada apa?'' tanya Ayah David kepada istrinya.
''Papa, Mama mohon dengan papa. Tolong panggil David, dari tadi aku panggil dia, tapi tidak ada respon dari David. Papa, tolong dobrak kamarnya saja,'' jawab Ibu David.
Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Ayah David bergegas mendobrak pintu.Saat pintu sudah berhasil di dobrak, terlihat David duduk di kamarnya dengan melamun. Melihat hal itu, Ibu David hanya diam. Dia terkejut melihat keadaan anaknya.
''Ada apa David? Apa yang terjadi? '' tanya Ibu David dengan khawatir. Dia memegangi salah satu bahu David dengan penuh kasih, menyadari bahunya di pegang oleh seseorang, David terdiam dengan pandangan mata melihat ke arah ibunya.
Setelah beberapa saat memandang ibunya, David memeluk ibunya dengan erat. Dia menangis di pelukan ibunya.
''Ibu.. Dia sudah pergi. Dia tidak akan pernah kembali.'' ucap David dengan air mata terus berderai membasahi pipinya.
Ibu David terdiam sesaat mendengar apa yang dikatakan oleh David. Namun, dalam hatinya terdapat sebuah pertanyaan yang sangat menganggu di pikirannya.
''Apa yang terjadi? Siapa yang pergi? '' tanya Ibu David dengan nada lirih.
Mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, David melepaskan pelukannya dan menetap ibunya dengan penuh kesedihan.
''Maya.. Dia mengetahui segalanya, '' ujar David dengan lirih.
Mendengar apa yang dikatakan David, Maya hanya diam. Dia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh David, dirinya tidak berkata-kata sedikitpun.
''Bagaimana bisa dia mengetahuinya? '' tanya Ibu Maya dengan sangat terkrjut.
__ADS_1
David pun menceritakan apa yang terjadi di rumah Maya, saat itu ayah dan ibu David hanya diam, dan mendengarkan cerita demi cerita yang di ungkapkan oleh David saat itu.
Di rumah Arga, terlihat foto seorang wanita yang sangat mirip dengan Maya terpajang jelas di kamar Arga. Saat itu Arga terlihat tidur dengan pulas, namun tiba-tiba keadaan berubah.
Arga berdiri di sebuah jalan, ia berdiri di hadapan sebuah mobil dengan bagian depan yang terlihat hancur. Saat itu pandangan matanya hanya terarah ke mobil itu. Dia terlihat sedih dengan apa yang di lihatnya, namun dia tidak bisa mengatakan kesedihannya. Ketika dirinya memejamkan matanya, dalam mobil seorang wanita cantik duduk di alat kemudi dengan keadaan kepala berlumur darah.
Ketika Arga ingin membantu wanita itu, sebuah mobil truk menabrak dirinya hingga membuat dirinya terbangun dari tidur pulas nya.
Saat Arga bangun dari tidurnya, Dia tercengang, matanya terbuka lebar, nafas sesak dirasakan oleh Arga. Dia mencoba mengambil air putih yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya, namun usahanya gagal. Tanpa sengaja dia, menyenggol foto wanita itu hingga foto itu jatuh dan pecah.
Melihat jatuhnya foto itu, Arga melawan rasa sesaknya. Dia bangun dari tempat tidurnya dan menghampiri foto wanita itu.
Ketika dia membalikkan foto wanita itu, Arga tiba-tiba kembali mengingat bayangan masa lalu yang membangunkan rasa trauma Arga. Saat itu Arga mengingat ketika itu, dirinya sedang berada dalam sebuah mobil bersama dengan seorang wanita yang mirip dengan Maya bernama Zayra.
Zayra adalah tunangan Arga, dia menjalin hubungan dengan Arga sudah cukup lama.
Arga kembali mengingat masa lalunya ketika dirinya merapikan foto Zayra. Kala itu, raut muka Zayra terlihat bahagia mengemudikan mobil, di sampingnya Arga duduk dengan tenang namun pandangan matanya terus terarah kepada Zayra yang mengemudikan mobil.
''Aku gak mau memalingkan wajah ku dari kamu, karena aku takut untuk kehilangan kamu,'' jawab Arga dengan senyum di bibirnya.
''Gombal ah kamu, '' jawab Zayra.
Ketika mereka sedang bercanda bersama, tanpa mereke sadari dari sebrang jalan sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kencangnya, terlihat beberapa orang di dalam mobil itu panik mobil yang di tumpangi oleh mereka tidak bisa di rem.
Menyadari hal itu, Zayra bergegas membanting setir, untuk menghindari kecelakaan, namun apa yang dilakukan olehnya justru membuat dirinya celaka, karena di waktu yang bersamaan sebuah truk berjalan dibelakangnya menabrak mobilnya hingga Zayra dan Arga terseret beberapa meter.
Kecelakan pun tak terelakkan. Arga terlihat jatuh dari mobil dan langsung tak sadarkan diri di tanah. Namun tidak dengan Zayra, dia duduk di kursi pengemudi dengan luka darah dimana-mana.
Tak berselang lama, Arga dan Zayra di bawa ke rumah sakit. Saat Arga berada di rumah sakit, dia sadar dn melihat Zayra terbaring di sampingnya dengan berlumur darah.
__ADS_1
''Zay... ''
''Tenang Pak, saya mohon dengan bapak. Tolong jangan banyak bicara terlebih dahulu,'' ujar salah satun suster yang mendorong ranjangnya ke dalam ruang operasi.
Keadaan kembali ke masa kini, isak tangis Arga mengingat masa itu membuat dirinya sangat terluka.
Beberapa saat kemudian, Ibu Arga datang. Ketika dia datang, wajahnya sangat terkejut melihat anaknya yang duduk di lantai dengan air mata terus mengalir membasahi matanya.
''Arga! Ada apa? Bangun Nak, bangun,'' ucap Ibu Arga dengan nada lirih.
Dia mencoba membangunkan Arga dan mendudukkannya di atas tempat tidur.
Air mata Arga terus menetes mengingat saat dirinya kehilangan wanita yan paling di cintainya. Saat ibunya datang, Arga hanya diam dengan pandangan mata kosong. Tiba-tiba dia menidurkan dirinya di paha san ibu.
''Zayra tidak pergi kan Bu?'' tanya Arga dengan lirih dan air mata yang terus mengalir.
Mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya, Ibu Arga hanya diam. Dia hanya membalas pertanyaan itu dengan sebuah belaian lembut dan penuh kasih.
''Zayra tidak pergi! Dia pasti akan kembali, iya kan Mah?'' tanyanya lagi kepada sang ibu.
Ibu Arga masih tetap diam, dia hanya membelai kepala anaknya dengan mata berkaca-kaca. Tanpa di sadari oleh Ibu Arga, air matanya menetes dan jatuh tepat di pipi sang anak.
Menyadari ibunya menangis, Arga diam. Dia membasuh setetes air mata yang jatuh di pipinya. Arga bangun dari duduknya dan duduk di samping ibunya dengan memegang salah satu tangan ibunya.
''Mama, jangan menangis. Kalau Mama menangis, Arga akan kembali mengingat Zayra karena, dia adalah wanita yang sangat cengeng, selalu menangis untuk segala hal. Tapi, aku sangat menyayangi dirinya. '' Arga berkata dengan senyum kecil di bibirnya. Dia mencoba agar ibunya tidak sedih melihat dirinya yang terus berbicara tentang Zayra.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Arga, ibunya hanya diam. Dia memeluk erat Arga dan berbisik kepada Arga.
''Kamu sudah kehilangan dia!.''
__ADS_1
Arga hanya diam. Pelukannya semakin erat kepada sang ibu. Desah keluh, terdengar keluar dari mulut Arga ketika ia memeluk erat ibunya. Matanya terlihat memerah menahan sebuah kesedihan yang teramat dalam di rasakannya.
Bersambung...